
"Dokter.." Panggil Mark sambil beranjak dari duduknya. Dokter itu tersenyum lalu memberi kode pada Mark untuk ikut bersama nya, seperti nya ada yang ingin dia bicarakan dan mungkin saja itu penting.
Mark yang peka pun langsung mengikuti kemana dokter itu pergi, tentu nya dengan langkah biasa saja. Dia sedikit curiga dengan suasana rumah ini, meskipun ini bukanlah pertama kali nya dia masuk ke rumah ini tapi hawa nya kali ini sangat berbeda. Mark pikir, mungkin karena sang tuan rumah yang tidak berada di rumah, mereka tengah liburan di luar kota, namun ternyata bukan. Dia merasa ada yang tidak beres dan sedikit janggal di rumah ini.
"Dokter.."
"Tuan Mark, kemarilah. Ada yang ingin saya bicarakan.."
Baik, Dok."
Kedua nya pun melipir ke samping rumah, dokter itu pun memastikan tidak ada yang bisa menguping pembicaraan nya nanti.
"Ada apa, Dok?"
"Tuan, saya merasa ada yang tidak beres di rumah ini."
"Benarkah? Saya juga merasa demikian. Awalnya, saya pikir hanya karena tidak ada Tuan Arvin dan Nyonya Melisa. Tapi ternyata bukan, Dokter."
"Begini, saya mendapatkan sesuatu yang tidak beres dengan pendarahan Nona Ayunda, Tuan."
"A-apa?" Tanya Mark pelan.
"Nona Ayunda pendarahan bukan hanya karena kelelahan atau terlalu banyak berpikiran yang berat. Ada penyebab lain, Tuan."
"Penyebab lain?" Tanya Mark. Dokter itu menganggukan kepala nya.
"Apa, Dok?"
"Obat penggugur kandungan, saya khawatir ini akan membuat janin yang di kandung Nona Ayunda tidak bisa bertahan, karena dari yang saya lihat gejala nya bukan hanya karena kelelahan tapi ini akibat obat penggugur." Jelas dokter itu membuat kedua mata Mark terbelalak.
"Dokter tidak salah menganalisa, kan?"
"Tidak, saya memang bukan dokter kandungan, tapi saya dokter yang tahu seperti apa pendarahan yang wajar dan tidak wajar. Saya curiga, pendarahan yang kemarin-kemarin juga bukan karena kelelahan atau banyak pikiran saja, Tuan Mark." Jelas nya lagi membuat Mark benar-benar terkejut dengan semua ini. Bagaimana bisa Narendra kecolongan dan ini sangat membahayakan.
"Tuan, ini sangat membahayakan bagi janin dan juga ibu yang mengkonsumsi nya karena obat ini sangat keras. Akan berdampak pada kesehatan Nona Ayunda, ini bisa menyebabkan kerusakan rahim jika di konsumsi dalam jangka waktu yang panjang."
"Tapi tidak mungkin kalau Ayunda meminum obat itu bukan? Mengingat kalau kedua nya sangat bahagia menyambut buah hati mereka, Dokter." Ucap Mark membuat Dokter itu menggelengkan kepala nya. Dia yakin, Ayunda tidak mungkin sejahat itu hingga ingin menyakiti janin yang tidak bersalah apapun. Janin yang menjadi alasan kebahagiaan Narendra belakangan ini.
"Saya yakin Nona Ayunda tidak sampai setega itu, Tuan. Tapi saya mencurigai seorang maid yang selalu menyiapkan segala keperluan Nona Ayunda, termasuk membuatkan susu kehamilan untuk nya setiap pagi." Jelas dokter itu.
"Maksud nya? Ada maid yang melakukan hal ini, dokter?"
"Ya, saya yakin akan hal itu. Atau jika analisa saya salah, saya minta tolong pada anda untuk datang pagi hari kesini lalu ambil beberapa tetes saja susu nya lalu berikan pada saya. Tapi susu yang di berikan pada Ayunda harus di tukar, Tuan." Jelas dokter itu lagi.
