Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 132 - Bukti dari Narendra


__ADS_3

Satu Minggu sudah Ayunda di rawat di rumah sakit, hari ini dia sudah di perbolehkan pulang karena keadaan nya sudah mulai membaik. Luka jahitan nya pun sudah mulai mengering, hanya menyisakan sedikit rasa ngilu yang seringkali membuat Ayunda meringis. Wanita itu nampak di gendong oleh Narendra menuju mobil, di belakang nya ada Arvino dan Melisa yang ikut masuk ke dalam mobil sedan mewah itu. 


"Kita pulang ya, sayang." Ucap Narendra sambil memasang seatbelt di tubuh nya. Melisa dan Arvin berada di bangku belakang, sedangkan Ayunda duduk di samping sang suami yang duduk di balik kemudi. 


"Aku rindu suasana rumah, Mas."


"Kita akan pulang sekarang, kamu akan merasakan kembali suasana rumah." Jawab Narendra. Ayunda tersenyum lalu menganggukan kepala nya, pria tampan itu pun menyalakan mesin mobil nya dan melajukan nya membelah jalanan raya. Pria itu melajukan kendaraan nya dengan kecepatan rata-rata, sesekali dia tersenyum sambil menatap wajah cantik sang istri yang sudah terlihat lebih segar dari biasanya. Tidak pucat lagi. 


"Mas, bolehkah aku makan bakso? Aku rindu." 


"Boleh, sayang. Tapi jangan pakai saos kecap, apalagi sambel. Di bening aja." Bukan Naren yang menjawab, tapi Melisa dari bangku belakang.


"Hmm, padahal bakso kan enak kalau pedes ya." Lirih Ayunda membuat Naren melirik kilas ke arah istrinya yang nampak murung itu.


"Nanti kalau kamu sudah sembuh, keadaan kamu sudah membaik, Mas beliin bakso pedes ya. Untuk sekarang, jangan dulu." Ucap Narendra yang secara langsung menyetujui ucapan sang ibu yang terlihat sendu.


"Baiklah, bakso bening pun tidak masalah asal makan bakso." 


"Yaudah, nanti Mas berhenti di tukang bakso langganan kita." Ucap Narendra sambil tersenyum manis.


"Iya, Mas. Terimakasih, dua porsi ya. Boleh?" Tanya Ayunda yang memancing gelak tawa dari orang-orang yang ada di dalam mobil.


"Kenapa? Apa ada yang lucu?" Tanya wanita itu lagi tersenyum kecil.


"Seriusan kamu mau makan bakso dua porsi, sayang?" Tanya Melisa sambil tersenyum. 


"Gak tau, tapi rasanya aku lapar sekali terus pengen makan bakso, Mi." Jawab Ayunda membuat Melisa tersenyum manis. 


"Berikan saja ya, boy?"


"Baik, Mami. Tapi apa bakso tidak akan membuat jahitan Ayu longgar lagi?" Tanya Narendra. 


"Tidak, itu sudah kering. Jadi Mami rasa itu takkan masalah, berikan saja apapun yang istrimu inginkan." Jawab Melisa sambil tersenyum. Narendra pun menganggukan kepala nya mengiyakan. Sesampai nya di sebuah kedai bakso yang biasa menjadi langganan mereka saat masih hamil. 


"Mau makan disini atau di bungkus, sayang?" Tanya Narendra sambil mengusap lembut kepala sang istri.


"Di bungkus aja, nanti makan nya di rumah." Jawab Ayunda. 


"Mami, sama papi juga mau makan bakso?" Tanya pria itu lagi. 


"Boleh, di bening juga. Perut Mami gak kuat makan pedes lagi." Jawab Melisa sambil tersenyum.


"Oke, kalau papi?"


"Papi mau nya martabak." Jawab Arvino sambil tersenyum.


"Papi ini martabak aja terus, jam segini mana ada yang jualan martabak sih, Pi?" 

__ADS_1


"Yaudah, nanti sore aja kamu keluar beliin papi martabak." Ucap pria paruh baya itu membuat Narendra memutar matanya dengan malas. 


