Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 96 - Kedatangan Trisa


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, selama itu juga hubungan Ayunda dan Narendra itu baik-baik saja. Bahkan sejak menikah empat bulan lalu, mereka tidak pernah bertengkar sedikit pun. Mereka terlihat sangat mesra, seperti pasangan suami istri pada umum nya. 


Hari ini, Narendra pergi ke kantor untuk bekerja seperti biasa nya. Namun ada yang berbeda dengan hari ini, Naren pergi dari rumah dengan keadaan yang sedikit bad mood karena semalam dia tidak bisa tidur bersama sang istri. Alasan nya adalah, Ayunda tidak tahan saat berdekatan dengan Narendra. Katanya, aroma tubuh nya sangat bau dan membuat nya mual. 


Keadaan yang sama seperti awal-awal dia mengetahui kalau dirinya sedang hamil, Ayunda juga melakukan hal yang sama. Namun tidak lama, semoga saja sekarang juga begitu. Jadi nya, semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena tidak bisa mendusel-dusel dulu sebelum tidur, dia juga tidak bisa memeluk sang istri karena tentu saja, Ayunda akan menolak karena dia merasa tidak nyaman.


Parah nya lagi, Ayunda menolak untuk tidur satu ruangan dengan sang suami, berbeda dengan pas awal-awal hamil. Dia masih oke-oke saja tidur bersama satu kamar. Kalau sekarang, Ayunda menolak karena aroma nya masih tercium dan istri nya itu akan muntah-muntah. 


"Tuan, ada apa dengan wajah anda?" Tanya Mark membuat Naren mendelikkan mata nya, dia tak suka mendengar pertanyaan asisten nya, padahal hanya pertanyaan biasa. Kalau mood nya sedang baik, pasti akan langsung di jawab oleh Narendra. Berhubung sekarang mood nya sedang berantakan, jadi siapapun bisa menjadi sasaran ke kesalan nya, meskipun dia tidak bersalah tapi tetap saja bisa menjadi pelampiasan rasa marah Narendra. 


Mark mengetahui hal itu, maka dari itu setelah melihat tatapan tajam pria itu, Mark pun langsung memilih untuk segera masuk ke dalam ruangan nya, mereka pun berpisah dan masuk ke dalam ruangan masing-masing. Narendra mendudukan pantaat nya di kursi kebesaran nya, lalu menyalakan laptop dan mulai mengerjakan pekerjaan nya yang selalu menumpuk setiap hari nya. 


Tidak pernah berkurang sama sekali, malahan semakin bertambah banyak setiap hari nya. Tapi hari ini, Narendra kedatangan tamu yang tak di undang. Pintu terbuka tanpa di ketuk terlebih dulu, Naren yang menyadari nya langsung mendongak. Dia mengira kalau itu adalah Mark atau Ayunda yang datang untuk mengantarkan makan siang. Karena hari ini sudah cukup siang, dia baru saja pulang meeting bersama Mark tadi. 


Narendra menatap tajam ke arah seseorang yang masuk begitu saja, tidak sopan sekali langsung masuk ke dalam ruangan CEO padahal tidak di undang sama sekali. Bahkan kedatangan nya saja tidak di inginkan oleh Narendra. 


"Hai, Ren.."


"Ckk.." Bukan nya menjawab sapaan wanita itu, Narendra maalh berdecak kesal. Namun, wanita itu nekat duduk di kursi kosong di depan Narendra bahkan tanpa di persilahkan. Narendra memutar mata nya dengan jengah, namun dia lebih memilih untuk mengerjakan pekerjaan nya saja dari pada dia harus melayani wanita gak tahu malu di depan nya.


"Ren.."


"Hmmm.." 


"Kamu apa kabar?" Tanya Trisa, ya wanita yang datang ke ruangan Narendra adalah Trisa. Wanita yang tak tahu malu, namun harus di acungi jempol karena rasa ketidak maluan nya. Dia bisa datang kesini dengan percaya diri, sama sekali tidak ada raut malu atau apapun. Dia bahkan masih bisa mengangkat dagu nya dengan angkuh.


"Pertanyaan yang gila! Kau tidak punya mata?"


"Kenapa kau bersikap jutek seperti itu padaku, Ren? Aku bertanya secara baik-baik lho."


