
Siang hari nya, Narendra membatalkan niat utama nya. Tadi nya, dia akan pulang setelah makan siang tapi ternyata ada satu meeting lagi yang harus dia hadiri. Narendra uring-uringan sejak tadi pada Mark, karena dia lupa mengabari sang atasan kalau ternyata masih ada meeting. Tapi Mark menyadari benar, apa kesalahan nya. Jadi dia diam saja saat pria itu marah-marah padanya.
Bahkan pria itu selalu menatap nya dengan sinis. Kedua pria berwajah tampan itu tengah menunggu klien datang, tapi sampai sekarang dia belum datang juga. Naren sangat membenci hal itu, dia paling tidak suka dengan yang nama nya menunggu untuk hal apapun itu, termasuk pekerjaan.
Sekarang, hanya raga nya saja yang berada disini, hati nya sudah berada di rumah sakit bersama istrinya. Sialan sekali, kenapa harus ada meeting tambahan dan klien nya malah datang terlambat, menyebalkan sekali bagi Naren sekarang.
"Haisshh, sampai sekarang kita harus menunggu disini, Mark? Aku harus menjemput istriku! Kau wakilkan saja meeting nya."
"Tapi, Tuan.."
"Sudah hampir satu jam kita di tanam disini, Mark. Tapi mana? Sampai sekarang orang itu tidak datang juga. Menyebalkan, aku lebih baik kehilangan kerja sama ini. Aku punya hal yang lebih penting di bandingkan pekerjaan!" Jawab Narendra dengan ketus. Pria itu beranjak dari duduk nya dan memutuskan untuk pergi dari cafe itu.
Ya, hampir satu jam mereka menunggu di cafe yang tak jauh dari perusahaan. Tapi tetap saja, dia merasa di permainkan karena waktu satu jam nya terbuang sia-sia, harusnya sekarang ini dia sudah berada di rumah sakit bersama istri cantiknya.
Tapi di luar cafe, dia malah bertemu dengan orang yang benar-benar tak ingin dia lihat lagi. Seorang wanita yang berasal dari masa lalu nya. Dia adalah Trisa, wanita itu tersenyum tipis saat melihat wajah tampan mantan kekasih nya itu.
"Hai, Ren. Kita bertemu lagi ya?"
"Ckk, tidak sengaja!" Jawab Narendra dengan wajah datar nya. Naren bersiap untuk pergi meninggalkan wanita itu, tapi dengan cepat tangan wanita itu menahan tangan Narendra. Pria itu berbalik lalu menoleh ke arah Trisa.
"Ada apa lagi?"
"Kita harus bicara, Ren."
"Bicara apa lagi? Aku rasa tak ada lagi yang harus kita bicarakan, karena kita sudah selesai." Jawab Narendra.
"Tidak, kita belum selesai. Aku belum setuju hari itu, Ren."
"Ckk, tetap saja. Saat kau lebih memilih untuk pergi demi karir sialan mu itu dari pada tetap bersama ku, saat itu juga aku anggap kita sudah selesai." Jawab Narendra membuat Trisa menggelengkan kepala nya. Dia benar-benar masih tidak terima karena Narendra menyudahi hubungan mereka dan bahkan sekarang, Narendra sudah menikah.
Ya, hari itu Narendra tidak mendapatkan jawaban apapun dari Trisa. Saat itu dia mengatakan, kalau Trisa menandatangani surat kontrak untuk modelling di luar negeri, maka hubungan mereka akan selesai.
Namun, Trisa hanya menganggap kalau ucapan Narendra hanya sebagai ancaman semata, karena dia tidak mungkin menyudahi hubungan nya. Trisa tahu benar kalau Narendra sangat mencintai dirinya, jadi tidak mungkin semudah itu Naren berpaling dan menyudahi hubungan mereka yang sudah terjalin cukup lama.
