
Beberapa bulan kemudian..
Hari ini, Ayunda terlihat jauh lebih bersemangat dari pada biasanya. Dia sudah selesai masa nifas saat ini, dia juga sudah bisa berdamai dengan keadaan. Hari-hari nya terasa lebih baik sekarang, hati nya juga lebih lega setelah dia berhasil melupakan semua kejadian yang menyakitkan itu dan berdamai dengan masa lalu dan kembali menata hidup yang baru bersama Narendra.
"Sayang, ada apa hmm?"
"Ada apa bagaimana, sayang?" Tanya Narendra sambil tersenyum, dia senang sekali melihat istrinya yang terlihat jauh lebih baik saat ini.
"Kamu terlihat bahagia, kenapa? Apa hatimu sudah merasa lebih baik, sekarang?"
"Iya, Mas. Tentu saja, jauh lebih baik sekarang. Terimakasih sudah bersabar dan selalu berada di sampingku, Mas."
"Sama-sama, sayang. Seperti yang mas katakan, kalau Mas akan selalu berada bersama mu." Jelas Narendra. Dia merangkul pundak sang istri dan menyandarkan nya di dada bidang nya.
"Mas.."
"Iya, sayang. Ada apa?" Tanya Narendra, tangan nya terlihat aktif mengusap-usap kepala belakang sang istri juga melayangkan kecupan-kecupan singkat yang mesra.
"Sekarang aku siap, Mas."
"Hmm?"
"Aku siap, Mas." Jawab Ayunda lagi membuat Narendra terdiam. Ya, beberapa Minggu sebelum nya, Naren sempat meminta kembali hak nya sebagai suami. Namun, Ayunda terlihat kesakitan jadi malam itu Narendra tidak memaksakan keinginan nya pada sang istri. Dia langsung menyudahi permainan nya, membiarkan senjata nya sudah menegak sempurna itu dan meminta maaf pada istrinya karena dia terlalu memaksakan kehendak nya tanpa memikirkan faktor kenyamanan sang istri.
Ternyata, setelah di tanyai lebih lanjut, Ayunda mengatakan kalau dia belum siap. Ada hal yang terasa sedikit mengganggu ketika Narendra menyentuh tubuh nya dan itu membuat dirinya tidak bergairaah sama sekali. Malahan, dia ingin menolak saat Narendra menyentuh nya. Namun, dia ingat benar kalau menolak keinginan suami itu adalah kesalahan yang besar, jadi dia membiarkan nya saja.
Tapi saat akan melakukan nya, milik nya terasa sangat sakit dan juga ngilu. Rasanya persis seperti melakukan untuk yang pertama kalinya hari itu, beda nya tidak ada lagi darah yang keluar, namun tetap terasa sakit.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu, sayang. Tidak apa-apa, lagipula aku tidak menuntut untuk kita melakukan itu. Aku mengerti kalau kamu juga butuh waktu." Jawab Narendra sambil mengusap wajah cantik Ayunda.
"Aku akan melayani mu dengan baik malam ini, Mas. Kamu mau kan?"
"Sayang.."
"Aku minta maaf kalau saat itu aku membuat kamu tak bergairaah saat akan menyentuh ku, tapi sekarang aku akan berusaha sebaik mungkin, Mas."
"Sayang, aku tidak ingin menyakiti mu."
"Tidak, tidak ada yang akan menyakiti aku, Mas. Lakukanlah, aku akan bersiap malam ini. Ya?"
"Kamu yakin, sayang?" Tanya Narendra sekali lagi. Wanita itu mengangguk yakin, dia yakin sekali. Dia akan memberikan hak suami nya malam ini, dia akan menyenangkan hati suami nya.
"Mas.."
"Iya, kenapa sayang?"
"Aku akan bersiap ya?"
"Nanti saja, sekarang biarkan aku memeluk mu seperti ini. Rasanya sangat nyaman sekali." Jawab Narendra. Dia kembali mengecup kening istrinya, Ayunda tersenyum di pelukan sang suami lalu menenggelamkan wajah nya di dada bidang sang suami. Nyaman dan hangat sekali, pelukan yang tidak pernah terasa membosankan. Malah terasa semakin nyaman saat dia berada di dalam pelukan pria itu.
