
"Mami.." Panggil Ayunda. Melisa yang sedang memetik sayur di kebun menoleh dan tersenyum kecil melihat menantu nya yang terlihat segar sekali pagi ini.
"Iya, sayang."
"Lagi metik sayur ya, Mi? Ayu pengen jus tomat dong." Ucap Ayunda. Melisa mengusap puncak kepala sang menantu lalu menunjukkan beberapa buah tomat yang sudah matang dan siap di petik.
"Ada banyak tomat nya, sayang. Kamu mau? Biar mami petik."
"Ayu aja yang metik, boleh?"
"Tentu saja, ayo ambil. Sekalian, stroberi di sebelah sana udah pada mateng."
"Wah, seriusan, Mi?" Tanya Ayunda, mata nya berbinar ketika Melisa mengatakan kalau buah stroberi kesukaan nya sudah banyak yang matang. Dengan begitu, hari ini dia akan makan buah berwarna merah dan memiliki aroma manis yang menggugah selera itu sepuasnya.
"Iya, sayang."
"Ayu petik stroberi dulu ya, Mami."
"Ini keranjang nya, pelan-pelan aja jalan nya, hati-hati kamu lagi hamil lho." Peringat Melisa. Ayunda mengangguk, dia mengambil keranjang kecil dari tangan mami mertua nya dan pergi memetik buah stroberi.
Narendra sendiri, dia sudah berangkat bekerja tadi pagi. Dia ada meeting penting lagi ini. Jadi, dia berangkat lebih pagi dari biasanya. Berhubung kemarin libur, jadi pekerjaan hari ini pasti akan banyak sekali.
Ayunda terlihat memetik buah itu, sesekali dia memakan nya dengan lahap. Tak heran jika Ayunda memakan buah itu dengan lahap, karena rasa buah stroberi itu memang sangat enak. Manis dan segar, hanya ada sedikit rasa kecut untuk menambah rasa. Apalagi Ayunda masih sering merasakan pusing di kepala nya karena efek morning sickness, jadi memakan buah yang memiliki cita rasa asam seperti stroberi adalah obat yang terbaik bagi bumil.
"Sayang, sudah belum?"
"Masih banyak, Mami."
"Mami bantuin ya?" Tawar Melisa. Ayunda menganggukan kepala nya, dia pun kembali memetik buah stroberi dengan di bantu oleh mami mertua nya.
"Mami.." panggil Arvino dari luar, membuat kedua wanita berbeda generasi itu menoleh seketika karena mendengar teriakan Arvino yang terdengar nyaring.
"Iya, papi. Ada apa?" Tanya Melisa.
__ADS_1
"Ada panggilan video dari Sam, Mi."
"Ya terus, kenapa?"
"Lihat, siapa ini?" Arvino menunjukkan ponsel nya dan seketika kedua wanita itu terkejut. Bagaimana tidak, mereka melihat Darren, pria yang selama ini selalu mereka doakan kesembuhan nya, kini tersenyum pada mereka.
'Hallo, menantu dan cucu menantu.' Sapa nya. Beliau masih berada di rumah sakit, karena keadaan nya yang belum stabil saat sadar dari koma nya kemarin.
"Kakek.." Teriak keduanya, Melisa dan Ayunda kompak menangis terharu, mereka senang karena akhirnya Darren sadar setelah sembilan bulan lamanya dia hanya bisa terbaring koma di brankar rumah sakit.
'Apa kabar, sayang nya Papa? Hai, cucu menantu kakek. Apa kabar kalian semua?'
"Kami baik-baik saja, kek. Bagaimana keadaan kakek saat ini?" Tanya Ayunda sambil tersenyum.
'Kakek sudah merasa jauh lebih baik sekarang, hanya saja kepala Kakek agak sering pusing. Mungkin karena benturan saat kecelakaan itu, tapi tidak apa-apa. Rasanya kakek senang saat bisa melihat kalian lagi.'
"Kapan Papa akan pulang?"
'Entah, tapi mungkin secepatnya, sayang. Papa sangat merindukan kalian semua, ingin sekali berkumpul kembali disana.' Jawab Darren sambil tersenyum kecil.
'Iya, tentu saja. Papah lihat perut Ayunda masih buncit, harusnya dia sudah melahirkan, bukan?' Tanya Darren lagi.