Hanya satu minggu berselang sejak Narendra mengatakan hal itu, Trisa pun meminta izin pada sang kekasih untuk pergi modelling ke luar negeri. Tentu saja Narendra tidak mengizinkan dan di detik itu juga, pria itu meminta untuk putus namun Trisa tidak mengindahkan nya.
Itu bukan pertama kali nya Trisa melakukan hal itu, diam-diam menandatangani kontrak tanpa seizin dari Narendra selaku kekasih nya. Beberapa kali bahkan Trisa pergi ke luar negeri tanpa memberi tahu dirinya, namun Naren selalu sabar dan memaafkan kesalahan wanita itu.
Tapi kali ini, akhirnya kesabaran nya juga habis. Dia benar-benar tak memiliki jalan lain selain menyudahi semua yang sempat dia awali. Narendra merasa berat saat itu, karena dia sangat mencintai Trisa namun karena selalu mendapatkan maaf dari nya, bukan nya membuat wanita itu sadar diri, namun malah sebaliknya. Kelakuan nya semakin menjadi-jadi, seolah Narendra tidak ada harga nya di mata Trisa.
Narendra tidak suka hal itu dan akhirnya, hari itu menjadi hari terakhir dia bertemu dan bicara empat mata dengan Trisa. Sejak kepergian wanita itu ke luar negeri untuk modeling disana, Narendra tidak pernah bertukar kabar apalagi bertemu dengan mantan kekasih nya itu.
__ADS_1
Namun sekarang, tiba-tiba saja Trisa kembali datang ke dalam hidup nya setelah dia memiliki hubungan yang baru bersama wanita lain dan dengan tidak tahu malu plus tidak tahu diri nya, Trisa malah bertindak seolah kalau dia adalah korban. Dia masih percaya diri kalau Narendra masih mencintai nya, tanpa dia ketahui kalau yang sabar juga bisa pergi kalau terlalu sering di sakiti dan tidak di hargai.
"Ren, aku mohon jangan seperti ini.."
"Ckkk, aku tidak pernah mau melakukan hal ini kalau saja bukan kau yang memulai lebih dulu. Aku memang mencintai mu, tapi itu dulu. Sekarang, aku hanya mencintai istriku!" Jawab Narendra.
"Jadi wanita kampungan itu benar istrimu, Ren?" Tanya Trisa dengan senyum mengejek nya, membuat kedua tangan Narendra terkepal erat di samping tubuh nya.
"Tak perlu menilai seseorang menurut cara pandang mu itu, Trisa. Bahkan kau saja tidak lebih baik dari istriku, bahkan derajat kalian berbeda."
"Hahaha, berbeda? Dia hanya gadis kampungan yang tak sengaja kau pungut bukan?"
"Jaga ucapan mu, Trisa!" Tegas Narendra, wajah nya berubah merah karena amarah yang merasuki nya.
"Kenapa aku harus menjaga ucapan ku? Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat dari ISTRI MU itu, Ren. Standar mu menurun ya?" Cibir Trisa dengan senyum meremehkan.
"Terserah apa katamu, yang jelas aku mencintai istriku dan apa kau tahu? Dalam sekejap dia bisa merebut hati Mami, tidak seperti kau!"
"H-aahh? Apa maksud mu?"
"Mami ku sangat menyayangi menantu nya, kau tahu? Istriku adalah menantu kesayangan nya. Dia sudah mendapatkan restu dari Papi dan Mami bahkan di pertemuan pertama! Sedangkan kau? Ckkk, apa yang bisa kau banggakan? Itu membuktikan kalau kau tidak lebih baik dari istriku." Jawab Narendra membuat Trisa terdiam.
Dalam hati nya, dia merutuki gadis yang kini menjadi istri dari pria yang masih dia cintai itu. Tidak, itu bukan cinta melainkan obsesi. Dia terobsesi untuk bisa memiliki Narendra, padahal dia tahu kalau merebut kebahagiaan wanita lain itu bukanlah sesuatu hal yang bisa di anggap sepele, itu akan sangat menyakitkan. Tapi demi obsesi dan ambisi nya, Trisa akan rela merebut kebahagiaan wanita lain demi memenuhi semua keinginan nya. Gila bukan?
