Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 124 - Menikah Bulan Depan?


__ADS_3

Malam hari nya, Mark benar-benar menepati janji nya. Dimana hari ini, dia berjanji pada Maya untuk mengajak wanita itu berkunjung ke rumah nya untuk bertemu dengan orang tua nya. Pria itu terlihat sangat rapih dengan setelan jas berwarna hitam dan kemeja putih di dalam nya. Maya juga sudah bersiap sejak beberapa jam sebelum nya, dia tidak mau mengecewakan sang kekasih kalau semisal dia tidak bersiap-siap. 


Tak lupa, dia juga meminta Amel untuk merias wajah nya seperti hari itu dan tentu saja sebagai seorang sahabat yang baik, Amel tidak keberatan sama sekali. Dia pun merias wajah Maya yang memang sudah sangat cantik itu dengan polesan make up sederhana namun akan membuat Maya sangat pangling. 


"Cantik banget dah.." Puji Amel, dia puas dengan hasil make up nya pada Maya. Pada dasarnya, wajah Maya memang sudah cantik dan manis meskipun tanpa make up sekalipun, namun Maya merasa tidak enak jika dia datang berkunjung dan bertemu dengan kedua orang tua kekasih nya itu tanpa make up sedikit pun. 


"Hehe makasih, kamu jago banget make up in aku nya." Jawab Maya sambil tersenyum kecil.


"Sama-sama, padahal kamu gak pake make up juga udah cakep, May." Ucap Amel lagi. 


"Ya, tapi aku gak pede kalau semisal ketemu sama orang tua nya Mas Mark polosan aja." Jawab Maya.


"Cieee, jadi cerita nya ini mau berkunjung dan ketemu camer nih ye?" Tanya Siti dengan senyum menggoda nya, membuat wajah Maya terlihat memerah karena malu di goda seperti ini. 


"Udah, gak usah di godain terus. Liat wajah nya udah merah kayak tomat." Ucap Amel sambil tersenyum.


Setelah mengobrol selama beberapa lama, akhirnya Maya keluar dari kamar nya dan berniat untuk menunggu Mark di rumah utama. 


"Hati-hati di jalan nya, May. Semangat ketemu calon mertua nya, bestie."


"Terimakasih." Jawab Maya. Dia pun berjalan perlahan dan ternyata di samping mansion besar milik keluarga Sanjaya itu sudah ada Mark yang berdiri disana menunggu kedatangan sang pujaan hati.


Pria itu tersenyum tatkala dia melihat siluet Maya dari kejauhan. Cantik, hanya itu yang bisa di cmhcalkan oleh Mark untuk mendeskripsikan penampilan Maya malam ini. Benar-benar cantik dan anggun bahkan kecantikan itu bisa Mark lihat daribkejauhan dengan pencahayaan yang temaram. 


"Lho, udah disini? Udah lama, Mas?" Tanya Maya saat posisi kedua nya sudah dekat sekarang. Wanita itu terlihat tersenyum manis membuat hati Mark mendadak berdebar tak karuan hanya karena senyuman manis sang kekasih. 


"Baru aja kok, aku nunggu kamu disini." 


"Ohh, yaudah. Maaf ya, aku gak punya baju yang lain. Ini juga cukup bagus kan?" Tanya Maya sambil melihat penampilan nya. 


"Apapun yang kamu pakai, selalu terlihat cantik. Kamu sempurna, itulah yang membuat aku jatuh cinta padamu, sayang." Ucap Mark yang membuat semburat kemerahan di wajah Maya. Dia merona karena Mark kembali memuji penampilan nya, cantik dan sempurna katanya. 


"Terimakasih.."


"Sama-sama, sayang. Yuk kita berangkat sekarang, keburu kemaleman banget." Ajak Mark, dia mengulurkan tangan nya dan dengan senang hati Maya langsung menerima uluran tangan sang kekasih itu dan menggenggam nya, lalu kedua nya pun berjalan dengan tangan yang saling bergandengan mesra itu ke arah mobil milik Mark yang terparkir rapih di garasi. 


