
"Sayang, turun yuk. Ini sup nya udah mateng, ajak Naren juga." Teriak Melisa dari bawah, membuat Ayunda yang sedang merasa lemas seketika merasa bersemangat, seketika rasa lemas yang tadi nya dia rasakan mendadak hilang entah kemana. Di gantikan dengan perasaan antusias, perut nya yang tadi terasa mual seperti di aduk-aduk pun kini tidak lagi. Tergantikan dengan rasa lapar yang membuat Ayunda ingin cepat-cepat turun, tapi Narendra sedang berada di kamar mandi.
"Mas, ayo dong cepet. Aku udah laper ini."
"Bentar, tanggung ini belum selesai. Jangan turun sendirian, Mas gak ngizinin." Jawab Narendra dari dalam kamar mandi. Dia sedang setor tunai sekarang, ngerti lah ya.
"Yaudah, cepetan atuh Mas."
"Iya sebentar, sayang ku." Jawab Naren lagi, membuat Ayunda kesal. Kenapa sih suami nya lama berada di kamar mandi? Sudah beberapa menit berlalu, Ayunda semakin merasa kesal karena sampai saat ini suami nya belum keluar juga dari kamar mandi.
"Dia ngapain sih? Lama amat di kamar mandi. Gak tau apa istrinya udah laper juga, mau nekat tapi nanti di omelin habis-habisan." Gumam Ayunda. Hingga akhirnya Narendra keluar dengan wajah lega nya.
"Kamu ngapain sih di kamar mandi, Mas? Lama bener deh, gak mungkin kamu tidur disana kan, Mas?" Tanya Ayunda menggebu-gebu. Dia masih kesal pada suami nya seperti nya.
"Lah, ada kasur empuk kenapa harus tidur di kamar mandi? Aku lama ya karena perut aku mules." Jawab Narendra sambil tersenyum.
"Besok, makan lagi seblak pedes sana."
"Yang ngajakin Mas makan seblak siapa? Kamu kan?"
"Tapi aku gak mintabkamu makan seblak pedes, Mas!"
"Isshh, yaudah. Ayo turun, katanya laper kan?"
"Gendong!" Pinta Ayunda dengan manja. Narendra menghembuskan nafas nya, lalu menggendong sang istri ala koala. Istrinya jauh lebih manja setelah tidak hamil, padahal disaat dia sedang hamil, dia tidak semanja ini. Justru sebaliknya, Ayunda malah mandiri. Dia suka mengerjakan sesuatu sendirian, tapi sekarang kok terbalik ya? Apa ini wajar? Oke, anggap saja ini wajar.
"Manja nya istriku.."
"Gak boleh? Bilang kalo gak boleh!"
"Dih, bukan gitu maksud aku. Kamu tuh ya, sensitif amat deh. Padahal aku gak bilang gak mau gendong kamu." Ucap Narendra sambil mengecup singkat bibir istrinya. Sungguh, dia gemas sendiri ketika istrinya mode manja seperti ini. Dia sadar, kalau bukan padanya, lalu pada siapa lagi Ayunda bermanja? Sekarang, hanya dirinya yang di miliki oleh wanita itu.
"Hmm, kali aja kamu keberatan."
"Enggak tuh, mana ada. Kamu ringan gini kok, makanya makan tuh yang banyak ya? Biar gemoy kayak waktu itu." Ucap Narendra membuat Ayunda mengernyitkan badan nya.
"Berat badan aku udah bertambah hampir delapan kilogram lho, Mas. Kamu mau aku segede apaan?" Tanya Ayunda membuat Narendra terkekeh.
"Haha, segede apa ya?"
"Mas ihhh.." Rengek Ayunda sambil mengerucutkan bibir nya.
"Kenapa hmm?" Tanya Narendra sambil tersenyum kecil.
"Mas gak minta aku diet?"
"Diet? Ngapain diet? Biar apa, orang badan kamu udah bagus kok." Jawab Naren.
"Tapi perut aku berlemak sekarang, Mas. Gak langsing kayak dulu lagi."
"Gapapa, Mas lebih suka perut kamu berlemak tapi sehat. Dari pada kamu langsung tapi menyiksa diri sendiri dengan diet. Apa-apaan, Mas ini kaya. Masa kamu makan nya harus pilih-pilih makanan sih? Enggak deh, jangan." Ucap Narendra.
"Tapi aku jelek, Mas."
"Kata siapa? Siapa yang berani ngatain istri Mas ini jelek hmm?"
