
Naren pun masuk ke dalam ruangan yang di dalam nya ada sang istri yang masih belum sadarkan diri, mungkin karena efek menahan rasa sakit di perutnya tadi. Pria itu duduk di kursi yang tersedia di dekat brankar.
"Sayang, maaf ya. Lagi-lagi aku lengah dan gagal menjaga mu, kalau saja aku tidak membiarkan mu memakan buah itu, pasti semua ini takkan terjadi."
"Jujur saja, aku tidak tahu kalau buah itu ternyata bisa berbahaya untuk kandungan mu, sayang. Maaf.." Lirih Narendra sambil menggenggam tangan sang istri dengan lembut, dia mengecupnya punggung tangan sang istri yang tertancap jarum infus.
"Maaf.."
"Mas.." Panggil Ayunda lirih. Dia membuka kedua mata nya dengan perlahan, Narendra mendongakan wajahnya lalu segera beranjak dari duduknya, lalu mengecupi wajah cantik istrinya yang masih terlihat pucat itu.
"Sayang, kamu sudah bangun? Apa ada yang sakit? Maafin Mas ya.."
"Satu-satu dong nanya nya, Mas. Kebiasaan deh kalau khawatir pasti nanya nya kayak gini, aku kan jadi bingung mau jawab yang mana dulu." Ucap Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Apa ada yang sakit, sayang?" Tanya Naren lagi sambil menatap Ayunda dengan sendu. Keadaan tadi, sungguh membuat dirinya ketakutan. Dia khawatir dengan keadaan istrinya yang tiba-tiba saja seperti ini, padahal tadi nya dia baik-baik saja.
"Hanya ada sedikit rasa mulas saja, Mas. Selebihnya tidak ada lagi kok, Mas. Tapi sebenernya aku kenapa ya, Mas?" Tanya Ayunda dengan lirih.
"Kamu alergi buah persik, sayang."
"Alergi buah persik? Buah persik itu apa ya, Mas?" Tanya wanita itu sambil mengernyitkan kening nya dengan heran.
"Peach, sayang."
"Ohh, buah peach ya.." Ucap Ayunda. Selama ini, dia memang mengetahui kalau itu adalah buah peach, bukan buah persik. Maka dari itu dia keheranan sendiri ketika suaminya mengatakan kalau dia alergi buah persik, padahal dia tidak makan buah yang di sebutkan oleh suaminya.
"Iya, kamu habis makan buah peach, sayang?" Tanya Narendra dengan lembut. Ayunda terlihat berpikir dan beberapa detik kemudian, dia menganggukan kepala nya dengan cepat.
"Hehe, iya Mas. Aku habis makan buah peach di salad buah buatan Mami." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Kebanyakan ya?"
"Cuma tiga buah doang, Mas. Soalnya rasanya enak, manis banget. Ayu suka banget, maafin ya Mas. Mana Ayu tahu kalau buah itu bisa bikin sakit." Jawab Ayunda yang membuat Narendra menghembuskan nafas nya dengan kasar.
Dia sadar benar kalau dia juga takkan bisa menyalahkan siapapun saat ini, Ayunda maupun Mami nya tidak mengetahui kalau buah itu bersifat panas jika di konsumsi terlalu banyak.
"Jangan terlalu banyak makan buah seperti itu ya, sayang?"
"Jadi, Ayu gak boleh makan buah itu lagi, Mas?" Tanya Ayunda dengan menatap wajah tampan suaminya.
"Kata dokter masih boleh, tapi jangan terlalu banyak. Mungkin satu buah setiap dua hari sekali tidak masalah, sayang."
"Hmm, begitu ya? Baiklah, tapi sebagai gantinya nanti beliin Ayu buah yang baru ya?" Bujuk Ayunda, membuat Narendra tersenyum kecil. Dia memiliki rencana untuk mengenalkan istrinya pada buah kiwi. Selama ini, Ayunda belum pernah memakan buah kiwi.
"Boleh, Mas punya rekomendasi buah yang cocok buat ibu hamil karena kaya vitamin C dan juga antioksidan, sayang."
"Beneran, Mas?" Tanya Ayunda, wajahnya berbinar cerah ketika mendengar jawaban suaminya.