"Panjang cerita nya, Pa. Intinya, Ayunda keguguran karena kejahatan Trisa, lalu sekarang hamil lagi." Ucap Melisa lirih, sedangkan Ayunda hanya diam menyimak saja.
'Begitukah? Ckkk, wanita itu memang sudah membawa sial sejak awal.' Gerutu Darren sambil mengepalkan kedua tangan nya merasa kesal karena ucapan Melisa. Apalagi saat itu, dia pasti sudah koma jadi tidak bisa melampiaskan kemarahan nya pada wanita ular itu.
"Iya, Papa. Tapi sekarang, apa papa tahu? Ayunda hamil twins."
'Twins? Astaga, aahhh terimakasih. Sangat menyenangkan sekali rasanya, selamat cucu menantu ku. Saat kakek pulang nanti, kakek akan membelikan banyak sekali hadiah untukmu.' Ucap Darren sambil tersenyum kecil karena merasa bahagia sekali saat ini. Bagaimana tidak bahagia? Dia akan segera mendapatkan cicit sekaligus dua.
'Lalu, sekarang dimana wanita itu? Biar Kakek beri pelajaran.'
"Tidak perlu, Papa. Dia sudah meninggal karena bunuh diri di penjara, lagi pula tidak terlalu bagus untuk menaruh dendam pada orang mati." Ucap Arvino. Dia masuk ke dalam frame kamera. Disana, terlihat Darren yang sedang duduk di brankar rumah sakit dengan pakaian khusus nya. Dia masih belum bisa pulang karena kondisi nya yang belum stabil.
__ADS_1
'Papa tahu, mungkin ini terdengar agak jahat. Tapi papa kok senang ya wanita sudah pergi?'
"Aahhh sudahlah, Papa. Sekarang, istirahatlah. Nanti kami akan menghubungi balik."
'Aaiissh, tunggu dulu. Sekarang, cucu menantu Papa sedang hamil berapa bulan?' Tanya Darren.
"Usia nya masih lima bulan, Pa. Masih empat bulan lagi untuk melahirkan, saat itu tiba kami harap Papa bisa pulang kesini dan melihat cicit Papa." Ucap Melisa sambil tersenyum manis.
'Tentu, kalau begitu Papa akan istirahat agar cepat sembuh. Tapi kemana cucu nakal ku? Apa dia tidak senang kakek nya sudah siuman?'
"Dia bekerja, kakek." Jawab Ayunda, membuat Darren mengangguk-anggukan kepala nya sambil terkekeh.
'Kakek sudah tua, di tambah malah kecelakaan terus koma, jadinya makin pelupa.'
"Hahaha, ya sudah. Selamat beristirahat, Papa."
"Iya, selamat beristirahat kakek. Cepat sembuh ya, biar bisa cerita-cerita lagi sama Ayu disini."
'Iya, sayang. Doakan kakek agar cepat sembuh ya.'
"Pasti Kek, Ayu selalu menyematkan nama kakek di setiap doa Ayu, cepat sembuh kami merindukan kakek."
'Senang sekali bisa melihat senyuman manis mu itu lagi, Ayu. Kalau saja kakek sudah sembuh sekarang, ingin sekali kakek pulang dan memelukmu.'
"Makanya kakek cepat sembuh ya, nanti kakek bisa peluk Ayu." Ucap Ayunda. Darren mengangguk, lalu tersenyum. Setelah itu, panggilan video itu pun selesai.
"Rasanya lega sekali karena melihat papa sudah bisa tertawa lepas seperti itu." Ucap Arvino lirih. Dia terus saja melihat ke layar ponsel yang sudah mati itu dengan bibir yang melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman kecil.
"Iya, Papi. Semoga saja dia cepat sembuh agar bisa berkumpul kembali bersama kita disini." Melisa ikut mengeluarkan suara nya.
Ayunda hanya terdiam, dia tidak ingin ikut campur dalam pembicaraan orang tua nya itu. Tapi dalam hati, dia sangat bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan karena telah mengabulkan doa-doa nya selama ini, sungguh ini adalah berita yang sangat baik bagi Ayunda. Saking bahagia, bahkan bayi yang ada di kandungan nya pun bisa merasakan kebahagiaan ibunya.
"Kalian ikut bahagia kan? Nanti kalau kakek buyut sudah sembuh, kita bakalan ketemu lho. Gak sabar kan? Mama juga gak sabar pengen ketemu sama kakek buyut." Gumam Ayunda lirih sambil mengusap perut buncit nya dengan lembut.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