Mark membukakan pintu mobil nya untuk sang kekasih, lalu meminta Maya untuk masuk dan duduk lebih dulu. Maya pun duduk di dalam mobil itu, setelah memastikan kalau Maya duduk dengan nyaman, dia pun segera berlari memutari mobil dan ikut masuk lalu duduk dengan nyaman juga di balik kemudi. Pria itu memasang seatbelt, begitu juga dengan Maya yang sudah memasang seat belt nya sendiri sekarang. 


Pria itu pun melajukan kendaraan beroda empat nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, pria itu terlihat fokus ke depan dan sesekali akan melirik sang kekasih yang terlihat seperti sedang gugup saat ini. 


"Sayang, apa kamu gugup?" Tanya Mark yang membuat Maya segera menoleh dan mengangguk pelan sebagai jawaban. Benar, dia memang sedang merasa gugup saat ini. Sungguh demi apapun, dia merasakan kegugupan saat ini. Bahkan sekarang, dia merasa kalau perut nya mulas sekarang, mungkin karena saking gugup nya. 


"Tidak apa-apa, jangan gugup. Mereka orang baik, yakinlah, sayang."


"Mas, bagaimana kalau semisal mereka tidak suka dengan hubungan kita sekarang karena aku hanya seorang maid. Kita kan berbeda, dari awal aku sudah ragu dengan semua ini, Mas." Jawab Maya. Entahlah, dia malah overthinking sekarang karena Maya merasa kalau mereka memang berbeda. Dari awal, hal itu juga yang membuat nya ragu untuk menerima perasaan Mark hari itu. Padahal kalau boleh jujur, dia juga menyukai Mark di pertemuan pertama mereka di mansion hari itu. 


Tapi, selama itu juga Maya memendam perasaan nya sendiri karena dia cukup sadar diri. Dia sadar benar, siapa Mark dan siapa dirinya. Mark terlahir dari pasangan suami istri yang harmonis, keluarga nya lengkap dan Mark adalah anak tunggal. Sedangkan dirinya? Hanya seorang anak yang tidak pernah di harapkan kehadiran nya oleh kedua orang tua nya. 


Hal itulah yang membuat Maya merasa tidak pantas bersama dengan Mark. Padahal yang terjadi sebenarnya, Mark juga bukanlah anak kandung Indah dan Sandi. Dia juga sama-sama memiliki nasib yang tragis. Maya di buang di pasar saat masih kecil hingga sebuah keberuntungan besar saat dia di pertemukan dengan Melisa saat dia sedang mengamen hari itu. 


Hal yang sama juga terjadi pada Mark, beda nya Mark di tinggalkan di depan pintu panti asuhan dan di adopsi oleh Indah dan Sandi saat usia nya enam tahun saat itu. Namun, Maya belum mengetahui apa yang terjadi pada Mark. Mereka sama-sama merasakan sakit, masa lalu yang sama dan mungkin kebahagiaan yang sama jika kedua nya bisa bersama.


"Jangan bicara seperti itu, aku sudah bilang kalau kita tidak berbeda. Kita sepasang insan yang saling mencintai, sayang. Kita berhak bahagia juga, jadi apa salahnya jika kita bersama?"


"Tapi kita.."


"Jangan mengatakan hal-hal yang tidak perlu, sayang. Kita saling mencintai jadi jangan terlalu banyak bicara hal-hal yang tidak penting." Jawab Mark sambil menatap Maya sekilas lalu kembali fokus ke depan.


"Haruskah aku percaya kalau hubungan kita akan berjalan lancar, Mas?"


"Bisa, kalau kamu mencoba percaya padaku." Jawab Mark sambil tersenyum manis. 


"Baiklah, aku akan mencoba meyakinkan hatiku agar bisa percaya sepenuh nya padamu, Mas."


"Good girl.." Ucap Mark sambil mengacak rambut Maya dengan lembut.


"Percayalah akan kekuatan cinta, sayang."


