Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 92 - Tugas Rahasia


__ADS_3

Kedua pasutri itu mengobrol mesra sambil bercanda ria, Narendra juga terus memberikan usapan-usapan lembut di perut Ayunda, membuat perempuan itu merasa nyaman. Mungkin bawaan bayi yang membuat Ayunda merasa nyaman dan menyukai hal ini. Berdekatan dengan sang suami membuat mood nya membaik.


"Udahan dulu mesra-mesraan nya, istri kamu belum makan itu." Celetuk Melisa. Dia datang dengan menenteng rantang di tangan nya berisi makanan kesukaan sang menantu, Ayunda.


"Eehh, Mami.." Ucap Ayunda sambil tersenyum malu-malu. 


"Pagi amat datang nya, Mi?"


"Mami khawatir sama Ayu, takut nya dia telat sarapan, itu saja." Jawab Melisa sambil tersenyum manis. 


"Terimakasih, Mami.."


"Sama-sama, sayang. Ganti baju dulu ya? Ini Mami udah bawain kamu baju ganti." Ucap Melisa sambil menunjukkan paperbag berisi pakaian untuk menantu nya. Dia juga membawa sekalian dengan dalamaan nya, dia lupa kalau kemarin pakaian Ayunda berlumuran darah karena pendarahan yang di alami nya.


"Iya, Mami." Jawab Ayunda, dia bersiap untuk bangun dari tiduran nya. Dengan sigap, Narendra langsung membantu sang istri. Dia juga membawakan cairan infusan ke kamar mandi dan juga membantu istri nya untuk berganti pakaian. 


"Mas.." panggil Ayunda membuat Naren menoleh.


"Ya, ada apa, sayang?"


"Bukain dong resleting nya, susah banget tangan aku gak nyampe, Mas." Pinta Ayunda. Narendra mendekat dan menurunkan resleting gaun sang istri dengan perlahan. Dia harus ekstra menahan hasraat nya untuk tidak menerkam sang istri, tapi ya nama nya juga dia pria normal kan ya. Baru saja melihat punggung sang istri yang putih mulus, rudal miliknya sudah menegang.


"Mas, kamu gak macem-macem kan?" Tanya Ayunda pada suami nya. Narendra pun langsung tersadar, dia harus ingat kalau sekarang ini sang istri sedang sakit jadi dia harus bisa menahan hasraat nya sendiri agar tidak menyakiti istri nya. Dia juga mendapatkan peringatan oleh perawat tadi. Berhubungan badan tentu saja boleh, mereka juga sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang sah. 


Itu adalah kewajiban yang juga sebuah kebutuhan bagi pasutri, apalagi yang baru menikah seperti Ayunda dan Narendra. Tapi mau bagaimana lagi, mereka di larang untuk terlalu sering melakukan nya karena kandungan Ayunda yang masih rawan dan rentan terjadi keguguran. Selain itu, kandungan Ayunda juga bisa di bilang cukup lemah, karena itu tidak di anjurkan untuk terlalu sering melakukan kegiatan itu meskipun sebenarnya Ayunda menyukai nya, apalagi Narendra. 


Kalau di tanya dia suka atau tidak, tentu saja jawaban nya iya. Dulu, sebelum Ayunda hamil, Dia bisa melakukan nya setiap hari berturut-turut dengan durasi yang tidak pernah kurang dari satu jam. Keseringan nya sih lebih dari satu jam, bahkan pernah dua jam kalau kondisi badan nya sedang fit. Hebat bukan? Tentu saja. Tapi Ayunda sering di buat kewalahan dengan kekuatan sang suami yang terlalu kuat seperti itu dan yang lebih parah nya lagi, Narendra bisa melakukan hal itu beberapa kali dalam semalam. 


Jadi, bisa di bayangkan selelah apa Ayunda di buat nya. Tapi sebisa mungkin perempuan itu tidak pernah menolak, karena dia tahu kalau hal itu adalah kewajiban nya sebagai seorang istri yang memang harus melayani suami nya. Tapi tetap saja jika terus menerus di hajar seperti itu, Ayunda juga tetap kewalahan.