"Gak ada sih ya, cuman aku ngerasa gak percaya diri aja."
"Ckk, no insecure. Kamu sudah cantik, Mas mencintai kamu apa adanya. Tidak peduli mau seperti apa bentukan kamu, sayang. Mas tetap mencintai kamu, dengarkan itu dan berhenti insecure ya?"
"Mas, ini yang membuat aku sangat beruntung bisa memiliki suami seperti dirimu."
"Apalagi Mas? Bayangin aja seberuntung apa coba punya istri yang cantik dan pinter dalam semua hal? Mas bangga plus bersyukur banget bisa memiliki kamu, sayang."
"Huaaa, Mas.." Ucap Ayunda sambil menyembunyikan wajah nya di ceruk leher Narendra. Pria itu terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala nya, dia gemas melihat sang istri yang terlihat sangat menggemaskan saat ini. Kalau saja wanita ini tidak mengeluh lapar, dia akan memilih untuk mengurung Ayunda di kamar seharian. Apalagi kalau Ayunda sedang sehat, dia sakit saja menggemaskan seperti ini.
"Cieee, main gendong-gendongan.." Ucap Melisa dengan senyum menggoda nya.
Ayunda pun langsung turun dari gendongan sang suami, kedua nya terlihat malu-malu ketika tak sengaja bertemu dengan Melisa. Tapi ya, ini resiko nya kan?
"Ayu kan masih lemes, Mi."
"Iya, Mami juga tahu kali." Jawab Melisa. Dia pun mengecek suhu badan sang menantu, ternyata suhu nya sudah sedikit menurun. Dia tidak demam seperti tadi.
"Ayo, makan dulu. Mami udah bikin sup buntut spesial buat kamu."
"Ayu udah laper lho, Mi. Tapi dari tadi mas Naren tuh lama banget di kamar mandi, heran deh suka banget nongkrong di kamar mandi." Gerutu Ayunda sambil berjalan ke dapur dengan Melisa yang menggandeng lengan menantu nya.
"Hahaha, Naren memang seperti itu, sayang. Dari dulu, dia kalau pergi ke kamar mandi, pasti lama deh."
__ADS_1
"Seriusan, Mami?"
"Iya, setengah jam sendiri itu nongkrong nya. Tambah mandi, udah fiks satu jam." Jawab Melisa yang membuat kedua nya tertawa geli. Ternyata, Narendra memiliki kebiasaan yang cukup unik dan berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Disaat, kebanyakan orang lain malas berlama-lama di kamar mandi, nah Narendra malah sebaliknya. Kan aneh?
Kedua mata Ayunda berbinar ketika melihat sepanci besar sup buntut yang masih mengepul karena baru saja matang. Wanita itu langsung mengambil piring dan nasi, lalu menyendok sup nya dan makan dengan lahap.
"Enak, sayang?" Tanya Melisa. Dia membawa buah-buahan untuk mengupas nya, hari ini dia akan membuat salad buah sesuai dengan permintaan Ayunda beberapa hari yang lalu.
"Enak banget, masakan Mami selalu enak." Jawab Ayunda sambil mengacungkan kedua jempol nya memuji masakan sang mami yang memang selalu enak, memasak apapun pasti berhasil memanjakan lidah nya. Termasuk yang satu ini.
"Gak di kasih perasan jeruk dulu, sayang?" Tanya Melisa.
"Hoalah, Ayu lupa." Jawab Ayunda sambil terkekeh. Dia pun mengambil jeruk dan memeras nya di atas kuah nya. Dia mencoba nya dan memejamkan mata nya, benar-benar nikmat.
"Enak banget, Ayu bakalan makan banyak ini."
"Harus dong, kamu harus makan banyak ya. Biar gak lemes lagi."
"Iya, Mami." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Ohh iya, sayang. Mami mau bicara sama kamu."
"Bicara saja, Mi. Kenapa? Apa ini penting, mami terlihat serius." Ucap Ayunda. Dia menatap khawatir ke arah mami mertua nya.
"Mami beli ini, kamu coba cek ya?" Melisa mendorong pelan sebuah testpack yang di beli oleh Melisa saat dalam perjalanan pulang dari pesta pernikahan Mark dan Maya tadi. Dia sengaja meminta suami nya untuk menepi terlebih dulu di apotik.