"Besok kita periksa ke rumah sakit ya?" Celetuk Narendra, membuat Ayunda mendongak dan menatap wajah tampan suami nya. Begitu juga dengan Narendra, dia menatap wajah cantik sang istri dengan tatapan nanar.
"Kenapa harus di periksa, Mas? Aku baik-baik saja, sungguh. Kamu meragukan ku?"
"Tidak, sedikit pun aku tidak meragukan kamu, sayang. Tapi aku hanya ingin mengetahui seperti apa keadaan mu melalui penjelasan dokter."
"Mas, rahim ku baik-baik saja bukan? Aku bisa mengandung lagi dalam waktu dekat kan?"
"Mas hanya tahu kalau rahim kamu baik-baik saja, tapi untuk mengandung lagi dalam waktu dekat, Mas tidak tahu. Makanya kita periksa besok, bagaimana?" Tanya Narendra.
"Baiklah, Mas. Aku akan pergi besok, bersama mu kan?"
"Tentu saja bersama ku, aku yang mengajak mu." Jawab Narendra sambil tersenyum manis.
"Mas, bagaimana kalau ternyata aku gak bisa hamil dalam waktu dekat?"
"Kenapa bertanya seperti itu, sayang? Jangan mengatakan hal semacam itu, aku tidak suka mendengar nya."
"Tapi kemungkinan nya akan selalu ada kan, Mas?" Tanya Ayunda lirih.
"Ya, tapi semua juga ada solusi nya, sayang. Jangan memikirkan hal-hal yang belum tentu akan terjadi, fokus saja pada kesehatan mu sekarang." Jelas Narendra membuat Ayunda tersenyum kecut.
"Hey, dengarkan aku, sayang. Aku tidak akan pernah mempermasalahkan, apa kamu bisa hamil lagi dalam waktu dekat atau tidak, aku tidak peduli. Selama kamu ada bersama ku, maka semua nya akan aku anggap baik-baik saja. Kamu mengerti kan?"
"Hmm, terimakasih Mas. Aku terlalu parno sekarang."
"Tidak apa-apa, sayang. Mas masih bisa memaklumi nya, lagipula Mas sudah sangat mencintaimu. Jadi, Mas sudah menerima semua kekurangan dan juga kelebihan kamu, sayangku."
"Aaaa, Mas Naren membuat aku terharu." Ucap Ayunda sambil pura-pura mengusap mata nya, padahal tidak ada air mata yang menetes dari sana. Tapi ya, nama nya juga Ayunda ya kan. Seperti nya terasa ada yang kurang kalau semisal dia tidak menggoda suami nya.
"Hahaha, Mas seneng banget liat sisi kamu yang begini sudah kembali." Ucap Narendra. Dia kembali meraih sang istri ke dalam pelukan nya, dengan senang hati pula Ayunda menerima pelukan hangat dari suami nya. Dia juga membalas pelukan hangat sang suami, dia melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Naren dengan erat. Begitu pula dengan Narendra, dia memeluk erat tubuh istrinya. Seolah dia takut kalau istrinya ada yang akan mengambil. Padahal, siapa yang akan berani merebut Ayunda dari Narendra? Tidak akan ada.
"Hmm, aku juga bahagia karena akhirnya aku bisa berdamai dengan keadaan, Mas."
"Iya, meskipun membutuhkan sedikit waktu tapi tidak apa-apa, sayang." Jawab Narendra. Dia kembali mengusap-usap puncak kepala sang istri dengan sebelah tangan yang masih betah memeluk tubuh sang istri dengan posesif.
"Masuk yuk? Udara nya makin dingin." Ajak Narendra. Ya, saat ini mereka tengah berada di balkon kamar menikmati hembusan angin sore hari yang terasa sangat menyejukkan. Hari ini, Narendra full berada di rumah bersama istrinya, karena ini adalah hari Sabtu. Weekend dan kantor tutup, jadi hari ini dan besok dia akan quality time bersama sang istri, meskipun hanya di rumah saja.
