
"Sayang.."
"Hmm, iya Mas. Kenapa?" Tanya Ayunda sambil tersenyum kecil. Dia berbalik dan menatap sang suami yang sudah menunggu di atas ranjang.
"Sini deh, kita bicara berdua." Ajak Naren sambil menepuk-nepuk kasur di samping nya. Ayunda pun mengangguk dan duduk di samping sang suami. Bukan duduk, tapi berbaring sambil menatap suaminya dengan lekat.
Naren mengusap-usap perut sang istri, lalu memeluk pinggang Ayunda dengan erat. Narendra juga menatap sang istri dengan intens. Mereka saling bertatapan sebelum akhirnya Naren mengeluarkan suaranya.
"Bagaimana perasaan kamu sekarang, sayang?"
"Aku? Aku baik-baik saja kok, memang nya kenapa sih Mas? Tiba-tiba nanya kayak gitu, aneh."
"Gak usah bohong sama Mas, sayang. Mata kamu gak bisa bohong." Ucap Naren sambil mengusap wajah cantik sang istri.
"Aku memang agak sakit, Mas."
"Mana yang sakit, sayang?" Tanya Narendra.
"Disini, Mas. Rasanya sakit dan sesak." Jawab Ayunda sambil menunjuk dada nya. Dia benar-benar merasakan sakit yang terasa menyesakkan dada nya karena apa yang di alami oleh sang paman.
Hanya dalam waktu satu tahun, semuanya hancur. Ayunda tidak menyangka kalau Mona akan terjebak pergaulan bebas dan membuatnya kecelakaan hingga nekat melakukan aborsi yang sudah jelas-jelas kalau hal itu di larang karena sangat berbahaya.
"Aku merasa bersalah atas semua yang menimpa keluarga Paman Adam, Mas."
"Lho kok merasa bersalah? Ini kan bukan kesalahan kamu, sayang." Jawab Airyn sambil mengusap lembut puncak kepala sang istri. Kebiasaan Ayunda yang memang sering sekali overthinking.
Dia sering merasa bersalah atas suatu kejadian yang padahal bukanlah kesalahan nya sama sekali.
"Hmm, tapi.."
"Aku bertanya seperti ini bukan untuk membuat mu overthinking seperti ini, sayang."
"Lalu?"
"Mas hanya ingin mengetahui keadaan hati kamu sekarang, Mas mau kamu terbuka sama Mas. Kita sudah menikah selama hampir dua tahun lho, tapi kenapa kamu masih sering memendam semua yang kamu rasakan itu sendirian?" Tanya Narendra.
"Bukan begitu, Mas. Aku hanya tak ingin membuatmu terbebani, aku gak mau kamu kepikiran sama masalah aku. Kamu kan udah capek kerja di kantor, jadi aku gak mau nambahin beban kamu. Itu aja, Mas." Jelas Ayunda membuat Narendra tersenyum kecil. Istrinya ini memang selalu bisa memahami orang lain, tapi jarang sekali orang yang bisa memahami nya.
"Walaupun begitu, Mas pasti bakalan dengerin kamu kalau kamu cerita, sayang." Ucap Narendra.
"Maafin aku, Mas. Bukan maksud aku buat sembunyiin perasaan aku selama ini, tapi niatku baik sebenarnya, hanya karena tak mau membuat kamu kepikiran. Itu saja."
"Iya, Mas ngerti kok. Cuma, kadang-kadang jangan kamu terus yang ngertiin orang, kamu juga harus mau di mengerti, sayang. Biar adik gitu."
"Hehe, iya Mas. Paman boleh tinggal disini selama beberapa hari kan, Mas? Tadi aku udah izin sama Mami, dia ngebolehin sih. Tapi gak tahu kalau Papi, aku gak izin soalnya takut." Celoteh Ayunda yang membuat Narendra menguluum senyum nya.
"Takut kenapa memang nya, yang?"
"Wajah Papi itu lho.."
"Kenapa? Wajah Papi nakutin ya?"
