Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 30 - Sarapan Bersama


__ADS_3

"Sayang, malam ini menginap disini saja ya?" Bujuk Melisa, membuat Ayunda melirik ke arah Naren. Pria itu menganggukan kepala nya, pertanda dia memperbolehkan untuk menginap disini.


"Kita menginap disini, kalau begitu." 


"Baiklah." Jawab Ayunda pasrah. Gadis itu pun kembali mendudukan tubuh nya di samping Naren. 


"Sayang.." Panggil Naren membuat Ayunda menoleh. 


"Iya, kenapa?" Tanya Ayunda sambil tersenyum kecil. 


"Hmm, tidak jadi. Nanti saja, sayang." Jawab Naren membuat kening Ayunda mengernyit. Dia bingung plus dia juga penasaran dengan apa yang kira nya akan pria itu katakan padanya. 


"Baiklah, sayang." 


"Ya sudah, kalian ke kamar saja sana." Pinta Melisa, Naren dan Ayunda pun mengangguk. Pria tampan itu menggenggam tangan Ayunda, membawa nya ke kamar.


"Jangan di pake dulu, kalian belum nikah ya." 


"Iya, lagian Ayu nya gak bakalan mau kali, Pi. Cuma tidur bareng doang, paling sambil pelukan." Jawab Naren dengan sedikit mendelik ke arah sang Papi. Kedua nya pun meniti satu persatu anak tangga yang menghubungkan kamar Naren dan lantai satu. 


Naren membawa Ayunda masuk ke kamar nya, kamar yang cukup lama tidak dia tinggali karena Naren lebih nyaman berada di apartemen. Alasan nya, karena Naren lebih menyukai suasana tenang di apartemen dari pada di rumah. 


"Kamar nya luas sekali." Ucap Ayunda sambil meneliti ke seluruh ruangan yang di sebut kamar itu. Luas nya, mungkin dua kali lipat di bandingkan kamar yang ada di apartemen. 


"Hmmm, makanya aku tidak terlalu suka tidur disini. Terlalu luas, sayang. Tapi kalau nanti di temenin kamu, aku gak masalah." Jawab Naren membuat wajah Ayunda memerah. 


"Ayo kita tidur, sayang." Ajak Naren, Ayunda pun menurut. Lagi pula, mata nya sudah terasa berat. Tak biasa nya dia tidur larut seperti ini, itu terjadi karena kedua orang tua Naren terus saja mengajak nya bicara. Dia merasa tak enak nanti kalau tiba-tiba mengajak Naren tidur. 

__ADS_1


"Kemarilah.." Ayunda pun bergeser, mendekat ke arah sang pria yang sudah siap menyambut nya dengan pelukan hangat. 


"Lusa kita akan menikah, sayang. Setelah itu, kita akan resmi menjadi suami istri kan? Aku minta, kamu selalu percaya sama aku ya?" 


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Tanya Ayunda lirih. 


"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya mengatakan hal ini saja, jika suatu saat terjadi hal yang tak di inginkan, aku harap kamu tetap mempercayai ku. Kamu bersedia?"


"Tentu, tapi aku akan melihat dulu seperti apa kondisi nya. Aku juga tidak bisa terlalu percaya pada seseorang, apalagi jika orang itu tidak memiliki bukti." Jawab Ayunda, membuat Naren mengeratkan pelukan nya.


Dia memang sudah sangat yakin dengan Ayunda, kalau tidak yakin, pasti nya dia tidak akan mau menikahi Ayunda apalagi berhadapan dengan kedua orang tua nya. Itu sudah menunjukkan kalau dia benar-benar serius pada Ayunda, bukan?


"Aku akan berusaha untuk memperlakukan mu dengan baik, sayang. Kamu juga harus melakukan hal yang sama ya? Buka hati mu untuk ku."


"Iya, sayang. Aku akan melakukan nya." Jawab Ayunda, Naren tersenyum. Dia meraih dagu Ayunda, membuat gadis itu mendongak. Tanpa basa basi lagi, Naren mencium bibir Ayunda dengan mesra dan penuh kelembutan. 


"Terimakasih, ayo kita tidur." Jawab Naren, dia pun menarik selimut dan membenarkan posisi tidur Ayunda, lalu kedua nya pun tertidur dengan lelap sambil berpelukan hangat. 


Pagi hari nya, Ayunda terbangun lebih dulu. Dia mencuci wajah nya ke kamar mandi terlebih dulu, lalu pergi dari kamar dengan langkah mengendap-endap agar Naren tidak terganggu tidur nya. 


Gadis itu menutup pintu nya secara perlahan, lalu meniti tangga dengan hati-hati karena masih pagi jadi dia harus berhati-hati, nyawa nya juga belum terkumpul sepenuh nya. 


"Pagi, Mi." Sapa Ayunda, membuat Melisa yang sedang menyiapkan bahan-bahan yang akan dia masak berbalik dan melihat wajah cantik Ayunda. 


"Pagi, sayang. Kenapa sudah bangun jam segini?"


"Sudah kebiasaan, Mi. Hehe." Jawab Ayunda sambil terkekeh pelan, dia menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. 

__ADS_1


"Ya sudah, bantuin Mami masak aja ya?" Ucap Melisa. Ayunda pun tersenyum lalu menganggukan kepala nya, dengan senang hati dia akan membantu calon mertua nya memasak. Dia juga suka memasak karena itu adalah hobi nya.


Ayunda pun membantu Melisa memasak untuk sarapan. Hari ini menu nya ayam goreng dan sayur, tapi ada juga ikan yang di acar. Karena Ayunda tahu kalau Naren menyukai nya.


Selang beberapa jam kemudian, Naren turun dari kamar nya dengan merapikan jas yang dia kenakan. Dia tersenyum saat mencium aroma masakan yang enak menguar dari arah dapur, pria itu pun pergi ke dapur dan mendapati kalau Mami dan calon istri nya sedang memasak bersama.


"Pagi, sayang." Sapa Naren, dia mendekat ke arah Ayunda yang sedang sibuk mengaduk masakan nya di wajan. Pria itu mengecup singkat pipi kanan Ayunda sekilas.


"Pagi.."


"Jangan mesra-mesraan disini, ingat ada Mami disini." Ucap Melisa dengan ketus. 


"Hehe, Mami kalau iri bilang saja!"


"Kamu mau berangkat kerja? Padahal besok kalian mau menikah."


"Hanya setengah hari, setelah selesai dengan pekerjaan, nanti Naren pulang mau ngajakin Ayu ke toko perhiasan." Jelas Naren.


"Ngapain?" Tanya Ayunda membuat Naren juga Melisa terkekeh.


"Nyari cincin kawin dong, apa lagi?"


"Ohhh.." Ayunda hanya membulatkan bibir nya membentuk huruf O. 


Tak lama, Arvin pun masuk ke dapur dan mereka pun memulai sarapan dengan tenang. Tak ada percakapan apapun, hanya terdengar bunyi sendok dan garpu di sana.


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻😅


__ADS_2