Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 155 - Cerita Melisa dan Arvin


__ADS_3

Di kamar, Narendra baru saja terbangun dari tidurnya. Pria berwajah tampan itu pun terkejut ketika mendapati kasur di samping nya telah kosong, bahkan kasur nya sudah terasa dingin. Artinya, kasur di samping nya ini telah lama di tinggalkan. 


Narendra bergegas pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka nya, lalu pergi keluar kamar untuk mencari keberadaan sang istri yang tiba-tiba saja menghilang. Naren menuruni tangga dengan cepat, dia bahkan melupakan kalau itu bahaya. 


"Kamu jangan cepet-cepet dong nurunin tangga nya, nanti jatuh. Ceroboh banget kamu, Boy." Ucap Melisa, dia khawatir melihat putra nya yang menuruni tangga nya dengan cepat. 


"Naren buru-buru, Mami."


"Buru-buru mau kemana?" Tanya Melisa sambil mengernyitkan kening nya karena putra nya terlihat sangat khawatir. 


"Nyari Ayu, Mami ada lihat gak?" Tanya Narendra lagi sambil menatap sang Mami. 


"Ohh, istri kamu ada di kebun stroberi. Dia lagi makanin stroberi disana, kebetulan banyak yang mateng." Ucap Melisa. Narendra menghela nafas nya dengan lega, dia mengira istrinya pergi kemana. Tapi ternyata, dia takkan jauh-jauh dari kebun buah stroberi yang ada di samping buah. Tempat itu adalah tempat kesukaan Ayunda jika di rumah, dia selalu berada disana. 


"Susulin sana."


"Iya, Mami." Jawab Narendra, pria itu pun keluar dari rumah dan pergi ke kebun yang ada di samping rumah. 


Narendra tersenyum ketika mendapati istrinya yang sedang asik memakan buah stroberi tanpa menyadari kedatangan nya. Pria itu tersenyum, istrinya terlihat sangat cantik. Sungguh, dia di buat jatuh cinta setiap hari nya. Bukan hanya kecantikan wajah nya saja yang dia kagumi dari sosok Ayunda Maishika, namun semua yang ada pada wanita itu dia menyukai nya. 


"Anteng banget deh, sampai gak sadar suami nya juga ada disini." Ucap Narendra, membuat Ayunda mendongak dan tersenyum kecil ketika melihat suami nya ternyata ada disini juga.


"Hehe, maafin Mas. Habisnya ini buah stroberi nya banyak banget, Ayu suka banget sama buah nya, manis banget." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis. 


"Yaudah, Mas bantuin metik nya ya? Angin nya gak naik nih, sejuk banget. Kayaknya sebentar lagi bakalan hujan deh." Ucap Narendra. Dia mendongakan kepala nya dan melihat awan di atas sana memang sudah terlihat kelabu. Ayunda menganggukan kepala nya, Naren pun membantu sang istri untuk memetik satu persatu buah stroberi nya dan memasukkan nya ke dalam keranjang yang memang sudah Narendra bawa dari rumah. 


"Sudah, sayang?" Tanya Narendra pada sang istri. 


"Sudah, Mas. Habis semua buah nya, tinggal yang putih nya doang. Tapi palingan besok atau lusa udah merah-merah lagi."


"Gapapa, yuk masuk ke rumah. Udah mendung, takutnya hujan." Ajak Narendra sambil menarik lembut tangan sang istri. Ayunda pun patuh pada sang suami, dia pun mengekor di belakang sang suami dan masuk ke dalam rumah. Ayunda membawa keranjang berisi buah stroberi itu ke dapur dan segera mencuci nya dengan air mengalir. Tak lupa, Ayunda membubuhkan garam kasar agar ulat-ulat yang ada di dalam buah itu keluar. 


Padahal tadi, Ayunda memakan banyak sekali buah itu tapi dia lupa kalau di buah stroberi terkadang ada ulat kecil yang bersarang di dalam nya. Tapi tidak apa-apa, yang penting jangan berefek apapun apalagi fatal. Jangan sampai, terlebih saat ini Ayunda tengah mengandung, saat ini kandungan nya berusia enam minggu. 