"Enggak kok, sayang. Gapapa, kenapa memang nya?"


"Punggung aku dingin, Mas. Hehe." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. 


Narendra pun melanjutkan kembali menurunkan resleting nya dan akhirnya dia pun membantu sang istri yang akan berganti pakaian. Ternyata, paperbag yang di bawa oleh mami mertua nya adalah pakaian baru. Dress berwarna biru langit selutut itu terlihat sangat cantik, Narendra bahkan tak bisa berhenti menatap penuh ke kaguman nya pada sang istri yang terlihat berkali kali lipat terlihat jauh lebih cantik dengan dress itu. 


"Kamu terlihat sangat cantik, sayang." Puji Narendra, membuat wajah Ayunda terlihat memerah, dia merasa sedikit malu karena pujian sang suami. Benar-benar cukup membuat nya malu, bahkan sekarang wajah nya sudah seperti kepiting rebus. 


"Jangan memuji ku seperti ini, Mas. Aku malu, hehe.." 


"Kenapa harus malu, yang? Di puji suami sendiri kenapa pake malu segala?" Tanya Narendra sambil menepuk-nepuk puncak kepala sang istri dengan gemas. 


"Malu aja rasanya, Mas."


"Yaudah, yuk keluar kalau udah selesai." Ajak Narendra, dia pun kembali membawakan cairan infusan itu dan kedua nya pun keluar dari kamar mandi. Ternyata, di ruangan itu sudah ada seorang perawat yang bersiap untuk memeriksa keadaan Ayunda. 


"Cantik sekali." Kali ini, Melisa sendiri yang memuji kecantikan sang menantu. Lagi-lagi, wajah cantik Ayunda itu terlihat memerah karena mendengar pujian sang mami mertua. 


"Mami, Ayu tuh gampang salting. Lihat aja wajah nya tuh, merah kayak kepiting rebus." Ucap Narendra. Dia melihat wajah cantik sang istri yang memerah, padahal tadi wajah nya sudah biasa saja, tapi sekarang malah memerah kembali karena mendengar pujian sang mami mertua. 


"Mas.." rengek Ayunda dengan manja, membuat Narendra tertawa mendengar rengekan sang istri.


Perawat itu pun langsung memeriksa keadaan pasien nya dengan perlahan dan detail. 


"Keadaan Nona sudah membaik, nanti sore anda bisa pulang. Nasehat dari saya masih sama, jangan terlalu banyak beraktivitas karena kandungan Nona masih sangat rentan, jadi harus di jaga dengan baik dan harus ekstra hati-hati." 


"Untuk makanan, apapun boleh di makan selama tidak melebihi batas wajar ya Nona. Lagi, kurangi hubungan badan. Maksimal, satu minggu itu tiga atau empat kali."


"Kalau makan nanas, boleh?" Tanya Ayunda. Entahlah, kenapa rasa nya dia sangat menginginkan buah nanas.

__ADS_1


"Boleh, tapi harus yang matang dan jangan lebih dari dua potong." Jawab Perawat itu sambil tersenyum manis.


"Baik, Sus. Terimakasih."


"Sama-sama, Nona. Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Selamat beristirahat, Nona." 


"Iya, sus." Jawab Ayunda. Perawat itu pun keluar dari ruangan setelah membereskan peralatan medis nya ke dalam sebuah nampan yang dia bawa. 


Setelah perawat itu keluar, Melisa terlihat mendekat dan mengusap puncak kepala sang menantu dengan lembut. Dia mengecup kening Ayunda dengan penuh kasih sayang.


"Kamu harus cepat sembuh ya, rumah tuh sepi banget gak ada kamu, sayang." Ucap Melisa sambil tersenyum, sambil mengacak-acak rambut sang menantu yang terlihat memejamkan kedua mata nya.


"Mami.."


"Jangan menatap Mami seperti itu, sayang. Ayo makan, Mami masakin sup buntut lho buat kamu. Suka kan?" Tanya Melisa. 


