Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 61 - Menimang Cucu


__ADS_3

"Gagal apa, Pi?" Tanya Ayunda lirih.


"Papi meminta dia untuk membujuk mu, tapi ternyata gagal ya?" 


"Papi, bukan gagal. Hanya saja.."


"Takut jatah malam mu tidak di berikan kalau kamu memaksa ya, iya kan?" Tebak Arvin sambil terkekeh pelan. Narendra menggaruk tengkuk leher nya yang tidak gatal sambil memalingkan wajah nya ke arah lain.


"Jadi begini, sayang. Papi sebenarnya tidak setuju, kenapa kamu tidak mau melaksanakan resepsi pernikahan?"


"Ya, seperti kata Ayu tadi, Pi. Ayu tidak ingin menghamburkan uang untuk pesta, Ayunda ingin menikah secara sederhana saja yang penting kami resmi menikah." Jelas Ayunda.


"Papi setuju tentang menghamburkan uang, tapi disini Papi tegaskan kalau Narendra adalah putra kami satu-satunya, pewaris keluarga Sanjaya. Akan sedikit aneh kalau dia menikah tanpa pesta."


"Lagi pula, dengan mengadakan resepsi pernikahan, semua orang akan mengetahui kalau kamu adalah istri dari Naren. Dengan begitu, semua orang juga akan mengetahui kalau dia sudah menikah. Jadi takkan ada orang yang mendekati nya lagi." Jelas Arvin panjang lebar, membuat Ayunda terdiam. 


Dia terlihat memikirkan sesuatu di dalam benak nya, ini adalah pernikahan rahasia bukan?


"Sebaiknya pikirkan terlebih dulu dengan baik, sayang. Tapi, Mami sama Papi berharap kamu setuju dengan mengadakan pesta resepsi ini. Percayalah, Mami maupun Papi menginginkan yang terbaik untuk kalian berdua, sayang." Akhirnya Melisa ikut angkat bicara. Dia ikut membujuk sang menantu agar setuju untuk mengadakan pesta resepsi pernikahan mereka. 


"Baik, Mami."


"Mami sama Papi tunggu keputusan kamu, sayang."


"Naren?" Tanya Narendra sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu pasti ngikut-ngikut aja kan? Jadi gak usah di bujuk juga, kalau Ayunda memang mau, pasti kamu juga mau." 

__ADS_1


"Hehe, iya sih." Jawab Narendra sambil terkekeh. 


"Sudah-sudah, ayo makan dulu." Ucap Melisa, dia pun menyajikan makanan nya di bantu oleh Ayunda. Gadis itu langsung melayani suami nya, meletakan lauk dan nasi nya di piring. 


"Selamat makan.."


"Terimakasih, sayang." Ucap Narendra dengan senyuman tulus nya, membuat Arvin dan Melisa saling menatap dalam diam. Mereka senang karena akhirnya, Naren bisa menerima Ayunda sebagai istri nya. Inti nya, meskipun mereka menikah karena kecelakaan tapi pernikahan ini bukanlah sebuah kesalahan bukan? Jadi mereka harus menerima satu sama lain. 


"Sama-sama, Mas." Jawab Ayunda. Dia pun ikut duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan sang suami lalu memulai acara sarapan nya dengan lahap. 


"Ehem, bagaimana tentang permintaan kami. Apakah kalian akan mengabulkan nya dalam waktu dekat? Atau memutuskan untuk menunda terlebih dulu?" Tanya Melisa di sela makan nya.


"Permintaan apa memang nya, Mi?" Tanya Narendra, dia lupa dengan permintaan sang Mami. Kira nya apa? Entahlah, dia melupakan nya. 


"Itu lho, tentang cucu.." 


"Kami sepakat untuk tidak memakai apapun kok, Mi. Tapi mungkin, semua nya memerlukan waktu." Jawab Narendra. Ayunda hanya memilih diam, dia malu kalau harus ikut ke dalam pembicaraan ini. 


"Hmm, baguslah. Usia mu sekarang, sudah sangat cocok untuk memiliki satu atau dua anak, Boy." Celetuk Arvin. Waduh, kalau Arvin sudah membuka suara nya, tanda nya dia sangat serius dengan hal ini. 


"Gak sabar mau nimang cucu.." 


"Sabar dulu ya, Mi. Semoga saja secepat nya kamu di beri kepercayaan." Ucap Narendra sambil tersenyum kecil.


"Iya, kami akan sabar menunggu berita membahagiakan itu."


"Naren udah usaha tiap malam kok, cuma malam tadi aja gak main. Jadi, semoga saja salah satu dari permainan itu ada yang menghasilkan janin." Jelas Narendra tanpa rasa malu sedikit pun, berbeda dengan wajah Ayunda yang sudah memerah karena merasa malu dengan ucapan suami nya.

__ADS_1


"Kau terlalu jujur, Boy. Lihat wajah istri mu, dia menahan malu karena mu!" 


"Lah, fakta nya kan memang begitu." Jawab Narendra dengan wajah datar nya, seolah apa yang dia katakan itu tidak salah sama sekali. Ya, memang gak salah sih tapi salah. 


"Anak nakal.." ucap Arvin sambil menggeplak lengan besar putra nya.


"Aawwhss, sakit lho Pi. Kenapa sih?"


"Kamu main setiap malam, bikin menantu Papi kecapean!" 


"Kan Naren juga udah bilang sama Papi, Ayu nya juga suka. Mana ada Naren maksa Ayu buat main, dia nya mau-mau aja kok." Jawab Narendra, membuat Ayunda yang sedang minum tersedak hingga wajah nya memerah. 


Uhukk.. uhukk..


Narendra segera mengulurkan segelas air minum pada istri nya, perempuan itu pun segera meminum nya dalam sekali tegukan.


"Pelan-pelan dong minum nya, sayang."


"Dia tersedak bukan karena minum, tapi karena ucapan kamu." Ketus Melisa membuat Naren cengengesan.


"Maaf, sayang."


"Iya, gapapa kok. Cepatlah selesaikan makan nya." 


"Oke, sayang." Jawab Narendra. Dia pun kembali memakan makanan di piring nya dengan lahap. Dia benar-benar menyukai menu sarapan nya pagi ini, dia bahkan sampai menambah nasi dua kali saking enak nya masakan istri dan Mami nya.


.....

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2