Benar saja, tak berselang lama hujan pun turun dengan deras. Ayunda menatap air yang berlomba-lomba turun membasahi bumi. Wanita itu terasa ada yang menyesakan di dalam hatinya, tapi entah apa. Inilah yang tidak dia sukai ketika melihat hujan, meskipun hujan adalah kebutuhan setiap manusia. 


"Hujan selalu membuat hatiku sakit, tapi entah kenapa." Gumam Ayunda sambil menghela nafas nya dengan berat. Wanita itu pun kembali melanjutkan mencuci buah nya dengan menggunakan sabun khusus buah juga, setelah nya dia memasukkan buah-buah itu ke dalam wadah kecil dan memasukan nya ke dalam kulkas. 


"Sayang.." Panggil Narendra sambil memeluk Ayunda dari belakang.


"Ada apa, Mas?" Tanya Ayunda sambil mengusap tangan besar yang melingkar di perut rata nya. 


"Mas mau kopi, sayang. Bisakah kamu membuatkan nya?" Balik tanya Naren sambil meniup cuping telinga Ayunda, membuat sekujur tubuh wanita itu merinding seketika. Tingkah suaminya ini, dia tahu apa artinya. 


"Boleh, kopi hitam atau kopi susu?"


"Kopi hitam aja, nanti susu nya dari kamu, sayang." Jawab Narendra dengan terpaan nafas beraroma mint yang menyapa indra penciuman Ayunda. Dia benar-benar merasa kalau Narendra sudah tak bisa lagi menahan nya, dia tahu dari helaan nafas nya.


"Mas mau kopi atau susu?"


"Kedua nya." Jawab Narendra. 


"Yaudah, ayo ke kamar dulu. Nanti Ayu bikinin kopi nya kalau Mas udah selesai." Ucap Ayunda, membuat wajah Narendra berbinar cerah. 


"Seriusan, sayang?"


"Serius kok, ayo. Aku mau nepatin janji yang waktu itu lho, tapi di cicil saja ya?" 


"Iya, sayang. Di cicil gapapa, nanti juga lunas kok. Ayo, Mas udah gak sabar." Jawab Narendra, dia pun menarik tangan sang istri ke kamar. Pria itu pun menggendong tubuh Ayunda karena tak sabar untuk segera menunggangi nya.


"Mas ihhh.."


"Hehe, lama soalnya. Mas udah gak sabar, tadi niat nya mau langsung minta pas kita bangun tidur. Tapi pas Mas bangun, kamu malah udah gak ada. Kabur ke kebun stroberi." Ucap Narendra sambil terkekeh. Dia pun membawa sang istri ke kamar, Narendra membuka pintu nya dengan perlahan, lalu menutup nya menggunakan lutut nya. 

__ADS_1


Pria itu tersenyum penuh arti ketika melihat wajah Ayunda yang memerah, sampai saat ini Ayunda paling tidak bisa jika di tatap seintens itu oleh Narendra. Padahal, mereka menikah sudah lebih dari setahun. Tapi tetap saja, rasanya masih malu-malu. 


"Mas.."


"Iya, sayang. Kenapa?" Tanya Narendra sambil mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang dia kenakan. Tadi, dia memang belum mandi, dia juga belum sempat mengganti pakaian nya. Sampai dari bandara, mereka langsung tidur. 


"Pelan-pelan ya, Mas? Aku takut itu kamu nyundul adik bayi." Ucap Ayunda sambil membuka kancing nya juga. Dia juga mengenakan dress berwarna pink pastel saat ini, dengan kancing di bagian atas nya. 


"Mas gak bisa janji, sayang. Kamu tahu sendiri kalau Mas suka gak terkendali kalau udah mau keluar."


"Bagian itu gapapa, aku pasrah." Jawab Ayunda sambil terkekeh. 


"Hehe, baiklah." Jawab Narendra. Kedua nya sudah dalam posisi polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka. Ayunda berbaring di atas ranjang dengan Narendra yang berada di atas tubuh sang istri. Pria itu mulai melancarkan aksi nya, dia menyentuh titik-titik sensitif istrinya agar sang istri siap untuk dia masuki. 