"Oke."


"Bakso nya satu aja deh, di bening juga." Cetus Arvino yang membuat putra nya itu mendelik kesal. Tadi katanya mau martabak, tapi sekarang bakso juga mau. Aihh, dasar memang. Mau marah juga gak bisa karena dia ayah nya. 


"Yaudah, Naren keluar dulu. Kalian tunggu aja disini." 


"Hati-hati, Mas." 


"Iya, sayang." Jawab Narendra sambil mengusap lembut puncak kepala Ayunda. Pria itu pun menyambar dompet yang ada di dashboard mobil nya, lalu memasukan nya ke dalam celana. Lalu keluar mobil dan pergi ke dalam kedai bakso itu untuk memesan bakso kesukaan istrinya. 


Dia pun memesan beberapa bungkus bakso dan setelah mengantri cukup lama, akhirnya bakso nya pun siap dan Narendra langsung membahaf nya dan membawa nya pulang. Pria itu kembali memasuki kendaraan nya dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang ke mansion keluarga Sanjaya, tempat yang paling Ayunda rindukan saat ini.


Sesampai nya di mansion, semua maid langsung berkumpul untuk menyambut kepulangan Ayunda yang memang sudah sangat di tunggu-tunggu oleh semua maid yang bekerja di mansion ini. Khusus nya Maya yang selama ini menjadi pelayan pribadi nya. Namun, tidak dalam waktu lama lagi karena dalam waktu dekat dia akan di persunting oleh Mark. 


"Selamat datang kembali di rumah, Nona muda." Sapa mereka yang membuat Ayunda tersenyum manis hingga kedua mata nya menyipit. 


"Terimakasih.."


"Bagaimana keadaan anda, Nona?"


"Jauh lebih baik dari sebelumnya, Maya." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.


"Aahhh syukurlah, Nona. Kami sangat khawatir dengan keadaan anda."


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja." Jawab Ayunda lagi. Semua nya pun menganggukan kepala nya, Ayunda pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Memang keadaan nya sekarang sudah jauh lebih baik, namun dia masih merasa lemas. Belum lagi, dia tidak bisa berjalan seperti biasa nya karena rasa ngilu yang masih terasa. 


"Boleh, Mas."


"Oke, sebentar. Mas ambilin mangkuk nya dulu ya." Ucap Narendra lagi. Dia pun bergegas pergi ke dapur untuk mengambil mangkuk dan sendok juga garpu. Setelah itu, dia kembali ke ruang tamu dan memindahkan bakso itu ke dalam mangkuk. 


Ayunda terlihat sangat antusias, dia sudah sangat merindukan makanan yang terbuat dari daging sapi itu. Sudah cukup lama dia tidak menikmati makanan itu karena kejadian hari itu, juga karena setelah hamil dia seolah alergi dengan makanan itu. Mencium aroma nya saja sudah mampu membuat nya merasa mual, bahkan pernah hingga muntah-muntah parah.


"Enak, sayang?" Tanya Narendra sambil tersenyum. Dia senang saat melihat istrinya begitu lahap memakan bakso itu. Dia senang, karena melihat selera makan sang istri yang cukup baik sekarang. 


"Enak, banget. Ternyata, makan bakso di bening gini enak juga ya." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Selama ini, jika dia memakan bakso pasti pedas dengan saus dan kecap. Baru kali ini dia memakan bakso dengan kuah bening seperti ini. 


"Iya, kemana aja kamu selama ini hmm? Enak-enak aja tuh."


"Hehe, baru nyobain soalnya." Jawab Ayunda. Wanita itu terkekeh, begitu juga dengan Narendra. 


"Mas mau?"


"Mau, tapi suapin ya?"


"Boleh, sini Mas nya." Pinta Ayunda. Narendra pun duduk di samping sang istri lalu wanita itu pun menyuapi sang suami dengan perlahan. Suasana inilah yang Narendra rindukan, dia senang bermanja pada sang istri. Hal ini selalu membuat mood nya membaik, jika dia bisa bermanja pada istrinya. 

__ADS_1


"Enak ya?"