__ADS_1
"Akan sedikit sulit kalau saya yang melakukan nya, tapi tidak apa-apa saya akan mengusahakan nya besok pagi, dokter."
"Baik, saya akan menunggu anda di rumah sakit, pagi-pagi saja."
"Baiklah, dok. Akan saya usahakan."
"Tapi, sebelum hasil test nya keluar jangan beritahu Tuan Naren dulu, saya khawatir dia akan marah tapi kita tidak bisa menuduh siapapun tanpa bukti meskipun kita harus curiga terhadap maid yang selama ini selalu menyiapkan segala keperluan Nona Ayunda." Jelas dokter itu, wajah nya terlihat sangat serius. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Ayunda, hari ini masih beruntung karena janin nya bisa bertahan. Bagaimana kalau esok atau lusa terjadi hal yang sama, dia saja tidak yakin apakah janin itu masih bisa bertahan atau tidak.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Usahakan yang terbaik, Tuan."
"Tentu saja, dokter. Anda tidak perlu khawatir." Jawab Mark. Akhirnya pembicaraan nya pun selesai, Mark kembali masuk ke dalam rumah dan dokter itu juga kembali bekerja di rumah sakit tempat dia dinas selama ini.
'Berarti bukan hanya aku saja yang curiga? Bahkan dokter Hendra pun curiga dengan hal yang sama? Artinya, feeling ku tidak salah bukan?' Pria itu membatin. Dia melihat di ruang tamu sudah ada Narendra yang menatap nya dengan tatapan datar.
"Dari mana?"
"Habis nganterin dokter Hendra ke depan, Tuan. Bagaimana keadaan Nona Ayunda?" Tanya Mark sambil duduk di samping sang atasan yang terlihat murung. Ya, dia terlihat murung karena Ayunda menolak untuk mendengar penjelasan nya dengan alasan dia ingin beristirahat terlebih dulu untuk sekarang ini.
"Sudah lebih membaik, pendarahan nya juga sudah berhenti. Hanya saja, dia belum mau menatap wajah ku secara langsung, Mark."
"Tidak apa-apa, berikan Nona Ayunda sedikit waktu lagi, Tuan."
"Tapi mulut ku sudah gatal, aku tidak mau masalah ini berlarut-larut. Aku tidak suka di diamkan oleh istriku sendiri, Mark." Ucap Narendra sambil menutupi wajah nya dengan kedua tangan nya.
"Anda harus sabar, Tuan. Semua pasti ada jalan keluar nya."
"Ini terlalu berat untuk ku, Mark."
"Anda harus kuat, Tuan. Jangan kalah, kalau ada menyerah nanti Trisa akan merasa di atas awan. Dia akan besar kepala dan membanggakan dirinya sendiri nanti."
"Iya, Mark.."
"Anda harus membuktikan kalau anda adalah pria yang kuat dan mampu mengatasi masalah tanpa memerlukan bantuan dari nya." Ucap Mark membuat Narendra merasa ada sedikit harapan lagi sekarang. Inilah yang dia sukai dari pria bernama Markus itu, dia selalu memiliki cara yang bijaksana dalam menyikapi setiap masalah dan selalu berbagi solusi terbaik untuk mengatasi masalah.
"Bantu aku, Mark."
"Tentu saja, saya akan membantu anda kapan pun. Tapi maaf, untuk masalah Nona Ayunda itu masalah anda. Saya akan menangani sisa nya kecuali itu." Jawab Mark membuat Narendra menganggukan kepala nya mengiyakan.
"Tuan.."
"Iya, kenapa Mark?"
"Maid yang mana yang biasa nya membuatkan susu kehamilan untuk Nona Ayunda setiap pagi nya?" Tanya Mark membuat Narendra menatap asisten nya dengan tatapan keheranan, juga dengan kening nya yang mengernyit.
__ADS_1
"Mona, maid itu bernama Mona, Mark. Dia akan lewat kesini sebentar lagi untuk membersihkan ruangan."
"Itu tugasnya?"
"Iya, Mami yang ngasih tugas." Jawab Narendra sambil mencomot kue dari piring.
"Oh, begitu ya?"