"Hehe, iya Mas." Jawab Ayunda sambil cengengesan. Memang wajah Arvino itu terlihat sangat datar. Jarang sekali dia berekspresi, hanya sesekali saja paling dia akan tersenyum, selebihnya dia akan menunjukkan wajah datarnya.
"Kamu udah mau tidur, yang?" Tanya Narendra. Dari gerak gerik nya agak sedikit mencurigakan, apakah pria itu menginginkan jatah nya?
"Hmm, belum ngantuk sih. Kenapa?" Balik tanya Ayunda.
"Olahraga yuk?" Ajak Naren membuat Ayunan terkekeh. Dia tahu betul apa maksud dan tujuan suaminya. Padahal tadi, Ayunda sudah mengancam suaminya untuk tidak memberikan jatahnya, karena dia lupa membawakan mochi isi stroberi pesanan nya.
"Terus, mana mochi aku?"
"Kan Mas nya lupa, sayang."
"Yaudah, anggap aja aku lupa buat ngasih Mas jatah." Jawab Ayunda membuat Narendra terdiam. Dia sedang menginginkan itu, tapi istrinya malah merajuk gara-gara dia lupa membelikan mochi. Hanya mochi saja, tapi bisa mengganggu kesejahteraan si junior.
'Sialan, kenapa harus pake acara lupa sih? Ini pasti gara-gara kerjaan itu, jadinya kan gak dapet vitamin dari istri.' Batin Narendra.
"Sayang, jangan gitu dong." Bujuk Naren lagi, dia tidak akan berputus asa karena dia yakin dan dia tahu benar kalau istrinya akan luluh.
"Pokoknya aku badmood." Jawab Ayunda sambil memalingkan wajahnya.
"Ayolah, satu ronde aja. Gak lama kok, Mas main cepet."
"Enggak, mana puas kalo main cepet." Jawab wanita itu membuat Naren paham kalau istrinya pasti sudah setuju, hanya tinggal sedikit lagi untuk membujuk sang istri agar luluh dan mau memberikan nya jatah malam.
"Yaudah, kita main nya agak lama. Gimana?"
"Enggak mau."
"Yaudah, aku nelpon Mark dulu kalo gitu."
"Ngapain nelpon Mark?" Tanya Ayunda dengan kening yang mengernyit keheranan, apa hubungan nya antara jatah malam dan juga Mark? Perasaan tidak berhubungan sama sekali, tapi kenapa bisa Naren mengatakan hal itu?
"Minta beliin mochi isi stroberi."
__ADS_1
"Lahh, malah nyusahin orang."
"Ya terus Mas harus gimana, yang?" Tanya Narendra dengan frustasi. Pusing juga kalau begini, dia tengah menginginkan jatah malam nya tapi sang istri tengah merajuk.
"Beliin mochi."
"Yaudahlah, Mas beli dulu." Narendra sudah bersiap untuk beranjak dari atas ranjang nya. Tapi, tangan Ayunda menahan nya. Dia berbalik dan menatap wajah cantik sang istri yang sudah terlihat menguluum senyum nya.
"Mau kemana?"
"Beli mochi, kan katanya kamu pengen mochi." Jawab Naren.
"Sebenarnya bukan aku sih yang mau mochi tapi bocil-bocil di dalam sini." Ayunda mengusap perut nya yang membuncit besar, membuat Narendra tidak tega.
"Maafin Papa ya bacil, sumpah demi apapun Papa lupa beliin mochi nya tadi."
"Yaudah, tapi besok jangan lupa beliin ya. Anak-anak kamu tuh mau Papa nya sendiri yang beliin mochi nya."
"Iya, besok Mas gak bakalan lupa kok." Jawab Narendra.
"Yaudah, ayo kalau mau itu."
"Itu apa?" Tanya Narendra dengan senyuman jahilnya.
"Itu lho, olahraga."
"Olahraga apa yang di lakukan malam-malam begini, yang?" Tanya nya lagi dengan iseng.