"Iya, enak sekali. Apalagi makan nya di suapin kamu sayang." Jawab Narendra yang membuat istrinya memutar mata nya dengan jengah. 


"Kumat deh modus nya." 


"Mana ada modus sih, seriusan deh ini. Kalau makan terus di suapin gini tuh rasanya jadi berkali-kali lipat lebih enak, sayang." Jawab Narendra sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Itu mata kenapa? Kelilipan?"


"Kelilipan cinta, hehe." Jawab Narendra yang membuat Ayunda tertawa. Tingkah suami nya selalu saja mengundang gelak tawa, dia tidak pernah kehabisan ide untuk bisa membuat istrinya tertawa. Mood Ayunda selalu membaik jika berada di dekat Narendra, begitu pula sebaliknya. Dia selalu merasa nyaman dan bahagia jika itu bersama Ayunda.


"Cinta aja terus."


"Udah kecanduan soalnya, hehe." Jawab Naren sambil tertawa. 


"Udah, lanjut lagi makan bakso." 


Kedua nya pun menikmati bakso dengan lahap, benar saja Ayunda bisa menghabiskan dua porsi bakso yang cukup besar itu. Memang sih berdua, namun tetap saja Ayunda yang makan lebih banyak. Narendra yang tidak terlalu suka makan bakso, hanya mencoba saja karena aroma nya begitu menggugah selera.


"Sudah habis kan? Ayo, mas mau ajak kamu ke suatu tempat."


"Jauh gak, Mas? Aku masih belum bisa jalan jauh, masih ngilu." Jawab Ayunda. Narendra tersenyum lalu menggenggam tangan sang istri lalu menarik nya pelan menuju pintu keluar.


"Dekat kok, cuma ke taman belakang." Jawab Narendra. Ayunda pun mengiyakan, kedua nya berjalan dengan langkah perlahan dan tangan yang saling bergandengan mesra. Narendra membawa Ayunda ke taman belakang. 


"Lihatlah, cantik seperti dirimu." Ucap Narendra. Ayunda melihat pemandangan di depan nya, indah sekali. Sungguh, demi apapun ini sangat indah. Taman bunga mawar biru yang di bangun oleh Narendra kini telah selesai. Indah sekali, bunga nya tengah bermekaran saat ini. 


Aroma semerbak memenuhi indra penciuman Ayunda, dia merasa sangat bahagia. Saking bahagia nya, dia sampai meneteskan air mata nya. Siapa sangka, dia akan di cintai sebesar ini? Taman ini adalah bukti cinta dari Narendra pada Ayunda. Dia membuat taman ini untuk membuktikan cinta nya, Ayunda merasa tersanjung dan bahagia dengan semua ini. Sungguh demi apapun dia tidak bisa berkata-kata melihat semua ini. 


"Kamu suka?"


"Sangat, terimakasih Mas."


"Sama-sama, ini adalah bukti cintaku untuk mu, sayang. Jangan pernah merasa sendiri, karena aku akan selalu berada di samping mu kapanpun dan dimana pun."


"Mas.."


"Aku mencintai mu, bahkan lebih dari diriku sendiri."


"Aku bahkan lebih mencintaimu, Mas. Terimakasih karena sudah membuktikan cinta mu padaku dengan membuatkan taman ini."


"Tentu saja, aku sudah mengatakan semua nya dari awal. Aku akan membuktikan cintaku padamu." Ucap Narendra yang membuat wajah Ayunda memerah. Dia merasa sangat bersyukur karena bisa mengenal Narendra dan bahkan menjadi istri dari seorang pria yang sangat romantis dan manis seperti ini. 


"Aku percaya padamu, Mas."


"Terimakasih karena sudah percaya pada Mas." Jawab Narendra, dia meraih tubuh istrinya ke dalam pelukan nya. Ayunda membalas pelukan hangat sang suami lalu bersandar manja di pundak sang suami sambil menikmati semilir angin yang membuat batang-batang bunga mawar itu bergerak pelan. Indah sekali, belum lagi aroma nya yang akan membuat siapa saja akan merasa betah untuk berlama-lama disana.

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2