"Iya, kenapa memang nya?" Tanya Narendra.
"Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja."
"Aneh, karena tadi Hendra juga sempat menanyakan hal yang sama padaku. Memang nya kenapa? Kok kalian bisa sama."
"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi bolehkah saya bertanya, sudah berapa lama dia bekerja di mansion ini?" Tanya Mark membuat Narendra memiringkan kepala nya menatap Mark dengan tatapan penuh pertanyaan seperti nya.
"Aku lupa, mungkin sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Dia di rekrut oleh Mami langsung." Jelas Narendra membuat Mark mengangguk-anggukan kepala nya mengerti.
'Rasanya tidak mungkin dia, bukan? Bekerja selama bertahun-tahun tapi tidak terlibat skandal apapun, artinya dia maid yang baik, bukan?' Batin Mark.
'Tidak, ingat tidak semua orang terdekat bisa di percaya.'
"Kau melamun, Mark? Kenapa?" Tanya Narendra sambil melambai-lambaikan tangan nya di depan wajah Mark, karena bukan nya menjawab atau bahkan menjelaskan, tapi Mark malah bengong. Sibuk dengan pikiran nya sendiri, padahal di depan nya ada Narendra yang selalu atasan nya. Sedari tadi dia mengoceh tapj Mark malah bengong kayak sapi ompong.
"Aahhaha, maafkan saya Tuan. Kalau begitu, saya akan kembali ke kantor. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan."
"Ya, tolong handle dulu untuk sementara waktu, Mark."
"Dengan senang hati, Tuan. Saya permisi, satu pesan saya selalu waspada dengan orang terdekat." Ucap Mark lalu pergi meninggalkan Narendra yang masih terpaku di tempat nya dengan mata yang menatap ke arah punggung Mark yang sudah menghilang di balik pintu utama.
"Waspada dengan orang terdekat? Apa maksudnya itu?" Gumam Narendra. Dia merasa ada yang tidak beres dengan Mark dan juga dokter Hendra. Namun, dengan cepat dia menepis prasangka buruk nya itu. Tidak mungkin dia mencurigai sesuatu yang belum ada bukti yang jelas.
Narendra beranjak dari duduk nya, dia pun pergi ke kebun belakang untuk melihat progres penanaman bunga mawar biru di kebun belakang yang sebentar lagi akan dia sulap menjadi taman bunga sesuai dengan apa yang di sukai istrinya. Tentu nya, Narendra tidak ragu merogoh saku nya untuk membuat taman yang di penuhi mawar biru itu.
Satu tangkai nya saja harga nya jutaan, belum lagi dengan perawatan nya yang harus di lakukan secara ekstra karena bunga blue rose memerlukan perhatian yang lebih karena bunga itu begitu sensitif, namun sesuai dengan apa yang di dapatkan, bunga mawar biru sangat indah saat mekar.
"Sebentar lagi taman ini akan selesai, tapi hubungan kita malah memburuk karena adanya hasutan orang ketiga. Aku gelap mata, sayang. Bagaimana kalau aku bunuh saja wanita itu? Aku tidak punya jalan lain rasanya, aku akan menyewa pembunuh bayaran untuk menyelesaikan wanita itu andai saja dialah yang melakukan semua ini padamu dan juga anak kita, sayang." Gumam Narendra.
Sejujurnya, dia sudah lama mencurigai seseorang. Tapi dia tidak bisa mengatakan nya karena tidak ada bukti dan lagi, maid itu di pilih langsung oleh Melisa. Narendra memejamkan kedua mata nya, dia menikmati semilir angin yang berhembus menyapa tubuh nya yang masih di balut oleh jas rapih, bahkan dasi nya masih melingkar ketat di leher nya.
Sejujurnya ini cukup menyiksa, dia tidak suka berlama-lama mengenakan jas atau dasi, tapi dia tidak ingin membuat mood istrinya semakin memburuk hanya karena melihat dirinya. Jadi, dia urungkan sementara waktu untuk mengganti pakaian nya, selama pakaian nya masih bersih dia akan memakai nya saja.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