
"Yang.." Panggil Narendra pada sang istri. Ayunda yang sedang memasak pun menoleh dan tersenyum ketika melihat sang suami yang datang dengan membawa barang belanjaan yang dia butuhkan.
Tadi, Ayunda ingin memasak sesuatu. Lagi-lagi, seperti nya ini efek ngidam. Dia ingin memakan makanan yang berkuah dan pedas, jadi dia memutuskan untuk memasak mie pedas. Mie nya memang tersedia, tapi sayuran dan bakso-baksoan nya habis, bahkan telur nya juga habis.
Jadi, pagi-pagi tadi Narendra langsung pergi ke minimarket terdekat untuk membelikan beberapa kebutuhan itu. Sekarang, dia sudah selesai dan kembali ke rumah dengan membawa beberapa bahan masakan yang di minta sang istri.
Ayunda memasak dua bungkus mie instan pedas, dia menambahkan bakso, sosis, telur, sayuran dan juga beberapa topping lain nya. Itu untuk di bagi dua bersama suami nya. Narendra tidak bisa melarang sang istri, kalau di larang pasti Ayunda akan rewel. Jadi mendingan di turuti saja, tidak masalah makan mie instan asal jangan terlalu sering dan terlalu banyak. Maksimal tiga atau empat kali dalam seminggu, itu sudah peraturan yang di terapkan oleh Narendra untuk sang istri.
"Mateng mie nya, sayang?"
"Udah kok, Mas." Jawab Ayunda. Dia memindahkan mie nya ke dalam mangkuk yang berbeda lalu menyajikan nya di depan Narendra yang sudah duduk manis menunggu mie nya di sajikan.
"Kuah nya merah banget, yang."
"Tapi gak pedes kok, biasa aja. Cobain dulu, nanti kalo pedes banget aku yang habisin."
"Gak boleh banyak-banyak makan mie nya, kamu lagi hamil. Gak sehat, sayang." Jawab Narendra sambil mengusap puncak kepala nya dengan gemas.
"Isshh, iya-iya.." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. Dia terlihat lahap sekali ketika memakan mie pedas nya. Ayunda memang tipe ibu hamil yang kalau ngidam di makan. Meskipun terlambat, dia tetap akan memakan nya dengan lahap. Syukurlah, Ayunda tidak rewel. Selain itu, dia juga ngidam yang cukup mudah di cari.
"Sayang, mulai besok Mas mulai kerja ya?" Izin Narendra. Pria itu menatap wajah cantik sang istri dengan senyum kecil yang membuat mata nya menyipit.
"Iya, Mas. Tapi pulang harus bawa oleh-oleh, hehe." Jawab Ayunda, dia juga membalas senyuman manis sang suami tak kalah manis nya.
"Siap bumilku, telepon aja kalau ada yang kamu mau."
"Hehe, iya Mas." Jawab Ayunda.
Tak lama, datanglah Melisa dan Arvino. Aroma kuah mie yang gurih membuat mereka datang ke dapur dan melihat putra juga menantu nya sedang makan mie instan.
__ADS_1
"Wahh, makan mie instan gak ngajak-ngajak Mami." Ucap Melisa sambil tersenyum.
"Mami mau? Ayu bikinin."
"Gak usah, sayang. Mami mau bikin sendiri. Mami ngiler, hehe. Wangi nya sampe ke ruang tamu."
"Papi satu, Mi. Pake telur sama sayur ya." Jawab Arvino sambil duduk berhadapan dengan Ayunda dan Naren.
"Siap, Pi. Di tunggu.." Ucap Melisa. Arvin pun tersenyum lalu membuatkan mie untuk sang suami. Narendra memakan mie nya dengan lahap, dia terlihat menikmati mie nya, begitu juga dengan Ayunda. Dia yang mengidam memakan mie pedas siang-siang begini.
Tak lama kemudian, Melisa membawa kan semangkuk mie yang masih mengepul karena baru saja matang. Pria itu tersenyum manis ketika istrinya menyajikan semangkuk mie dengan topping telur, bakso dan sayuran.
"Makasih istriku."
"Sama-sama, Papi." Jawab Melisa. Ke empat nya pun memakan mie masing-masing.
"Jangan sering-sering makan mie instan ya bumil.." ucap Melisa pada Ayunda.
"Betul, mie instan memang gak baik buat kesehatan kalau di makan sering-sering." Ucap Arvino yang setuju dengan ucapan sang putra.