"Suka banget lho, Mi. Mendadak perut Ayu jadi laper, hehe." Jawab Ayunda sambil mengusap-usap perut yang terasa kosong karena belum sarapan sama sekali. Perut nya benar-benar terasa langsung keroncongan begitu mendengar sup buntut buatan sang Mami mertua. 


"Boy, suapi istrimu. Sekalian kamu juga makan, kau harus pergi ke kantor kan?"


"Tapi, bagaimana dengan Ayu?" Tanya Narendra.


"Ada Mami sama Papi, jangan khawatir."


"Ckkk, jangan khawatir katanya. Gak inget ya, Ayu begini gara-gara Naren ninggalin Ayu sama Mami." Jawab Narendra membuat Melisa mendelik kesal. 


"Ohh, jadi kamu nyalahin Mami sama Papi ya, gitu?"


"Ya, bukan begitu lah, Mi."


"Ya sudah, kalau kamu gak mau pergi ke kantor." Jawab Melisa membuat Ayunda menguluum senyuman nya. Dia merasa gemas sendiri pada mami mertua nya dan juga sang suami. Mereka saling menyayangi satu sama lain, tapi kalau sudah bertemu seperti ini pasti hal-hal kecil itu bisa memantik perdebatan yang membuat mereka akhirnya banyak omong. 


"Hmm, yaudahlah. Aku ke kantor nya setengah hari aja." Putus Narendra, akhirnya dia pun pasrah saja saat mendengar ucapan sang istri. Dari mana marah, mendingan menurut saja lah.


"Iya, Mas. Kasian sama Om Mark kalau kamu gak masuk sama sekali." Jawab Ayunda. 


"Iya iya, ayo makan dulu." Ucap Melisa sambil memberikan rantang berisi sup buntut dan nasi yang sudah di campur. Narendra menyuapi sang istri dengan telaten, sesekali dia juga ikut makan karena dia harus bekerja jadi harus sarapan terlebih dulu agar tidak merasa lemas. Meskipun sebenarnya, sumber semangat Naren itu ada pada istrinya. Tapi untuk sekarang, dia tidak bisa melakukan nya karena larangan dari dokter. 


Narendra sangat menyayangi istri dan juga calon anak nya, jadi lebih baik dia menahan hasraat nya untuk menerkam istri nya demi kebaikan istri dan juga calon anak nya. Entahlah, di mata nya sekarang ini Ayunda terlihat jauh lebih cantik. Lebih tepat nya, setelah dia tahu kalau sang istri tengah mengandung buah hati mereka, Ayunda malah terlihat lebih seksii dan menggoda. 


"Udah, Mas. Aku kenyang.." Pinta Ayunda, membuat Naren sedikit mengernyitkan kening nya karena biasa nya, sang istri makan banyak dan lahap, tapi hari ini mood makan nya sedikit menurun seperti nya karena makanan di dalam wadah nya pun belum habis setengah nya. 


"Tumben, makanan nya gak enak ya?" Tanya Melisa. Karena dia juga ikut melihat saat menantu nya itu makan dengan di suapi suami nya, tapi biasa nya dia akan makan banyak, tapi sekarang baru beberapa suapan saja dia sudah mengatakan kenyang. 


"Enak kok, Mi. Tapi gak tahu kenapa, perut Ayu rasanya kenyang banget." Jawab Ayunda. 


"Makan nya belum di habisin, nanti nasi nya nangis lho kalau gak di habisin." Bujuk Narendra seperti membujuk anak kecil yang susah makan.


"Mas aja yang makan, aku gak mau udah kenyang, Mas." Jawab Ayunda.


"Udah, kalau istri mu udah gak mau makan jangan di paksa. Nama nya juga mood ibu hamil, Boy. Biarin aja, nanti Mami yang bakalan bujukin istrimu buat makan lagi." Ucap Melisa membuat Narendra menganggukan kepala nya. Dia pun kembali melanjutkan makan nya dengan lahap, sebentar lagi sudah pukul tujuh pagi, artinya dia harus cepat dan pergi ke kantor agar tidak terlambat. 


