Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 171 - Ayunda & Laura


__ADS_3

"Selamat pagi, Nona dan Tuan.." Sapa karyawan yang tak sengaja berpapasan dengan mereka di lobi perusahaan. Narendra hanya menunjukkan wajah datarnya, berbeda dengan Ayunda yang menebar senyum manis nya sebagai balasan dari sapaan karyawan itu. 


Narendra nampak acuh saja, dia berjalan sambil menggenggam tangan Ayunda dengan erat.


"Hallo, Nona. Apa kabar?" Sapa seorang perempuan bertubuh tinggi langsing sambil tersenyum. 


"Aahhh, kamu resepsionis yang waktu itu menemani aku makan kan ya?" Tanya Ayunda menebak, jujur saja dia lupa nama perempuan itu. Tapi dia masih ingat akan perempuan cantik itu. 


"Benar, Nona."


"Aahhh, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Kamu nyaman bekerja disini?" Tanya Ayunda lagi.


"Nyaman sekali, sangat nyaman, Nona. Syukurlah kalau anda baik-baik saja, anda tengah mengandung, Nona?" 


"Iya, siapa nama mu? Aku lupa, maaf ya.."


"Laura, Nona."


"Ohh iya, Laura. Lainkali aku akan mengingatmu dengan baik, aku agak pelupa setelah hamil, hehe." 


"Sayang, ayo ke ruangan ku." Ajak Narendra sambil menarik pelan tangan mulus nan lentik sang istri. 


"Aahh iya, maafkan saya karena sudah mengajak anda mengobrol disini. Tapi saya gemas ingin menyapa."


"Tidak apa-apa, Laura. Aku senang karena aku merasa punya teman disini, setidaknya aku tidak akan terlalu canggung jika ikut suamiku ke kantor." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. 


"Anda hamil berapa bulan, Nona? Omong-omong, anda terlihat sangat cantik." 


"Terimakasih, kamu terlalu memuji, Laura. Kamu juga cantik, sekarang usia kandungan ku menginjak usia enam bulan." Jawab Ayunda sambil mengusap-usap perutnya.


"Tapi.. Maaf, Nona. Ukuran perut anda terlalu besar untuk usia kehamilan enam bulan. Maaf jika ucapan saya sangat menyinggung anda." Lirih Laura. 

__ADS_1


"Aku hamil kembar, Laura."


"Benarkah, Nona? Wahh, selamat. Saya ikut senang mendengarnya. Semoga sehat-sehat selalu, Nona. Lancar sampai hari persalinan nanti, saya akan mendoakan semua yang terbaik untuk anda."


"Terimakasih, Laura."


"Sama-sama, eemm bisakah saya mengusap nya?"


"Tentu, tentu saja boleh. Silahkan, usap saja tidak apa-apa." Jawab Ayunda dengan ramah. Dia selalu tersenyum sambil mengatakan hal itu, berbeda dengan Narendra yang sudah menunjukkan wajah asam nya. Dia tidak suka sang istri terlalu akrab atau terlalu ramah dengan orang lain selain keluarganya. Tapi, itu memang sudah sikap Ayunda. Dia adalah wanita yang ramah dan baik hati, maka tak jarang karena terlalu baik dia sering di manfaatkan.


Laura mengulurkan tangan nya, lalu mengusap perut buncit Ayunda dengan lembut. Rasanya sangat senang bisa mengusap perut buncit itu, apalagi dia bisa merasakan ada nyawa yang bergerak-gerak di dalamnya saat dia mengusap perut buncit itu.


"Ohh, kalian suka aunty Laura ya? Mereka langsung bergerak saat kamu usap, Laura." Ucap Ayunda sambil tersenyum senang, begitu juga dengan Laura. Sudah lama sekali dia mendambakan kehadiran buah hati di tengah-tengah dia dan keluarga. Tapi sampai saat ini, dia belum di berikan kesempatan untuk bisa mengandung. 


"Andai saja saya juga tengah hamil saat ini, pasti akan sangat menyenangkan." Laura tersenyum kecil, namun Ayunda bisa melihat ada raut wajah penuh kesedihan dari tatapan perempuan itu.


"Akan ada saatnya, Laura. Akan ada waktu dimana semua doa yang kamu langitkan di kabulkan oleh Tuhan. Kunci nya, sabar dan terus berusaha. Jangan hanya usaha membuatnya saja ya, tapi usaha dengan memeriksakan diri, mengkonsumsi makanan sehat dan vitamin penyubur kandungan. Kamu harus menyiapkan tempat yang sempurna untuk malaikat kecil yang akan di tiupkan ruhnya ke dalam rahim mu, semangat. Jangan menyerah, kamu pasti bisa hamil." Ucap Ayunda sambil mengusap pundak Laura pelan. 