"Kalau mau makan mie instan, seminggu maksimal tiga atau empat kali. Itu juga sudah sangat sering." Melisa tersenyum pada Ayunda. Dia memperingatkan sang menantu agar lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan instan. Meskipun rasanya enak, tapi tetap saja tidak sehat jika di makan terlalu sering. Apalagi saat ini Ayunda sedang hamil.
"Iya, Mami. Naren juga udah bikin peraturan gitu biar Ayu nya gak nakal."
"Memang nya aku nakal?" Tanya Ayunda pada suaminya.
"Hehehe, nakal. Soalnya kamu sering makan gula-gula sembunyi-sembunyi dari aku, sayang."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya Mami, coba lihat deh di kamar. Banyak banget plastik pembungkus permen."
"Ayu, gak boleh ya, sayang. Makan permen banyak-banyak, bikin kadar gula meninggi, nanti gigi nya sakit juga lho." Ucap Melisa membuat Ayunda menundukan kepala nya, lalu mengangguk mengiyakan.
"Iya Mami, maafin Ayu.."
"Gapapa, sayang. Asal jangan di ulangi lagi ya, percayalah mami sama suami kamu melarang ini atau melarang itu bukan karena ingin mengekang kamu, sayang. Tapi kami melakukan itu karena sayang sama kamu."
"Iya Mami, Ayunda tahu kok. Cuma Ayu nya aja, belakangan ini pengen makan yang manis-manis terus." Lirih Ayunda sambil menundukan kepala nya.
"Nama nya juga orang ngidam, tapi mami mohon kamu bisa bedain mana yang sehat dan gak sehat ya, sayang. Mami juga gak bakalan ngelarang kalo yang kamu makan itu makanan sehat." Ucap Melisa membuat Ayunda tersenyum.
Dia sangat senang karena memiliki Melisa, wanita itu tidak pernah marah padanya. Kalau pun menasehati, pasti dengan tutur kata yang lembut dan sopan. Tidak pernah sekalipun Ayunda mendengar Melisa meninggikan suara nya, berbeda dengan Arvino.
Dia memang tidak pernah juga melihat papi Mertua nya itu marah, tapi terlihat dari wajah nya pun, Arvino adalah tipe pria yang tegas dan jika ada masalah pasti dia akan membicarakan nya secara langsung di depan orang nya. Kalau Melisa, dia akan melihat situasi nya terlebih dulu baru memberikan nasehat dan juga solusi nya.
"Sayang, kamu kok diem aja?"
"Mami, Papi, Mas Naren, Ayu berterimakasih banget sama kalian semua karena udah sayang sama Ayu sebegini nya. Ayu merasa hidup Ayu lebih berharga saat ini, terimakasih sudah sayang sama Ayu." Lirih Ayunda.
"Sayang, kok bicara nya kayak gitu? Mami sama papi, sayang sama kamu karena kamu juga anak Mami sama Papi, sayang. Jangan bicara seperti itu, kami sayang sama kamu." Ucap Melisa sambil tersenyum.
"Mas cinta sama kamu, sayang." Narendra meraih istrinya ke dalam pelukan. Dia tahu kenapa alasan sang istri bisa mengatakan hal ini, karena Ayunda hidup sendirian sudah lama. Dia kekurangan kasih sayang, dia berasal dari keluarga sederhana dan di tinggalkan kedua orang tua nya sekaligus. Mental nya pasti terguncang, apalagi dia kehilangan kedua nya disaat usia nya masih terbilang cukup muda.
Memang, dia bisa hidup bersama paman dan bibi nya. Namun, hidup nya lagi-lagi tidak seberuntung itu. Bibi nya tidak menyukai dirinya, hanya paman nya saja yang memperlakukan nya dengan baik, selebihnya dia hanya di perlakukan semena-mena, bahkan terlihat seperti pembantu jika di bandingkan seperti keponakan.
Bagaimana tidak? Urusan mencuci pakaian, mencuci piring, beres-beres rumah, bahkan mengerjakan tugas putri mereka pun harus Ayunda yang melakukan nya sendirian. Meskipun Ayunda sakit, dia tetap di paksa untuk mengerjakan semua itu tanpa bisa beralasan apapun, kecuali jika sang paman ada di rumah. Barulah mereka akan bersikap baik, seolah tidak terjadi apa-apa di antara Ayunda dan mereka.
Bibi nya memang pandai berdrama, sama seperti anaknya. Entah seperti apa kabar mereka sekarang, Ayunda tidak peduli lagi. Tapi, dia sangat mengkhawatirkan keadaan paman nya, kenapa orang sebaik sang paman harus hidup dengan kedua wanita bermuka dua? Yang hanya kelihatan baik saat di depan nya saja, berbeda lagi jika di belakang nya.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻🌻