
"Ren, bangunlah.." Ucap Samuel, dia membantu Narendra dan menuntun pemuda itu untuk duduk di kursi tunggu. Wajah Narendra terlihat memerah, begitu juga dengan hidung pria itu. Mata nya juga memerah karena menangis, wajah nya bersimbah air mata, terlihat jelas raut wajah penuh penyesalan yang di tunjukkan oleh Narendra.
"Kamu percaya sama kakek kan? Dia akan baik-baik saja, Nak."
"Koma, artinya kita tidak tahu apakah kakek akan bangun hari ini, esok, lusa, minggu depan, bulan depan atau bahkan tahun depan kan, Pi?" Tanya Narendra dengan suara serak nya, karena terlalu banyak menangis, membuat suara nya serak.
Arvin terdiam, pertanyaan sang putra nyatanya terdengar sangat menyakitkan bagi nya. Benar, pasien yang di nyatakan koma memang tidak bisa di prediksi kapan dia akan bangun. Tidak tau juga, kalau-kalau setelah menunggu lama nyata nya tidak ada perkembangan dan pasien malah menyerah. Tidak ada yang tahu, apakah setelah koma akan ada kehidupan lagi atau tidak.
Hanya satu yang Narendra takutkan, dia takut kalau kakek nya tak bisa bertahan dan malah pergi meninggalkan dirinya bersama penyesalan karena hari itu dia mengatakan kata-kata tidak pantas pada pria paruh baya itu dengan tidak sopan nya, sungguh demi apapun dia akan menyesal seumur hidup nya jika saja Darren pergi untuk selamanya tapi dia belum sempat minta maaf.
Saat ini, Darren tengah berjuang antara hidup dan mati. Nyawa nya berada di antara dua pilihan, melanjutkan hidup atau dia harus meninggalkan dunia bersama semua orang-orang yang dia sayangi, termasuk Narendra yang tengah menyesali apa yang sudah dia lakukan pada nya hari itu.
"Sudah, yang bisa kita lakukan saat ini hanya berdoa agar keadaan nya membaik dan segera sadar dalam waktu yang tidak terlalu lama." Ucap Samuel membuat kedua pria itu mengangguk. Narendra kembali terdiam dengan pandangan yang lurus menerawang jauh ke depan.
"Jangan banyak melamun, Ren."
"Aku hanya menyesal, Pi." Jawab Narendra lirih, suara nya nyaris tidak terdengar saking lirih nya.
"Kenapa, Nak?"
"Papi tidak ingat perdebatan antara aku dan kakek terakhir kali sebelum kakek pergi kesini? Aku belum sempat minta maaf untuk itu, Pi." Jawab Narendra sambil menundukan kepala nya. Arvin menepuk pundak sang putra, berusaha memberikan sedikit kekuatan pada putra nya yang pasti sedang di landa perasaan sesal, marah dan kecewa dengan dirinya sendiri.
Pantas saja, ketika mendengar Darren di vonis koma dari Selin, Narendra langsung menangis pilu, tangisan yang terdengar sangat menyakitkan bagi siapapun yang mendengar nya.
"Kakek mu pasti sudah memaafkan mu tentang hal itu, Nak. Jangan menyesali apapun, itu tidak baik." Ucap Samuel sambil mengusak kepala Narendra dengan perlahan.
"Tetap saja rasa nya sangat menyakitkan, harusnya kakek sudah berada di rumah sekarang, bukan disini. Harus nya, dia sedang bercanda ria bersama Ayunda sekarang. Bukan malah berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan banyak alat-alat kesehatan yang menempel di tubuh nya." Jawab Narendra panjang lebar. Pertama kali bagi Arvin maupun Samuel mendengar Naren berbicara sepanjang ini.
Dari dulu, Narendra memang di kenal jarang bicara. Dia pendiam, datar dan keras kepala. Sama seperti Arvino, ya nama nya juga anak sama bapak, sikap nya pasti takkan jauh berbeda. Seperti kata istilah yang mengatakan buah takkan jatuh jauh dari pohon nya itu benar adanya, salah satu nya ya Narendra dan Arvin. Sifat nya sama, bahkan setia nya juga menurun. Tapi kalau untuk setia, bukankah itu sikap yang bagus dan patut di tiru.
__ADS_1
"Nak.."