"Ckk, jadi gak nih? Kalau enggak aku mau tidur."
"Hehe, jadi dong. Ya kali aku susah-susah bujuk kamu."
"Yaudah cepet." Jawab Ayunda. Narendra pun langsung bersemangat untuk membuka satu persatu kain yang menempel di tubuh istrinya dengan semangat. Laki-laki kalau sudah urusan jatah malam, pasti cepat.
Malam itu, pasangan suami istri itu pun menikmati malam mereka. Narendra juga tersenyum penuh kepuasan saat melihat istrinya tertidur dengan lelap setelah mereka menyelesaikan permainan. Setelah Ayunda hamil, Narendra tidak pernah meminta nya untuk memimpin karena dia khawatir kalau itu akan menyakiti nya. Padahal sebelum hamil, Naren sangat suka jika istrinya yang memimpin permainan, dia selalu di buat tak berdaya oleh sang istri.
Tapi sekarang, dia tidak lagi meminta nya karena tak tega dengan istrinya. Terlebih lagi, dia ngilu sendiri ketika melihat perut buncit istrinya terguncang naik turun jika dia bergerak di atasnya. Maka dari itu, dia tidak meminta istrinya untuk memimpin, Ayunda hanya cukup berbaring dan menikmati setiap permainan suaminya.
"Selamat tidur istriku, sayang. Aku sangat mencintaimu." Bisik Narendra lalu mengecup kening sang istri dan merapatkan selimutnya di atas tubuh polos sang istri. Kebiasaan Ayu sekarang, dia sering tidur tanpa mengenakan pakaian. Alasan nya, tentu saja malas. Apalagi jika setelah lelah bermain dengan suaminya, dia akan langsung tidur. Masalah membersihkan area pribadi nya? Itu juga urusan Narendra. Karena berani melakukan nya, ya harus berani membersihkan nya juga. Benarkan?
Naren pun menyusul sang istri ke alam mimpi, dia tertidur sambil memeluk tubuh istrinya yang jauh lebih berisi sekarang karena kehamilan nya. Tapi, Naren tidak pernah mempermasalahkan nya karena Istrinya terlihat sangat gemoy sekarang. Lagi, dia tidak masalah selama istri dan juga anak-anak yang ada di dalam kandungan sang istri sehat-sehat semua.
Keesokan paginya, Ayunda pun bangun terlebih dulu. Dia tersenyum sambil mengangkat sebelah tangan sang suami yang melingkar erat di pinggang nya.
"Mau kemana, sayang?" Tanya Naren. Ayu pikir, dia sudah melakukan nya sepelan mungkin, tapi ternyata Narendra malah terbangun dari tidur lelapnya.
"Hmm, enggak kok." Jawab Narendra. Dia beranjak dari duduknya, lalu menyandarkan punggung nya di sandaran ranjang.
"Tumben Mas ikutan bangun jam segini?"
"Gak tahu, kebangun aja."
"Yaudah, aku mandi duluan ya. Mau di masakin apa buat sarapan?" Tanya Ayunda sambil tersenyum.
"Terserah kamu saja, apapun yang kamu masak, Mas pasti suka kok." Jawab Naren. Dia tersenyum ketika melihat sang istri membalut tubuhnya dengan bathrobe.
"Mas mau tidur lagi?"
"Enggak, tapi masih mau rebahan."
"Yaudah, aku ke kamar mandi duluan. Awas ya kalau nyusul terus minta jatah lagi, aku capek."
"Baik, istriku sayang. Enggak kok, Mas juga capek. Pinggang Mas agak sakit, hehe."
"Itu tuh akibatnya kalau terlalu doyan, jadinya encok padahal masih muda." Celetuk Ayunda yang membuat Naren terkekeh.
"Ya itu kan kebutuhan, terlebih lagi Mas suka banget sama punya kamu."
"Iya iya, yaudahlah." Ayunda pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit saja, setelahnya dia pergi keluar kamar dengan rambut yang masih setengah basah.
