
Pria itu masih terdiam menatap sosok sang ayah yang berbaring lemah di atas ranjang dengan banyak sekali alat kesehatan yang menempel di tubuh nya. Melisa mengusap bahu sang suami, membuat pria itu menoleh dan menatap wajah cantik sang istri.
"Papi, tenanglah.."
"Hati Papi gak bisa tenang sebelum melihat Papa bangun. Aneh, sekarang Papi merindukan saat Papa mengomel deh." Ucap Arvin dengan senyum kecut nya. Melisa pun menggandeng lengan suami nya. Dia merasa sang suami tengah membutuhkan dukungan nya sekarang ini.
Di belakang Arvin, ada Naren dan Ayunda yang juga sama-sama terdiam. Bahkan, Ayunda sudah menitikan Aif mata nya. Dia tidak tahan ketika melihat keadaan seorang pria paruh baya yang sangat baik kepadanya. Sangat menyakitkan sekali melihat nya hanya bisa berbaring di ranjang dengan kedua mata yang terpejam rapat. Bibir nya terlihat pucat pasi, tubuh nya juga mulai kurus.
Bahkan perut nya yang selama ini buncit pun tidak ada lagi, sungguh keadaan Darren begitu mengkhawatirkan sekarang. Terhitung, sudah dua bulan sejak kecelakaan itu terjadi hingga sekarang. Selama itu juga, Darren terbaring di ranjang rumah sakit karena koma. Kecelakaan itu membuat beberapa titik sensitif nya terganggu, itulah yang membuat nya koma hingga saat ini.
"Sakit sekali melihat dia seperti ini." Ucap Narendra lirih. Ayunda mendongak untuk bisa menatap wajah tampan suami nya.
"Mas.." Ayunda mengusap lengan suami nya dengan perlahan.
"Kakek pasti akan cepat bangun, kita hanya harus percaya padanya. Jangan berputus harapan, dokter mengatakan setiap kemungkinan bisa terjadi, bukan?" Tanya Ayunda sambil tersenyum, meskipun mata nya sendiri sudah sembab karena tak bisa menahan tangis nya ketika melihat keadaan Darren.
Pria paruh baya itu terlihat kurus, tubuh nya hanya tinggal tulang berbalut kulit saja, secepat itu? Hanya dua bulan saja, tapi itu mampu membuat Darren kehilangan banyak berat badan nya. Itulah yang paling membuat sedih.
"Badan kakek sangat kurus, sayang."
"Hmm, karena dia tidak makan. Hanya mengandalkan infusan dan makanan cair saja." Jawa Ayunda. Tidak kurus bagaimana? Sekarang, hidup nya bergantung pada alat kesehatan, makan pun hanya makanan cair yang di masukan melalui selang.
"Mas gak tahan, sayang. Mas keluar dulu ya.."
"Aku ikut, Mas."
"Kita ke taman ya, Mas ingin berada di tempat yang agak hening." Ajak Narendra. Ayunda menganggukan kepala nya, lalu menggenggam tangan sang istri dan kedua nya pun pergi bersama.
Pasangan suami istri itu pun pergi ke taman yang ada di belakang rumah sakit, tempat nya sangat luas, indah dan juga sedikit sepi. Hanya ada beberapa pasien saja disini yang mungkin saja bosan berada di ruangan mereka, jadi untuk menghilangkan kebosanan itu, mereka pergi ke taman, meskipun udara nya sangat dingin. Namun itu tidak menyurutkan keinginan mereka untuk melihat salju.
Narendra dan Ayunda memilih bangku panjang untuk mereka duduk. Kedua nya duduk bersampingan, Ayunda menggenggam tangan Narendra dengan erat. Dia yakin kalau tujuan Naren ke tempat ini adalah untuk merenungi semua kesalahan nya pada Darren disaat pria paruh baya itu masih sehat dulu.
__ADS_1
"Mas.."
"Iya, sayang. Ada apa?" Tanya Naren sambil menatap wajah cantik sang istri dengan tatapan yang sedikit berbeda dar ku biasa nya. Entah apa artinya, namun Ayunda yakin ada yang tidak beres dengan tatapan suami nya itu. Dia pasti sedang mengalami konflik batin sekarang ini.
"Apa mas baik-baik saja?"
"Bisa di bilang tidak, sayang. Bagaimana bisa Mas baik-baik saja?" Balik tanya Narendra, masih dengan tatapan aneh nya. Namun kali ini, di lengkapi dengan senyum kecut nya.
"Mas bisa bercerita sama aku, jangan di pendam. Aku istri Mas, kan?" Ucap Ayunda, membuat Naren menatap sang istri. Kali ini, dia menatap Ayunda dengan sendu. Mata nya berkaca-kaca, menandakan kalau dia memang sedang tidak baik-baik saja.
"Maaf, sayang. Mas merasa jadi orang yang paling sedih disini, padahal semua orang sama sedih nya, bukan hanya Mas saja."