"Sakit, Pi. Aku belum minta maaf sama sekali sama kakek, aku pasti bakalan nyesel banget." Gumam Narendra lagi. Pria itu kembali menangis tergugu, Arvin memeluk putra nya untuk memberikan nya sedikit kekuatan, meskipun hatinya sendiri juga merasakan rasa sakit yang sama dengan Naren. Dia merasakan rasa sakit teramat di hati nya, bagaimana tidak sakit? Darren adalah pria yang selalu memberikan nya kasih sayang, materi dan semua yang dia butuhkan.
Namun hubungan mereka sempat renggang karena Arvin tidak suka di kekang, dia juga muak dengan sang ayah karena selalu saja berusaha menjodoh-jodohkan nya dengan banyak gadis dan Arvin tidak menyukai hal itu. Itulah alasan nya, kenapa dia pergi dari rumah dan memilih hidup sederhana di sebuah desa yang cukup terpencil dan dissna lah dia bertemu dengan Melisa.
Sosok wanita cantik yang mampu membuat Arvino jatuh hati pada pandangan pertama saat dia melihat wajah, senyum dan semua yang ada pada Melisa. Dia menyukai nya, namun sayang dia memiliki suami.
Awalnya dia pikir tidak ada kesempatan lagi untuk dirinya bisa bersama dan memiliki Melisa dan memilih untuk memendam perasaan nya, dia pikir yang dia rasakan pada Melisa hanya perasaan kagum saja, bukan cinta. Namun ternyata bukan, semakin lama dia semakin yakin kalau perasaan itu ternyata cinta, dia selalu berdebar jika bertemu dengan Melisa dan Tuhan memang maha baik. Dia membukakan jalan untuk nya bisa bersama Melisa, suami wanita itu tukang kdrt, pelit dan juga tidak pernah menghargai Melisa karena mereka juga menikah karena perjodohan.
Saat mengetahui semua nya, Arvin bertekad untuk merebut Melisa dari suami nya. Dia tidak peduli meskipun cap sebagai perebut istri orang akan di sematkan di belakang nama nya, Arvin tetap kukuh dengan pendirian nya, dia tetap mengejar Melisa meskipun pada awalnya wanita itu menolak mentah-mentah. Namun, dengan kegigihan nya akhirnya dia bisa memiliki Melisa.
Cinta nya kembali di uji saat Arvin dengan percaya diri membawa Melisa ke hadapan sang ayah, Darren. Sudah jelas, papa nya itu tidak setuju dengan hubungan kedua nya, terlebih Melisa adalah wanita sederhana dan berstatuskan janda tanpa anak. Darren berusaha menjodohkan Arvin kembali dengan anak teman bisnis nya, namun ternyata wanita yang ingin dia jodoh kan dengan putra nya juga memiliki seorang kekasih dan kedua nya sepakat untuk sama-sama menolak perjodohan itu dan memperjuangkan cinta mereka masing-masing.
Tidak sampai disana saja, wanita itu juga meyakinkan Darren agar memberikan restu nya pada hubungan Melisa dan Arvin, ternyata hati Darren luluh dan akhirnya memberikan restu nya. Sejak saat itu juga hubungan kedua nya membaik.
"Kakek akan sembuh, percayalah."
"Aku harap juga begitu.."
"Arvin, Ren, sebaiknya kalian berdua pulang dulu ke rumah ya? Kalian pasti sangat kelelahan bukan? Kalian belum beristirahat dan langsung kesini tadi." Ucap Samuel. Keadaan lah yang membuat mereka berkumpul seperti ini, padahal jarang-jarang mereka bisa berkumpul seperti ini karena Samuel yang sibuk akan bisnis. Di usia nya yang sudah senja, dia masih sibuk mengurusi perusahaan nya.
Dari pernikahan nya dengan Selin, Samuel tidak di karuniai seorang anak pun karena dirinya mandul. Awalnya, Sam mengira kalau Selin akan meninggalkan nya, tapi ternyata tidak. Wanita itu tetap setia bertahan bersama nya hingga saat ini, Selin adalah wanita yang baik. Hingga di usia tua nya sekarang, mereka masih saling mencintai satu sama lain dan nyaris tidak pernah bertengkar selama kedua nya menikah, pernikahan yang adem ayem dambaan semua pasangan di dunia.
"Lalu kalian?"