Meskipun Ayunda sudah sembuh dan dia sudah benar-benar pulih saat ini, tapi tetap saja terkadang Narendra yang terlalu posesif, dia tidak mau istrinya kelelahan dengan jalan-jalan.
Kedua nya pun masuk, Narendra menggeser pintu yang terbuat dari kaca tebal itu dan juga menarik gordeng nya. Ayunda terlihat sedang duduk di pinggir ranjang, tangan aktif memijat tengkuk nya. Seperti nya dia salah tidur semalam, jadi tengkuk nya terasa sedikit sakit dan juga pegal.
"Kenapa, sayang?"
"Gapapa kok, cuma agak pegel aja dikit." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. Dia tidak ingin membuat suami nya khawatir, apalagi Narendra itu sangat protektif menjaga nya sekarang. Tepat nya, setelah kejadian buruk hari itu. Narendra menjadi semakin sensitif pada Ayunda, mengeluh sedikit saja dia langsung panik.
"Yaudah, sini aku pijitin."
"Gak usah, Mas."
"Udah, ayo sini. Jangan nolak, sayang." Jawab Narendra. Dia pun mengambil alih tangan sang istri dan sekarang dia yang memijit tengkuk Ayunda dengan perlahan.
"Mas.."
__ADS_1
"Iya, sayang. Kenapa?"
"Mulai sekarang, aku boleh bantu-bantu Mami masak di dapur kan?"
"Boleh, tapi tetap dengan peraturan pertama yaitu gak boleh kecapean, gak boleh ceroboh dan harus hati-hati." Peringat Narendra. Ayunda hanya bisa menganggukan kepala nya dengan pelan, terdengar sedikit mengekang namun Ayunda paham kalau Narendra mengatakan hal itu demi kebaikan nya, dia tahu kalau Naren sangat mencintai nya, maka nya dia menjaga nya sebaik ini.
"Oke, Mas."
"Mau turun ke bawah sekarang, Baby?"
"Iya, Mas. Aku mau bantuin Mami masak, sekalian perut aku laper. Hehe."
"Yaudah ayoo." Ajak Naren, dia pun menggandeng tangan sang istri dan membawa nya ke luar dari kamar. Mereka pun pergi dari kamar menuju ke lantai bawah. Ayunda tersenyum saat melihat Melisa juga baru keluar dari kamar nya ternyata.
"Sayang.."
"Iya, Mami.." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis.
"Wajah kamu terlihat lebih cerah dari biasa nya."
"Ayu mulai pakai skincare lagi sekarang, biar Mas Naren ada beban, hehe." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. Selama hamil, Ayunda tidak mengenakan skincare apapun karena tidak di perbolehkan. Dokter juga tidak menyarankan untuk ibu hamil memakai hal-hal seperti itu karena di khawatirkan akan menghambat pertumbuhan janin.
"Baguslah, sayang. Kamu sudah merasa lebih baik sekarang?"
"Iya, Mami. Tentu saja, aku merasa lebih baik sekarang. Jauh lebih baik, Mami."
"Aaahhh syukurlah kalau begitu, Mami senang mendengar nya." Jawab Melisa sambil mengusap lembut kepala sang menantu.
"Iya, Mami. Kita masak yuk?" Ajak Ayunda, membuat kening Melisa mengernyit pelan.
"Suami kamu ngebolehin atau enggak?" Tanya Melisa. Terakhir, Narendra marah saat tangan Ayunda terluka karena dia tidak hati-hati. Tapi sekarang, Ayunda malah mengajak nya untuk memasak bersama seperti dulu. Saat awal-awal dia menikah dengan Narendra.
"Boleh kok, asal jangan kecapean, jangan ceroboh. Harus hati-hati katanya."
"Hmm, baguslah. Ayo, mami juga kangen banget masak bareng sama kamu." Jawab Melisa. Ayunda menganggukan kepala nya dan tersenyum. Kedua wanita itu pun pergi ke dapur dan Narendra juga bergabung dengan sang ayah yang sedang sibuk dengan koran harian nya.