"Sejak kapan ada kekuatan seperti itu, Mas?" Tanya Maya yang membuat Mark terkekeh pelan. Entahlah, dia pria yang cukup datar seperti ini tapi bisa mengatakan hal semacam ini pada Maya? Padahal, dia di cap sebagai pria datar dan dingin. Tapi di depan Maya, tidak ada Mark yang seperti itu. Yang ada hanya Mark bucin dan manja, juga tukang nyosor plus mesuum. Pokoknya paket lengkap kalau Mark itu.


"Gak tau, tapi mungkin sudah ada di jaman Adam dan hawa, sayang." Jawab Mark yang membuat Maya tersenyum kecil. Jawaban yang terdengar sangat menenangkan bagi Maya, membuat hati nya yang awalnya merasa ragu, kini jauh terasa lebih tenang setelah mendengar jawaban Mark.


"Jadi, udah ya jangan gugup lagi? Aku bakalan perjuangin kamu pokoknya, seperti janji aku hari itu." 


"Terimakasih, semoga ada jalan yang terbaik untuk kita berdua."

__ADS_1


"Pasti, pasti ada jalan karena aku yang akan membuatkan jalan untuk kita." Jawab Mark. Dia melirik ke arah Maya sekilas, lalu tersenyum manis. Senyuman kecil yang manis, hingga membuat lesung pipit di pipi kanan pria itu terlihat. Manis sekali, bahkan manis nya mengalahkan gula kalau kata Maya. Inti nya, kedua nya sama-sama sudah terkena serangan bucin. 


Satu jam kemudian, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Mark pun berhenti di sebuah kawasan perubahan elit dengan rumah-rumah yang besar dan pagar yang menjulang, rumah nya terlihat sangat mewah dengan di dominasi warna putih yang membuat kesan rumah yang bersih. 


Maya melongo setelah dia keluar dari mobil, seketika perasaan yang tadi nya terasa lega kini mendadak menjadi ragu kembali karena melihat rumah besar itu. Benar dugaan nya, kalau Mark memang bukan orang biasa. Dia adalah orang berada, namun dia pria yang mandiri dengan bekerja menjadi seorang sekretaris dan asisten Narendra, padahal ayah nya saja memiliki perusahaan yang tak kalah besar nya dengan Sanjaya's group. 


Namun, Mark memilih tidak melanjutkan perusahaan sang ayah karena itu dia lebih memilih untuk bekerja bersama orang lain, lagi pula dia sudah merasa nyaman bekerja dengan Narendra. Meskipun terkadang, pria itu bertingkah seenaknya dan juga menyebalkan, namun dia atasan yang royal terhadap pegawai nya. 


"Mari masuk, sayang." Ajak Mark, dia meraih tangan Maya dan menggenggam nya dengan erat. Mark tersenyum kecil saat merasakan tangan Maya yang terasa dingin, mungkin karena perasaan gugup nya. 


"Jangan gugup, bersikap biasa saja." Pinta Mark. Wanita itu melirik sekilas ke arah sang kekasih, lalu mengangguk pelan meskipun sebenarnya dia merasa ragu dengan jawaban nya. Sejujurnya, dia gugup setengah mati saat ini karena akan bertemu dengan orang tua Mark. Akan seperti apa reaksi mereka berdua kalau mengetahui kalau kekasih dari putra mereka tidak lebih dari gadis miskin dan bekerja sebagai maid di mansion Sanjaya?


Perlahan, kedua nya pun melangkah dengan tangan yang saling menggandeng satu sama lain. Kedua nya, langsung di sambut oleh kedua orang tua Mark yang memang sudah menunggu kedatangan putra nya yangbkayajyabakajnmembawa seorang gadis hari ini. 


Penasaran? Tentu saja, gadis seperti apa yang mampu meluluhkan putra mereka yang terkenal dingin dan datar itu? Bahkan, kedua nya seringkali berpikir gila tentang putra mereka. Apakah Mark pria yang normal? Yang menyukai lawan jenis atau malah menyimpang?


Jadi, bagaimana bisa orang tua berpikir seperti itu? Ya, karena selama ini Mark terlihat sangat datar, dia tidak pernah tertarik dengan seorang wanita apalayj membawabnya ke rumah untuk bertemu dengan mereka. Tapi hari ini, mereka akhirnya mengetahui kalau putra mereka adalah pria normal yang tertarik dengan perempuan.


