Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 186 - Rasa Sakit Adam


__ADS_3

Sore harinya, Narendra pulang dengan wajah kusut nya. Sudah biasa bagi semua penghuni rumah jika melihat wajah kusut Naren yang seperti ini. Sudah pasti dia lelah karena pekerjaan nya di kantor selalu saja menumpuk, seolah tiada habisnya. 


Dengan tas kerja yang di tenteng dan juga jas yang dia sampirkan di atas bahu nya, Narendra mendudukan tubuhnya di sofa ruang tamu lalu menyandarkan punggung nya yang terasa pegal dan memejamkan mata nya barang sejenak. 


Ayunda yang baru saja selesai mandi pun tersenyum kecil melihat suaminya itu. Dia langsung mendekat dan duduk di samping sang suami. Merasakan kehadiran sang istri, Naren segera membuka kedua mata nya dan menarik tengkuk sang istri lalu tanpa ragu mencium bibirnya dengan mesra, bahkan sempat melumaat nya sebentar.


"Mas, issshhh.." Rengek Ayunda, dia mendorong dada bidang suami nya agar menjauh. 


"Kenapa hmm?"


"Kebiasaan deh suka gak tahu tempat, ini dimana coba? Main nyosor aja, gimana kalau ada yang lihat? Kan malu nanti."


"Kenapa harus malu sih, yang? Kan kita udah menikah, jadi wajar-wajar aja. Lagian kan suami istri ciuman kayak tadi tuh gapapa." Jawab Narendra acuh, seolah perbuatan nya itu tidak salah sama sekali. Berbeda dengan Ayunda yang sudah menekuk wajahnya saking kesalnya. 


"Suami mu benar, sayang. Cuman ya suami kamu itu memang watados nya udah di tahap mengkhawatirkan." Celetuk Arvino yang juga baru keluar dari kamarnya. 


"Dih, apa-apaan pake ngikut-ngikut." 


"Suka-suka Papi dong." Jawab Arvin tak mau mengalah. Tak lama kemudian, Melisa juga keluar dari kamar dan memutar matanya dengan jengah karena baru saja dia keluar dari kamar, tapi dia sudah di suguhi pemandangan yang sangat menyebalkan. 


"Kalian kalau gak berantem memang nya bakalan gatal-gatal ya? Kebiasaan banget suka berantem gak tahu situasi." Ucap Melisa yang sudah benar-benar merasa muak dengan perdebatan ayah dan anak itu. Mereka selalu saja seperti itu setiap hari, bahkan setiap bertemu. 


"Seperti nya iya, Mami. Soalnya setiap ketemu tuh pasti begini." Jawab Ayunda, dia sendiri juga merasa kesal pada suami nya karena selalu saja ada hal yang membuat keduanya berdebat, tak peduli meskipun akar permasalahan nya sangat kecil sekalipun. 


"Sudahlah, ayo kita tinggalkan saja mereka, sayang." Ajak Melisa sambil menarik tangan sang menantu secara perlahan. 


"Ayo, Mami." Jawab Ayunda. Dia beranjak dari duduknya sambil memegangi perut buncitnya, lalu mengikuti langkah sang ibu mertua dengan langkah hati-hati. 


"Kesel ya lihat mereka bertengkar setiap hari?" Tanya Melisa. 


"Iya, Mi. Kadang tuh Ayu heran, mereka beneran ayah sama anak gak sih? Setiap ketemu gak pernah akur, ada aja yang bikin mereka tuh berdebat padahal masalah nya kan bisa di bilang sepele." Jawab Ayunda.


"Entahlah, Mami sendiri juga heran. Tapi Naren memang anak nya Papi kok, sayang."


"Hahaha, bukan maksud Ayu buat.."


"Iya iya, Mami ngerti kok, sayang." Potong Melisa dengan cepat sebelum menantu nya selesai berkata-kata. 


"Mami.."


"Iya, sayang. Kenapa?"


"Eemmm, Paman Adam boleh nginep disini kan, Mi? Ayu pengen minta izin sama Papi, tapi Ayu takut kalau Papi gak ngizinin. Hari ini aja ya, Mi? Boleh ya?" Tanya Ayunda lirih. 


"Boleh, sayang. Tentu saja boleh, kenapa harus meminta izin segala? Ini kan juga rumahmu, sayang. Lagian, kenapa kamu takut buat minta izin sama Papi?"


"Hehe, gak tahu. Papi tuh baik, tapi wajahnya kadang bikin Ayu takut." Jawab Ayunda lirih. Jujur saja, Arvin memang sangat baik padanya. Tapi tetap saja rasanya tetap menakutkan saat harus meminta izin secara langsung pada pria paruh baya itu. Ekspresi wajahnya sangat datar, tapi mungkin ya itu sudah bawaan pabriknya seperti itu. 


