Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 164 - Gara-gara Kaos Kaki


__ADS_3

"Sayang, kita jalan-jalan yuk.." Ajak Narendra. Ayunda segera menganggukan kepala nya mengiyakan. Pria tampan itu langsung meraih tangan sang istri dan mengajak nya untuk berjalan-jalan di sekitar panti asuhan. 


"Kita mau kemana, Mas?"


"Ke taman, sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum kecil. Ayunda pun hanya mengikuti langkah sang suami dengan langkah perlahan karena Naren sendiri tahu kalau istrinya tak bisa di ajak untuk berjalan cepat karena kondisi nya sekarang yang tengah hamil muda. 


"Mas kayaknya udah tahu ya seluk beluk di panti asuhan ini."


"Hmm, beberapa kali Papi pernah ngajakin Mas kesini buat berkunjung, sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum manis. Dia melepaskan genggaman tangan nya, lalu beralih merangkul pundak sang istri dengan mesra. Ayunda juga memeluk pinggang suaminya. 


"Ohh, begitu ya?"


"Iya, sayang."


"Pantesan aja, anak-anak langsung kenal sama aku. Beda sama pas ketemu aku, Mas."


"Wajar aja, kan kamu baru pertama kali kesini, sayang." Jawab Naren sambil mengusap puncak kepala sang istri, lalu mengecup nya. 


Akhirnya, Ayunda dan Narendra pun sampai di taman. Memang taman nya tidak terlalu luas, disini ada banyak anak-anak yang bermain dengan di dampingi oleh pengasuh nya masing-masing. Disini, tidak ada pemandangan lain selain anak-anak dan wahana permainan anak-anak seperti ayunan dan perosotan. 


Ayunda tersenyum saat melihat anak-anak itu asik bermain, sesekali Ayunda merasa gemas saat anak-anak itu bermain. Tapi dalam hati, dia merasa sedih. Kenapa malaikat yang di titipkan sebagai rezeki itu malah di sia-siakan seperti ini? Kebanyakan anak disini adalah anak yang di buang oleh orang tua nya karena kehadiran mereka tidak di inginkan. 


"Kenapa, sayang?" Tanya Narendra saat melihat tatapan sang istri berubah sendu, padahal tadi dia bisa melihat raut wajah penuh kebahagiaan saat melihat anak-anak itu bermain. 

__ADS_1


"Aku cuma gak habis pikir, Mas. Bagaimana malaikat seindah mereka di perlakukan dengan tidak adil oleh sosok yang harus nya bisa menjaga, merawat dan melimpahi mereka dengan kasih sayang, tapi yang mereka lakukan sungguh kejam hingga membuang mereka, Mas." Lirih Ayunda. 


"Entahlah, sayang. Kebanyakan anak-anak disini adalah anak-anak yang kurang beruntung, korban kecelakaan, tapi masih mending mereka di rawat dengan baik disini." Jawab Narendra, sungguh dia juga merasakan hal yang demikian. 


"Tapi tidak dengan di buang atau di telantarkan, Mas." 


"Kita tidak tahu seperti apa hati manusia, sayang. Tak apa, asal kita jangan seperti mereka. Kita harusnya memberikan kasih sayang pada mereka." Ucap Narendra. Ayunda hanya menganggukan kepala nya mengiyakan, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa karena pada dasarnya dia juga tidak tahu harus berbuat apalagi. 


Di negara ini, kasus penemuan bayi yang di buang begitu saja oleh orang tua nya semakin meningkat tahun demi tahun nya. Itu semua di sebabkan oleh angka sekks bebas yang di lakukan para remaja membuat angka kehamilan di luar nikah semakin meninggi. 


"Anak pertama kita, dia sedang apa ya disana, Mas?"


"Dia sedang bermain bersama bidadari disana, sayang. Jadinya kamu jangan sedih terus menerus ya? Nanti, anak kita gak bahagia disana." Jawab Narendra sambil merangkul mesra pundak sang istri dan menyandarkan kepala Ayunda di pundak nya. 


"Kita harus menjaga hal yang belum kita lihat, Mas meminta maaf padamu kalau semisal Mas ada salah sama kamu ya?"


"Gapapa, sayang. Kamu kalau marah sama Mas, ya berarti Mas salah." Ucap Narendra. Ayunda menatap wajah suaminya, lalu memeluk nya dengan erat. Sungguh, memiliki suami sebaik Narendra membuat dia merasa sangat beruntung. 


