Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 108 - Mark dan Maya


__ADS_3

"Selamat pagi, dok." Sapa Mark, dia datang ke rumah sakit untuk menepati janji nya. 


"Ohh, selamat pagi kembali, Tuan Mark. Apa anda membawa barang nya?" Tanya dokter Hendra. Saat ini, kedua nya sedang berada di ruangan khusus dokter Hendra untuk praktik sehari-hari. 


"Ini, dok."


"Bagus, Tuan." Jawab Dokter itu, dia mengambil botol kecil berisi susu itu dan mengambil beberapa tetes menggunakan pipet lalu meletakan nya di sebuah kaca kecil. Dia akan melihat melalu mikroskop tentang struktur susu yang di bawa oleh Mark lalu setelah nya akan di lakukan uji laboratorium. 


"Lihat ini, Tuan." Ucap Dokter Hendra sambil membiarkan Mark untuk melihat hasil mikroskop nya. Benar, struktur susu nya pecah dan hancur karena obat yang di campurkan ke dalam susu itu.


"Astaga.."


"Struktur penyusun di dalam susu biasanya tidak mudah hancur, Tuan. Tapi ini hancur bukan? Sebagai pembanding, ini adalah struktur susu yang tidak di campur dengan apapun." Jelas dokter Heru, dia juga memperlihatkan struktur susu yang masih sangat baik, murni tidak ada campuran apapun di dalam nya, jelas berbeda dengan hasil susu yang tadi di bawa Mark.


"Berbeda bukan?"


"Jelas berbeda, dokter."


"Jadi, bisa di bayangkan sekeras apa obat itu, Tuan?" Tanya dokter Heru lagi dan Mark menganggukan kepala nya. Pasti obat itu sangat keras atau di campurkan dalam dosis tinggi agar hasilnya cepat terlihat, mungkin begitu. 


"Ini akan sangat berbahaya kalau semisal nya terus di konsumsi oleh ibu hamil seperti Nona Ayunda."


"Lalu?"


"Saya akan menguji laboratorium terlebih dulu, hasilnya akan keluar nanti sore. Anda bisa mengambil nya lagi, lalu berikan pada Tuan Muda agar dia bisa lebih berhati-hati." Jelas dokter Hendra dan di angguki oleh Mark. 


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Nanti sore, saya akan kembali."


"Baik, Tuan Mark." Jawab dokter Hendra. Mark pun langsung beranjak dari duduknya lalu pergi dari ruangan kerja dokter Hendra. Dia harus datang ke kantor untuk menghadiri meeting, plus dia sudah menemukan titik terang tentang pelaku yang sudah menyabotase data-data perusahaan. 


Jangan bayangkan bagaimana isi otak seorang Mark sekarang ini, sudah jelas dia bekerja keras karena harus menyelesaikan pekerjaan itu satu persatu, belum selesai masalah yang satu, sudah datang lagi masalah. Tapi biang keladi dari semua ini sudah jelas adalah satu orang, yakni Trisa. Iblis wanita berwujud manusia itu benar-benar membuat Mark pusing, bisa-bisa berat badan nya akan turun drastis setelah ini karena sibuk, pola makan nya menjadi tidak terkontrol. 


Mark menyempatkan diri berhenti sebentar di pinggir jalan untuk sarapan, dia memesan bubur ayam lalu memakan nya dengan lahap. Namun, dari kejauhan dia melihat seorang gadis yang berjalan perlahan sambil membawa banyak barang di tangan nya. Tubuh mungil nya terlihat kesusahan membawa barang-barang itu, hingga membuat hati kecil Mark tergerak.


"Biar aku bantu.." 


"Aaahh ya, terimakasih Tuan." Jawab nya, suara lembut menyapa telinga Mark. Lembut mendayu membuat hati nya berdebar tak karuan, sungguh demi apapun ini adalah pertama kali nya Mark merasakan debaran jantung tak biasa ini saat berdekatan dengan seorang wanita. 


Gadis itu mendongak, kedua mata yang bulat itu terlihat sangat menggemaskan. Gadis itu membulatkan kedua mata nya, saat melihat siapa pria yang berdiri tepat di hadapan nya. 


"Tuan Mark.."


