
Setelah beberapa hari di rawat rumah sakit, akhirnya Ayunda pun di perbolehkan pulang setelah luka jahitan di area sensitif nya itu sudah mengering sempurna dan Ayunda sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.
Wanita itu juga sudah aktif menggendong bayinya sambil berjalan-jalan untuk mempercepat proses penyembuhan keadaan nya setelah melahirkan secara normal beberapa hari yang lalu.
Hari ini, Ayunda akan pulang. Narendra dengan sigap membereskan semua barang-barang miliknya dan sang istri, selama beberapa hari dia full menemani istrinya di rumah sakit. Bahkan di ruangan itu di sediakan meja untuk nya bekerja menggunakan laptop, saking tidak ingin nya dia meninggalkan istrinya yang baru saja melahirkan buah hati mereka itu.
"Mas, jangan ada yang lupa ya.."
"Iya, sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum, dia tengah mengemas barang-barang itu ke dalam tas besar. Di sampingnya ada Ayunda yang melihat apa yang di lakukan oleh suaminya.
Wanita yang mengenakan pakaian setelan itu tengah menimang-nimang baby Haneen. Baby Hania juga terlihat anteng di pelukan Arvino, sedangkan Melisa sedang mengurus bagian administrasi. Tadinya, Arvino yang akan mengurus itu tapi baby Hania lebih nyaman jika di gendong oleh kakeknya, jadi dia terus merengek saat di gendong Melisa. Jadinya mereka pun bertukar tugas agar semuanya baik-baik saja.
"Ren, itu pembalut nya juga di bawa."
"Di rumah masih ada, Pi."
"Bawa aja, sayang itu masih banyak." Jawab Arvino sambil menunjuk satu bungkus pembalut yang tergeletak di meja nakas. Ayunda memang mengenakan pembalut, dia ganti sampai tiga kali seharinya karena dia sedang dalam masa nifas.
"Oke oke.." Naren pun memasukkan benda khusus perempuan itu ke dalam tas dan setelah selesai semuanya pun keluar dari ruangan itu.
Melisa juga sudah kembali, dia sudah selesai mengurus urusan administrasi. Dia mengambil alih Baby Haneen dari gendongan Ayunda, dia tidak tega melihat Ayunda berjalan sambil menggendong bayi, meskipun Ayunda tidak keberatan sama sekali, tapi tetap saja di keadaan nya saat ini membuat Melisa tidak tega.
"Kamu yang nyetir ya, Ren. Punggung Papi agak sakit ini."
"Baby Hania?" Tanya Narendra sambil melirik ke arah sang Papi. Dirinya sendiri terus menggenggam tangan sang istri dengan erat, Ayunda juga belum bisa berjalan terlalu cepat seperti biasanya. Dia masih merasakan ngilu di bagian itunya karena jahitan nya mungkin belum sembuh sempurna.
"Sama Papi di belakang."
"Katanya punggung Papi pegel, tapi gendong bayi masih kuat."
"Gak usah banyak omong kamu, salah gitu kalau Papi pengen gendong cucu sendiri?" Tanya Arvino dengan ketus, lengkap dengan delikan kesalnya.
"Iya iya, Naren yang nyetir iya.." Jawab Narendra. Dia hanya pasrah saja, meskipun sebenarnya dia juga kalau bisa menolak akan menolak untuk menyetir hari ini. Jujur saja tubuhnya terlalu lelah, selama beberapa hari dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Namanya di rumah sakit ya pasti berisik kan? Itulah alasan nya, belum lagi kadang-kadang kedua buah hatinya juga rewel, kadang pipis lah, pup lah, tengah malam lagi.
Ingin rasanya dia membangunkan istrinya, tapi ketika melihat wajah lelah sang istri membuatnya mengurungkan niat nya itu. Dia tidak mau mengganggu istirahat sang istri, dia tahu kalau dirinya lelah. Lalu apa kabar dengan istrinya? Sudah pasti dia sangat lelah mengurus dua bayi sekaligus dengan keadaan nya yang belum sembuh total.
"Mas, kok diem aja. Kamu kenapa?" Tanya Ayunda setelan semua nya berada di dalam mobil.