"Siapa tahu, kamu mabuk tadi itu karena hamil hanya saja kita belum menyadari nya, sayang. Mami gak mau kita terlambat mengetahui nya, jadi sebaiknya kita langsung mengecek nya saja. Masalah iya atau tidak nya, tidak apa-apa."
Dengan ragu, Ayunda pun mengambil testpack itu dan memperhatikan bentuk nya. Dia tersenyum, dulu dia juga mengecek kehamilan nya menggunakan testpack yang persis seperti ini. Semua tentang kehamilan pertama nya masih terbayang jelas di ingatan, bagaimana dia melihat Narendra menangis sambil memeluk nya ketika mengetahui kalau dia tengah mengandung.
"Baik, nanti Ayu cek ya, Mami." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Jangan merasa tertekan ya? Mami melakukan ini hanya karena tidak mau kita terlambat menyadari nya, itu saja. Kalau positif ya allhamdulilah, kalau tidak ya tidak apa-apa. Mungkin belum waktu nya saja, masih banyak waktu dan masih banyak usaha yang perlu di coba." Jelas Melisa sambil tersenyum manis.
"Enggak kok, Mi. Mana ada Ayunda tertekan? Santai aja, Mami."
"Iya, sayang. Ayo lanjutin lagi makan nya, tuh sup nya masih banyak di panci, kalau belum kenyang nanti Mami bikin lagi."
"Aaahh Mami, yang ini juga belum habis lho. Baru di ambil satu mangkuk doang." Jawab Ayunda sambil tersenyum, dia sangat senang karena mami nya begitu baik padanya. Dia juga sangat perhatian, pengertian terhadap dirinya. Jangan tanyakan lagi seperti apa beruntung nya Ayunda memiliki mertua sebaik Melisa.
"Ya kali aja kamu takut gak kenyang, hehe."
"Yaudah, iya deh." Jawab Melisa sambil tersenyum.
"Mami mau bikin apa itu?" Tanya Ayunda.
"Bikin salad buah buat kamu, sayang."
"Mami.." Lirih Ayunda. Dia menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan sendu, dia yang kekurangan kasih sayang sejak kecil, kini di limpahi banyak sekali kasih sayang. Meskipun dari orang asing, tapi kasih sayang nya melebihi orang tua kandung.
"Iya, sayang. Kenapa menatap Mami seperti itu?" Tanya Melisa.
"Terimakasih sudah menuruti apapun keinginan Ayu, maaf kalau Ayu sering ngerepotin Mami."
"Kok kamu bicara seperti itu sih? Jangan begitu, Mami gak suka denger kamu bicara seperti ini lho. Mami lakuin ini karena Mami sayang sama kamu, tulus. Mami udah nganggap kamu seperti anak kandung Mami sendiri."
"Mami.."
"Jangan nangis, makan sambil nangis itu gak enak lho."
"Maaf, Mami."
"Gapapa, ayo makan yang banyak. Jangan terlalu banyak pikiran ya, fokus sama diri kamu sendiri."
"Iya, Mami." Jawab Ayunda sambil tersenyum, dia mengusap air mata nya yang tak menetes tanpa bisa di cegah itu. Lalu kembali melanjutkan makan nya dengan lahap, sesekali dia bercanda dengan sang mami mertua. Membuat suasana di dapur terasa lebih hangat.
"Wah, lagi ngapain nih?" Tanya Narendra sambil tersenyum. Padahal, dia sudah mengetahui semua adegan yang terjadi disini, karena tadi dari tadi berada disini. Hanya saja, dia merasa ini moment yang pas untuk dia keluar dari tempat persembunyian nya, tempat dia menguping semua nya.
"Makan, Mas. Di temenin Mami, mas mau makan juga? Aku ambilin dulu." Ucap Ayunda, dia bersiap untuk beranjak dari duduknya untuk mengambilkan makanan.
"Iya, tapi Mas ngambil aja sendiri. Kamu makan aja yang banyak, biar gak lemes."
"Iya, Mas. Kamu sama Mami sama ya, bilang makan yang banyak biar gak lemes katanya."
"Like mommy, like son, sayang." Jawab Melisa sambil tertawa.
"Nah, betul tuh kata Mami. Gak bakalan beda jauh-jauh, karena aku anak nya Mami." Jawab Narendra. Dia mengacak rambut Ayunda dengan gemas, lalu mengecup puncak kepala sang istri singkat, lalu pergi mengambil piring dan mengisi nya dengan nasi dan juga sup buntut yang tersedia di panci besar.
"Papi kemana, Mami?" Tanya Narendra di sela makan nya.