"Fakta nya, istriku sekarang sangat di sayangi oleh Mami juga Papi. Bahkan dalam jarak waktu yang sebentar, Istriku bisa mencuri hati kedua nya." Jawab Narendra lagi.
'Sial, bagaimana bisa? Aku saja yang menjalin hubungan selama bertahun-tahun lama nya, tidak pernah mendapatkan restu kedua orang tua, Narendra. Lalu apa keistimewaan perempuan kampungan itu di bandingkan aku?' Trisa membatin. Dia tidak percaya kalau hanya dalam waktu tiga bulan saja, wanita yang dia hina itu bisa mendapatkan semua kasih sayang dari kedua orang tua Narendra.
"Kenapa diam? Kau iri dengan istriku bukan? Hahaha, sudah aku katakan. Kau tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan istriku, Ayunda." Jawab Narendra, dia tersenyum licik lalu beranjak dari tempat itu untuk pergi menjemput sang istri yang hari ini sudah bisa pulang karena keadaan nya sudah jauh membaik.
"Sial, lihat saja nanti. Kalau aku tidak bisa memiliki mu, maka wanita lain pun takkan bisa. Aku bersumpah, aku akan membuat hubungan mu dan juga istri yang kau bangga-banggakan itu hancur di tangan ku secara perlahan. Itu sumpahku!"
Di rumah sakit, Ayunda baru saja selesai di periksa kembali oleh dokter dan hari ini akhirnya dia bisa pulang juga setelah satu hari satu malam berada di ruangan yang berbau obat-obatan. Sungguh, membuat tidak nyaman tapi tidak ada pilihan lain lagi bukan?
"Mas Naren kok belum kesini juga ya? Apa macet?" Gumam Ayunda. Dia hanya sendirian di dalam ruangan ini karena Ibu mertua nya sedang keluar sebentar untuk menguras administrasi di bagian depan.
Ayunda pun melihat ponsel nya, sudah hampir jam tiga sore, tadi pagi dia berjanji kalau dia akan datang dan makan siang bersama disini. Tapi sekarang, sudah ngaret lebih dari dua jam. Karena sampai saat ini, Narendra juga belum menampakan batang hidung nya.
"Sayang, kok bengong gitu. Kenapa?" Tanya Melisa yang baru saja kembali dari luar setelah mengurus administrasi dan urusan lain nya yang berhubungan dengan kesehatan menantu kesayangan nya.
"Mas Naren, Mi.."
__ADS_1
"Kenapa sama Naren, sayang?"
"Udah jam tiga sore, tapi Mas Naren kok belum sampai juga ya?" Tanya Ayunda membuat Melisa tersenyum kecil.
"Mungkin masih di jalan, terus kejebak macet, sayang. Sabar ya? Sebentar lagi pasti kesini kok, percaya sama Mami."
"Iya, Mi. Maafin Ayu ya, Mi?"
"Tidak perlu minta maaf sama Mami, sayang. Nungguin suami itu wajar kok." Jawab Melisa sambil tersenyum kecil. Dia mengusap-usap puncak kepala Ayunda dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Hehe, iya Mami.."
Beberapa menit berselang, akhirnya Narendra pun sampai di rumah sakit. Pria itu membuka pintu dan tersenyum saat mendapat ibu dan juga istri nya sedang asik bercanda ria. Hubungan mereka sangat dekat, benar-benar dekat hingga takkan ada orang yang menyadari kalau Melisa adalah mertua nya Ayunda. Karena hubungan dan juga kedekatan kedua nya terlihat seperti ibu dan anak saking dekat nya.
"Ehem, lagi ngapain nih? Kok keliatan nya seneng banget kalian tuh.." Tanya Narendra sambil berjalan masuk, dia langsung membuka jas dan melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher nya seharian ini.