"Datar ya, kayak tembok?"


"Bukan Ayu yang bilang lho." Jawab Ayunda sambil tertawa pelan. 


"Hahaha, lucu ya.." 


"Tuh, Pi. Kata Mami aja wajah Papi tuh datar kayak tembok." Celetuk seseorang yang membuat kedua wanita itu menoleh secara bersamaan. 


"Astaga, Mami. Kita kurang jauh kabur nya.." Ucap Ayunda sambil mengusap wajahnya. Mereka kabur ke dapur, tapi kedua pria itu malah menyusul dan sudah menyulut perdebatan kembali. 


"Iya, kita ke taman belakang aja yuk."


"Jangan, sudah sore." Ucap Arvino. 


"Oke, kita gak bakalan ke taman tapi kalian jangan debat. Awas aja kalau debat lagi."


"Iya iya, lagian kan dia yang mulai duluan." Ucap Arvino. 


"Lah kok Naren sih? Papi kali." Balas Narendra tak mau kalah karena dia merasa tak bersalah apapun pada sang ayah, dia tidak terima jika sang ayah malah menyalahkan dirinya.


"Dih, kamu kali yang duluan!"


"Astaga.." Ucap Melisa dan Ayunda berbarengan, mereka juga menggelengkan kepala nya. Heran dengan ayah dan anak itu. 


"Sayang, kita masak aja yuk?"

__ADS_1


"Ayoo, Mami." Jawab Ayunda dengan wajah berbinar. Mudah sebenarnya untuk membuat mood Ayunda kembali membaik, ajak saja dia memasak pasti dia akan senang karena memasak adalah kegiatan kesukaan nya. Dia sangat suka memasak, tapi belakangan ini hobi nya itu harus terhenti karena Naren dan Melisa yang kompak melarang nya untuk memasak dengan alasan takut kelelahan. 


"Kalian berdua, sana ke ruang tamu. Nanti sekalian panggilin paman." Ucap Melisa.


"Paman?" Tanya Naren. Dia memang tidak mengetahui kalau Paman nya Ayunda datang untuk menjenguk keponakan nya kesini. 


"Iya, Paman nya Istrimu datang kesini untuk menjenguk keadaan istrimu."


"Ohh, kapan beliau datang kesini?" Tanya Naren lagi.


"Tadi siang." 


"Yaudah, kalau begitu Naren mau mandi dulu. Setelah itu buatin kopi ya, sayang?" Pinta Naren pada istrinya.


"Siap, Mas. Sana bersih-bersih dulu."


"Iya, sayang. Sun dulu.." Ucapnya sambil memonyongkan bibirnya seperti bebek. 


Plaakk.. 


Arvin menepuk bibir putra nya dengan menggunakan koran yang biasa nya dia baca, Narendra mendelik membuat kedua wanita itu cekikikan karena bagi mereka ini sangat lucu. Di samping mereka selalu menyebalkan karena selalu saja berdebat, tapi terkadang kelakuan mereka bisa membuat tertawa. Selalu saja ada tingkah-tingkah keduanya yang menghibur.


"Nyebelin." Cetus Narendra lalu memilih untuk beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar untuk membersihkan tubuhnya. 


"Sayang, kita mau masak apa?"


"Ayu mau tumis kangkung di pakein terasi, ada kan Mami?"


"Ada, sayang. Kita masak itu untuk sayurnya, lauknya apa lagi?" Tanya Melisa lagi sambil melihat isi kulkas. 


"Ayam kremes gimana?"


"Sama sambel bawang, sayang. Gimana, cocok kan?"


"Nah iya, buat tambahan nya bikin tahu isi." 


"Oke, ayo kita masak itu untuk makan malam." Melisa langsung setuju dengan saran yang di berikan oleh menantu nya. Memang seperti inilah jika keduanya memasak, akan saling memberikan saran untuk memasak, apapun itu karena selera kedua nya hampir sama.


"Jangan berjalan-jalan terus, sayang. Kamu bersihin aja sayuran sama bahan-bahan buat bikin sambel nya ya."


Ayunda pun membersihkan sayur nya, lalu memotong nya. Dia juga menyiapkan alat-alat untuk membuat sambel. Ayunda meneteskan air mata nya saat dirinya harus mengupas bawang, memang sudah biasa jika mengupas atau memotong bawang merah nwat akan terasa sangat perih dan semua orang pun mengetahui hal itu, khususnya ibu-ibu.


"Sayang, mana kopi Mas?" Tanya Narendra. Dia baru saja selesai membersihkan tubuhnya, lalu keluar dengan menggunakan pakaian santai nya. Dia mengenakan kaos lengan pendek dan juga celana pendek selutut. 