"Aku muak melihat wajah mu sekarang, Tris." Jawab Narendra, tanpa menatap wajah Trisa sama sekali. 


"Kenapa bisa? Wajah ku masih sama seperti dulu, tidak berubah sama sekali kecuali kalau aku makin cantik setelah melakukan operasi plastik." Ucap Trisa sambil memegang dagu nya, seolah menunjukkan kalau bagian itu lah yang dia operasi. Namun, Narendra sama sekali tidak tertarik untuk melihat apalagi menanggapi ucapan Trisa. Dia hanya tersenyum smirk seolah mengejek Trisa. 


"Ren.."


"Hmm.."


"Bagaimana dengan perkiraan mu dan perempuan itu?" Tanya Trisa akhirnya. 


"Kenapa kau bertanya semacam itu? Apa kau sanggup mendengar cerita ku dan istriku? Wanita yang paling aku cintai setelah ibu ku? Sebaiknya jangan, aku takut kau cemburu dan hati mu akan terbakar." Jawab Narendra. Lagi-lagi dia menyunggingkan senyuman menyeringai nya.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya."


"Baik, bahkan sangat baik. Apalagi jika kau tidak pernah muncul lagi di depan ku!"


"Ckk, bilang saja kalau kamu tuh belum move on dari aku kan? Iya kan?" Tanya Trisa dengan percaya diri nya.


"Move on? Aku sudah melakukan nya, bahkan aku sudah mendapatkan pengganti mu dan sekarang dia sedang hamil. Rasanya, tidak mungkin aku menghamili wanita lain kalau memang aku belum move on." Jawab Narendra panjang lebar, membuat Trisa terkejut, sejak kapan Narendra bisa bicara panjang di kali lebar seperti ini?


Padahal dulu, Naren adalah orang yang irit bicara. Kalau bicara selalu seperlu nya, itulah yang membuat Trisa merasa bosan dengan Narendra karena bagi nya, pria itu terlalu kaku dan formal. Tapi sekarang, dia sudah berubah. Perubahan itu wajar bukan? Mengingat kalau mereka tidak bertemu selama bertahun-tahun. 


"Jadi wanita itu benar-benar sedang hamil?"


"Menurut mu? Tak mungkin rasanya aku niat-niat pergi ke rumah sakit jika hanya untuk bertemu dengan mu apalagi untuk memanas-manasi mu. Ckk, untuk apa? Bagi ku, itu tidak penting plus tidak berguna! Aku bukan pengangguran yang tidak punya pekerjaan." Jawab Narendra dengan pedas. Namun meskipun sudah di pedasi seperti itu, Trisa masih tahan banting dan tetap duduk di sana. Malahan, tidak terlihat ada tanda-tanda kalau dia akan pergi dari ruangan ini dalam waktu cepat.


"Ren, apakah kita tidak bisa seperti dulu? Tidak adakah kesempatan untuk ku? Aku yakin, nama ku masih ada di hati mu, kan?" Tanya Trisa membuat Narendra tertawa.


"Kau kenapa? Kau mengatai aku gagal move on, padahal kau sendiri yang seperti itu."


"Ren, jangan begitu."


"Lantas? Aku harus seperti apa? Jujur saja, nama mu memang masih ada. Namun sekarang, nama istriku lebih terukir nyata di hatiku. Kau harus nya mengerti itu dan tidak perlu menanyakan hal yang tidak penting seperti ini. Tidak berguna!" Ucap 


"Aku heran, kau ini spesies apa sih? Wujud nya terlihat seperti manusia pada umum nya, tapi kelakuan nya lebih menakutkan dari pada hantu." 


"Naren.."


"Cukup, kau bisa pergi dari ruangan ku. Meskipun kau berlutut di kaki ku lalu mencium nya, itu akan sia-sia karena aku mencintai Istriku dan akan selalu begitu. Paham?"


"Tidak, aku yakin kalau aku masih jadi pemenang nya."


"Jangan terlalu percaya diri, pada akhirnya pemenang pun bisa kalah dengan yang selalu ada." Jawab Narendra. 


"Kata orang, semua cinta itu habis di masa lalu, Ren."