"Setiap wanita yang memiliki rahim, pasti akan memiliki kesempatan untuk hamil. Jangan putus asa, apalagi terpengaruh dengan omongan-omongan tak penting yang menyakiti perasaan."


"Terimakasih, Nona. Akan saya ingat selalu perkataan dan nasihat anda." Ucap Laura sambil tersenyum, dia menatap Ayunda dengan tatapan berkaca-kaca. Bahkan, disaat keluarga nya saja meragukan dirinya, tapi ada Ayunda yang meyakinkan kalau semua nya akan baik-baik saja. 


Benar, semua wanita yang memiliki rahim akan memiliki kesempatan untuk hamil. Tak peduli meskipun agak lambat, tapi bisa di pastikan kesempatan itu akan datang. 


"Semangat, Laura." Ucap Ayunda, dia pun menarik pelan tangan Laura lalu memeluk dan menepuk-nepuk pelan punggung perempuan itu. Awalnya, Laura terkejut tapi akhirnya dia menerima pelukan hangat itu dan memejamkan matanya dengan dalam. Rasanya sangat nyaman, bagaimana jika keluarga nya yang memberikan pelukan itu? Kenapa dia malah mendapatkan hal ini dari orang lain? Rasanya sangat tidak adil, tapi dia tidak bisa melakukan apapun kecuali diam dan memendam semuanya sendirian. 


"Jangan menangis ya, kamu tuh harus belajar gak dengerin omongan orang lain yang bikin kamu down. Aku tahu semua itu dari tatapan mu."


"Jangan khawatir, Laura. Jika keluarga mu tidak mendukung mu, masih ada aku. Datanglah padaku, aku akan dengan senang hati mendengarkan semua keluh kesah mu. Simpan nomor ponsel ku, nanti kita bisa bertukar pesan ya. Sekarang, aku harus pergi. Lihat deh, wajahnya udah asem banget kayak sayur basi." Celetuk Ayunda yang membuat Laura melirik ke arah Narendra yang memang sudah menekuk wajahnya. 


"Maaf, Nona. Berbicara dengan anda selalu membuat saya lupa waktu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, lainkali kamu datang ke rumah ya. Sekalian main gitu, aku gak pernah kemana-mana kok, selalu ada di rumah." Jawab Ayunda.


"Iya, Nona. Sampai bertemu lagi nanti." 


"Iya, Laura. Aku pergi dulu." Ucap Ayunda. Laura menganggukan kepala nya, lalu keduanya pun pergi meninggalkan perempuan cantik itu yang masih berdiri sambil menatap punggung wanita cantik nan anggun itu dengan tatapan berkaca-kaca. 


"Selain kecantikan luar nya, dia juga memiliki kecantikan hati. Aku senang bisa bertemu dengan nya, semoga sehat selalu, Nona." Gumam Laura sambil tersenyum, dengan cepat dia mengusap air mata nya lalu pergi ke meja tempat dia bekerja. 


"Sayang, sejak kapan kamu kenal dia?" Tanya Narendra sambil menatap wajah cantik sang istri. Saat ini, keduanya sedang berada di dalam lift untuk menuju ke lantai dimana ruangan Naren berada. 


"Hmm, kapan ya? Kayaknya pas aku mau nganter makan siang, tapi di ruangan kamu ada mantan kamu itu lho. Terus aku keluar, lalu makan bareng sama dia disana." 


"Ohh gitu, keliatan nya dia wanita baik-baik ya."


"Iya, kayaknya sih. Aku gak tahu, kamu yang tahu soalnya kan ketemu setiap hari." Jawab Ayunda sambil menggandeng lengan besar sang suami. 


"Aku gak engeuh kalau punya karyawan yang kayak dia muka nya, aku gak pernah merhatiin." 


"Yang bener? Berarti bagus dong, artinya suami aku bisa menjaga pandangan nya. Iya kan?"


"Iya dong, aku udah punya istri yang sempurna kayak kamu, ya kali lirik-lirik kesana kemari. Gak ada, apalagi setelah kamu hamil sekarang. Beuuhhhh, kamu malah makin cantik terus enak, hehe."


"Heh, enak apaan? Emangnya aku makanan ya?" 


"Enak di naikin, yang."


"Mesuum nya punya suami." Ucap Ayunda sambil menggelengkan kepala nya. Dia heran dengan suami nya, jika sudah mesuum pasti tidak tahu tempat seperti sekarang. Untung saja di dalam lift hanya ada mereka berdua, kalau tidak sudah pasti Ayunda akan menahan malu sampai wajahnya matang seperti kepiting rebus.


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2