"Iya, Mas. Tidak ada yang menginginkan hal buruk terjadi pada orang terdekat kita seperti ini, Mas." Jawab Ayunda.
"Mas hanya merasa sangat bersalah karena sebelum kecelakaan, mas sempat berdebat dengan kakek. Itu saja yang membuat hati Mas selalu sakit ketika melihat keadaan Kakek." Jelas Narendra membuat Ayunda akhirnya paham kalau suaminya pasti di hantui rasa bersalah pada Darren.
"Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, sayang. Manusia tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk kamu. Mau se sempurna apapun dirimu di mata orang lain, tapi kamu tetap saja manusia yang bisa berbuat kesalahan, Mas." Ucap Ayunda panjang lebar.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Mas. Kejadian ini bukan keinginan kita dan juga bukan kesalahan siapa-siapa. Ini benar-benar sudah takdir yang tak bisa di ubah lagi."
"Iya, sayang. Tapi Mas merasa bersalah saja pada kakek, kalau saja sebelum beliau berangkat ke negara ini, hubungan kami baik-baik saja, mungkin rasa bersalah Mas sama kakek takkan sebesar ini." Jelas Narendra. Dia menghela nafas nya berkali-kali. Bercerita dengan istrinya memang mampu membuat hatinya terasa sedikit lega. Namun, perasaan bersalah itu masih tetap ada di hati Naren.
"Ini bukan kesalahan kamu, Mas."
"Hmm.." Naren hanya berdehem saja sebagai jawaban, pria itu nampak menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang jauh entah kemana.
"Mas, jangan bengong. Ini rumah sakit lho, nanti kamu kesambet."
"Iya, sayang. Mana ada Mas bengong." Jawab Narendra sambil tersenyum kecil.
"Baguslah kalau kamu gak bengong, Mas."
__ADS_1
"Sayang.." Panggil Narendra. Ayunda menatap wajah suami nya dengan senyuman kecil yang terlihat manis sekali bagi Naren yang memang sudah di tahap bucin awal.
"Iya, Mas. Kenapa? Ada yang mau kamu ceritakan lagi?" Tanya Ayunda.
"Tidak, tapi Mas ingin berterimakasih sama kamu, sayang." Lirih Narendra membuat Ayunda menatap wajah Naren dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Berterimakasih? Tapi untuk apa?"
"Karena sudah mau mendengarkan cerita, Mas. Kamu selalu yang berada di samping Mas kapan pun ketika Mas membutuhkan kamu, sayang."
"Jangan berterimakasih, Mas. Itu memang sudah kewajiban ku, aku istrimu dan sudah tugas ku untuk selalu berada di samping mu, mendampingi mu dalam keadaan apapun." Jawab Ayunda yang membuat Narendra tersenyum. Dia pun merangkul pundak sang istri dengan mesra.
Lagi-lagi, dia merasa sangat beruntung karena bisa memiliki Ayunda seutuhnya. Dia sangat mencintai istrinya, begitu pula dengan Ayunda. Keluarga Narendra lah yang pertama kali membuat Ayunda merasa keberadaan nya sangat di hargai kehadiran nya. Berkat keluarga Naren juga, dia merasa di berikan kasih sayang yang begitu luar biasa. Semua orang mencintai dan menyayangi dirinya.
"Kita ke dalam lagi yuk? Dingin banget disini, yang."
"Ayo, Mas." Jawab Ayunda. Dia pun menurut saja ketika sang suami mengajak nya kembali ke ruangan sang kakek. Ternyata, disana masih ada kedua orang tua nya. Disana, Arvin terlihat sedang duduk di kursi kecil yang ada di dekat brankar dengan tangan yang menggenggam erat tangan Darren yang lemah.
"Papi.."
"Dari mana kalian berdua?" Tanya Arvino. Dia menatap kedua insan yang baru masuk ke dalam ruangan itu dengan mata sembab nya. Sudah jelas, kalau Arvino mendapatkan mata sembab itu karena menangis. Dia menangisi keadaan sang ayah yang semakin hari semakin menurun kondisi nya, secanggih apapun peralatan di jaman ini, takkan bisa menghalangi kematian dan takdir kan?
"Dari taman, Pi."
"Hmm, jangan bawa menantu Mami keluar ruangan lama-lama, di luar sangat dingin. Mami gak mau ya, istri kamu sakit gara-gara kamu ajakin main di luar, apalagi main salju!" Ucap Melisa membuat Ayunda tersenyum. Senang? Tentu saja, dia sangat senang karena kedua nya sangat menyayangi nya. Bahkan kedua nya menyayangi seperti layaknya pada anak kandung mereka sendiri.
Bahkan mungkin, kedua nya lebih menyayangi menantu mereka di bandingkan anak kandung mereka sendiri, karena terbukti ketika Narendra sering merasa cemburu pada Ayunda karena menurut nya Melisa agak pilih kasih. Tapi sekarang, Narendra tidak seperti itu. Dia juga ikut senang karena akhirnya hari Melisa luluh dan bisa menyayangi wanita yang menjadi pilihan nya itu.
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1