"Biar Mami aja yang bikinin, lain kali kamu harus bisa bikin kopi sendiri. Kamu jangan bergantung sama istri kamu, ini istri kamu udah hamil besar lho." Ucap Melisa. 


"Iya, Mami ku sayang." Jawab Narendra sambil mengecup pipi kanan sang ibu. 


"Ckk, kamu paling tahu ya kelemahan Mami." Celetuk Melisa sambil menepuk pelan lengan putra nya.


"Iya dong, siapa dulu. Putra Mami yang tampan ini selalu tahu apapun tentang Mami." Jawab Narendra sambil tersenyum. Melisa hanya terkekeh pelan dan memberikan kopi hitam untuk putranya. 


"Mas.."


"Iya, sayang. Kenapa?"


"Pesanan Ayu mana?" Tanya Ayunda sambil tersenyum kecil.


"Lho, kamu ada pesan apa? Mas lupa lho."


"Isshh, mochi isi stroberi. Kan aku pesen itu tadi pagi." Ucap Ayunda sambil mengerucutkan bibirnya karena kesal. Bisa-bisanya sang suami melupakan nya padahal tadi, dia sendiri yang menawari nya ingin di bawakan apa. 


"Lah, Mas lupa."


"Kebiasaan deh, kalo gitu kenapa nanyain mau di bawain apa tadi pagi sama aku?" Tanya Ayunda merajuk.


"Sayang, sorry Mas bener-bener lupa. Besok aja Mas beliin ya? Atau sekarang Mas pesen online." 


"Udah gak mood." Jawab Ayunda sambil memotong-motong sayuran nya dengan emosi. 


"Sayang, jangan marah dong. Mas kan lupa, sumpah Mas lupa sayang. Tadi di perusahaan rame banget, jadi Mas lupa kalau kamu minta di bawain mochi." Ucap Naren membujuk sang istri. 


"Diem!" Jawab Ayunda dengan ketus, membuat Narendra mati kutu seketika. 

__ADS_1


"Hayo lho, istrimu merajuk itu. Alamat nanti malem gak di kasih jatah lho.." Goda Arvin, membuat putranya mendelik kesal ke arahnya. Tapi dia tersenyum puas melihat reaksi putranya itu. 


"Nyebelin." Hanya itu yang dia katakan karena Narendra sudah salah fokus ketika melihat seseorang yang mengekor di belakang sang Papi. 


"Paman.." Panggil Narendra. Dia segera beranjak dari duduknya, lalu menyalin tangan Adam dengan takzim dan sopan. Adam mengusap kepala belakang Narendra dengan senyuman kecil yang sedikit tertahan di sudut bibirnya. 


"Apa kabar, Paman?" Tanya Narendra. 


"Paman baik-baik saja, bagaimana dengan mu, Nak?"


"Aku juga baik, Paman. Ayo duduk, mau kopi?" 


"Tidak usah, Nak. Paman sudah tidak meminum kopi, maklum udah tua. Punya penyakit lambung." Jawab Adam sambil mengusap perutnya. 


"Susu?"


"Ini susu untuk Paman." Ucap Ayunda. Tadi, dia langsung beranjak dari duduknya dan mengambilkan susu hangat dengan campuran sereal di dalamnya. 


"Sayang, tidak perlu.."


"Di minum ya, kalau kopi tidak boleh, mungkin kalau susu takkan masalah, itu juga ngenyangin soalnya ada sereal di dalamnya." Jelas Ayunda, membuat Adam tersenyum dan menatap Ayunda dengan sendu. Melihat Ayunda, dia seolah tengah melihat Mona, putrinya. Sayang sekali dia harus kehilangan sosok putri yang begitu dia sayangi karena menjadi korban pergaulan bebas. 


Andai saja saat itu dia bisa menjaga pergaulan putrinya, mungkin dia takkan kehilangan Mona untuk selamanya. Tapi menyesal sekarang juga tak ada gunanya, semua nya sudah terjadi dan dia sudah merelakan semuanya. Hidup nya hancur karena ulah putrinya itu. 


"Paman, kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Ayunda lirih.


"T-tidak, Nak."


"Apa Paman teringat dengan Mona?" Tanya Ayunda lagi, membuat Adam menundukkan kepala nya. Kalau boleh jujur, iya. Dia sangat merindukan putrinya. Bohong kalau dia sudah rela, dia sudah ikhlas dengan semua yang menimpa putrinya, tapi dia juga tidak ingin hidup dalam penyesalan. 


"Maaf, tapi kamu terlihat seperti nya sekarang." Lirih Adam, sambil meremaas kedua tangan nya yang terasa dingin.


"Paman.."