"Iya, sayang. Sekarang kamu istirahat dulu ya, besok kita baru boleh pulang."
"Besok?" Tanya wanita itu, jangankan besok, saat ini saja dia sudah merasa tidak nyaman berada di tempat berbau obat-obatan ini. Rumah sakit memang selalu identik dengan obat-obatan.
"Iya.."
__ADS_1
"Ayu mau pulang sekarang, Mas. Gak suka lama-lama di tempat kayak gini, Ayu gak suka."
"Tapi kamu kan.."
"Perut aku udah gak sakit kok, yuk.." ajak Ayunda sambil menggenggam tangan suaminya. Seolah tengah membujuk sang suami agar mau membawa nya pulang sekarang juga.
"Mas izin dulu sama dokter nya dulu, kamu gapapa kalau Mas tinggal dulu sebentar, sayang?" Tanya Naren. Ayunda menganggukan kepala nya, dia akan mengizinkan apapun asalkan dia bisa pulang sekarang.
"Iya, Mas. Pergi aja, gapapa kok Mas. Asal jangan terlalu lama, nanti aku di culik perawat."
"Heh, yang berani culik kamu biar Mas pukul."
"Hahaha, iya iya, sayang. Yaudah sana kalau mau pergi, sekalian bawa makanan. Ayu laper."
"Laper? Tapi kan kamu baru aja makan, sayang." Ucap Narendra, dia merasa heran dengan istrinya yang terus saja ingin makan. Padahal, belum ada dua jam dari terakhir mereka makan bersama.
"Ya jangan salahin aku dong kalau aku laper lagi. Jangan lupa ya, Mas. Kalau aku makan itu buat bertiga, bukan cuma buat aku doang." Jawab Ayunda membuat Narendra cengengesan. Dia melupakan kalau istrinya sedang hamil dan kehamilan kembar.
"Iya iya, maafin Mas ya, sayang." Ucap Narendra sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepala sang istri, lalu mengecupnya dengan mesra.
"Gapapa, Mas." Jawab Ayunda. Naren pun memilih untuk pergi dari ruangan itu untuk menemui dokter.
Di ruangan itu, Ayunda pun memilih untuk kembali berbaring, hingga tak lama kemudian ada seorang perawat yang masuk untuk memeriksa keadaan Ayunda.
"Selamat siang, Nona."
"Siang, sus."
"Saya periksa dulu ya.." Ucapnya sambil tersenyum kecil.
"Ada keluhan?" Tanya perawat itu sambil tersenyum kecil.
"Tidak ada, sus. Hanya sedikit mulas saja."
"Hamil berapa bulan, Nona?" Tanya perawat itu sambil mengeluarkan alat pemeriksaan nya dari sebuah kotak alumunium yang tadi dia bawa.
"Enam bulan, sus."
"Twins?" Tebaknya dengan penasaran.
"Iya, Sus. Kok bisa tahu?"
"Hanya menebak saja, soalnya perut anda terlihat besar, Nona." Jawabnya lagi sambil tersenyum.
"Vonis terakhir dokter?"
"Katanya saya alergi buah persik."
"Ohh iya, buah itu memang cukup berbahaya jika di konsumsi dalam jumlah banyak, Nona." Ucap perawat itu sambil mengecek tensi darah Ayunda menggunakan tensimeter.
"Benarkah, Sus? Saya gak tahu kalau itu berbahaya, soalnya rasanya enak. Hehe." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Kalau memakan nya hanya satu atau dua potong sehari tidak akan menimbulkan masalah, Nona. Tapi jika di makan tanpa aturan atau terlalu banyak, buah itu bisa menyebabkan keguguran lho, Nona. Karena buah itu memiliki sifat panas, mengkonsumsi buah persik setiap hari dalam jumlah yang banyak akan membuat suhu tubuh meningkat lho, Nona."
__ADS_1
"Benarkah? Saya hanya tahu kalau buah yang tidak boleh di konsumsi oleh ibu hamil itu hanyalah buah nanas saja." Ucap Ayunda.
"Buah nanas juga sama, boleh di konsumsi asal dalam jumlah yang wajar. Satu atau dua potong tidak akan apa-apa."
"Ohh, begitu ya?"
