
Ayunda terlihat sangat fokus membuat puding mangga nya, sesekali dia juga memakan potongan buah dengan rasa yang sangat manis itu. Setelah selesai, Ayunda memindahkan adonan pudding nya ke dalam cetakan lalu menyimpan nya ke dalam kulkas agar lebih cepat mengeras.
"Mami sudah selesai masak tumis nya, sayang."
"Oke, Mi. Ayu tinggal goreng ayam nya sebentar lagi, biar masih anget." Jawab Ayunda. Melisa mengangguk, sambil menunggu ayam nya, wanita paruh baya itu ikut duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan menantu nya.
"Ayu.."
"Iya, Mi. Kenapa?"
"Bagaimana Naren?" Tanya Melisa membuat Ayunda terhenyak.
"Memang nya kenapa, Mi?"
"Tidak, mami khawatir kalau dia memperlakukan mu baik hanya saat di depan Mami atau Papi saja." Jelas Melisa, membuat Ayunda tersenyum kecil. Dia senang karena Mami mertua nya begitu perhatian pada nya. Bukankah itu sangat membahagiakan?
"Tidak kok, Mi. Naren memperlakukan Ayunda sama, saat di depan Mami atau di belakang Mami. Sejauh ini, semua nya berjalan dengan baik."
"Syukurlah kalau begitu, Mami senang mendengar nya, sayang."
__ADS_1
"Iya, Mi."
"Lalu, apa kalian sudah melakukan itu? Maksud Mami, setelah menikah." Tanya Melisa, jujur saja dia merasa penasaran. Padahal, tanpa harus mendengar jawaban dari Ayunda pun, Melisa sudah mengetahui nya lewat tanda kemerahan yang berjejer di leher Ayunda.
"Hmm, sudah kok, Mi."
"Apa kamu sama Naren sudah membicarakan tentang anak, sayang?"
"Belum, Mi. Kenapa memang nya?"
"Diskusi kan dulu dengan suami mu, siapa tahu dia ingin menunda dulu untuk punya anak. Mami sih ngarep nya, kamu langsung isi biar Mami bisa nimang cucu, hehe." Jelas Melisa.
"Iya, Mami. Nanti Ayu diskusikan yang terbaik sama Mas Naren."
"Aduh sampai lupa, Mi." Jawab Ayunda, dia pun beranjak dari duduknya dan mulai menggoreng ayam nya satu persatu hingga matang semua. Tak lupa, saat ayam nya setengah matang, Ayunda menambahkan beberapa siung bawang putih untuk menambah aroma dan rasa.
Hingga waktu makan malam pun datang, semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Ada kakek Darren juga yang seharian ini berada di luar rumah untuk menghilangkan suntuk katanya.
"Berdoa dulu, Naren." Pemuda itu pun memimpin doa malam ini dan setelah itu semua nya pun makan malam dengan tenang.
__ADS_1
"Ini ayam goreng? Tapi rasa nya agak.."
"Iya, Ayunda yang memasak nya." Jawab Melisa. Darren tersenyum tipis, ayam goreng yang sedang dia makan ini terasa jauh lebih enak dari pada ayam goreng yang biasa nya dia makan.
"Ini enak." Puji Darren.
"Iya, ini enak sekali." Jawab Arvin, dia makan dengan lahap.
"Nah, apa kata Naren kan? Ayu itu pintar memasak."
"Makanya kamu adalah pria bodooh kalau semisal menyia-nyiakan Ayunda." Celetuk Melisa, membuat Ayunda terdiam. Kenapa dirinya di bawa-bawa dalam obrolan semacam ini? Ini cukup membuat nya canggung.
"Apa sih, Mi.."
"Gapapa kok." Jawab Melisa sambil tersenyum kecil.
Makan malam hari ini terasa jauh lebih hangat berkat Ayunda, padahal biasa nya mereka hanya makan tanpa ada satu pun bicara sama sekali, mereka hanya fokus dengan makanan yang ada di piring mereka. Tapi setelah kehadiran Ayunda, suasana di rumah ini berubah menjadi lebih hangat. Mereka jadi lebih sering mengobrol satu sama lain dan itu merupakan sebuah perubahan yang baik.
'Terimakasih karena sudah membuat suasana rumah ini menghangat seperti dulu lagi, Ayu.'
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