__ADS_1
"Tidur, katanya badan nya sakit-sakit."
"Kenapa, Mi?"
"Papi mu kan udah tua, jadi nyetir bentar aja pasti pinggang nya sakit." Jelas Melisa, membuat Narendra mengangguk-anggukan kepala nya.
"Ohh iya, lupa kalau Papi emang udah berumur."
"Hmm, cuman gaya nya aja yang kayak anak muda. Katanya sih biar keliatan awet muda, tapi usia kan gak bisa bohong." Jawab Melisa sambil terkekeh pelan.
"Ada-ada saja, Mami.."
"Pantesan telinga Papi panas banget dari tadi, ternyata kalian lagi ngomongin Papi ya?" Tanya Arvino yang berjalan sambil tersenyum kecil.
"Dikit doang, Pi."
"Hmm, Papi lusa mau ke Amerika lagi." Ucap Arvino, sambil mencomot buah anggur dari wadah.
"Mendadak, Pi?" Tanya Narendra.
"Kau kenal kan dengan Rudolf?" Tanya Arvino membuat Narendra memutar mata nya dengan jengah. Seketika dia merasa kesal ketika mendengar nama itu.
"Hmm, ada apa lagi dengan nya? Setelah terakhir kali menjebak ku dengan Ayunda?" Tanya Narendra membuat Melisa membulatkan kedua mata nya, begitu juga dengan Arvino. Dulu, putra nya ini memang mengatakan kalau ini adalah jebakan, tapi dia tidak mengatakan siapa orang yang sudah menjebak nya.
"Hah, apa maksud mu?"
"Rudolf lah orang nya, dia yang sudah menjebak aku dengan Ayunda hari itu." Jawab Naren.
"Astaga, benar-benar ya itu anak."
"Jadi, dia kenapa lagi sekarang?" Tanya Narendra. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba penasaran, memang sudah lama tidak terdengar lagi kabar dan keberadaan pria itu, entah dimana.
"Papa nya, ingin ikut dengan Papi ke luar negeri buat jengukin kakek kamu, itu saja."
"Lalu, apa kabar dengan Rudolf?" Tanya Narendra lagi.
"Katanya sih setelah perusahaan nya bangkrut, dia pergi keluar negeri karena disini di kejar-kejar polisi karena terlilit hutang, juga skandal narkoboy, juga pembunuhan."
"Buset, semua kejahatan di borong semua sama tuh orang. Gileee aja."
"Tapi Papi tuh kasihan aja sama Arga, papa nya Rudolf. Dia jatuh miskin sekarang."
"Kenapa kasian, toh itu bukan perbuatan kita kan? Itu perbuatan anak nya sendiri, punya anak kok kayak orang gak waras."
"Heh, Mas gak boleh bicara seperti itu. Gak baik."
"Iya tuh, istri kamu bener. Jangan bicara kayak gitu." Ucap Melisa, dia setuju dengan Ayunda.
"Yaudah iya, Naren minta maaf."
"Gapapa, jadi Papi lusa mau ke Amerika. Mami ikut sama Papi."
"Lho, papi belum ada bicara lho sama Mami tentang ini." Ucap Melisa. Dia terkejut, kenapa tiba-tiba dia harus ikut? Bukankah biasa nya Arvin juga pergi bolak balik ke luar negeri itu selalu sendirian?
"Kali ini, Papi mau sama Mami."
"Hmm, tapi Ayunda gimana?"
"Kalau aja kamu gak mabuk kayak gini, pasti Papi ajakin."
"Ayunda pengen banget ke luar negeri."
"Yaudah, ikut aja gimana? Selama menikah, kalian kan belum pernah honeymoon. Anggap saja itu honeymoon, bagaimana?" Usul Arvino membuat Ayunda berbinar, dia ingin sekali pergi ke luar negeri. Tepat nya, dia penasaran seperti apa rasanya naik pesawat.
"Naren sih terserah Ayu nya aja, kalau dia mau yaudah."
"Kamu gak liat wajah istri kamu berbinar gitu? Udah gak usah di tanya, udah jelas jawaban nya mau."
"Bener, Bby?"
"Hehe, iya. Boleh ya, Mas?" Tanya Ayunda.
"Iya, sayang. Tapi kita gak bisa lama-lama disana, kasian Mark disini. Dia lagi cuti, jangan lupa berangkat nya. Nanti saja ya? Kasian Mark masih cuti nikah."
"Baiklah."
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1