"Gapapa kok, sayang. Tapi Mas kepikiran, gimana kalo kita nyewa baby sitter aja?" Usul Narendra membuat Ayunda terdiam.
"Mami setuju, biar kalian punya waktu gitu buat istirahat. Soalnya Naren harus bekerja, kamu juga harus mengasuh anak-anak ini kan. Kalau ada baby sitter, kalian berdua gak bakalan terlalu capek." Ucap Melisa setuju dengan saran sang putra.
__ADS_1
"Papi juga, mau bagaimana pun kalian itu punya dunia masing-masing. Bukan artinya Papi ingin kalian bebas dan melupakan tentang anak-anak kalian, tapi nanti kalian akan kelelahan. Mami sama Papi aja dulu kewalahan ngurusin Narendra yang super duper aktif terus rewel, apalagi ini dua bayi langsung. Pasti agak repot, meskipun ada Mami sama Papi yang akan membantu." Jawab Arvino mengatakan pendapatnya dengan panjang lebar, jarang-jarang bisa mendengar pria itu bicara sepanjang dan selebar itu.
"Ayu ngikut apa kata Mami, Papi sama Mas Naren aja. Soalnya Ayu yakin apapun yang kalian lakukan pasti untuk kebaikan Ayu juga, kalian pasti memikirkan nya dengan baik sebelum memberikan usulan." Jawab Ayunda. Dia setuju dengan saran sang suami untuk menyewa baby sitter untuk menjagakan anak-anak nya.
"Yaudah, nanti Mami yang cariin ya.."
"Iya, Mami. Kalau perlu Adain test dulu sebelum di terima, soalnya kita gak tahu kan mereka seperti apa meskipun berasal dari yayasan terbaik. Terlebih lagi, mereka akan mengasuh pewaris dan cucu keluarga Sanjaya." Ucap Arvino membuat Ayunda tersenyum kecil. Arvino dan Melisa sangat protektif dalam menjaga anak-anak nya alias cucu mereka.
Dia senang karena banyak orang yang menyayangi anak-anaknya, bahkan di hari kelahiran mereka yang pertama tapi sudah banyak sekali yang menyayangi nya.
"Sayang.."
"Iya, Mas." Jawab Ayunda sambil melirik sang suami.
"Kamu beneran setuju kan dengan usulan, Mas? Bukan karena terpaksa karena Mami sama Papi setuju kan?"
"Enggak dong, Mas. Ayu juga gak bisa membayangkan pusing nya mengurus dua anak sekaligus. Apalagi kalau mereka mulai aktif nanti, jadi penawaran Mas sangat meringankan untuk Ayu."
"Iya, sayang. Menyewa baby sitter juga takkan mengurangi waktu kebersamaan kita bersama kedua anak-anak kita." Jawab Narendra sambil tersenyum. Inilah yang dia sukai dari sosok sang istri, dia selalu penurut dengan apa yang dia sarankan karena dia mengetahui kalau apapun yang di sarankan oleh Narendra atau mertua nya pasti sudah di pikirkan matang-matang sebelum mengatakan hal itu padanya.
"Iya, Mas."
"Tidak, Mas. Kenapa aku harus tertekan? Niat Mas itu baik kan? Biar aku gak terlalu kelelahan?" Tanya Ayunda dan Narendra menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Jadi kenapa aku harus tertekan atau keberatan? Ayu justru harusnya berterimakasih karena Mas langsung mengusulkan hal itu tanpa aku minta. Ini benar-benar meringankan tugas aku."
"Mas gak mau kamu kelelahan, sayang. Mas mau kamu tetap punya waktu untuk quality time seperti saat belum memiliki buntut." Jawab Narendra sambil terkekeh, begitu juga dengan Ayunda.
Singkat sekali rasanya jika di habiskan dengan berbincang dengan orang yang paling di sayangi, akhirnya mereka sampai di mansion besar milik keluarga Sanjaya.
Ayunda keluar dari mobil dengan turun secara perlahan setelah Narendra mengulurkan tangan nya untuk membantu sang istri untuk turun dari mobil karena dia yakin kalau Ayunda masih merasa ngilu.
"Terimakasih, Mas."
"Iya, sama-sama sayang." Jawab Narendra sambil mengusap puncak kepala sang istri juga mengecil kening nya dengan mesra.
