
Malam hari nya, semua anggota keluarga sedang berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Termasuk Narendra dan Ayunda, semua orang hadir disini.
"Mami.." Panggil Naren, membuat wanita paruh baya itu menoleh ke arah putra nya.
"Iya, kenapa boy?"
"Besok, aku sama Ayu mau pulang."
"Lho, kok pulang?" Tanya Selin sambil mengernyitkan kening nya.
"Aku khawatir aja sama kesehatan Ayu, soalnya dia lagi hamil muda, cuaca nya terlalu dingin buat bumil yang masih rentan kayak Ayunda. Selain itu, pekerjaan di kantor juga udah terlalu lama aku tinggal. Kasian Mark kalau aku terus membebankan urusan kantor ke dia, sampai-sampai dia gak ada waktu buat bulan madu." Jelas Narendra panjang lebar. Pasalnya, mereka sudah berada disini seminggu. Waktu yang cukup lama, namun tidak terasa karena bersama keluarga.
"Iya sih, Mami juga ngerasa nya gitu. Yaudah, besok Mami ikut kalian pulang aja ya."
"Papi?" Tanya Arvino.
"Kalau Papi ya terserah Papi aja, mau ikut pulang ya ayo, kalau enggak juga gapapa. Disini sama keluarga, ikut pulang juga sama keluarga." Jawab Melisa, membuat Arvino terdiam dan menimbang-nimbang ucapan sang istri.
"Kalau kalian pulang, Papi juga pulang. Kita kesini bareng-bareng, ya pulang juga harus bareng." Jawab Arvino. Dia memutuskan untuk ikut pulang bersama anak dan istri nya besok. Masalah sang ayah disini, biarlah karena ada adik nya disini. Samuel dan Selin juga orang yang sangat baik dan bisa di percaya untuk menjaga Darren yang masih koma sampai sekarang.
"Kalian mau pulang? Yaahh, rumah sepi lagi dong." Ucap Samuel lirih. Wajah nya berubah sendu seketika saat mendengar kalau Arvino akan pulang bersama istri, anak dan juga menantu nya. Dia sudah senang saat mendengar kalau mereka akan berkunjung ke sini untuk berkunjung sekalian melihat keadaan Darren. Rumah terasa ramai dan hangat selama seminggu ini, namun sekarang tidak lagi. Jujur saja, dia sedih karena rumah akan kembali sepi.
"Maaf ya, tapi ada urusan yang harus di urus sama Naren, uncle."
"Arvin, kau disini saja dengan istrimu." Ucap Samuel.
"Melisa pengen pulang, dia mau jagain Ayunda kali. Kau tahu sendiri kalau aku tak bisa berjauhan dengan istriku apalagi dalam waktu yang lama." Arvino tersenyum kecil, membuat Samuel menggelengkan kepala nya. Memang penyakit bucin itu sudah di sembuhkan. Bukan nya sembuh, malah semakin menjadi.
"Yaudah deh, kalau kalian mau pulang. Memang nya aku bisa apa lagi?"
"Maaf ya, tapi.."
"Tidak apa, Ren. Nanti, giliran kami yang akan berkunjung ke tempat kalian." Ucap Selin sambil tersenyum kecil.
"Kami tunggu ya.." kali ini, Ayunda yang menjawab dengan senyum manis nya. Dia tersenyum karena hubungan nya dengan Selin cukup akrab, mereka cukup sefrekuensi, jadi mereka bisa langsung dekat dalam waktu yang singkat di pertemuan pertama.
Mungkin itulah daya tarik yang di miliki oleh Ayunda, terbukti bukan hanya Melisa yang langsung menyukai nya ketika pertemuan pertama, tapi Selin juga sama. Kedua nya langsung akrab bahkan di hari pertama mereka bertemu, Ayunda memang pandai mencuri hati orang lain, itulah yang membuat semua orang auto menyukai nya padahal dia tidak melakukan apapun.
"Pasti sayang, kamu sehat-sehat ya. Jangan kecapean, kamu lagi hamil sekarang."
"Iya, aunty." Jawab Ayunda sambil tersenyum, begitu juga dengan Selin. Kedua nya melempar senyuman, lalu kembali fokus dengan makanan masing-masing.