"Selamat malam, Ma, Pa.." Sapa Mark dengan senyuman manis nya. Wajah Maya, seketika langsung memucat. Entahlah, kini dia merasa mual secara tiba-tiba. Gilaa, efek gugup bisa separah ini? Biasa nya perut nya hanya akan terasa mulas saja jika dia sedang gugup, namun kali ini dia malah merasa mual.


"Malam, boy." Balas kedua nya, Mark pun mengangguk pelan lalu menarik pelan sang gadis untuk mengikuti nya. 


"Hai gadis manis, dongakan wajah mu. Kenapa menunduk seperti itu?" Tanya Indah, ibu dari Mark. Wanita yang terlihat cantik meskipun usia nya saat ini sudah menginjak usia kepala lima.


"Dia malu, Ma."


"Tidak perlu malu, sayang." Jawab Indah. Akhirnya, Maya pun memberanikan diri untuk mendongak, dia menatap wajah kedua orang tua Mark dengan tatapan yang sulit di artikan. 


"Cantik sekali.." Puji Indah yang membuat Mark tersenyum bangga.


"Ternyata mata mu berfungsi dengan baik ya, Boy? Pilihan mu cantik." Celetuk Sandi sambil tersenyum. Dia juga ikut memuji kecantikan yang di miliki oleh Maya. 


"T-terimakasih Om dan Tante."


"Panggil Mama sama Papa saja, seperti Mark, sayang. Siapa nama mu?"


"Maya Karina, Ma." Jawab Maya pelan. Wanita paruh baya itu terlihat menilik-nilik wajah Maya, yang itu membuat wajah perempuan itu merona karena malu di tatap seperti itu. Mark yang peka akan hal itu pun mengeluarkan suara nya. 


"Mama, jangan menatap Maya seperti itu. Dia malu nanti." 


"Tidak apa-apa, Ma." Jawab Maya sambil tersenyum kecil. 


"Kamu tinggal dimana?" 


"Di mansion Sanjaya, saya bekerja disana sebagai maid." Jawab Maya berterus terang, dia jujur tentang pekerjaan nya. Dia tidak ingin ada kesalah pahaman nanti nya, kalau dia sudah jujur namun respon mereka cukup mengecewakan, maka dia akan mundur saja. Tidak apa-apa, dia lebih baik jujur di bandingkan harus berbohong di hadapan mereka. Lagi pula, Maya paling tidak bisa berbohong. 


Kalau mulut nya berbohong, maka wajah nya akan langsung menyangkal kebohongan itu dengan ekspresi nya. Sama seperti Mark yang tidak bisa di ajak berbohong sama sekali karena wajah nya terlalu jujur. Terlihat bukan? Kedua nya memang memiliki kesamaan, kata orang tua jaman dulu kalau wajah atau sikap sepasang kekasih itu mirip tanda nya jodoh. Semoga juga itu berlaku untuk pasangan Mark dan Maya. 


"Ohh, kamu kerja sama Melisa ya, Sayang?"


"I-iya, Ma."


"Jangan canggung sama Mama ya, anggap saja seperti ibu kamu sendiri." Ucap Indah yang membuat hati Maya terasa menghangat. Benar, ternyata orang tua Mark tidak mempermasalahkan pekerjaan nya sebagai maid di mansion Sanjaya. Itu mematahkan perkiraan Maya yang menyama ratakan semua orang-orang kaum berada karena dia pernah mendapatkan sebuah penghinaan dari orang kaya yang membuat nya memiliki trust issue. 


Maya memiliki penilaian tersendiri tentang orang kaya, namun penilaian itu terpatahkan sejak dia bertemu dengan Melisa dan Arvin juga Darren. Sekarang, kini dia menemukan lagi yaitu Indah dan Sandi. Orang tua Mark yang ternyata tidak sama seperti penilaian nya selama ini tentang orang kaya. Oke, berarti sekarang trust issue nya sudah sedikit memudar karena melihat ternyata masih banyak orang yang memiliki hati dan tidak melihat orang lain berdasarkan level sosial nya. 