"Kok baru kesini, Mas? Kemana dulu?" Tanya Ayunda langsung, tanpa basa basi. Dia sudah sangat khawatir, jadi dia langsung menanyakan hal ini pada suami nya. Padahal, suami nya juga butuh istirahat lebih dulu karena baru saja datang. Jarak dari perusahaan ke rumah sakit juga cukup jauh, di tempuh dalam waktu satu jam kadang lebih jika terjadi kemacetan. Tapi untung saja, tidak ada macet saat Naren berangkat maupun saat pulang baru saja.
"Si Mark oleng kayaknya, dia lupa ngabarin kalau ada meeting tambahan setelah makan siang. Jadi, Mas sama dia nungguin hampir dua jam di cafe itu, eehh udah nunggu lama-lama disana ternyata klien nya gak datang-datang. Gak tahu kemana, nyebelin banget emang." Jawab Narendra sambil menggulung lengan baju nya hingga ke siku nya.
"Terus gimana?"
"Ya, Mas tinggal aja tuh si Mark. Biarin aja dia nunggu di cafe sendirian. Males banget harus nunggu klien." Jawab Narendra dengan wajah yang terlihat tak bersahabat. Seperti nya hal itu membuat mood suami nya memburuk. Begitu pikir Ayunda, padahal sebenarnya bukan karena hal itu yang membuat Narendra bad mood. Tapi karena pertemuan nya dengan masa lalu yang membuat nya sangat kesal.
Dia sudah sangat muak bertemu dengan Trisa, wanita itu seolah tiada habis nya untuk terus mengganggu hidup nya. Entah apa mau nya, dia sudah memilih pilihan yang salah dengan pergi ke luar negeri hari itu. Kalau saja, waktu itu dia tidak pergi kesana, pasti hubungan mereka akan baik-baik saja.
Baik-baik saja? Dalam mimpi mu, tidak semudah itu. Karena masih ada tembok tertinggi yang harus di lewati oleh Trisa yaitu kedua orang tua Narendra yang sudah jelas-jelas tidak menyukai nya dan tidak mau memberikan restu mereka untuknya. Karena mereka sudah mengetahui keburukan apa yang tersimpan di balik wajah cantik Trisa.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Narendra. Ayunda dan Melisa menganggukan kepala nya dengan kompak, Ayunda pun langsung berjalan pelan, namun tangan nya langsung di gandeng oleh Naren karena dia khawatir kalau istrinya masih merasa lemas.
"Mau di gendong aja, sayang? Mas takut kamu nya masih lemes."
"Gapapa kok, Mas. Ayu bisa sendiri, cuma di pegang aja tangan nya." Jawab Ayunda. Dengan senang hati, Narendra pun segera menggenggam tangan sang istri dan kedua nya pun berjalan berdampingan. Sedangkan Melisa berjalan di belakang mereka dengan membawa paperbag di tangan nya. Narendra juga menenteng tas berisi barang-barang milik Ayunda dan juga miliknya, juga Melisa.
Beberapa kali, Melisa menghembuskan nafas nya dengan kasar karena kesal sekaligus iri saat melihat kemesraan pasangan suami istri di depan nya, seperti sengaja juga mereka ingin memamerkan kemesraan di depan nya. Seolah tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Ckk, gini nih kalau ada pasangan bucin. Dunia berasa milik berdua, yang lain cuma ngontrak!"
Tapi, harusnya dia juga sadar. Dulu, dia juga bersama Arvin sama bucin nya seperti Ayunda dan Narendra. Bahkan mungkin dia lebih bucin dari pada pasangan yang ada di depan nya saat ini. Tapi sekarang, dia malah merasa iri padahal suami nya masih sangat bucin padanya.
Ya, memang bucin tidak mengenal usia. Sudah sama-sama tua pun, masih aja bucin. Bukankah itu bagus karena rasa cinta mereka tidak pernah berubah dari waktu ke waktu.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