"Selamat pagi, Mami." Sapa Ayunda dengan senyum kecilnya, dia mengecup pipi kanan ibu mertua nya seperti biasa. Itu adalah kebiasaan Ayunda jika bertemu dengan Melisa pagi-pagi, selalu mendaratkan kecupan di pipi kanan mertuanya itu.
Melisa juga tidak pernah menolak, dia tidak keberatan sama sekali karena dia menyukainya. Dia merasa kalau Ayunda melakukan hal itu karena dia sudah sangat menyayangi dan menganggap nya sebagai orang tua nya. Kenyataan nya, Ayunda memang memperlakukan Melisa layaknya seperti ibu nya sendiri. Beda nya dengan Arvin, dia juga menyayangi nya hanya saja Arvino itu laki-laki, jadi rasanya agak canggung kalau dia melakukan hal itu pada mertua laki-laki nya.
"Pagi, sayang."
"Mami mau masak apa?"
"Papi mu ngidam kayaknya, dari semalem dia ngerengek pengen di bikinin iga bakar."
"Wahh, Ayu juga mau, Mami.." Jawab Ayunda sambil tersenyum antusias.
"Nah, kalau kamu mau ayo bantuin Mami."
"Siap, tugas Ayu apa?"
__ADS_1
"Bikin bumbu buat olesan nanti."
"Apa aja? Ayu gak tahu, hehe."
"Mau agak pedes gak? Paman mu suka pedes gak?"
"Suka-suka aja kok, Mi. Cuma perut nya yang gak suka, Paman kan punya penyakit lambung." Jawab Ayunda.
"Yaudah, nanti bikin dua aja bumbu nya. Satu yang pedes, satu yang gak pedes." Putus Melisa. Akhirnya, Ayunda pun menganggukan kepala nya. Dia pun mulai mengiris-iris bawang merah cabe dan juga bumbu lain nya lalu menggerus nya hingga setengah halus. Dia juga membuat yang versi tidak pedas, lalu menuangkan kecap dan mengaduknya. Bumbu olesan nya selesai.
Melisa masih merebus iga nya dengan rempah-rempah agar tidak berbau amis. Setelah empuk, barulah dia kembali memasak nya. Tapi, kali ini Melisa membawa iga dan juga bumbu nya ke kebun samping rumah agar asap nya tidak memenuhi dapur.
Setelah matang, kedua wanita itu pun menyajikan nya. Ayunda mengusap keringat nya yang mengucur di kening nya.
"Wah, wangi nya sampe ke kamar." Ucap Arvin yang membuat Melisa dan Ayu menoleh bersamaan. Selain iga bakar, mereka juga memasak sup.
"Kesini, sayang. Jangan kebanyakan berdiri gitu, nanti kaki mu pegal."
"Gapapa kok, Pi. Cuma berdiri doang." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Dia hanya tersenyum sambil melanjutkan acara masak memasaknya.
Setelah nya, Naren dan juga Adam keluar dari kamar dan mereka pun memulai acara sarapan pagi dengan tenang. Sesekali mereka akan mengobrol santai, terlebih antara Naren dan Arvin yang seringkali terlibat perdebatan seperti biasa padahal sedang makan.
"Maaf ya, Paman nya Ayu. Ini sudah biasa, mereka selalu saja berdebat. Gak tahu tempat dan waktu." Ucap Melisa lirih, membuat Adam hanya tersenyum. Baginya ini wajar-wajar saja terjadi karena perbedaan pendapat, mungkin.
"Tidak apa-apa kok, Nyonya."
"Panggil Melisa saja, jangan Nyonya. Lagipun kita kan keluarga." Ucap Melisa.
"Saya merasa tidak nyaman jika memanggil anda hanya dengan nama saja." Jawab Adam sambil menggaruk tengkuknya dengan perlahan. Padahal, tengkuknya sama sekali tidak gatal.