"Itu, tidak berlaku padaku!" Jawab Narendra dengan tegas. Dia benar-benar muak dengan ular berwujud manusia ini, sekarang dia mengerti kenapa orang tua nya tidak setuju saat dia meminta restu kedua nya untuk lebih serius dengan Trisa. Ternyata inilah jawaban nya, selain sikap buruk nya yang sudah perlahan mulai terbongkar, ada lagi rahasia yang belum di ungkapkan oleh kedua nya. Tujuan nya, mereka hanya ingin Narendra mengetahui nya sendiri dan merasakan nya. 


"Naren, ayolah. Memang nya, apa bagus nya sih itu perempuan di banding aku?" Tanya Trisa dengan manja. Dia bahkan menggesek-gesek kan buah dada nya di sudut meja, bermaksud untuk menggoda Narendra. Tapi sayang sekali, dia tidak tergoda sama sekali. Justru menurut nya sekarang, Trisa terlihat seperti jalaang yang kurang belaian.


"Kalian berbeda."


"Ohh, jelas. Kita memang berbeda, aku cantik dan kaya dengan karir yang bagus. Beda jauh sama istri kamu itu, udah jelek, kampungan lagi."

__ADS_1


"Bukan itu perbedaan kalian."


"Lalu?" Tanya Trisa dengan mengernyit kan kening nya pertanda kalau dia sedang keheranan.


"Beda nya, istri ku memiliki harga diri dan bisa menjaga kehormatan nya. Sedangkan kau terlihat seperti jalaang yang haus akan belaian." 


"Jaga ucapan mu, Ren!"


"Kenapa? Memang iya, perilaku mu sekarang tidak mencerminkan seorang perempuan yang belum bersuami tapi nekat menggoda suami orang dengan tubuh nya. Sorry, aku tidak tertarik sama sekali." Jawab Narendra membuat wajah Trisa memerah, entah karena malu atau karena amarah, hanya dia yang mengetahui nya. 


"Kalau memang sudah tidak ada lagi hal yang ingin kau bicarakan, sebaiknya pergilah. Kau mengganggu waktu kerja ku." Usir Narendra.


"Ckk, aku akan buktikan kalau ke angkuhan mu itu takkan bertahan lama, Ren."


"Aku tunggu bukti dari mu, Trisa." Tantang Narendra membuat Trisa mengepalkan kedua tangan nya, dia marah. Benar-benar marah. Dia merasa di rendahkan oleh pria yang pernah sangat mencintai nya itu. 


Tanpa banyak kata lagi, akhirnya Trisa pun pergi dari ruangan Naren karena dia sudah merasa terpojok. Tak ada guna nya juga dia tetap berada di ruangan itu, yang ada dia makan tersudutkan oleh kata-kata pedas yang di lontarkan oleh Narendra. 


Naren menghembuskan nafas nya dengan lega, dia sudah kehilangan kata-kata untuk menyindir wanita itu. Untung saja sekarang dia sudah pergi, jadi Narendra bisa menghela nafas nya lega. 


"Hufft, wanita itu menyebalkan sekali. Mengherankan juga, kenapa dulu aku sangat mencintai wanita semacam itu ya?" Gumam Narendra sambil menggaruk tengkuk nya yang padahal tidak terasa gatal sama sekali.


Tak lama kemudian, Mark masuk dengan wajah datar nya. Dia membawa pekerjaan baru untuk Naren seperti nya, terlihat dari beberapa berkas yang dia bawa di tangan nya.


"Permisi, Tuan.."


"Hmm, apa?"


"Ini berkas yang harus anda tanda tangani."


"Kau sudah mempelajari nya, Mark?"


"Sudah, saya sudah membaca nya beberapa kali sebelum memberikan nya pada anda, Tuan." Jawab Mark membuat Narendra menganggukan kepala nya, tanpa ragu dia pun langsung membubuhkan tanda tangan berharga nya di atas materai. 


"Wajah anda bertambah kusut, Tuan." Ucap Mark seolah dia tidak tahu menahu dengan kejadian beberapa menit yang lalu di ruangan ini. Dimana, Narendra kedatangan tamu tak di undang.


"Diamlah, gak usah banyak tanya. Kalau urusan mu disini sudah selesai, pergilah ke ruangan mu dan jangan kembali ke ruangan ku jika tidak ada hal yang penting!" Usir Narendra membuat Mark langsung ngibrit keluar dari ruangan Narendra secepat kilat sebelum kena amuk singa jantan itu.


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2