Memang, dia adalah pemilik perusahaan nya, jadi harusnya terlambat sedikit itu tidak masalah bukan? Tapi bagi Narendra, telat masuk ke kantor adalah pantangan. Sejauh ini, dia belum pernah terlambat dan dia tak mau membuat rekor selalu tepat waktu itu gugur. Dia ingin mempertahankan rekor itu sekarang dan ke depan nya. 


"Yaudah, kalo gitu Mi. Naren harus ke kantor dulu, bentar lagi masuk jam kerja. Naren gak mau telat, Naren nitip Ayu dulu ya?"


"Iya, Boy. Tenang aja, Mami gak bermuka dua kok. Mami sayang sama Ayu itu tulus, harusnya kamu gak perlu bilang nitip sama Mami karena dia itu putri Mami sekarang." Jawab Melisa membuat Ayunda menatap mami mertua nya dengan sendu. Benarkah? Apakah itu artinya kalau dia memiliki ibu sekarang? Dia terharu saat mendengar kalau Melisa mengatakan dirinya sudah seperti putri nya sendiri, bolehkah dia besar kepala dan berbangga hati karena semudah itu dia bisa mendapatkan kasih sayang Melisa.


Sedangkan mantan kekasih Naren dulu, meskipun hubungan mereka sudah berjalan bertahun-tahun lama nya saja sulit untuk mendapatkan restu karena orang tua Naren yang tahu bagaimana borok nya wanita di masa lalu Narendra. Tapi, saat Ayunda yang datang kedua nya memberikan respon yang baik, Melisa juga Arvin kedua nya memberikan respon yang baik pada Ayunda.

__ADS_1


Bahkan tak jarang, Narendra merasa cemburu saat melihat orang tua nya lebih menyayangi Ayunda di bandingkan diri nya. Kesal sekali, tapi harusnya Narendra bersyukur karena kedua orang tua nya sangat menyayangi istri nya, artinya pilihan nya kali ini sudah benar. 


"Sayang, Mas pergi kerja dulu ya? Bilangin sama baby, kalau papa nya mau kerja dulu jadi jangan rewel sampai papa pulang ya?"


"Iya, Mas." Jawab Ayunda. Narendra tersenyum, dia mengusap perut sang istri lalu mengecup kening perempuan itu dengan mesra.


"Mas pergi dulu.." Pamit Narendra sambil mengacak rambut panjang sang istri.


"Hati-hati di jalan nya, Mas."


"Siap istriku." Jawab Narendra, dia pun mengambil jas yang tadi dia letakan di sandaran kursi yang ada di ruangan lalu memakai nya dan pergi dari ruangan itu dengan langkah cepat nya. 


Narendra berjalan dengan langkah tegap nya, dia pergi ke arah parkiran dan menaiki mobil sedan berwarna hitam miliknya, lalu melajukan nya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia harus sampai di kantor sebelum jam kerja di mulai. 


Hanya berselang satu jam saja, akhirnya Narendra sampai tepat waktu. Pria berwajah tampan itu keluar dari mobil nya dan mendapat sambutan dari Mark yang sedari tadi sudah menunggu nya di lobi perusahaan. 


Begitu melihat kedatangan pria tampan itu, Mark pun segera beranjak dari duduk nya lalu ikut berjalan di belakang Narendra. Kedua nya berjalan tegap dan akhirnya masuk ke dalam bilik lift. 


"Bagaimana Mark?"


"Masih zonk, Tuan. Saya belum bisa mendapatkan informasi apapun."


"Ckkk, lanjutkan penyelidikan nya. Aku tak mau suatu hari nanti, hal itu jadi boomerang untuk diriku sendiri dan akan merugikan aku juga. Aku mencintai istriku, dia percaya padaku dan aku tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan nya. Kau mengerti?" Tanya Narendra panjang lebar, dia benar-benar sudah yakin dengan perasaan nya sekarang ini. Benar, dia mencintai Ayunda. 


Naren yakin ini memang cinta, karena saat mengingat wajah cantik perempuan itu saja mampu membuat hati nya berdebar tak karuan. Dia tak ingin menyangkal kalau dia memang sudah jatuh cinta ke dalam pesona seorang Ayunda.


"Saya mengerti, Tuan. Akan saya laksanakan perintah anda."


"Jangan sampai gagal, kalau bisa buat dia tidak berdaya!"


"Baik, Tuan." Jawab Mark dengan wajah datar nya. Perintah rahasia ini sudah di berikan pada nya sejak satu minggu yang lalu, tapi sampai saat ini Mark belum berhasil mendapatkan informasi apapun karena semua nya di kunci alias tidak di publikasi, jadi dia cukup kesulitan untuk mencari informasi valid yang sudah jelas kebenaran nya, bukan hanya sekedar katanya saja tapi lengkap dengan bukti-bukti nyata nya.


"Sekarang bekerja lah, aku hanya bekerja setengah hari. Hari ini istriku bisa pulang dari rumah sakit, jadi aku tak mau melewatkan hal ini karena harus bekerja. Paham kan?"


"Tentu saja, Tuan." Jawab Mark. Saat pintu lift terbuka, kedua nya pun keluar dari sana dan pergi ke ruangan mereka masing-masing. 


Narendra duduk di kursi kebesaran nya, dia menyalakan laptop nya dan mulai bekerja dengan fokus, begitu juga dengan Mark yang terlihat fokus saat mengerjakan tugas nya. Jangan heran kalau Mark sering kali lembur belakangan ini, ya jawaban nya karena perintah dari Naren yang tak bisa dia tolak. Jadi dia harus membobol data-data milik orang yang cukup berpengaruh itu seperti seorang hacker. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah perintah dari atasan nya, kalau dia tidak melakukan nya, sama saja dengan dia sudah siap kehilangan pekerjaan nya. 


Tidak, tidak. Tidak akan, mencari pekerjaan seperti posisi nya saat ini di perusahaan lain sangatlah sulit, maka dari itu Mark tidak mungkin akan menyia-nyiakan nya seperti itu. Jadi, dia rasa tak masalah kalau dia akan membobol informasi penting yang bersifat privasi itu seperti seorang hacker, lagi pula sang pemilik file itu takkan tahu siapa yang sudah membobol data-data penting nya bukan?


Mark terlihat sangat fokus, hingga akhirnya dia menemukan sebuah informasi yang cukup mencengangkan, karena dia tidak pernah mendengar apalagi melihat kalau wanita itu pernah menikah.


"Suami nya.." Gumam Mark, dia pun meneliti wajah dan berusaha mengingat-ingat sesuatu. Wajah pria yang ada di dalam foto itu seperti tidak asing bagi Mark, dia merasa pernah bertemu dengan sosok pria itu tapi dimana dan kapan? Dia melupakan nya. 


"Aahh sial, disaat lagi di butuhkan malah mendadak lupa." Rutuk Mark sambil menggaruk kepala nya yang padahal tidak gatal sama sekali.


"Tapi, aneh sekali. Kapan mereka menikah? Apa pernikahan nya juga di sembunyikan demi kebutuhan bisnis?" Gumam Mark lagi, dia pun berusaha mencerna semua nya hingga akhirnya dia bisa menyimpulkan dengan alasan yang dia rasa cukup masuk akal. 


"Ckk, baiklah. Mari kita akhiri apa yang sudah kita mulai." 


Sedangkan di rumah sakit, Ayunda hanya bisa tertidur sekarang ini karena tubuh nya terasa begitu lemas. Melisa juga tidak melarang nya sama sekali, karena dia tahu kalau menjadi Ayunda pun sekarang, pasti Melisa akan melakukan hal yang sama. 


Bayangkan saja, pendarahan yang begitu banyak hingga merembes ke pakaian dan lantai, artinya Ayunda mengalami pendarahan yang cukup parah bukan?


"Beristirahat lah, sayang. Mami sayang sama kamu, Nak." Gumam Melisa sambil mengusap-usap puncak kepala sang menantu lalu mengecup singkat kening nya. 


.......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2