Narendra menjilat dan menggigit lembut cuping telinga istrinya, lalu mencium pipi, kening dan juga bibir Ayunda. Pria itu mencium bibir Ayunda dengan mesra. Dia menggigit bibir Ayunda karena gemas, lalu menelusupkan lidah nya untuk mengabsen setiap inchi mulut sang istri, dia begitu menikmati ciuman nya dengan sang istri. 


Tangan nya tak bisa tinggal diam begitu saja, dia menyentuh sesuatu yang menggantung di dada Ayunda. Meremaas nya dengan manja, membuat Ayunda melenguuh keenakan karena sensasi nikmat yang membuat dunia nya seolah berputar saat ini. 


"Eenghhhh, Mas.." Lenguuh nya dengan manja, membuat Narendra tersenyum di sela ciuman nya. Pria itu pun kembali melancarkan aksi nya, selesai dengan bibir, kini Narendra beralih ke leher jenjang istrinya. Dia menyesap dan menggigit nya hingga meninggalkan bekas kemerahan yang menghiasi leher Ayunda, itu adalah hasil karya nakal dari bibir Narendra. 


Ayunda meringis tertahan ketika Naren menyelipkan satu jemari nya di area inti nya, lalu mengusap nya hingga basah. Pria itu tersenyum ketika melihat tubuh istrinya bergerak-gerak tak bisa diam ketika dia memainkan tangan nya.


Setelah di rasa cukup, akhirnya Narendra pun menyudahi nya. Pria itu melakukan penetrasii, dia menekan senjata nya di pintu masuk lubang surgawi sang istri dengan perlahan. Lalu kembali menekan nya hingga akhirnya senjata miliknya tenggelam sempurna di dalam inti sang istri. 


Ayunda merintih ketika Narendra mulai menggerakkan pinggul nya maju mundur secara teratur, dia menikmati nya. Bibir nya tak bisa berhenti untuk mendesaah. Dia terus mengeluarkan suara-suara erotis itu dari bibir nya, membuat Narendra semakin bernafssu untuk menghajar istrinya. 


Di dapur, Melisa mengernyitkan kening nya ketika dia tidak bisa menemukan keberadaan sang menantu. Padahal tadi, jelas-jelas wanita itu sudah masuk ke rumah dan berada di dapur dengan sekeranjang penuh berisi buah stroberi. Tapi sekarang, dapur nya kosong bahkan tak ada tanda-tanda kalau Ayunda pernah disini. 


Karena penasaran, Melisa pun membuka lemari pendingin. Benar, stroberi nya sudah ada disini di isi ke dalam kotak-kotak yang di susun rapih, artinya tadi Ayunda memang kesini untuk mencuci dan juga memasukan buah nya ke dalam wadah food grade. 


"Ini buah nya udah ada disini, tapi kok orang nya gak ada ya? Kemana?" Gumam Melisa sambil menggaruk pelipis nya yang padahal tidak gatal sama sekali. 


"Permisi, Nyonya.." Ucap seorang maid senior yang biasa mengurus urusan perdapuran. 


"Anda memerlukan sesuatu, Nyonya?" Tanya nya lagi sambil tersenyum kecil. 


"Tidak, aku kesini ingin menemui Ayunda. Tapi dia tidak ada disini, kemana ya?" Tanya Melisa lagi sambil cengengesan. 


"Ohh, tadi Nona Ayu pergi sama Tuan Naren. Kayaknya sih ke kamar, soalnya saya lihat mereka menaiki tangga." Jawab Maid itu sambil tersenyum. Melisa mengangguk-anggukan kepala nya, akhirnya paham dan sekarang dia tahu kemana menantu nya pergi. Ternyata, ini semua campur tangan putra nya. 


"Pasti dia mengurung istrinya lagi di kamar seharian ini." Gumam Melisa.


"Maaf, anda mengatakan sesuatu, Nyonya?" Tanya Maid itu lagi sambil tersenyum.


"Enggak kok, yaudah kalo gitu saya pergi dulu ya."


"Baik, Nyonya." 