"Ma.."


"Iya, sayang.."


"Maaf.."


"Kenapa minta maaf? Kamu punya salah sama Mama atau gimana? Apa kita pernah bertemu sebelum nya?"


"Di pasar hari itu, Mama kecopetan dan aku gagal mengejar copet nya."


"Astaga, jadi itu kamu, sayang?"


"Hehe, iya Ma." Jawab Maya sambil tersenyum kecil. 


"Pantas saja Mama berasa gak asing liat wajah kamu, sayang. Terimakasih waktu itu udah nolongin Mama."


"Tapi dompet nya.."


"Mama lapor sama Papa, jadi Papa yang ngasih pelajaran sama itu copet. Sebenarnya uang gak masalah sih, cuman ya ada kartu-kartu penting di dalam nya kayak kartu identitas." Jawab Indah. 

__ADS_1


"Ohh, syukurlah kalau begitu, Ma." Ucap Maya sambil tersenyum. Begitu juga dengan Indah, berbeda dengan Mark yang menatap wajah cantik sang kekasih dengan tatapan penuh ke kaguman. Jujur saja, dia yang memang sudah jatuh cinta kepada Maya, hari ini dia dibuat jatuh cinta untuk yang kesekian kali nya karena keberanian perempuan cantik yang berstatus kekasih nya itu. Dia kagum, benar-benar kagum akan kebaikan sang kekasih. Dia bangga memiliki kekasih seperti Maya.


"Jadi, kapan kamu mau menikahi Maya, Boy?" Tanya Sandi to the point. Wajah pria paruh baya itu terlihat sedikit lebih datar jika di bandingkan dengan Mark, jika pria itu sudah menunjukkan wajah seperti itu, artinya dia sedang serius. 


"Mark sih terserah Maya nya aja."


"Bulan depan bagaimana?" Tanya Sandi yang membuat Maya terkejut bukan main. Sungguh demi apapun, dia tidak menyangka kalau papa dari kekasih nya itu akan mengatakan hal seperti itu, secepat ini. 


"Apa itu tidak terlalu cepat? Bulan depan?" Tanya Maya sambil membulatkan kedua mata nya. 


"Tidak, niat baik memang seharusnya jangan di tunda-tunda, sayang." Jawab Indah, dia juga ikut mengeluarkan suara nya.


"Tapi.."


"Kamu mencintai putra Mama bukan? Kalian saling mencintai kan?"


"I-iya, tapi kalau bulan depan saya rasa terlalu cepat.." Lirih Maya. 


"Kamu belum siap, sayang?" Tanya Indah lagi membuat Maya melirik ke arah Mark yang juga tengah menatap wajah nya. Dia meminta bantuan pada Mark untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh kedua orang tua nya. Tapi Mark malah terlihat setuju-setuju saja dengan keputusan yang di buat oleh sang ayah. 


Kenapa? Dia sudah memiliki pekerjaan yang menunjang, meskipun hanya sekretaris dan asisten saja, tapi gaji nya sekarang sudah sangat mampu untuk memberi makan istri nya jika dia menikah kelak. Dia juga sudah menabung untuk biaya pernikahan nya, dia sudah menyiapkan semua nya matang-matang bahkan jauh sebelum dia memiliki kekasih. Di tambah usia nya sudah dewasa sekarang, bahkan teman-teman seusia nya dulu saja sudah menikah semua dan memiliki anak. 


"Tolong beri waktu untuk Maya memikirkan semua nya, Ma, Pa." Lirih Maya. 


"Kenapa, sayang? Jadi benar kalau kamu belum siap menikah?" Tanya Indah yang membuat Maya terdiam seketika.


"Bukan begitu, tapi Maya perlu meyakinkan semua nya terlebih dulu. Menikah adalah sebuah hubungan yang besar dan kuat juga sakral. Maya ingin menikah satu kali seumur hidup, ini tentang masa depan, jadi Maya tidak bisa memutuskan semua nya secepat ini, Ma." Jelas Maya yang membuat Indah dan Sandi kompak menghela nafas panjang setelah mendengar jawaban wanita itu.