Setelah selesai makan malam, kayinda dan Narendra berpamitan untuk ke kamar lebih dulu, karena Ayunda mengeluh kepala nya merasa pusing. Naren tersenyum manis ketika melihat istrinya masih menunggu nya di atas ranjang.
__ADS_1
"Kata nya kamu pusing, yang? Kok belum tidur? Ayo tidur, istirahat niat besok pulang lebih seger." Ucap Narendra bilnduduk di samping sang istri yang terlihat murung.
"Iya, kepala aku pusing, Mas. Kliyengan banget kepala aku, kenapa ya?"
"Yaudah, kamu nya tidur aja. Nanti sambil Mas pijit." Jawab Narendra.
"Tapi, aku kan punya janji sama Mas."
"Udah, gak usah mikirin janji kamu sama Mas. Yang penting sekarang, kamu harus istirahat biar besok gak mabuk."
"Iya deh, Mas. Maaf ya aku ingkar janji.." Lirih Ayunda. Dia merasa bersalah pada sang suami karena tak bisa menepati janji nya untuk memberikan nya jatah dua ronde karena kepala nya yang terasa pusing.
"Gapapa, yuk tidur. Sini Mas pijit kepala nya." Ayunda pun menurut, dia memeluk tubuh sang suami dengan erat lalu memejamkan kedua mata nya. Pria itu memijit kepala sang istri dengan lembut, dengan sesekali menghujani puncak kepala sang istri dengan kecupan-kecupan mesra.
"Adek, jangan rewel ya sayang. Kasian Mami nya.." Lirih Narendra sambil mengusap perut Ayunda dengan lembut.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Narendra pun menyusul sang istri ke alam mimpi, kedua nya pun tertidur dengan saling memeluk satu sama lain dengan mesra. Udara di luar sana memang terasa sangat dingin, malam ini salju turun dengan lebat. Membuat kawasan ini di penuhi salju berwarna putih bersih.
Naren terus memeluk sang istri agar tidak kedinginan, dia tidak ingin istrinya merasa kedinginan karena tidur tanpa pelukan nya. Disini, tempat yang paling dingin jadi Naren yakin kalau istrinya membutuhkan kehangatan dari pelukan nya untuk membuat tidur nya lebih nyenyak.
Keesokan hari nya, seperti biasa Narendra di bangunkan oleh sang istri yang tak berada di pelukan nya lagi. Dia menebak kalau istrinya pasti sedang berada di kamar mandi dan benar saja, dia mendengar suara air mengalir dari wastafel kamar mandi. Pria itu mengucek mata nya, lalu segera beranjak dari tidurnya dan berjalan cepat setengah berlari ke kamar mandi untuk melihat istrinya.
Dugaan nya benar, Ayunda memang sedang muntah-muntah di kamar mandi. Pria itu dengan sigap memijat tengkuk sang istri, wanita itu menoleh lalu kembali memuntahkan semua isi perut nya. Saat ini perut nya terasa di aduk-aduk saking mual nya, dia benar-benar mual sampai membuat perut nya sakit.
"Aduh, sayang. Jangan rewel dong, kasian mami nya nih."
"Mas, keluar aja ya."
"Kenapa? Kenapa mas harus keluar, sayang?" Tanya Narendra dengan nada heran.
"Jijik, Mas."
"Enggak, Mas gak jijik kok." Jawab Narendra. Dia terbiasa menemani sang istri di kehamilan pertama nya, jadi ketika Ayunda mengalami nya kembali saat ini dia sudah siaga dan tahu apa yang harus dia lakukan ketika istrinya seperti ini.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Ayunda merasa lega, namun tubuh nya terasa lemas sekali. Mungkin karena efek perut nya yang kosong karena semua makanan yang dia makan kemarin di keluarkan semua nya baru saja.
"Sayang, kamu pucat banget.." ucap Narendra sambil membelai wajah cantik Ayunda dengan lembut.
"Aku gapapa kok, Mas. Cuma lemes sama tenggorokan aku kerasa pahit banget deh." Jawab Ayunda.
"Mas bikin teh jahe lagi, mau?"
"Gak usah, aku lagi pengen deket-deketan sama kamu, Mas. Boleh kan?"
__ADS_1
"Boleh, sayang." Jawab Narendra. Dia pun menggendong sang istri kembali ke ranjang, dia pun memeluk sang istri. Pagi ini di warnai dengan salju yang masih turun dengan lebat.
