Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 175 - Talk Before Sleep


__ADS_3

Narendra beranjak dari duduknya, dengan malas dia berjalan mendekat ke arah pintu. Dimana, disana masih terdengar ketukan lirih yang membuat seorang Naren merasa sangat kesal karena itu sangat mengganggu nya. Baru saja dia ingin bermain dengan istrinya, tapi dia malah di kejutkan dengan pintu yang di ketuk dari luar. 


Pria itu membuka pintu dengan malas, terlihatlah sosok yang begitu mengganggu nya. Narendra menatap malas ke arah sang ayah yang sudah menampilkan senyum menyebalkan nya. 


"Ada apa?" Tanya Naren dengan datar. Sontak saja, senyum Arvino memudar seketika. Pria itu berusaha untuk tidak membalas kedataran wajah putra nya yang di turunkan dari dirinya. 


"Besok kamu kerja kan, ada beberapa hal yang harus papi sampaikan." Ucap Arvin yang mendapatkan helaan nafas berat dari Narendra.


"Apa sih, Pi? Bisa gak jangan sekarang, lagi nanggung. Kenapa gak dari tadi aja?" Tanya Naren dengan wajah kesalnya.


"Papi mu ini sudah tua, Naren. Jadi sering lupa."


"Dasar tua." Celetuk Narendra membuat Arvino mendelik kesal pada putranya.


"Kau juga akan tua nanti."


"Besok saja, tanggung lagi mau buka baju. Jangan ganggu!" Tegas Narendra yang membuat Arvino menggelengkan kepala nya.


"Tapi.."


Blamm.. 


Pintu tertutup dengan keras, padahal Arvin belum selesai bicara. Dia ingin mengatakan sesuatu yang cukup penting mengenai perusahaan yang saat ini di pegang oleh Narendra. 


"Ini penting." Arvin menghela nafas nya, perilaku putranya itu sama persis seperti dirinya. Dia paling tidak suka di ganggu saat sudah malam, apalagi saat akan memulai ritual bersama sang istri. 


"Dia memang anak ku." Gumam Arvin lalu memilih pergi dari kamar putranya. Dia sadar benar kalau dia memang akan mendapatkan hal ini, karena ini sudah malam. Sudah pasti putranya dan juga istrinya akan beristirahat atau tidak ya sudah pasti mereka akan menunaikan ritual suami istri. 


"Kenapa wajahnya di tekuk gitu, Pi?" Tanya Melisa saat melihat wajah suaminya yang tertekuk seperti bungkus nasi Padang. 


"Naren lagi gak mau di ganggu, kayaknya lagi mau anu." Jawab Arvino yang membuat Melisa tertawa pelan.


"Kan tadi aku udah bilang, Pi. Jangan sekarang, nanti yang ada kamu ganggu mereka mau pacaran sebelum ada dua bayi disana." Ucap Melisa. Ya, memang sedari awal, Melisa sudah memperingatkan suaminya untuk tidak memberitahukan hal ini pada putra mereka. Masih ada besok hari, pagi-pagi sebelum berangkat bekerja kan bisa? Kenapa harus sekarang? Lagian, kenapa juga tidak memberitahukan hal itu tadi saat makan malam. 


"Iya iya, Mami. Ya sudahlah, ayo tidak tidur." Ajak Arvino sambil menggandeng tangan sang istri dan membawa nya ke kamar. Tentu saja mereka juga tak mau kalah dengan pasangan muda, mereka juga akan melakukan ritual suami istri. 


"Mas, itu Papi?" Tanya Ayunda sambil menutup pakaian mini nya menggunakan selimut. 

__ADS_1


"Iya, pengganggu."


"Gak boleh gitu, Mas. Mau bagaimana pun dia kan Papi mu." Jawab Ayunda, dia tersenyum kecil sambil mengatakan hal demikian. 


"Iya iya, jadi kita lanjut?" Tanya Naren sambil tersenyum menggoda.


"Boleh, ayo. Aku masih nungguin, gak tahu kenapa aku lagi pengen banget, hehe." Jawab Ayunda samb tersenyum manis. Tanpa menunggu waktu lama, Narendra pun merangkak menaiki tubuh sang istri dan mulai membuka pakaian yang di kenakan nya itu. 


"M-mas.." Lirih Ayunda saat Narendra mulai menyerang titik sensitif nya, yaitu leher. Dia menyesaap nya dengan perlahan, namun tetap meninggalkan bekas kemerahan yang berjejer rapi disana. 


Tangan besar pria itu meraup bulatan kenyal yang ada di dada sang istri, meremaas nya dengan lembut dan penuh perasaan, membuat Ayunda memejamkan matanya menahan rasa nikmat yang di berikan oleh sang suami. 


"Mas, gak kuat.." Lirih Ayunda. 


"Yaudah, buka sayang." Ajak Narendra. Ayunda pun bangkit dari rebahan nya, lalu mulai melucuti pakaian sang suami, begitu juga dengan nya. Dia melucuti pakaian nya sendiri, hingga mereka sama-sama polos saat ini. Narendra menatap penuh minat ke arah sang istri, aneh sekali. Dengan perut buncitnya saat ini, kenapa Ayunda justru terlihat lebih seksii dan menggairaahkan?


"Kamu terlihat seksii sekali, sayang."


"Orang mana yang bilang seksii dengan perut buncit seperti ini, Mas?" Tanya Ayunda sambil terkekeh.


"Iya ada, kan Mas yang bilang, sayang. Gak tahu, tapi di mata Mas kamu kelihatan seksii banget, menggairaahkan."