Singkatnya, setelah acara sarapan bersama. Naren pun pergi ke perusahaan, Adam juga memutuskan untuk ikut sekalian berjalan-jalan katanya. Naren? Tentu saja dia tidak keberatan sama sekali, lagipun biar dia ada teman nya sela di perjalanan.
Setelah hampir satu jam berlalu, akhirnya Narendra pun sampai di perusahaan. Naren dan juga Adam keluar dari mobil, tentunya dengan Adam yang menatap takjub ketika melihat bangunan tinggi menjulang di depan nya.
"Paman, ayo kita masuk."
"H-aahh? Masuk kesana?"
"Iya, Paman. Kalau gak masuk, gimana aku mau kerja." Jawab Naren sambil terkekeh. Melihat ekspresi Adam, dirinya teringat dengan sang istri. Ekspresi mereka sama persis ketika melihat bangunan yang berdiri megah ini.
"Ohh iya, ngeri ya ini bangunan tinggi banget."
"Namanya juga di kota, rata-rata bangunan nya kayak gini. Kan tadi Paman lihat sendiri sepanjang jalan bangunan nya tinggi-tinggi kayak gini."
"Kira-kira ini berapa lantai?" Tanya Adam dengan penasaran.
"Lima belas."
"Wahh.." Adam menatap takjub ke arah Narendra. Maklum lah ya, orang desa pergi ke kota pertama kalinya. Jadinya begini, sama persis seperti Ayunda saat pertama kali mengajak nya ke perusahaan seperti ini.
"Masih ada yang lebih tinggi, tuh di sana. Itu 25 lantai." Ucap Naren sambil menunjuk gedung yang sangat tinggi.
"Gak takut runtuh apa yaak?"
"Enggak dong, pondasi nya harus kuat." Jawab Narendra.
"Ohh, bikin perusahaan gini habis berapa duit ya?"
"Milyaran tentunya, tapi yang ini bukan aku atau Papi yang membangun nya, tapi Kakek. Ini perusahaan turun temurun dari kakek nya kakek, lalu kakek, terus ke papi dan sekarang sama aku." Jawab Narendra sambil tersenyum.
"Apa itu?"
"Lift, ini lift Paman. Gempor kan kalau naik ke lantai 15 lewat tangga." Jawab Naren, lagi-lagi dia tertawa sambil menekan tombol lift.
Tapi, saat akan masuk ke dalam ruangan nya, di luar sudah ada Mark yang menyambutnya.
"Ada apa, Mark? Kenapa dengan wajahmu?" Tanya Narendra sambil meneliti wajah asisten nya yang memerah terlihat jelas kalau itu bukan lah bekas yang biasa. Itu seperti bekas tamparan, cap lima jari tercetak jelas disana.
"Jawab aku, Mark!" Ucap Naren menaikan satu oktaf suaranya. Pria itu terlihat sangat marah, bahkan Adam saja sampai terlonjak saking terkejutnya. Naren seketika berubah, tidak ada Naren yang pecicilan seperti di rumah.
"Dia ada di dalam, Tuan."
"Ckkk, orang itu lagi?"
"Iya, Tuan."
"Sialan, pergi dari sini dan bawa paman ku untuk berjalan-jalan sekitar perusahaan."
"Baik, Tuan. Mari paman.." Ucap Mark, sambil mengajak Adam untuk segera pergi. Dia menatap Adam dengan tatapan yang seolah mengatakan 'Ayo cepat kita pergi, jangan sampai kita menyaksikan kemarahan Tuan Naren, karena itu sangat menakutkan.'
Adam pun mengikuti langkah Mark dan pergi meninggalkan Naren. Sedangkan Naren, dia langsung masuk ke dalam ruangan nya. Ternyata dugaan nya benar, dia menatap orang itu dengan muak. Kenapa dia harus berurusan dengan orang seperti mereka? Aahhh sialan!
'Ckkk, merepotkan saja! Sialan, kenapa harus aku yang menghadapi ini semua? Seketika aku menyesal karena datang ke kantor hari ini.' Batin Naren.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻🌻