Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 113 - Mati Rasa


__ADS_3

'Sayang, nanti malem temenin Mas ya.' Ucap Narendra di seberang sana, saat ini mereka sedang menelpon. Ayunda sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang, seiring bertambahnya usia kehamilan nya, Ayunda menjadi lebih sering kelelahan. Pinggang nya juga sering terasa sakit, mungkin karena bertambah nya bobot janin yang tengah dia kandung saat ini.


"Kok mendadak banget sih, Mas? Aku harus pake baju apa coba?" Tanya Ayunda, suami nya ini benar-benar mendadak. Dia tidak sempat mencari pakaian yang kira nya sesuai dengan postur tubuh nya sekarang, perut buncit nya membuat Ayunda sedikit kesulitan menyesuaikan pakaian yang akan dia pakai. Terlebih lagi, sekarang ini badan nya sedikit melar karena hamil. 


Wajar kan? Tentu saja hal ini wajar. Bahkan sangat wajar, bagi pendapat medis juga ini sangatlah wajar. Di karena kan, setelah hamil nafssu makan Ayunda bertambah beberapa kali lipat dari biasanya. 


Sebelum hamil juga Ayunda memang doyan makan, di tambah sekarang dia sedang mengandung jadi ya dua kali lipat berselera untuk menikmati makanan yang di sajikan. Tidak ada kata tidak suka, apapun yang di sajikan selalu dia makan habis. 


'Mas udah kirimin kamu baju nya, pakai nanti ya. Nanti kita berangkat jam tujuh malam, bersiap. Tapi jangan dandan terlalu cantik ya, gak suka aku nanti kamu di liatin sama cowok-cowok disana.' Peringat Narendra panjang lebar di balik telepon. Sungguh, Narendra menjelma menjadi suami yang sangat posesif. 


Bukan tanpa alasan Narendra berubah menjadi sosok yang posesif terhadap istrinya, tapi karena dia benar-benar tidak rela kalau istrinya di lirik oleh pria lain apalagi pria-pria brengseek di luaran sana. Dia hanya ingin keindahan istrinya hanya dirinya saja yang menikmati nya di rumah. Kecantikan istrinya hanya boleh dia saja yang melihat nya. 


"Yaudah deh, aku boleh pakai lipstick?" Tanya Ayunda lirih, selama ini Narendra memang tidak pernah melarang istri nya untuk bersolek. Selama tidak berlebihan, maka Narendra akan mengizinkan asalkan tidak merusak mood sang ibu hamil. Kalau Ayunda sampai bad mood, siapa juga yang repot? Ya, Narendra lah masa author. Ya kan?


'Boleh, tapi jangan warna merah ya. Khusus untuk warna itu, biar Mas saja yang bisa melihat nya. Oke?' 


"Baiklah, Mas. Kamu masih kerja?"


'Masih istriku, sayang. Kenapa? Mommy ada ngidam sesuatu? Biar aku pesenin dari kantor.' Ucap Narendra dengan peka. Dia sudah paham benar dengan mood sang istri, dia suka sekali ngemil siang-siang begini.


"Kok tiba-tiba kepikiran pengen chicken yang pake bumbu ala Korea itu lho, Mas. Yang kayak di drama itu lho." Jelas Ayunda. Makanan itu selalu terbayang di benak nya saat ini, bahkan dengan membayangkan nya saja mampu membuat iler Ayunda terasa menetes begitu saja.


'Boleh kok, Mas pesenin ya, nanti kamu tinggal terima aja di rumah.'


"Level tiga ya?" Pinta Ayunda. Memang, ayam dengan bumbu saus ala Korea itu di lengkapi dengan level untuk menunjukkan tingkat kepedasan dari makanan itu, sama seperti seblak. 


'Enggak, level dua. Oke?'


"Hmm, yaudah deh. Beli dua porsi tapi ya? Kasian maid yang lain kalau aku makan nya cuma sendirian, biar seru juga kalo makan nya barengan."


'Oke, sayang. Sebentar ya, Mas pesenin dulu. Sabar ya, bilangin sama adek bayi.'


"Iya, Daddy. Baby nya sabar kok." Jawab Ayunda yang mengundang senyuman manis bagi pria di seberang telepon, dia salah tingkah begitu mendengar panggilan Daddy dari sang istri. Padahal, untuk panggilan itu sudah di sepakati oleh mereka berdua saat mengetahui kalau Ayunda tengah mengandung. 


'Yaudah, Mas matiin dulu ya telepon nya? Nanti ada kurir yang nganter dress buat kamu, sekalian sama ayam yang kamu mau itu.'


"Terimakasih, Daddy. Love you.."


'Yes, i love you more, Baby.' Balas Narendra hingga akhirnya panggilan pun selesai. Pria itu senyam-senyum sendiri sambil melihat ponsel nya yang sudah mati, karena panggilan nya dengan sang istri juga sudah selesai. Mark yang melihat itu sontak menggelengkan kepala nya, nama nya juga sudah bucin ya begini nih. 


Terkadang, dia juga yang di repotkan tapi tidak apa-apa dari pada melihat atasan nya murung karena galau seperti saat di tinggal oleh Trisa bertahun-tahun silam. Dia bahkan di buat frustasi oleh Narendra yang menolak semua nya, di ajak meeting tidak mau, di pinta tandatangan marah-marah, bahkan untuk datang ke perusahaan saja dia terlihat sangat malas. 


Tapi sekarang bucin ya agak sedikit merepotkan juga, tapi masih lebih mendingan bucin karena tidak susah di ajak kerja. Di ajak meeting ayo, di minta tanda tangan langsung di berikan tanpa harus bertanya-tanya banyak hal apalagi marah-marah, itu cukup membuat kesehatan jantung Mark terjaga. Tidak seperti dulu, ini cukup untuk membuat nya panjang umur karena tidak di beri suara tinggi menggelegar bagaikan suara petir, hehe. 


"Habis ngapain tuh? Kok mesem-mesem.." celetuk Mark sambil tersenyum kecil. Narendra memutar kedua mata nya dengan kesal, kenapa sih Mark selalu muncul saat dirinya sedang bahagia? Benar-benar tidak mendukung suasana. Baru juga dia sangat bahagia karena baru saja bertukar kabar dengan sang istri, eehh sekarang malah harus menghadapi asisten yang jiwa kepo nya mengalahkan emak-emak komplek. 


"Apaan? Kepo. Mau ngapain kesini?" Tanya Narendra.


"Biasa, minta tanda tangan. Hehe."


"Idih, ngefans ya sama saya? Sampai kamu bolak-balik minta tanda tangan?" Tanya pria itu sambil menatap wajah sang asisten yang terlihat pucat, entah karena apa. 


"Mana ada, tapi anda tampan jadi bolehlah kalau tingkat kepercaya dirian anda melebihi idol Korea, Tuan."


"Ckkk, mana yang harus aku tandatangani?" Tanya Narendra. Mark pun mengulurkan berkas penting yang harus di bubuhkan tanda tangan sang petinggi perusahaan.

__ADS_1


"Yang ini, ini sama ini." Mark menunjukkan bagian mana saja yang harus di berikan tanda tangan. Pria itu menatap Mark, tak biasanya dia meminta beberapa tanda tangan secara langsung.


"Tumben, biasanya lu minta tandatangan cuma satu doang. Yakin lu gak ada maksud lain di berkas ini? Udah di pelajarin dulu sebelum nya?"


"Sudah dan lolos penilaian, Tuan."


"Tapi ini tandatangan nya kenapa harus tiga?" Tanya Narendra. Dia heran saja, karena biasa nya dia hanya akan membubuhkan satu tanda tangan saja setiap satu berkas.


"Untuk yang itu saya kurang tahu, Tuan. Sebagai langkah untuk berjaga-jaga, bagaimana kalau jangan di tandatangani saja dulu?"


"Apa klien terlihat mencurigakan, Mark?"


"Sedikit, Tuan." Jawab Mark. Awalnya, dia memang tidak ingin menerima kerja sama dengan klien dari perusahaan itu. Kekuatan mereka terlalu besar, apalagi setelah perusahaan milik Narendra mengalami kegagalan setelah saham nya anjlok secara tiba-tiba beberapa waktu silam. Perusahaan itu bisa disebut perusahaan yang besar, harusnya tidak mengajak bekerja sama dengan perusahaan yang lebih kecil dari perusahaan nya, bukan? Seperti ada niat terselubung disini, namun Mark sedikit terlambat menyadari nya.


Dia malah mengerjakan berkas nya, memeriksa nya beberapa kali dan malah memberikan nya pada Narendra. Namun, sekarang dia sedang jatuh cinta, mungkin Mark jadi agak sedikit teledor mungkin. Jadi tidak terlalu memperhatikan kalau di satu berkas itu ada tiga tempat yang harus di tanda tangani. Untung saja Narendra peka.


"Lalu kenapa kau kerjakan, Mark? Lalu memberikan nya padaku?"


"Maaf, Tuan. Saya teledor.."


"Harusnya kau peka, Mark. Apa guna nya aku menaikan gaji mu kalau hal seperti ini saja kau teledor, Mark?" Tanya Narendra sedikit kesal. Padahal, tidak biasanya Mark seperti ini. Tahu sendiri seperti apa kinerja nya selama ini, tapi sekarang bisa-bisa nya dia lengah. Kalau saja Narendra tidak peka dan curiga, mungkin dia sudah menandatangani nya sedari tadi.


"Maaf, saya takkan mengulangi nya lagi, Tuan."


"Aku tahu kamu sedang jatuh cinta, Mark. Tapi tolong, profesional lah saat bekerja. Ini bukan hanya tentang aku atau dirimu saja, tapi ini mengenai reputasi perusahaan di mata banyak karyawan, kau paham kan?"


"Baik, Tuan. Maafkan atas ketidak telitian saya."


"Hmmm, jangan di ulangi aku malas mencari asisten baru." Jawab Narendra membuat Mark terdiam.


"Baik, Tuan."


"Pergilah, malam nanti jemput aku dan Maya."


"Jemput? Memang nya mau kemana, Tuan?" Tanya Mark, dia belum di beri tahu mungkin. Makanya terlihat terkejut saat Narendra meminta nya untuk menjemput nya malam nanti.


"Pesta klien, Mark. Jangan khawatir, aku juga sudah memesankan gaun untuk Maya dan istriku. Namun berbeda paket, kau hanya perlu memberitahu kekasih mu tentang hal ini."


"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu, sekali lagi saya minta maaf atas keteledoran saya."


"Tidak apa-apa, kau juga manusia yang bisa berbuat salah. Lain kali tolong lebih teliti lagi ya." Ucap Narendra pelan.


"Baik, Tuan muda." Jawab Mark. Setelah itu, dia pun pamit undur diri dari hadapan Narendra. Dia menutup pintu secara perlahan, meninggalkan Narendra sendirian di ruangan nya. Pria itu terlihat merenungkan sesuatu, tentu nya tentang sedikit kecurigaan yang timbul akibat masalah tanda tangan.


"Ada apa ini? Jangan bermasalah lagi, aku mohon. Baru saja perusahaan ini pulih, aku akan sangat hancur kalau sampai ada orang yang berusaha menghancurkan perusahaan ku lagi." Gumam Narendra. Jujur saja kepala nya terasa sangat pusing saat ini. Dia memijit pangkal hidung nya dengan perlahan, kepala nya terasa sedikit sakit, mungkin karena terlalu banyak berpikiran yang membuat isi otak nya over.


Di rumah, Ayunda sedang makan-makan bersama para maid. Dia sedang asik memakan ayam ala Korea yang tadi dia pesan pada suami nya. Ternyata, dua porsi itu sangat banyak. 


"Pedes ya.." Ucap Siti.


"Iya, tapi lihat tuh Nona Ayu keliatan gak kepedesan sama sekali ya?" Ucap Amel. Dia malah nyengir-nyengir ngilu saat melihat Ayunda makan, ayam nya memang enak tapi saus nya terlalu pedas padahal hanya level dua. Bagaimana kalau sampai Narendra mengikuti keinginan istrinya yaitu memesan yang level tiga? Auto bulak balik ke kamar mandi. 


"Nama nya juga bumil ngidam, mangga aja dia bilang gak asem." Jawab Maya sambil tersenyum kecil. 


"Nah iya juga ya."

__ADS_1


"Hayo lho, ngomongin aku yaa?" Goda Ayunda sambil tersenyum. Beginilah dia jika sudah bersama dengan maid nya, tidak terlihat seperti majikan dan art nya, tapi lebih ke teman. Mereka terlihat seperti layaknya seorang teman, Ayunda bahkan tidak canggung untuk ikut menimbrung saat ketiga maid yang dia kenali dan yang paling akrab itu sedang mengobrol.


"Hehe, maafin kami Nona muda."


"Gapapa sih, ayo makan lagi. Enak kan ayam nya?"


"Enak, Nona. Tapi pedes." Jawab Maya membuat Ayunda terkekeh.


"Pedes gitu? Gak kerasa sedikit pun buat aku, cuman rasa nya emang enak terus ada pedes-pedes nya dikit." Jawab Ayunda. Tuh kan benar, nama nya ibu hamil lagi ngidam ya udah jelas lidah nya mati rasa. Mangga asam di bilang gak asem sama sekali, sekarang ayam pedas dia bilang gak pedes sama sekali. 


"Dikit? Astaga, Nona. Jangan terlalu banyak makan nya ya, simpan buat nanti sebagian."


"Nanti dingin dong, May."


"Kalau di habisin sekarang, saya khawatir anda sakit perut nanti. Soalnya ini sangat pedas."


"Mana ahh, gak pedes kok, May."


"Karena Nona muda sedang hamil dan mengidam, jadi lidahnya mati rasa jadi wajar saja. Tapi bagi lidah kami yang tidak mengidam, makanan ini sangat pedas." Jawab Maya dengan lembut.


"Hmmm, baiklah. Kamu angetin aja nanti buat aku ya?"


"Siap, Nona."


"Ceker aku udah siap belum?" Tanya Ayunda. Maya tersenyum kecil lalu menganggukan kepala nya, karena memang ceker request an Ayunda sudah matang dan siap di sajikan.


"Sudah, Nona. Mau makan sekarang, akan saya siapkan sekarang."


"Mau banget." Jawab Ayunda dengan antusias. Wanita hamil itu terlihat tidak sabar saat mendengar kata ceker. Padahal, makan ceker itu kan ribet ya karena banyak tulang nya, tapi ya kalau bagi orang yang suka sudah jelas makanan itu sangatlah enak meskipun untuk menikmati nya membutuhkan effort. 


"Sebentar, saya siapkan dulu." Ucap Maya. Ayunda pun menganggukan kepala nya, dia membiarkan Maya menyiapkan ceker untuknya. 


"Silahkan, Nona." Maya memberikan satu mangkuk berisi ceker ayam bumbu seblak pada Ayunda dan wanita itu terlihat sangat kesenangan.


"Ceker nya gendut-gendut banget, suka deh. Kalo beli di seblak, suka kecil-kecil ya ceker nya." 


"Iya, Nona. Suka beda ya ceker nya?" Jawab Siti.


"Heem, makanya suka males jajan seblak soalnya ceker nya kecil. Ada tuh gini, aku beli seblak nya di warung gitu polosan, terus di kasih ceker di rumah." Ayunda cekikikan setelah mengatakan nya, benar memang kalau sudah suka ya pasti ada aja caranya.


"Ada-ada saja Nona ini."


"Seblak nya enak soalnya, cuma ya itu ceker nya kecil-kecil." Jawab Ayunda sambil mengambil ceker dari mangkuk lalu memakan nya dengan lahap.


"Kalian kalau mau, ambil aja. Yuk makan bareng, biar seru."


"Gapapa, Nona. Nanti kalau Nona masih mau.."


"Aku tuh kalo pengen makan sesuatu pasti cuma satu kali makan, kalo gak percaya tanya aja sama Maya. Gak peduli, meskipun makanan nya masih banyak. Jadi keseringan, Maya yang habisin. Iya kan, May?" 


"Hehe, benar Nona."


"Sana ambil, biar makan nya rame-rame." Ucap Ayunda. Karena tak enak kalau menolak jadi mereka pun mengambil seporsi ceker dan memakan nya bersama-sama dengan di selingi canda tawa, membuat suasana ruangan itu terasa jauh lebih hangat. Ayunda terlihat sangat akrab dengan maid, tidak seperti majikan sama sekali. Itu sudah menunjukkan kalau selain cantik, Ayunda juga murah hati dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan pekerjaan ataupun status nya.


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2