"Pi.."
"Ohh, iya boy. Why?"
"Bagaimana keadaan Kakek, apa sudah ada kabar lagi?" Tanya Narendra. Arvin terdiam, belum ada sama sekali. Dia yakin saat ini, keadaan sang ayah di luar negeri masih sama seperti terakhir kali adik dari sang ayah itu mengabarkan kepadanya tentang bagaimana keadaan sang ayah.
"Paman mu masih belum memberi kabar lagi, Boy." Lirih Arvino membuat Narendra juga ikut terdiam. Dia merasakan sakit yang menghantam dada nya saat sang ayah mengatakan hal itu.
"Hmm, semoga cepat ada kabar baik. Naren merindukan kakek."
"Papi juga sama, Boy." Jawab Arvino, dia menepuk pelan pundak sang putra lalu tersenyum. Senyum yang sedikit di paksakan, namun tidak apa-apa. Setidaknya, senyuman itu membuat suasana hati Narendra sedikit membaik.
"Main catur yuk, Pi? Udah lama gak main catur sama papi." Ajak Narendra.
"Kamu sudah siap kalah, Boy?"
"Mana ada, kali ini biarin Naren yang menang, Pi." Jawab Narendra membuat Arvin terkekeh.
"Baiklah, ayo kita main catur." Balas Arvin, dia pun mengambil papan catur yang selalu di letakan di bawah meja yang ada di teras.
"Skakmat.." Ucap Arvin, membuat Narendra merengut kesal, baru saja dia mengatakan kalau dia akan memenangkan permainan ini, tapi tidak sampai beberapa menit berlalu, dia sudah di skakmat oleh sang ayah.
"Dihh, menyebalkan!"
"Hahaha, kan sudah papi bilang kalau kamu gak bakalan menang kalau lawan Papi." Jawab Arvin sambil tersenyum bangga, berbeda dengan Narendra yang sudah menunjukkan wajah kecut nya. Dia kesal, sekesal kesalnya.
"Sekali lagi lah, gantian. Aku yang hitam, papi yang putih."
"Oke, Boy. Mau tukeran warna bidak juga kalau kamu nya gak bisa main, ya tetep bakalan kalah." Ejek Arvino yang membuat Narendra mencebikan bibir nya.
"Kesel, nanti aku aduin sama Mami biar papi tidur di luar!"
"Lah, kok gitu sih? Gak asih aahh, kamu mah main ancam-ancaman segala." Ucap Arvin yang membuat putra nya itu tersenyum licik.
"Apa nih, kok bawa-bawa Mami sih?" Tanya Melisa. Tak sengaja, dia mendengar percakapan antara putra dan suami nya.
"Ini nih, papi curang main nya."
"Lah kok papi sih?"
"Bener, Pi?" Tanya Melisa pada suami nya. Arvino langsung menggelengkan kepala nya, mana ada dia curang.
"Enggak kok, Mi. Kalau papi menang ya terus dia kalah, berarti dia gak bisa main nya, Mami. Bukan artinya Papi main curang." Jelas Arvin, namun Narendra malah mendelikan kedua mata nya, pertanda kalau dia tengah sebal saat ini.
"Jadi, disini siapa yang curang?"
"Gak ada yang curang, Mi. Cuman, dia tuh bilang gitu karena kalah terus." Jawab Arvin yang membuat Melisa terkekeh pelan.
"Bener, Boy?"
"Iya, Mi. Jadi, ayo bantuin Naren biar menang lawan Papi." Pinta Narendra.
"Lah mana bisa begitu, gak bisa dong. Mami jangan bantuin anak itu, gak bener ini."
"Oke, keputusan nya ada di Mami kan? Papi ngalah dong sekali-kali sama anak nya, gak ada salah nya bikin anak seneng."
"Mami kok malah belain Naren sih, Mi?"