Melisa pun memilih untuk pergi ke kamar nya, wanita itu menggerutu karena dia tidak bisa mengajak menantu nya untuk bercerita. Dia sedang ingin bercerita dengan Ayunda, tapi ternyata dia sudah keduluan oleh putra nya.


"Memang ya, bener-bener itu anak. Istrinya keluar sebentar, di tinggalin sebentar, langsung aja di bawa lagi ke kamar." Gerutu Melisa sambil mendengus. 


"Kenapa lagi, Mami? Itu wajah nya kenapa di tekuk gitu sih, asem banget wajah nya." Tanya Arvino sambil menatap wajah sang istri yang sudah asam, seperti buah belimbing. 


"Enggak kok, papi udah bangun?"


"Ya, kalo papi belom bangun kan gak mungkin ada disini, Mi." Jawab Arvino sambil terkekeh.


"Iya juga sih, tapi apa Papi gak tahu apa yang nama nya basa basi gitu, Pi?" Tanya wanita itu membuat Arvin merasa nasib nya ada di ujung tanduk saat ini.


"Hehe, maafin Papi dong Mi."


"Hmm, udah biasa."

__ADS_1


"Tapi itu Mami beneran gapapa? Gak biasa nya itu wajah cantik nya di tekuk gitu." Ucap Arvino sambil mencolek gemas dagu istrinya. 


"Apa sih? Gak usah colek-colek, Mami bukan sabun colek." Ketus Melisa, lalu pergi dari hadapan sang suami. Arvino yang melihat hal itu mengernyitkan kening nya, kira-kira ada apa dengan istrinya? Dia tidak tahu menahu kenapa istrinya bisa seperti ini, padahal tadi dia baik-baik saja. Dia masih bisa tersenyum manis, tapi sekarang wajah nya saja di tekuk. 


"Mami kenapa ya? Berantem kah sama Maid atau apa?" Gumam Arvino sambil menggelengkan kepala nya, dia tak habis pikir dengan sang istri yang baginya moodian sekarang. 


"Tapi kalo berantem kan gak mungkin ya? Harus nya tadi aku denger, tapi ini gak ada apa-apa. Terus Mami kenapa ya?" Gumam pria itu lagi. 


"Aahhh sudahlah, pusing." Ucap Arvin sambil memilih pergi ke kebun. Semua orang, kalau sudah punya masalah pasti pergi nya ke taman untuk menenangkan diri. Begitu juga dengan Arvino, dia memilih untuk duduk di samping rumah. Karena hujan masih turun dengan cukup deras, namun tak sederas tadi.


"Bik, kopi hitam dong."


"Baik, Tuan." Jawab maid itu, dia pun segera ke dapur untuk membuatkan kopi. Pria itu menatap tetesan air hujan yang membuat semua tanaman basah, dia tersenyum ketika melihat butiran air itu hilang karena jatuh di tanah. 


Dia mengingat sesuatu yang berkaitan dengan istrinya, dulu mereka hujan-hujanan bersama naik motor. Posisi nya, Melisa masih resmi menjadi istri seorang pria. Mereka berhubungan secara sembunyi-sembunyi, nama nya juga berselingkuh sudah pasti sembunyi-sembunyi kan? Itulah yang di lakukan Melisa dan juga Arvino. Dia mencintai Melisa, hingga akhirnya dia nekad untuk bisa merebut istri dari pria lain. 


Dia tidak tega melihat seorang wanita di siksa secara lahir dan juga batin nya, mantan suami Melisa adalah guru honorer, dia terkenal pelit, itung-itungan, tukang selingkuh, suka main tangan, wajah nya juga gak bagus-bagus amat. Tapi dia jahat pada istrinya sendiri, Melisa sering makan seadanya sedangkan mantan suami nya itu makan dengan menu-menu yang enak. Gila kan? Benar, gila memang. Tapi sudahlah, sekarang semua nya telah berlalu. Namun kenangan disaat hujan-hujanan adalah kenangan yang tak pernah hilang dari ingatan Arvino. 


