
Akhirnya, siang harinya Ayunda pun pergi ke tempat senam bersama ibu mertua nya. Naren tidak di izinkan ikut oleh sang istri karena dia khawatir kalau ketampanan suaminya di lihat wanita-wanita lain. Apalagi kata ibu mertuanya disana pasti akan di penuhi oleh ibu-ibu rempong.
Jadinya, Narendra hanya berada di rumah bersama para pria. Dia yang paling muda, harus bergabung dengan para pria yang sudah berumur semua. Agak mengherankan tapi yasudahlah dari pada dia ikut tapi disana di keroyok terus di kedip-kedipin sama ibu-ibu, mendingan dia disini saja.
"Jadi, kita mau ngapain ini?" Tanya Darren sambil mendudukan tubuhnya di lantai. Tepatnya, Arvino menggelar karpet agar mereka bisa duduk lesehan di lantai, tentunya dengan di temani kopi dan teh juga cemilan yang di buatkan oleh Melisa sebelum mereka pergi ke tempat senam tadi.
"Gak tau."
"Main catur gimana?" Tanya Darren sambil tersenyum.
"Bosen banget main catur, yang lain dong kali-kali." Jawab Arvino, membuat Darren terkekeh pelan.
"Kamu bosan karena terus kalah, cobain deh kalau menang. Pasti seneng sampai-sampai pengen terus main." Ucap Darren membuat Arvino mendelik sebal.
"Iya deh si paling catur."
"Tapi gimana kalau kita main kartu aja? Terus yang kalah di coret pake tepung?" Usul Narendra.
"Gak usah cari masalah sama Mami, Naren."
"Lho kok cari masalah sih, Pi? Kan mumpung Mami gak ada. Lagian, nanti kita bereskan aja kalau udah selesai mainnya." Jawab Naren membuat Arvino terlihat berpikir.
"Yaudah sih, kalian berdua gimana? Ikutan kan?" Tanya Arvino pada sang ayah dan juga Paman nya Ayunda.
"Bolehlah." Jawab Darren dan di angguki oleh Adam.
"Oke, Naren ambil tepung nya dulu." Narendra pun beranjak dari duduknya lalu pergi ke dapur untuk mengambil tepung. Sedangkan Arvino dia mengambil kartu yang ada di bawah meja ruang tamu.
Setelah mendapatkan nya, kedua pria itu pun kembali berkumpul di teras untuk bermain kartu. Pria itu pun melakukan batu gunting kertas untuk menentukan siapa yang mengocokk kartu nya terlebih dulu. Ternyata, Arvinlah yang mendapatkan jatah kocokaan pertama.
Dia pun membagi kartu nya sama rata lalu satu persatu mulai mengeluarkan kartu mereka. Hingga beberapa menit berlalu, semua nya berteriak kesal karena Adam lah yang memenangkan babak pertama. Dengan begitu, ketiga pria itu di coret tepung wajahnya hingga cemong.
"Hahaha, cemong.." Ucap Arvino ketika melihat wajah Darren dan Narendra. Padahal dia sendiri juga cemong, dasar tidak tahu diri. Tapi ya memang karena tidak terlihat, jadinya begitu.
Adam juga tertawa melihat tingkah ketiga pria di depan nya, kalau sudah begini mereka semua tidak terlihat seperti seorang yang berwibawa, bahkan Narendra sangat receh. Terkadang dia menyangka kalau Narendra yang ada di kantor dan di rumah itu adalah dua orang yang berbeda saking pintar nya Narendra mengubah sikapnya antara di kantor dan di rumah.
Ronde kedua pun di mulai, setelah beberapa menit berlalu akhirnya Narendra bersorak kegirangan karena di ronde kedua ini dia yang menang. Dengan penuh dendam, dia mencoret wajah Adam dengan tepung hingga membuat wajah nya belepotan oleh tepung, bahkan tak jarang mereka bersin-bersin karena debu dari tepung nya masuk ke hidung.