Keduanya pun berjalan masuk ke dalam rumah, di belakang mereka ada Arvin dan juga Melisa yang masing-masing menggendong cucu mereka. Baby Haneen dan Hania terlihat nyenyak sekali dalam tidur mereka dalam dekapan hangat kakek dan nenek mereka.
Narendra membuka pintu utama itu dan seketika suaara riuh menyambut kepulangan Ayunda dan bayi-bayi nya. Suara terompet ada kue dan bermacam-macam properti lainnya mewarnai ruang tamu. Ruangan luas itu di hias sedemikian mungkin hingga menjadi cantik.
"Selamat datang Nona Muda.." Ucap para maid yang ada disana.
__ADS_1
"Astaga, kalian membuat aku terkejut sekaligus terharu. Terimakasih sekali kalian sudah seeffort itu untuk menyambut kepulangan ku." Ayunda mengusap sudut matanya yang berair. Dia tidak menyangka ternyata ada banyak orang yang menyayangi nya, bahkan maid-maid pun sampai menyambutnya dengan meriah seperti ini.
"Jangan menangis, sayang. Mereka membuat ini untuk menyambut kepulangan mu."
"Iya, Mas. Aku hanya terharu, ternyata masih banyak yang menyayangiku ya disini."
"Tentu saja, kamu semua menyayangi kamu, sayang. Mereka juga demikian, karena apa? Karena kamu adalah wanita yang sangat baik, maka dari itu kamu berhak mendapatkan semua rasa sayang dari semua orang."
"Iya, Mas."
"Sana, rayain sama mereka." Ucap Narendra membuat Ayunda tersenyum dan menganggukan kepalanya mengiyakan.
"Boleh, Mas?"
"Boleh, sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum. Ayunda pun berjalan mendekat untuk merayakan kepulangan nya ke rumah setelah beberapa hari berada di rumah sakit untuk menstabilkan keadaan nya.
"Nona muda, selamat atas kelahiran baby twins.." Ucap salah seorang maid yang terlihat masih muda.
"Terimakasih.."
"Saat Nona muda di bawa ke rumah sakit, kami tidak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Nona. Kami sangat senang karena Nona bisa pulang dengan keadaan yang sangat baik."
"Semua berkat doa kalian, terimakasih sudah mendoakan keselamatan ku." Ucap Ayunda sambil memeluk maid itu satu persatu dengan lembut dan hangat. Inilah yang membuat semua orang yang ada di rumah ini, termasuk dengan maid yang bekerja di mansion ini menyukai Ayunda adalah dia tidak pernah membeda-bedakan siapapun, dia memperlakukan semua orang dengan perlakuan yang sama.
Tidak peduli kaya atau miskin, tua atau muda, dia menghormati semuanya sebagai sesama manusia. Dia juga tidak gengsi untuk makan bersama maid, bahkan seringkali Ayunda ikut makan lesehan di lantai bersama para maid. Ayunda juga akan marah-marah kalau maid terlambat makan, maka dari itu dia tidak akan makan jika maid-maid itu belum makan juga.
"Ini kalian sampai bikin kue kayak gini buat aku?"
"Iya Nona, kami menanyakan kapan Nona akan pulang pada Tuan besar. Katanya nanti sore pulang, jadi saat itu kami langsung membuat kue dan mendekorasi ruangan ini. Tentunya atas izin dari tuan besar." Jawab salah satu maid yang sudah sepuh dan berumur. Dia adalah kepala maid di mansion ini.
"Astaga, kalian seniat itu untuk menyambutku? Sekali lagi terimakasih ya, aku sangat terharu dengan semua ini."
"Sama-sama, Nona."
"Yaudah, ayo kita makan kue nya. Kebetulan ya busui itu memang suka makan yang manis-manis ini." Ucap Ayunda sambil terkekeh. Dia pun memotong kue nya dan semua nya pun memakan nya, semuanya. Tidak ada satu pun yang tidak ikut merasakan kue itu, Ayunda memotong dan membagikan nya dengan rata.
Bahkan untuk Arvin, Melisa, Darren pun ukuran nya sama. Dia tidak membedakan nya sama sekali, dia memotong kue itu dengan ukuran yang sama, dia sangat adil memperlakukan manusia.
.........
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1