Dimana, itu adalah pertama kalinya mereka bersama dan menjalin hubungan. Sejak itu, mereka pun semakin sering bersama, bahkan melakukan hal-hal yang bisa di katakan di luar batas. Hingga setelah perpisahan Melisa dengan mantan suami nya, Melisa hamil dan Arvino mendapatkan beberapa tamparan di wajah dari Darren. 


"Papi, kok bengong. Kenapa?" Tanya Melisa sambil membawa secangkir kopi hitam untuk suaminya.


"Eehh, Mami.."


"Ini kopi nya, Pi. Mau kopi kenapa gak bilang sama Mami, Pi?" Tanya Melisa sambil ikut duduk di samping sang suami. 


"Papi pikir Mami ngambek, jadinya gak berani nyuruh bikinin nya, hehe."


"Mana ada mami marah, Pi? Mami cuma kesel."


"Kesel kenapa lagi, Mi?" Tanya Arvino. Melisa pun menjelaskan semua nya pada sang suami, membuat Arvino menguluum senyum kecilnya ketika melihat sang istri bercerita dengan amarah yang meletup-letup saking kesal nya mungkin. 


"Wajar aja, Mami. Nama nya juga suami sama istrinya."


"Tapi, Ayu kan lagi hamil. Harusnya dia sering berolahraga, tapi bukan olahraga yang itu."


"Selama gak menyakiti janin kan gapapa, Mami. Dulu juga papi malah tambah doyan kan pas mami lagi hamil? Soalnya, dulu tuh Mami keliatan gemoy banget pas lagi hamil. Jadi nafssu terus, mungkin Naren juga gitu." Jawab Arvin, membuat Melisa pun menganggukan kepala nya.


"Kita awasi saja, kamu tahu kan seperti apa nakal nya putra mu itu, Mami? Kalau memang sudah berlebihan, nanti kita peringatkan. Ayunda gak ada ngeluh kan?"


"Enggak ada, Pi."


"Mau ngeluh gimana, orang sama-sama suka, sama-sama doyan ya kan?" Ucap Arvin sambil terkekeh pelan. 


"Hmmm, dulu pas hujan begini kita sering masak mie berdua ya, Pi?" Tanya Melisa sambil tersenyum kecil. Arvin menganggukan kepala nya, benar. Kalau hujan, Arvino pasti akan pergi ke rumah Melisa atau sebaliknya untuk memasak mie bersama. Lalu memakan nya dengan lahap dengan di selingi canda tawa yang membuat suasana terasa hangat. 


"Iya, terus main kuda-kudaan kalau mie nya udah habis. Iya kan, Mi?"


"Isshh, itu aja yang Papi inget." 


"Hehehe, nama nya juga cowok, Mi." Jawab Arvino sambil tertawa-tawa. 


"Tapi, inget pas Papi mau jadi selingkuhan Mami tuh emang lucu ya."


"Lucu sih, cuma ya gitu gak bebas kayak sekarang. Btw, kabar mantan suami kamu sekarang gimana ya? Masih jadi guru honorer atau enggak?" Tanya Arvino.


"Gak tahu, mana Mami tahu. Gak peduli juga, biarin aja." Jawab Melisa ketus. Dia masih ingat dengan semua perlakuan dan perbuatan pria itu padanya, hatinya masih merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Bahkan beberapa luka yang di buat oleh pria itu di tubuh Melisa tidak bisa di hilangkan, alias permanen. 


Luka-luka itu menjadi saksi bisu betapa kejam nya sang mantan suami menyiksa nya, dulu setiap hari pasti ada luka baru yang di buat oleh pria itu di tubuh nya. Entah itu sundutan rokok, pukulan, tamparan, hingga meninggalkan bekas lebam di tubuh Melisa. Tapi beruntunglah, sejak dia mengenal Arvin, semua itu tak lagi dia dapatkan. 


Melisa menjadi lebih berani untuk melawan pria itu, hingga membuat nya bisa lepas dari belenggu pria itu dan memulai hidup bahagia bersama Arvino saat ini. Hingga kebahagiaan mereka semakin terasa sempurna ketika Naren hadir di antara mereka, sungguh demi apapun Melisa benar-benar bersyukur karena dulu di pertemukan dengan Arvino dulu. 


........

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2