"Iya, aku Mark. Kau Maya kan?" Tanya Mark sambil tersenyum kecil sebagai bentuk basa basi. Padahal, sejak pertama kali bertemu Maya di mansion milik Narendra, sejak itu Mark tidak pernah melupakan wajah Maya, senyuman nya yang manis nan hangat telah membuat pikiran Mark melayang entah kemana. Beberapa hari ini, gadis itu selalu membayang di dalam pikiran nya, tapi siapa sangka kalau dia malah bertemu dengan gadis itu disini?


"I-iya, Tuan. Saya Maya.."


"Kau belanja disini?"


"Iya, saya habis belanja mingguan. Kebetulan hari ini adalah bagian saya, Tuan." Jawab Maya sambil tersenyum kecil.


"Kau sudah makan?"


"B-belum, Tuan."


"Ayo sarapan dulu bersama ku, biar aku yang akan mengantar mu pulang." Ajak Mark membuat Maya terkesiap, dia bersiap untuk menolak ajakan Mark, tapi suara pria itu membuat nya terdiam seketika.


"Aku tidak menerima penolakan, mari.."


"Tapi, saya akan di marahi kalau terlambat, Tuan."


"Aku yang akan bertanggung jawab, tidak perlu takut, Maya." Jawab Mark, tanpa aba-aba terlebih dulu, dia menarik tangan Maya dan mengajak nya duduk di bangku panjang khusus orang makan bubur di tempat nya langsung.


"Kamu belanja sendirian, gak sama supir?" Tanya Mark sambil menatap wajah Maya yang terlihat sedikit pucat, meskipun hal itu sama sekali tidak mengurangi kadar kecantikan Maya bagi penglihatan Mark. 

__ADS_1


"Enggak, Tuan." Jawab Maya sambil tersenyum kecil. Saat itu juga kening Mark mengernyit heran, kenapa? Tentu saja dia heran, setahu nya kalau ada maid yang keluar rumah apalagi belanja bulanan barang sebanyak ini, pasti di antar oleh supir atau setidaknya ada yang mendampingi, tidak sendirian. 


Karena kebutuhan rumah itu tidak sedikit, kalau begini kan kasian yang belanja ke pasar nya, sudah jauh, belanjaan nya banyak tapi di bawa sendirian karena tidak ada yang menemani nya.


"Kau serius?"


"Serius, Tuan. Memang nya ada apa?"


"Supir di mansion Sanjaya itu banyak, bukan hanya satu atau dua, kenapa kau tidak meminta di antar supir? Belanja kebutuhan mingguan itu banyak, May." 


"Tidak apa-apa, Tuan." Jawab Maya dengan sedikit senyuman manis nya. Terasa sedikit ada yang janggal disini, tidak mungkin kalau supir keluarga Sanjaya itu tidak tahu kalau ada yang pergi belanja, bukan? Lalu kenapa tidak ada yang bersedia mengantar sedangkan saat dia pergi tadi, mereka semua sudah standby di mansion? Bahkan mobil nya juga sudah selesai di cuci.


"Jangan menyembunyikan apapun dariku, Maya."


Gadis itu menatap Mark dengan tatapan sendu, memang dia merasa ada sedikit perasaan yang tidak seharusnya. Ada penindasan di rumah itu yang di lakukan sesama maid, termasuk Mona. Dia bersikap semena-mena, seenaknya padanya. Bahkan tak segan-segan dia memukul nya kalau saja dia melakukan sedikit saja kesalahan. Tapi, seringkali dia di hakimi tanpa tahu apa kesalahan nya. 


Seperti saat ini, jika maid lain akan pergi bersama seseorang supir untuk mengantar ke pasar saat belanja, namun berbeda jika semisal nya Maya yang berangkat belanja. Mona bersikap seolah dia adalah orang yang paling berkuasa, hanya pada Arvin atau Melisa saja dia tunduk, terutama pada Darren. Namun pada Ayunda, dia sedikit membangkang juga. Dia hanya akan menurut pada Narendra saja, selebihnya dia bersikap seolah dia adalah nyonya di rumah besar itu. Belum lagi sikap nya yang sinis, jutek dan juga judes pada sesama maid lain, termasuk pada Maya. 


"Ada apa, Maya?"


"Maaf, Tuan.."


"Bicarakan padaku sekarang!"


"Maya.." panggil Mark dengan suara berat nya membuat nyali Mark menciut seketika.


"Tapi.."