__ADS_1
Putaran ketiga di menangkan oleh Narendra lagi, dia senang sekali bisa membalaskan dendam nya untuk mencoret-coret wajah sang ayah, kakek dan paman nya. Kapan lagi kan ya? Kalau tidak bermain kartu, mana berani dia melakukan itu. Jadi, ini adalah kesempatan emas yang tidak akan datang dua kali.
"Haha, aku menang lagi." Narendra bersorak kegirangan. Dia pun kembali mengoleskan tepung di wajah ketiga pria paruh baya yang ada di hadapan nya, hingga wajah semuanya cemong karena tepung.
"Hahaha, mendadak jadi bule ya. Putih bersih bahkan sampai tidak kelihatan pori-pori." Ledek Narendra membuat ketiga nya kompak mendelik sebal ke arah Narendra yang menertawakan mereka dengan puas.
"Sekali lagi lah, kalau Papi yang menang kamu siap-siap aja ya." Ucap Arvino sambil menatap putranya itu. Akhirnya, ronde ke empat pun di mulai. Semuanya bermain dengan fokus karena tak ingin kalah dan kena coret lagi. Tapi rupanya keberuntungan sedang berpihak pada Narendra. Dia malah menang lagi di putaran ke empat, membuat Narendra tertawa terbahak-bahak karena wajah ketiga pria itu sudah di penuhi tepung. Dimana lagi dia akan mencoretkan tepung kalau bukan di wajah?
"Oke, karena wajah udah penuh. Sekarang buka baju." Ucap Narendra membuat ketiga nya mau tak mau ya harus menurut pada yang menang. Narendra pun mengoleskan tepung-tepung itu hingga membuat ketiga nya di penuhi tepung seperti bayi yang di taburi bedak.
"Celana nya ganti aja sama Pampers, jadi deh tuyul jadi-jadian." Celetuk Narendra yang membuat ketiga nya kesal. Akhirnya ketiga nya mengeroyok Narendra dan mengoleskan masing-masing tepung hingga wajah Narendra pun di penuhi tepung, sama seperti yang lainnya.
"Puas banget balas dendam nya, sampe bikin aku kayak tuyul begini."
"Hahaha, lucu banget kamu, Ren." Ucap Darren sambil tertawa-tawa. Sudah jarang sekali bisa melihat Darren atau Arvin tertawa seperti ini, tapi kali ini mereka tertawa karena melihat penampilan Narendra yang di penuhi tepung. Tentunya bukan hanya Narendra, tapi semua yang ada disana juga di penuhi bubuk berwarna putih.
"Astaga, ada apa ini?" Suara melengking terdengar dengan nyaring, membuat ke empat nya berhenti tertawa lalu kompak menoleh dan melihat Melisa juga Ayunda sudah pulang dari kelas senam ibu hamil nya.
Mereka terlihat mengernyitkan kening mereka ketika melihat penampilan ke empat pria itu. Putih, seperti tuyul. Hanya saja tuyul yang ini masih memiliki rambut lebat, tidak botak.
"Mamp*us.." Gumam Narendra. Rencana nya agak meleset, dia kira kalau senam ibu hamil itu akan lama, tapi ternyata hanya dua jam saja setelah itu selesai. Mana belum sempat membereskan semuanya, bekas tepung juga masih berserakan di lantai. Belum lagi penampilan mereka yang terlihat putih-putih.
"Hahahah, Mas.." Ayunda tidak bisa menahan tawanya lagi, dia tertawa ketika melihat wajah memelas suaminya. Mungkin niatnya sih membujuk sang ibu agar tak marah, tapi yang kena sasaran malah istrinya sendiri.
"Astaga, kalian ini apa-apaan? Hambur-hamburin tepung aja!"
"Ini saran Naren, Mi. Tadi kita kan gabut ya di tinggal Mami sama Ayu kelas ibu hamil, mau main catur males udah bosen kalah terus. Eehh, Naren malah ngusulin main kartu yang kalah di coret tepung." Jelas Arvino jujur. Tidak sepenuhnya salah juga, tapi ketika melihat wajah asam Narendra di balik tebal nya tepung yang melapisi kulitnya, ketiga nya malah ingin tertawa. Belum lagi mata Naren yang mendelik, membuat nya sangat lucu.