"Aku tidak tahu, entah hal apa yang aku lakukan di masa lalu hingga aku bisa memiliki suami sebaik dirimu, Mas."


"Aku juga sangat beruntung bisa memiliki mu, sayang." Jawab Narendra sambil mendekap hangat tubuh istrinya. Hari ini, hubungan mereka semakin dekat. Semua yang mereka lakukan, di saksikan oleh Melisa dan juga Arvin. Mereka tersenyum saat melihat pasangan suami istri yang saling mencintai itu mengungkapkan perasaan masing-masing.


"Mami cariin kalian kemana-mana, ternyata disini?"

__ADS_1


"Ehh, mami.." Jawab Naren sambil cengengesan. 


"Kita pulang yuk? Udah sore, pamali kalau ibu hamil keluar sore-sore begini." Jelas Melisa. Wanita paruh baya itu memang masih mempercayai hal-hal semacam itu, mungkin karena sudah tradisi. 


"Iya, Mami." Jawab Ayunda. Dia pun menggandeng lengan besar suaminya lalu kedua nya pun mengikuti langkah Melisa dan Arvin. Setelah berpamitan pada pengurus panti asuhan, keluarga itu pun memutuskan untuk pulang. 


Di perjalanan, Ayunda tertidur dengan nyenyak sambil di peluk oleh sang suami. Narendra mengusap-usap punggung istrinya, membuat Ayunda merasa nyaman hingga semakin tenggelam dalam dunia mimpi nya. Narendra tersenyum lalu mencubit gemas pipi cabi sang istri lalu mengecup nya. Setelah itu, dia membiarkan Ayunda tidur, meskipun sebenarnya dia agak pegal karena Ayunda tidur di atas tubuhnya. Tapi, Narendra tidak ingin mengganggu tidur istrinya. 


Dia melihat sang istri memang cukup kelelahan, apalagi dengan membawa beban di tubuhnya. Meskipun sekarang baru menginjak usia kehamilan lima bulan, tapi di dalam sana ada dua nyawa yang harus Ayunda bawa kesana kemari. 


"Ayu tidur?" Tanya Melisa pada Narendra tanpa menoleh ke bangku belakang.


"Iya, Mi. Kenapa?"


"Selimuti kaki nya, kasian pasti dingin. Mami gak mau menantu Mami masuk angin nanti, tadi mami nyuruh Ayu pake kaos kaki, kenapa gak nurut ya?"


"Mungkin gerah, Mami. Kan kita berangkat nya siang, mana panas lagi. Namanya ibu hamil kan suka gerah." Ucap Arvino. Memang bawaan ibu hamil itu berbeda-beda, tapi Ayunda sendiri memang jadi lebih sering berkeringat sekarang. 


"Hmm, tapi harusnya kan lebih mengutamakan kesehatan."


"Udahlah, Mami. Cuma gak pakai kaos kaki doang lho, lagian kan bisa aja Ayu nya lupa mau pakai kaos kaki." Jelas Arvino lagi. Sedangkan Narendra hanya diam saja, tapi dia tetap menuruti perintah Mami nya untuk menyelimuti kaki Ayunda. 


Padahal, sebenarnya tadi Ayunda mengenakan nya, tapi karena tak sengaja kena paku pas di panti, jadi Ayunda melepaskan nya karena bolong-bolong di beberapa tempat. Lagi pula, ngapain pakai kaos kaki siang-siang buta? Narendra juga gemas tadi, maka dari itu saat melihat kaos kaki istrinya bolong, Naren meminta istrinya untuk melepaskan nya saja. 

__ADS_1


Ayunda juga merasa kegerahan, kaki nya terasa tak nyaman karena berkeringat. Jadinya dia menurut saja saat suaminya meminta nya untuk melepaskan kaos kaki yang menempel di kaki nya itu. 


Terkadang, Narendra suka heran sendiri dengan sang Mami yang banyak mengatur harus mengenakan ini dan itu. Tapi semakin kesini, Naren mulai paham dan apapun itu, pasti Melisa memikirkan dan mempertimbangkan semuanya terlebih dulu. Intinya, Melisa melakukan itu untuk kebaikan Ayunda sendiri. Dia sangat menyayangi menantu nya, jadi dia selalu menjaga menantu nya. Mungkin dia belajar dari yang sudah-sudah. 


__ADS_2