"Maafkan Paman karena melihat mu sebagai orang lain."


"Tidak apa-apa, Paman." Ucap Ayunda sambil tersenyum. 


"Memang nya, Mona kenapa?" Tanya Narendra.


"Dia sudah meninggal, Nak." Jawab Adam sambil tersenyum.


"H-aahh?" Kaget nya, sungguh Naren merasa terkejut dengan apa yang di katakan oleh Adam. Mona meninggal? Tapi kapan dan kenapa?


"Iya, dia melakukan aborsi secara ilegal tapi semua nya gagal dan membuatnya tewas, Nak."


"Astaga.." Narendra terlihat sangat terkejut mendengar penuturan Adam, dia tidak menyangka kalau pergaulan bebas juga bisa berlaku di desa seperti tempat tinggal Adam. Dia memang tidak tahu seperti apa suasana nya karena belum pernah berkunjung kesana, tapi dia tidak bisa mengira kalau hal itu bisa juga terjadi. 


"Kehilangan adalah satu hal yang paling menyakitkan." Ucap Ayunda lirih. Dia juga merasakan sakitnya kehilangan, bahkan saat usia nya masih kecil. Disaat dia masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya, tapi takdir merenggut semuanya secara bersamaan. Rasanya sangat menyakitkan, hingga rasanya untuk menghela nafas pun rasanya sangat berat. 


"Iya, kamu benar, Nak. Paman bangga sama kamu, karena kamu bisa menanggung semuanya rasa sakit itu sendirian, bahkan saat usiamu masih sangat kecil saat itu." 


"Ayunda tidak menyesali mengapa takdir sangat jahat pada Ayu, tapi dengan semua itu akhirnya Ayu mengerti. Semua rasa sakit itu membuat Ayu lebih dewasa, tumbuh menjadi wanita yang kuat dan tangguh, tidak mudah menyerah meskipun keadaan memaksa Ayu untuk menyerah sekalipun." Ucap Ayunda panjang lebar. 


Ya, sosok wanita cantik yang ceria itu ternyata menyimpan banyak luka dan rasa sakit di masa kecilnya, tidak ada yang tahu bagaimana sakitnya Ayunda saat itu. Dia bertahan hanya dengan modal kepercayaan. Kepercayaan kalau suatu saat nanti hidupnya akan berubah, itulah kepercayaan yang selalu dia pegang hingga saat ini. 


Benar, semuanya berubah. Takdir membawanya pada kehidupan dan kebahagiaan yang sebenarnya. Di kehidupan nya saat ini, dia berharap selalu di berikan kebahagiaan yang tidak pernah habisnya. Karena rasa sakitnya sudah dia habiskan dulu, saat dia masih muda.


"Tidak ada yang mudah, tapi percayalah kalau di balik semua itu pasti ada hikmah nya, jangan menyesali apapun, Paman. Hidup memang tidak selama nya akan berjalan seperti apa yang kita inginkan. Kuatlah, aku takkan mengatakan untuk ikhlas atau berdamai dengan keadaan, karena rasanya pasti sangat sakit bukan? Tapi, aku yakin kalau Paman adalah sosok pria yang kuat, aku yakin kalau Paman bisa melewati semua ini." Ucap Narendra sambil menepuk pelan pundak sang paman.


"Apakah ini karma?"


"Tidak, ini bukan karma." Jawab Arvin.


"Kematian adalah sebuah takdir yang sudah pasti, kita hanya tidak tahu kapan waktunya saja. Maka dari itu kita harus mempersiapkan semuanya sebaik mungkin untuk bekal di akhirat nanti." 


"Percayalah, semua ini hanya ujian. Kamu adalah pria yang kuat, suami dan ayah yang kuat, makanya Tuhan memberikan cobaan ini. Kuatlah.." Ucap Melisa sambil tersenyum. Membuat Adam menganggukan kepala nya, dia merasa hidupnya akan berakhir saat dia harus kehilangan Mona. 


Tapi, ternyata dia bertemu dengan orang-orang sebaik Melisa, Arvin, Naren dan juga keponakan nya sendiri, Ayunda. Ayunda sangat beruntung karena dia di kelilingi oleh orang baik. 


"Kamu sangat beruntung karena di kelilingi oleh orang-orang sebaik mereka, sayang. Pantas saja kamu terlihat sangat bahagia sekarang." 


"Paman juga masih punya Ayu, jangan putus harapan. Ayu disini, jangan lupakan kalau Ayu adalah keluarga Paman." Ucap Ayunda sambil tersenyum. Adam mengangguk pelan, dia tersenyum meskipun mata nya berkaca-kaca saking bahagia nya dia bertemu dengan keluarga yang memiliki hati bak malaikat ini. 

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2