"Tapi kan.. astaga, kalian ini ada-ada saja. Paman dan Kakek juga ikut-ikutan?"
"Heheh, seru-seruan aja." Jawab Darren membuat Melisa menggelengkan kepala nya melihat tingkah tiga pria paruh baya dan satu pria itu.
"Pokoknya, Mami gak mau tahu ini semua harus di beresin terus ganti tepung Mami dua kali lipat!" Tegas Melisa lalu masuk ke dalam mansion dengan wajah kesalnya sambil membawa tikar di tangan nya.
"Yang.."
"Beresin ya, Mas. Suruh siapa sih mainan begini? Gak malu apa udah mau punya anak dua?" Tanya Ayunda membuat Narendra hanya membalas dengan cengiran yang membuat Ayunda memutar matanya jengah.
__ADS_1
"Yaudah ya, selamat beres-beres bapak-bapak semua. Yang bersih, kalau enggak nanti kena jewer sama Mami. Semangat semuanya.." ucap Ayunda sambil masuk ke dalam rumah, masih dengan tawanya. Bagaimana tidak tertawa sih, pulang dari senam ibu hamil bukan nya melihat ketentraman malah melihat kelakuan absurd bapak-bapak di rumah. Bukan sekedar cemong, tapi seluruh wajah di penuhi tepung seperti anak kecil di balut tepung. Bayangkan saja bagaimana lucu nya, yang terlihat hitam hanya bagian bola mata saja, selebihnya hanya putih.
"Huh, semua ini gara-gara kau ya. Kita jadi di suruh beres-beres."
"Lah, kok Naren sih? Kalian juga setuju kan tadi? Kalau kalian gak setuju, ini juga gak bakalan kejadian." Jawab Narendra dengan ketus.
"Tapi kan.."
"Naren cuma nyaranin tadi." Potong Narendra, dia tidak mau di salahkan sepenuhnya disini, karena memang dia tidak salah. Tadi dia hanya memberikan usulan dan saran agar tidak bosan hanya bermain catur, terus kalah. Mereka setuju kan tadi, lalu kenapa dia yang di salahkan sekarang?
"Ckk, gak mau ngaku ya kamu.." Ucap Arvino.
"Gak usah saling salah-salahan, cepetan beresin kekacauan nya atau kalian Mami hukum satu persatu, bagaimana?" Tanya Melisa yang tiba-tiba saja datang dan melihat aksi saling menyalahkan itu sambil memegang sapu.
"Eehh, Mami.."
"Cepet beresin sebelum ini sapu melayang ke kepala kalian!" Ucap Melisa membuat ke empat nya segera membereskan juga membersihkan bekas kekacauan yang di buat mereka sendiri. Melisa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ke empatnya. Sudah jelas asal dari permainan ini adalah saran dari orang yang paling muda, tapi dia heran sendiri kenapa ketiga pria yang lebih tua itu bisa setuju untuk bermain beginian.
"Dasar, bapak-bapak gabut!" Ucap Melisa lalu kembali masuk ke dalam mansion sambil terus merasa heran dengan semua yang terjadi.
"Dari mana, Mi? Kok bawa-bawa sapu?" Tanya Ayunda.
"Dari depan, sayang."
"Mereka lagi beres-beres ya?" Tanya Ayunda dan di jawab oleh anggukan kepala.
"Iya, sayang."
"Aku heran kenapa bisa kepikiran mainan begitu ya? Kalau semuanya masih seumuran Mas Naren sih ya mungkin masih wajar, tapi kan mereka.."
"Itu juga yang bikin Mami heran, sayang. Kok bisa mereka ngeiyain gitu pas Naren mengusulkan bermain seperti itu." Ucap Melisa yang membuat Ayunda terkekeh pelan.
"Memang gak bisa di tinggal bentar ya mereka."
"Lainkali, Mami gak bakalan pernah ninggalin mereka di rumah. Bisa-bisa nanti tepung Mami habis. Atau nanti pakai arang sekalian biar hitam." Ucap Melisa sambil tertawa, begitu juga dengan Ayunda. Keduanya tertawa kalau saja membayangkan bagaimana mereka mencoret-coret wajah menggunakan arang.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