"Kami juga akan pulang, aku akan menempatkan beberapa bodyguard untuk menjaga kakak ku disini. Kenapa tidak aku sendiri? Aku terlalu sensitif apalagi dengan usia ku sekarang. Bahkan aku berpikir, setelah beberapa hari kalau tidak ada perkembangan sama sekali, aku berniat untuk membawa Darren ke rumah dan merawat nya di rumah saja." Jelas Samuel, terlihat kedua mata nya berkaca-kaca, sungguh melihat keadaan sang kakak membuat hatinya merasakan nyeri yang teramat.
Beruntung saja, hubungan kedua nya baik-baik saja. Bahkan, tadi pagi sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi, Samuel sempat melarang kakak nya untuk pulang ke negara kelahiran mereka berdua karena feeling nya yang tidak enak. Namun, bukan Darren nama nya kalau tidak keras kepala bukan? Dia tetap kekeuh pergi bersama seorang supir, entah bagaimana keadaan supir itu sekarang. Dia juga di nyatakan koma oleh dokter, kedua nya sama-sama koma.
__ADS_1
"Baiklah, usahakan yang terbaik."
"Tentu, aku pasti akan merawat kakak ku sendiri dengan baik disini, jangan meragukan aku." Jawab Sam. Dia tersenyum kecil lalu menepuk pelan pundak Arvin. Ke empat nya pun memutuskan untuk pulang, ruangan itu di jaga ketat oleh banyak bodyguard yang berjaga atas suruhan Samuel.
Karena kondisi Darren yang masih sangat kritis, jadi dokter tidak mengizinkan siapapun masuk ke ruangan untuk melihat keadaan pasien. Mereka hanya bisa melihat keadaan Darren dari balik kaca jendela, hanya bisa mengusap permukaan kaca itu seolah tangan mereka bisa menyentuh Darren, padahal tidak sama sekali. Sungguh, ini sangat menyakitkan bukan? Bahkan, sakit nya menjalin hubungan LDR saja tidak sesakit ini.
Ke empat nya pun pulang ke rumah milik Samuel yang besar dan luas, mirip-mirip dengan mansion milik Arvin. Namun ini lebih luas dengan cat yang di dominasi warna putih, yang membuat kesan bersih dan suci. Keadaan di rumah ini juga sangat nyaman dan asri, banyak pepohonan yang sengaja Sam tanam untuk menghijaukan halaman rumah nya.
Narendra memejamkan kedua mata nya begitu dia turun dari mobil, pria itu tersenyum kecil namun mampu membuat kedua mata nya menyipit seperti bulan sabit. Seperti nya, ada sebuah perasaan yang membuat nya merasakan sedikit deja vu berada di tempat ini.
"Setelah sekian lama aku tidak kemari, rumah ini masih sama. Bahkan suasana nya juga sama seperti dulu, tidak ada yang berubah." Gumam Narendra. Benar, suasana rumah ini tidak berubah sama sekali. Dulu, semasa dia masih kecil pernah datang ke rumah ini beberapa kali untuk berkunjung.
Dia berlarian kesana kemari dan kenangan itu membekas di ingatan seorang Narendra, dia masih ingat dimana dia pernah jatuh dan menangis kejer padahal itu karena ulah nya sendiri yang berlari-lari menghindari sang ibu yang datang untuk membuat nya mau makan, namun nama nya karma selalu di bayar kontan apalagi ini berurusan dengan seorang ibu, saat itu juga Narendra mendapatkan buah dari ke keras kepalaan nya, yaitu jatuh di taman hingga lutut nya terluka dan berdarah.
Siapa yang merawat nya? Tentu saja sang ibu, tapi seolah tidak kapok keesokan nya Narendra akan mengulang hal itu hingga dia mendapatkan luka di kedua lutut nya karena kenakalan nya. Mengingat semua itu, membuat Narendra mengangkat sudut bibir nya ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Aku sangat nakal dulu, tapi Mami gak pernah menyerah buat bikin aku jadi anak yang penurut." Gumam Narendra sambil tersenyum.
"Deja vu, boy?"
"Yes, Papi."
"Hmmm, rumah ini juga penuh kenangan bagi Papi. Suasana nya masih sama seperti belasan tahun silam, benarkan?"
"Iya, Pi. Tidak ada yang berubah dari tempat ini, semua nya masih sama." Jawab Narendra sambil tersenyum kecil. Arvin pun menepuk pundak putra nya, lalu membawa nya masuk ke rumah. Syukurlah, Arvin merasa sedikit lebih lega karena akhirnya Naren bisa tersenyum dan melupakan sejenak penyesalan nya pada sang kakek.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1