
"Siapa yang muntah-muntah?" Tanya Arvin sambil berjalan mendekat ke arah putra nya yang sekarang hanya berdiri dengan pandangan ke arah dapur, melihat istri dan ibu nya sedang berada disana. Katanya sih ingin membuat es krim untuk Ayunda, tapi entahlah apa yang di lakukan kedua wanita berbeda generasi itu di sana.
"Ayu, Pi."
"Kenapa?" Tanya Arvin lagi, kedua nya pun duduk di sofa di temani secangkir teh dan sepiring camilan.
"Kayak nya sih masuk angin, Pi."
"Yakin, masuk angin?" Tanya pria paruh baya itu lagi sambil menyeruput pelan teh hangat nya.
"Iya, memang nya kenapa?"
"Kamu yang ngasih dia angin kali, di pompa tiap malem jadi masuk angin." Celetuk Arvin dengan wajah datar nya, dia terlihat seolah tidak ada beban saat mengatakan hal yang membuat Narendra kepikiran.
"Apa iya ya?"
"Di cek, siapa tahu istri mu hamil." Saran Arvin sambil memakan cemilan nya dengan lahap.
"Ke dokter?"
"Ya iya, kamu bisa cek sendiri memang nya? Tidak kan, ya ke dokter jawaban nya. Kalau belum yakin, coba pake testpack dulu. Kalau udah jelas hasilnya, baru ke dokter." Usul Arvin sambil tersenyum kecil.
"Begitu ya? Dimana Naren bisa beli alat itu, Pi?"
"Alat apa?" Tanya Arvin.
__ADS_1
"Itu buat ngetest tadi, nama alat nya apa ya?"
"Testpack, banyak di apotik. Beli aja dulu, di test nya nanti pagi pas pipis pertama biar akurat." Jelas Arvin lagi.
"Kok papi bisa tahu sedetail itu, Pi?"
"Dari pengalaman dong, dulu Mami mu juga begitu. Kalau gak di cek sendiri, gak bakal ketahuan kalau dia lagi hamil waktu itu."
"Ohh, begitu ya? Yaudah, Naren pergi ke apotik dulu sebentar."
"Ya, hati-hati." Jawab Arvin, masih dengan wajah datar nya.
Narendra pun memutuskan untuk pergi ke apotik, agar lebih cepat dia memilih menggunakan sepeda motor. Dia melajukan kendaraan roda dua nya dengan kecepatan rata-rata, pria itu senyam senyum sendiri di buat nya. Bagaimana kalau semisal Ayunda memang hamil? Uhh, pasti akan sangat membahagiakan sekali.
"Aku berharap kalau sudah ada kehidupan lain di rahim Ayunda, aku akan sangat bahagia kalau semisal dia memang hadir disana." Gumam Narendra.
"Permisi, selamat malam, Tuan. Ada yang perlu saya bantu?" Tanya nya dengan ramah.
"Eemmm, saya memerlukan alat untuk mengetes kehamilan."
"Testpack?" Tanya nya sambil tersenyum kecil, Narendra menganggukan kepala nya mengiyakan.
"Mau yang sekali pakai atau.."
"Berikan saja kedua nya, cepatlah aku tak punya banyak waktu." Jawab Narendra. Apoteker perempuan itu pun langsung mengambil dua jenis testpack dan membungkus nya dengan plastik hitam.
__ADS_1
"Total nya 56 ribu, Tuan."
"Ini uang nya, kembalian nya untuk mu saja." Jawab Narendra, dia pun langsung pergi dengan tergesa-gesa. Apoteker itu tersenyum kecil karena kembalian yang di tinggalkan oleh Naren cukup besar baginya.
Narendra kembali melajukan kendaraan nya menuju rumah, tapi di perempatan jalan dia malah salah fokus dengan pedagang telur gulung. Dia berpikir, mungkin saja Ayunda akan menyukai nya. Dia pun mampir di gerobak abang-abang itu dan membeli telur gulung nya.
"Telur gulung nya sepuluh ribu ya, Bang."
"Siap, sebentar." Jawab pedagang itu, Narendra pun duduk sebentar sambil menikmati semilir angin malam yang terasa sangat sejuk menusuk kulit. Salah nya, dia tidak mengenakan hoodie. Hanya memakai kemeja berlengan panjang, dia mengira udara nya takkan sedingin ini.
"Ini, Tuan."
"Kembalian nya ambil saja buat bapak, terimakasih." Jawab Narendra, sambil mengulurkan selembar uang berwarna biru. Dia pun kembali melajukan kendaraan roda dua nya ke jalan raya dan beberapa menit kemudian, akhirnya Narendra sampai di rumah dengan selamat. Dia membawa plastik berisi testpack dan telur gulung yang dia beli.
"Dari mana?" Tanya Ayunda di ambang pintu sambil menatap ke arah Narendra dengan tatapan tajam nya.
"Habis keluar cari angin sebentar, kenapa?"
"Gapapa, hati-hati masuk angin." Sindir Ayunda membuat Naren terkekeh pelan.
"Udah, gak usah nyindir-nyindir segala. Nih, aku beliin telor gulung." Ucap Narendra sambil memberikan plastik berisi telur gulung yang dia beli tadi.
"Nah gitu dong, makasih ya, Mas."
"Iya, sama-sama." Narendra mengusap puncak kepala Ayunda dengan gemas lalu mengecup kening nya dengan mesra. Saat ini dia masih belum bisa memastikan apa perubahan Ayunda sekarang adalah pengaruh dari hormon kehamilan atau bukan. Tapi, dia akan sangat berharap untuk hal itu, semoga saja ada kabar baik esok hari.
__ADS_1
....
🌻🌻🌻🌻