"Mas, kita pulang jam berapa?"
"Mas pesen tiket penerbangan yang sore hari, soalnya kalau pulang nya pagi hari Mas takut kamu gak kuat. Soalnya kamu kalo pagi selalu begini." Jelas Narendra. Ayunda tersenyum, dia senang sekali karena suami nya begitu memperhatikan nya. Dia bahagia dan merasa di istimewa kan oleh suami nya.
Memang, wanita akan bahagia dan hidup bak ratu di sebuah kerajaan ketika dia benar memilih pendamping hidup. Ayunda merasakan nya itu, dia merasa di ratu kan oleh sang suami yang ternyata sangat mencintai dirinya. Wanita akan bahagia jika bersama pria yang tepat, benar adanya. Ayunda benar-benar sudah menemukan pria yang tepat untuk mendampingi hidup nya.
"Perhatian banget deh kamu, Mas."
"Iya dong, karena Mas sayang dan mencintai kamu."
"Aaahhh, manis banget deh. Aku meleleh nih." Ucap Ayunda yang membuat kedua nya terkekeh karena ucapan Ayunda terdengar sangat menggemaskan bagi Narendra.
"Jangan meleleh, nanti aku gimana kalau kamu meleleh."
"Hahaha, kamu ini Mas. Aku cuma bercanda kali, mana ada manusia yang bisa meleleh?"
"Ada, kamu. Soalnya kamu awalnya dingin kayak es krim, tapi sekarang es nya udah mencair." Jawab Narendra sambil menjawil gemas dagu sang istri.
"Bukan nya kebalik ya? Mas tuh yang dingin kayak es batu, tapi sekarang es batu nya kemana ya? Kok gak ada sih? Jadi hangat gini." Ucap Ayunda sambil tersenyum kecil.
"Ya, es batu juga bisa cair kalo kena matahari, sayang."
"Iya deh iya, aku percaya." JawabA Ayunda sambil tersenyum, dia pun kembali memeluk sang suami dengan erat. Dia merasa pelukan sang suami adalah obat bagi nya. Dia merasa tubuh nya tidak terlalu lemas ketika suami nya memeluk nya dengan hangat dan erat seperti ini. Dia merasa sangat bahagia karena memiliki Narendra di samping nya.
"Tiba-tiba saja, aku bersyukur pada malam itu, Mas."
"Kenapa?"
"Memang, aku kehilangan hal yang paling berharga dalam hidup ku karena jebakan itu, Mas. Tapi kalau malam itu, kita tidak bertemu dan terjebak bersama, aku pasti takkan bertemu dengan mu dan mungkin saat ini aku masih belum bisa merasakan kehangatan yang saat ini sering aku rasakan."
"Pelukan hangat yang terasa seperti rumah bagi ku, aku sangat bersyukur karena memiliki kamu dan pelukan kamu yang selalu membuat hatiku tenang. Terimakasih karena sudah menjadi rumah untuk ku, kamu membuktikan kalau rumah tidak selalu berbentuk bangunan, Mas." Ucap Ayunda panjang lebar, dia mendongak menatap wajah sang suami yang ternyata juga tengah menatap ke arahnya.
"Mas juga merasa kalau malam itu tidak sepenuhnya bencana untuk kita berdua, sayang. Ada hal yang tak bisa Mas jelaskan kenapa Mas harus bersyukur atas malam itu. Salah satu nya, karena malam itu Mas bisa memiliki istri secantik dan sebaik kamu. Bayangkan saja, seberuntung apa Mas memiliki kamu?"
"Aku juga beruntung karena memiliki kamu, Mas."
"Kita sama-sama beruntung, sayang. Intinya, takdir memang tidak bisa di rubah ya. Kita di takdirkan berjodoh, maka sejauh apapun jarak nya, maka selalu ada cara untuk kita bisa dekat dan akhirnya terikat satu sama lain. Benar kan?" Tanya Narendra. Ayunda menganggukan kepala nya mengiyakan, rasa bahagia nya tidak bisa di deskripsikan dengan kata-kata. Dia bahagia karena memiliki pria seperti Narendra, begitu juga dengan Narendra. Kedua nya sama-sama bahagia saling memiliki satu sama lain.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1