"Iya, Nona. Intinya konsumsi saja apapun buah yang anda inginkan, asal dalam jumlah yang normal. Jangan terlalu banyak, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik." Jawab perawat itu sambil tersenyum. Dia membereskan alat-alat medis nya ke dalam kotak yang tadi dia bawa.
"Keadaan anda sudah cukup stabil, Nona. Di sarankan untuk lebih banyak beristirahat ya.."
"Iya, sus. Apakah saya sudah bisa pulang sore nanti?"
"Harus dengan seizin dokter ya, saya tidak bisa memutuskan. Tapi melihat keadaan anda saat ini, mungkin saja dokter juga akan mengizinkan. Paling hanya menunggu sampai cairan infus nya habis." Jawab perawat itu lagi.
"Baiklah sus, kalau begitu terimakasih."
"Sama-sama, Nona. Saya pergi dulu, selamat beristirahat." Ucap perawat itu sambil tersenyum kecil. Selang beberapa detik setelah pintu tertutup, pintu itu kembali terbuka. Siapa pelaku nya? Tentu saja Narendra.
"Dari mana, Mas? Lama banget deh."
"Habis beli makan dulu buat kamu sama anak kita." Jawab Naren sambil meletakan makanan di atas meja. Narendra kembali membuka pintu ruangan lalu melongokkan kepala nya, seperti tengah mencari atau menunggu sesuatu. Tentu saja hal itu terlihat aneh bagi Ayunda. Kira-kira ada apa dengan suaminya?
"Kamu kenapa, Mas?"
"Aneh aja, tadi ada siapa yang masuk kesini, yang?" Tanya Naren.
"Ada perawat tadi, Mas. Dia meriksa keadaan aku kok, kenapa?"
"Perawat? Perasaan semua perawat lagi makan siang di depan." Gumam Narendra lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Ayunda. Pria itu terlihat berpikir sambil mencoba mencerna apa yang di ucapkan oleh sang istri.
"Aahh yang bener? Tadi ada perawat kesini buat ngecek kondisi aku kok, Mas."
"Kayak apa wajahnya?" Tanya Narendra lagi, dia penasaran sekali. Tapi dia juga merasa kaget karena pintu ruangan sang istri terbuka tapi dia tidak melihat ada siapapun yang keluar ruangan, karena tak mungkin jika Ayunda kabur kan? Begitu pikirnya tadi. Setidak nyaman apapun berada di rumah sakit, tetap saja kabur adalah hal yang tidak di perbolehkan.
"Cantik sih, rapih juga, cuman ya gitu."
"Cuman apa?" Tanya Narendra dengan kening yang mengernyit heran.
"Wajah nya agak pucat, hehe." Jawab Ayunda yang membuat Narendra membulatkan kedua matanya.
"Sayang, kamu gak merinding?"
"Merinding kenapa emang nya? Dia kan bukan hantu, Mas." Jawab Ayunda sambil terkekeh.
"Yakin kalau dia bukan arwah penasaran perawat yang mungkin dulu kerja disini, yang?"
"Apa sih? Udah deh, gak usah berpikiran aneh-aneh. Mana sini makanan nya, aku laper." Ucap Ayunda dengan ketus. Padahal dalam hatinya, dia juga merasa sedikit takut. Apa mungkin perawat tadi utu arwah penasaran? Tapi kan gak mungkin, orang jelas banget tadi dia bisa menyentuh nya, bahkan melakukan pemeriksaan dengan baik padanya tadi. Lalu, apa bisa hantu melakukan hal itu? Bukankah hantu tidak bisa memegang benda yang nyata?
Hanya saja, Ayunda tidak memperhatikan apakah perawat tadi menginjak tanah atau tidak karena dia tidak kepikiran kesana. Lagian kalau hanya pucat kan bisa jadi dia lupa memakai lipstick, iya kan? Ayunda terus saja menanamkan hal-hal positif di benaknya agar tidak menimbulkan prasangka buruk. Tapi tetap saja, rasanya nya memang agak janggal.
Terlebih lagi perawat itu meraba perutnya tadi, lalu bagaimana kalau dia benaran hantu? Astaga, tak bisa di bayangkan. Bagaimana kalau dia takut? Tapi beruntunglah, itu semua sudah terjadi meskipun saat ini malah menyisakan perasaan merinding di sekujur tubuhnya.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