"Jangan khawatir, aku bukan tipe pria yang suka membicarakan masalah pada orang lain. Kau bisa memegang ucapan ku, Maya!"


"Hufftt, baiklah. Ada sedikit ketidak adilan di rumah itu, Tuan."


"Contohnya?"


"Sekarang, maid yang belanja biasanya di dampingi supir, tapi ada orang yang melarang saya pergi bersama supir."


"Mona, Tuan."


"Mona?"


"Iya, dia maid yang selalu mengurus segala keperluan Nona muda. Mulai dari keperluan nya, sampai makanan dan susu nya di awasi langsung oleh Mona." 


"Kenapa dia begitu?"


"Dia merasa berbeda dari maid lain hanya karena dia adalah maid yang di tunjuk secara langsung oleh Nyonya Melisa, Tuan." Jelas Maya membuat Mark menggeretakan gigi nya. Dia marah, benar-benar marah. Entahlah, kenapa bisa dia semarah ini karena Maya di perlakukan secara tidak adil? Padahal, mereka tidak memiliki hubungan apapun. Bahkan, ini baru kali kedua mereka bertemu di rumah besar milik keluarga Sanjaya.


"Hanya karena itu?"


"Iya, Tuan."


"Kau tidak mencoba bicara pada Tuan besar atau Nyonya besar?"


"Mana saya berani, Tuan. Dia mengatakan kalau siapapun yang bicara pada Nyonya atau Tuan besar, akan di pecat."


"Hah? Seberkuasa itu dia? Padahal dia juga sama seperti mu, level kalian sama yaitu seorang maid. Bukan Nyonya di rumah itu, Maya." Sewot Mark, dia merasa kesal sendiri. Ternyata kedamaian di mansion Sanjaya itu hanya pencitraan saja, di baliknya ada drama gila yang di lakukan oleh seorang maid sok berkuasa?


"Tapi semua maid takut pada Mona, Tuan."


"Benarkah? Bahkan maid senior?" Tanya Mark lagi dan Maya menganggukan kepala nya mengiyakan, gila. Ini semua benar-benar gila, wanita bernama Mona itu juga menjadi kandidat pertama orang yang bisa di curigai telah mencampur susu kehamilan milik Ayunda dengan obat penggugur kandungan.


Menurut keterangan Maya, maid itulah yang selalu menyiapkan semua keperluan Ayunda selama di rumah, termasuk menyiapkan susu kehamilan untuk Nona muda keluarga Sanjaya itu setiap paginya. Tapi rupanya, hal itulah yang membuat wanita itu besar kepala karena merasa dia berbeda dari maid yang lain. Padahal, dia juga hanya maid disana. Tidak lebih, hanya MAID. Bukan Nyonya, tapi kelakuan nya seolah dia adalah yang paling berkuasa. 


 "Iya, Tuan. Aduh, saya sudah terlambat. Saya duluan ya, Tuan."

__ADS_1


"Saya antar, tidak ada penolakan." Tegas Mark, dia membayar dua porsi bubur ayam yang di makan nya dan juga Maya lalu membawakan barang belanjaan gadis itu dan membukakan pintu mobil nya agar Maya masuk, namun bukan nya cepat masuk gadis itu malah bengong.


"Hey, malah bengong. Cepat masuk, katanya sudah terlambat."


"Saya di belakang saja."


"Heh, saya bukain pintu depan buat kamu ini butuh effort ya. Cepat masuk!"


"B-baik, Tuan." Jawab Maya, dia pun langsung masuk dan duduk di kursi depan. Tak lama, Mark masuk ke dalam mobil dan pria itu langsung melajukan kendaraan roda empat nya dengan kecepatan yang cukup tinggi. 


Sungguh demi apapun, sepanjang perjalanan tak sedetik pun dia merasa tenang. Pertama, dia gugup berdekatan dengan Mark, pria tampan yang menjadi kepercayaan Narendra. Kedua, dia takut di marahi oleh maid lain karena pulang terlambat.


Mark yang melihat Maya duduk dengan gelisah di kursi nya pun akhirnya mengeluarkan suara nya, dia terlihat tidak tenang sama sekali jadi dia bicara agar gadis itu sedikit tenang.


"Duduk lah yang tenang, jangan lasak. Tenang saja, tidak akan ada yang berani memarahi mu. Bilang saja padaku, biar aku yang pecat!" Tegas Mark membuat Maya merasa sedikit terlindungi, tapi tetap saja dia takkan bisa lolos dari Mona. Sudah bisa di pastikan kalau dia akan mendapatkan hadiah berupa pukulan atau tamparan nanti. Membayangkan nya saja sudah membuat nya meringis. 


"Katakan padaku jika kau mendapatkan kekerasan di rumah itu, saat itu juga aku akan membawa mu pergi dari rumah itu!" Mendengar itu, Maya terhenyak. Ini benar-benar di luar dugaan, entahlah tapi ucapan Mark membuat nya sedikit baper. 


'Jangan baper, May. Dia hanya ingin membuat mu tenang, bukan artinya dia punya niat lain. Jangan ke geeran, Mau. Nanti kau malu sendiri.' Batin Maya. 


Hampir satu jam kemudian, akhirnya Mark berhenti di rumah besar milik Narendra. Disana sudah terparkir rapi sebuah mobil berwarna hitam yang mengkilat, Mark tahu itu mobil siapa. Tentu saja mobil milik Arvin, berarti pasangan itu sudah kembali dari liburan nya?


"Biar aku saja." Ucap Mark saat melihat Maya akan membawa belanjaan nya. Namun dengan cepat, Mark mengambil alih barang belanjaan gadis itu dan masuk ke dalam rumah yang pintu nya terbuka lebar dengan wajah datar nya.


"Lho, Mark.."


"Kau kembali?" Tanya Narendra. Dia sedang duduk di sofa ruang tamu bersama kedua orang tua nya, disana ada Ayunda yang duduk di sofa sendirian. Mereka menciptakan jarak yang membuat Mark sedikit mengernyitkan kening nya keheranan, ada apa dengan pasangan itu? Setahu nya mereka sangat bucin, apa mungkin karena kejadian hari itu? Narendra masih belum berhasil membujuk istrinya?


'Mereka berjarak seperti ini? Ckk, sialan iblis wanita itu.' Batin Mark. Sungguh demi apapun, kalau bisa dia akan membejek-bejek wajah wanita itu seperti perkedel. 


"Baru pulang belanja, May? Tapi kok barengan sama Mark." Tanya Melisa dengan senyum kecil nya saat melihat Maya berjalan pelan di belakang Mark.


"Maaf, Nyonya."


"Kok minta maaf? Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa, saya baik-baik saja, Nyonya. Saya permisi ke belakang dulu." Pamit Maya, dia pun pergi dari hadapan semua orang dan pergi ke dapur. 


Mark juga kembali dari dapur dengan wajah datar nya. Pria itu pun berdiri di dekat Arvin yang melambaikan tangan padanya, memberikan isyarat pada pria itu agar mendekat.


"Kemarilah dan duduk disana." Mark mengangguk dan duduk di samping Narendra. 


"Selamat pagi, Tuan besar. Kapan anda sampai?"


"Baru saja, kami mendapatkan kabar kalau Ayunda pendarahan lagi, jadi kamu langsung mengambil penerbangan dini hari." Jawab Arvin dengan wajah datar nya.


"Apa kabar mu, Mark?"


"Baik, Tuan. Hanya saja agak sedikit pusing, hehe."


"Bagaimana dengan perusahaan, apa juga sebaik keadaan mu, Mark?" Tanya Arvin dia menatap wajah Mark. Sebenarnya, pria itu terkejut saat melihat wajah sangar Arvin tapi sebisa mungkin dia menyembunyikan nya dengan raut wajah datar nya.


"Baik juga, Tuan."


"Jangan coba-coba berbohong, Mark!" 


Sudah Naren duga, Mark masih belum bisa di ajak berbohong. Wajah nya terlalu bisa di tebak, membuat Narendra menggelengkan kepala nya. 


"Kapan kau bisa di ajak kompromi sih, Mark?"


"Hehe, keliatan banget kalo lagi bohong nya ya, Tuan?" Tanya Mark sambil tersenyum kecil, dia menggaruk tengkuk nya yang padahal tidak gatal sama sekali. 


"Nyebelin!" Ucap Narendra sambil menggeplak kepala asisten nya dengan gemas, dia sudah berusaha meyakinkan sang ayah kalau semua nya baik-baik saja, eehh malah punya asisten yang gak bisa bohong alias wajah nya tidak bisa di ajak berbohong.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2