"Baiklah, kami tunggu jawaban kamu secepatnya ya. Keburu Mark nya tua nanti, mama udah gak sabar pengen nimang cucu, hehe." Jawab Indah sambil cengengesan yang membuat Mark memutar mata nya dengan jengah. Belum juga menikah sudah membahas tentang cucu. 


"Belum juga married udah bahas cucu aja, Ma."


"Ya gapapa, soalnya kamu kan anak mama satu-satunya, jadi sama siapa lagi Mama minta cucu kalau bukan sama kamu. Lagian, usia kamu tuh udah dewasa. Udah pantes punya istri plus punya anak, sayang."


"Iya, Boy. Papa setuju dengan Mama, papa juga mau nimang cucu." Jawab Sandi yang membuat pasangan kekasih itu terdiam.


"Gimana, yang? Kalo kita nikah, kamu mau pake kontrasepsi dulu atau langsung aja?"


"Kamu gak denger tadi mama sama papa bilang apa? Mau cucu, ya kali aku pake kontrasepsi dulu." Jawab Maya sambil tersenyum.


"Nah, Maya nya udah mau tuh. Jadi kapan mau nikah, hehe."


"Bulan depan." Jawab Mark dengan wajah datar nya.


"Gimana, sayang?" Tanya Indah lagi pada Maya. Membuat wanita itu terkesiap, namun setelah di pikir-pikir lagi tidak ada salahnya kalau mereka menikah bukan? Usia nya saat ini juga sudah sesuai untuk berumah tangga. 


"Baiklah, aku setuju."


"Benarkah? Astaga, Papa kita akan punya menantu cantik." Ucap Indah kegirangan, dia benar-benar senang karena akhirnya dalam waktu dekat dia akan memiliki menantu. 


"Sayang, kamu yakin?"


"Tentu saja aku yakin, Mas. Tak ada salahnya juga kalau kita menikah dalam waktu dekat kan?" Tanya Maya membuat Mark menggelengkan kepala nya tak percaya. Artinya dalam waktu sebulan lagi dia akan menjadi seorang suami? Aaaaa, bagaimana ini? Tapi dia siap dengan status baru nya nanti. 


"Enggak begitu, soalnya tadi kata kamu mau mikir dulu."


"Tapi setelah di pikir-pikir memang benar, niat baik gak boleh di tunda-tunda kan?"


"Benar, jadi fiks nih kita nikah bulan depan?"


"Iya, Mas. Tapi aku mau pernikahan nya di gelar secara sederhana saja, Mas." Pinta Maya yang sulit untuk di kabulkan oleh Sandi. Mengingat kalau dia adalah salah satu pengusaha yang cukup terkenal di negara ini, Mark juga adalah putra satu-satunya yang dia miliki. Akan sedikit aneh kalau semisal putra nya menikah tanpa mengadakan pesta kan? 


"Minimal ada pesta resepsi meskipun tidak semewah penikahan anak pengusaha."


"Buat apa? Hambur-hamburin uang aja, kalau menurut Maya. Tuan Naren sama Nona Ayunda juga menikah tanpa resepsi." Jawab Maya membuat Sandi tetap bersikukuh untuk mengadakan pesta kecil-kecilan sebagai bentuk rasa syukur.


"Baiklah, kalau begitu syukuran kecil-kecilan saja ya?"


"Iya, Pa. Itu terdengar lebih baik." Jawab Maya sambil tersenyum. Akhirnya, di putuskan kalau bukan depan mereka akan menikah secara sederhana tanpa mengundang banyak orang dan hanya mengundang orang-orang terdekat saja. Bukan nya Maya tidak memiliki konsep pernikahan impian karena sudah pasti Sandi akan mampu mewujudkan nya, tapi Maya tidak terlalu menyukai pesta yang terlalu mewah karena baginya itu hanya akan mengahmburkan uang saja. 


Meskipun calon suami dan mertua nya orang kaya yang memiliki banyak uang, mengadakan resepsi pernikahan yang mewah sekalipun tidak akan membuat uang mereka habis, namun Maya hanya ingin menikah secara sederhana saja agar lebih terasa sakral.


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2