"Tidak, tidak sama sekali, sayang. Mas tidak mengatakan hal itu untuk menyenangkan kamu, Mas mengatakan fakta. Mas memang melihatmu sangat seksii, sayang." Jawab Narendra sambil mengangkat dagu istrinya, lalu melumaat bibir sang istri dengan lembut. 


Ayunda menerima nya tanpa penolakan sedikit pun, dia juga ikut membalas perlakuan sang suami. Keduanya berciuman dengan mesra, namun semakin lama terasa semakin menuntut karena Narendra semakin bernafssu untuk segera menjamah tubuh istrinya. 


Tangan pria itu kembali merayap kemana-mana, menyentuh setiap bagian sensitif istrinya. Hingga akhirnya keduanya pun menyatu, desaahan demi desaahan keluar dengan manja keluar dari mulut Ayunda. Pria itu tersenyum dan kembali menggerakan pinggang nya maju mundur dengan semangat begitu mendengar suara-suara sang istri yang semakin membuatnya bergairaah.


"Aaaahhhh, Mas.." Desaah wanita itu, Narendra tersenyum lalu kembali mencium bibir kemerahan wanita itu dan memeluknya, dia mempercepat gerakan nya membuat Ayunda tak sengaja mencakar punggung suaminya karena rasa nikmat yang menjalari tubuhnya membuat dirinya tak tahan, selain itu dia juga merasakan sakit yang membuatnya menjerit.


"Mas, jangan terlalu cepat, jangan terlalu dalam."


"Kenapa sayang? Bukan nya kamu suka, sayang?" Tanya Narendra sambil menatap wajah cantik sang istri dengan intens. Wajah keenakan itu membuat Naren semakin bersemangat untuk melakukan hal itu lebih cepat lagi. 


"Mas…"


"Bersama, sayang." Jawab Narendra. Dia pun menekan senjata nya sekuat dan sedalam mungkin hingga mentok tak bersisa. Kemudian, beberapa detik berlalu hingga akhirnya Narendra kembali menumpahkan benih-benih cinta nya di dalam rahim sang istri. 

__ADS_1


Naren tersenyum, lalu mendekap erat tubuh polos istrinya lalu mengecup kening nya sebagai tanda terimakasih karena permainan malam ini sangat dahsyat, dia mendapatkan kepuasan yang bahkan mungkin belum pernah dia dapatkan sebelumnya. 


"Terimakasih, sayang. Mas puas sekali dengan permainan mu."


"Maaf aku tidak bisa membantu mu, perut aku berat, hehe."


"Gapapa, ini saja sudah sangat membuat Mas puas. Terimakasih." Ucap Narendra lagi, lalu kembali mengecup kening istrinya juga bibirnya. Bahkan sempat melumaat nya sebentar hingga dia melepas penyatuan dan akhirnya berguling ke samping dengan tangan yang masih memeluk erat tubuh sang istri. 


"Mas, gerah.."


"Sayang, Mas tuh cinta banget sama kamu." 


"Lebay banget deh, Mas." Ucap Ayunda sambil terkekeh pelan. Narendra semakin mengeratkan pelukan nya, lalu menduselkan wajahnya di pundak sang istri yang masih polos karena dia belum berpakaian sedikit pun saat ini. 


"Omong-omong, kamu jatuh lebih enak setelah hamil deh, yang."


"Hmm, yang benar?" Tanya Ayunda lagi.


"Iya, sayang. Jauh lebih legit, itu kamu juga lebih sempit, kayak pas pertama kita melakukan nya." Ucap Narendra dengan suara parau nya. 


"Bukan nya kita melakukan hal itu saat kamu dalam pengaruh obat, apa kamu masih ingat rasanya?" Tanya Ayunda sambil tersenyum kecil. Dia ingat benar kalau saat melakukan nya pertama kali, Narendra dan juga dirinya berada dalam pengaruh obat perangsaang. 


"Enggak, tapi kayaknya enak deh. Apalagi kamu masih perawaan kan hari itu, hehe. Terus, gimana kamu pas ngerasain hal itu untuk pertama kalinya?" Tanya Narendra sambil memainkan puncak buah kenyal sang istri karena gemas plus tangan nya tak bisa diam.


"Kamu enak, aku sakit. Aku cuma ngerasa sakit, sakit banget terus pedih."


"Sakit?"


"Iya, sakit banget. Buktinya aku gak bisa jalan keesokan nya, Mas." Jawab Ayunda sambil terkekeh pelan.


"Maafin Mas ya, sayang? Mas pasti sudah sangat menyakiti kamu kan?"


"Enggak tuh, sebenarnya aku memang sakit tapi karena peristiwa itu aku jadi mengenal dirimu dan aku bersyukur karena pada akhirnya aku bisa mendampingi mu sebagai istri. Tidak semua peristiwa itu menjadi bencana, Mas. Buktinya, kejadian antara kita berdua." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.


"Iya, sayang. Terimakasih juga karena hari itu kamu mau memberikan Mas kesempatan untuk membuktikan keseriusan ku padamu, sayang."


"Sama-sama, terimakasih juga karena sudah menjadi pria yang bertanggung jawab, Mas." Jawab Ayunda, lalu berbalik dan memeluk sang suami. Sedari tadi, mereka berbicara dengan Ayunda yang berbaring menyamping membelakangi sang suami dan Naren yang memeluk erat sang istri dari belakang, meskipun ya tangan nya tetap aktif bergerilyaa kemana-mana.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2