"Ya gapapa, kan Naren juga anak Mami. Udah, gak usah debat lagi. Mami mau metik sayur buat masak." Jawab Melisa lalu pergi ke arah samping rumah, disana ada kebun sayuran hidroponik yang di rawat oleh Melisa sendiri. Dia memang senang berkebun, tapi karena lahan nya terbatas apalagi di bagian belakang karena di jadikan taman oleh Naren. Jadi sekarang, kebun nya di pindah ke samping dengan metode penanaman ala hidroponik.
Tanaman hidroponik di tanam dengan media tanam air, tidak menggunakan tanah sama sekali.
"Mami, udah malem Mi.."
"Gapapa, Mami gak takut kok. Orang deket rumah juga, mana terang begitu." Jawab Melisa lalu berjalan ke kebun nya.
"Oke, gimana jadinya Pi?"
__ADS_1
"Nyebelin banget kamu!"
"Kalau buat menang, semua di halalkan, Papi dan Naren tau benar kalau kelemahan Papi itu ada sama Mami." Jawab Narendra sambil tersenyum licik, Arvin memutar mata nya dengan kesal. Tapi dia ingat kalau Narendra adalah putra nya, pria itu adalah titisan nya. Jadi, kelakuan nya sebelas dua belas lah dengan dirinya dulu saat masih muda.
"Ckk, terserah kamu saja lah. Bener kata Mami, gak ada salahnya nyenengin anak sekali-kali."
"Haha, kan bener. Kenapa gak dari tadi, Pi? Kenapa harus nunggu Naren ngadu dulu sama Mami."
"Ckk.." Arvin hanya berdecak kesal mendengar pernyataan sang putra. Kesal dan sebal menjadi satu saat ini.
"Oke, ayo main. Awas aja kalo papi menang, aku aduin lagi sama Mami."
"Iya iya, dasar tukang ngadu!"
"Bodo amat." Jawab Narendra. Kedua pria berstatus anak dan ayah itu pun kembali memainkan budak catur masing-masing. Kali ini bertukar, Narendra yang tadi menggunakan bidak berwarna putih, sekarang menggunakan yang warna hitam. Begitu pun sebaliknya.
"Skakmat!" Seru Narendra dengan heboh, Arvino benar-benar kalah sesuai dengan janji nya. Narendra bersorak, berbeda dengan Arvin yang terlihat kesal. Jelas saja dia kesal, kalau mengikuti aturan sudah jelas dia yang akan menjadi pemenang nya. Tapi karena takut akan ancaman yang di layangkan putra nya, akhirnya Arvin memilih kalah saja. Dari pada tidur di luar ya kan?
"Modal ngancem aja bangga!" Ketus Arvino sambil beranjak dari duduknya.
"Lah, ngambek? Ambekan banget udah tua juga." Cibir Narendra. Namun sedetik kemudian, dia menepuk bibir nya.
"Ngomong apaan Lu, inget dia bapak Lo, Ren." Gumam nya. Narendra pun membereskan catur nya, lalu menyimpan nya kembali di tempat nya semula. Setelah nya, Narendra pun memilih pergi dan masuk ke dalam rumah.
Pria itu pergi ke dapur, dia tersenyum saat melihat Ayunda yang sedang memasak. Dia mendekat dan memeluk sang istri dari belakang, dengan menyandarkan dagu nya di pundak Ayunda.
"Kenapa, Mas?"
"Kangen, hehe."
"Kok kangen? Kan sedari tadi pagi kita barengan terus, malahan gak pisah sedetik pun."
"Mana aku tahu, bawaan nya kangen terus sama kamu." Jawab Narendra. Modus sih sebenarnya, dia ingin bucin tapi tak mau di marahi oleh Ayunda. Jadilah, dia beralasan kalau dia tengah kangen.
"Alesan kamu tuh, modus ya kan?"
"Hehe, kangen sekalian modus gapapa kali, yang."
"Kamu ini ada-ada aja. Gimana main catur sama Papi nya, menang?"
"Kamu tau dari mana, Bby?" Tanya Narendra.
"Dari Mami tadi." Jawab Ayunda, tangan nya tetap cekatan mengaduk masakan di wajan. Meskipun sesekali, tangan wanita itu mengusap lembut tangan yang melingkar di perut rata nya.
"Menang dong."
"Seriusan? Kata Mami kamu biasa nya kalah terus kalau main sama Papi."
"Mana ada, enggak tuh. Buktinya sekarang aku menang, yang." Jawab Narendra sambil tersenyum.
'Menang tapi ngancem dulu, ada-ada saja suami ku ini.' Batin Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Kenapa, yang? Kok mesem-mesem gitu, kamu bangga ya punya suami kayak aku?" Tanya Narendra dengan percaya diri nya.
"Iya, aku beruntung banget punya suami sempurna kayak kamu." Jawab Ayunda sambil mencolek gemas hidung suami nya.
"Aku juga, hehe."
"Yaudah, nih cobain. Bumbu nya udah pas atau masih ada yang kurang." Ayunda memberikan sendok ke mulut sang suami, dengan senang hati Narendra menerima nya.
"Kurang gula sedikit lagi, Bby."
"Oke." Jawab Ayunda, dia pun menaburkan sedikit gula dan setelah nya, dia pun selesai memasak menu pertama.
"Udah, yuk duduk."
"Belum selesai, sayang. Itu sayuran nya belum di masak." Tunjuk Ayunda ke arah sayuran yang sudah di potong-potong.
"Mami emang nya kemana?"
"Tadi sih bilang nya mau ambil tomat di kebun." Jawab Ayunda. Dan panjang umur, baru saja di tanyakan Melisa pun datang dengan membawa beberapa tomat di tangan nya.
"Aduh, jangan bucin disini dong."
"Biarin aja sih, iri aja Mami tuh." Celetuk Narendra sambil menduselkan wajah nya di ceruk leher sang istri.
"Geli, Mas. Sana duduk di meja, aku buatin kopi ya?"
"Hmm, yaudah. Tanpa gula ya, biasa."
"Iya, Mas." Jawab Ayunda. Akhirnya, Ayunda pun bisa bernafas lega karena sang suami melepaskan pelukan nya di perut nya. Tadi, terasa sedikit pengap saat Narendra terus saja memeluk nya dengan erat, bahkan sesekali mengeratkan lagi pelukan itu hingga membuat Ayunda kesulitan bernafas.
"Ini kopi nya, Mas ku."
"Terimakasih, sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum. Ayunda mengangguk, lalu kembali melanjutkan acara memasak nya, kali ini di dampingi oleh Melisa.
Kedua wanita itu pun fokus memasak, hingga tak lama kemudian, masakan nya pun sudah matang semua. Ayunda dan Melisa segera menyajikan makanan nya di meja makan, kebetulan Arvin juga baru saja keluar dari kamar dengan rambut kelimis nya. Seperti nya, dia baru saja selesai mandi.
Setelah di rasa semua orang sudah datang, makan malam pun di mulai. Narendra memimpin doa hari ini, selesai berdoa mereka pun makan dengan lahap. Termasuk Ayunda, dia makan sangat lahap. Sudah cukup lama dia tidak menikmati masakan seperti ini karena saran dari dokter. Jadi, selama hampir tiga bulan ini, Ayunda hanya makan nasi dengan sayur sup saja. Tidak boleh yang lain, agar luka di dalam perut nya sembuh dengan sempurna seperti sedia kala.
"Enak, sayang?" Tanya Melisa saat melihat menantu nya terlihat sangat menikmati makanan nya.
"Enak banget, Mi. Ayu kangen banget makan makanan seperti ini." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Itu karena kamu nya belum sembuh, sayang."
"Iya, Mami. Tapi sekarang, Ayu udah sembuh jadi boleh makan ini kan?"
"Boleh, mami bakalan masakin kamu makanan kesukaan besok. Gimana?"
"Aaaaa, makasih Mami."
"Tapi jangan yang pedes-pedes ya, Mi. Ayunda jangan dulu makan makanan kayak gitu." Ucap Narendra. Melisa menganggukan kepala nya, dia sudah tua juga lebih tahu banyak hal di bandingkan Narendra. Namun dia mengerti kenapa putra nya mengatakan hal itu, karena khawatir. Dia mengkhawatirkan keadaan istrinya.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻🌻