
"Sayang, ini anak kita.." Ucap Narendra sambil menggendong bayi laki-lakinya, satu bayi nya lagi tengah di bersihkan oleh perawat.
"Mana bayi kita satu lagi, Mas? Dia perempuan?"
"Iya, bayi kita sepasang, sayang." Jawab Narendra sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut.
"Boleh aku menggendong nya, Mas?" Tanya Ayunda. Narendra pun menganggukan kepala nya, wanita itu pun menggendong sang putra yang tertidur dengan lelap dalam dekapan hangat sang ibu.
"Hello baby boy.." Sapa Ayunda sambil mengusap hidung bangir bayi laki-laki nya. Narendra sendiri, dia mengambil alih bayi perempuan nya.
Dia tersenyum karena bayi perempuan nya terlihat sangat mirip dengan istrinya, wajahnya, hidung nya, bahkan bibirnya sangat mirip. Cantik sekali, bayi ini benar-benar mewarisi kecantikan ibunya. Bayi laki-laki yang di gendong oleh Ayunda pun lebih mirip ke Narendra, jadi keduanya mirip kedua orang tuanya, mereka bersikap adil seperti nya agar tidak menimbulkan kecemburuan nantinya.
"Sayang, lihatlah dia sangat mirip denganmu." Ucap Narendra sambil memperlihatkan wajah cantik bayi perempuan nya yang juga sama-sama tertidur dengan lelap.
"Dia juga mirip dengan mu, Mas."
"Lucu sekali ya mereka.." Ucap Narendra sambil mengusap wajah lembut nan kemerahan bayi mungil itu. Cantik dan tampan, sempurna.
"Iya, Mas. Kamu sudah mendapatkan nama untuk anak kita, Mas?" Tanya Ayunda pada suaminya. Narendra sudah menganggukan kepala nya mengiyakan, dia sudah lama menyiapkan nama untuk kedua buah hatinya.
"Mas sudah mendapatkan nama yang bagus, tapi Mas gak tahu apakah kamu setuju atau tidak."
"Coba saja dulu." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Dia menunggu suaminya menyebutkan nama yang di pilih oleh suaminya untuk kedua buah hatinya.
"Haneen David Sanjaya, Hania Ayudia Sanjaya." Ucap Narendra membuat kedua mata Ayunda berbinar ketika mendengar kedua nama yang disebutkan oleh sang suami. Dia suka, sangat menyukai nama yang di pilih oleh sang suami.
"Mas, aku suka kedua nama itu. Tapi yang perempuan kenapa ada namaku di bagian tengahnya?" Tanya Ayunda.
"Kamu ibunya, sayang."
"Baby Haneen, Baby Hania. Aku suka dengan nama ini, Mas."
"Kamu ingin menambahkan sesuatu, sayang?"
"Tidak, Mas. Ini sudah bagus, apa ada makna nya?" Tanya Ayunda sambil menatap wajah tampan bayi laki-laki nya.
"Haneen berarti dia memiliki cinta yang kuat, kerinduan dan keinginan. Kita saling mencintai dan inilah bukti cinta kita, kerinduan? Kita merindukan saat-saat menunggu kehamilan setelah sebelumnya kita sempat kehilangan. Keinginan? Tentu saja kita berkeinginan untuk mendapatkan keturunan." Jelas Narendra membuat Ayunda tersenyum.
"Hania sendiri artinya kebahagiaan dan tawa. Kehadiran mereka berdua membuat kita sangat bahagia bukan? Lalu, tawa. Mas berharap dengan kehadiran keduanya akan selalu membuat tawa di rumah kita."
"Mas, aku gak nyangka kalo kamu memilih nama yang sangat indah juga makan nya." Ucap Ayunda sambil tersenyum.
"Tentu saja Mas memikirkan semuanya dengan baik untuk nama keduanya karena mereka anak-anak kita, sayang."
"Terimakasih, karena sudah memikirkan semuanya dengan matang, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum manis.
"Terimakasih juga sudah berjuang untuk membawa mereka lahir ke dunia ini, sayang." Narendra mengecup kening sang istri dan kembali memperlihatkan kecantikan anak perempuan nya.
"Mau gendong baby Hania?"
"Boleh, Mas. Gantian ya.."
"Tentu, sayang." Jawab Narendra. Dia pun kembali mengambil alih baby Haneen dan memberikan Baby Hania ke pangkuan sang ibu. Keduanya terlihat sangat bahagia, kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya ketika mereka bisa melihat keindahan yang di titipkan Tuhan pada mereka.
"Tuan.." panggil seorang perawat sambil membawa dua stroler bayi.
"Untuk sementara waktu, biarkan Nona Ayunda beristirahat sejenak."
"Iya, tapi bayi kami?"
"Kami yang akan mengurusnya, kamu juga sudah memasang gelang pengenal identitas. Kami juga akan meletakan keduanya di ruang perawatan VIP sesuai perintah Tuan Arvino." Ucap perawat itu membuat Narendra menganggukan kepala nya.
"Tapi, bagaimana kalau keduanya disini saja bersama ibunya?" Tanya Naren lagi.
"Kami khawatir akan mengganggu waktu istirahat Nona Ayunda." Jawab nya lagi, membuat Narendra pun menganggukan kepala nya mengiyakan.
"Tolong jaga anak saya dengan baik, kalau tidak anda akan tahu apa akibatnya berurusan dengan keluarga Sanjaya!" Ancam Narendra membuat perawat itu ketakutan.
"Mas.."
"Iya, Tuan. Kami akan meningkatkan penjagaan untuk keduanya."
"Hmm, baiklah."
Kedua bayi itu pun di bawa oleh perawat ke ruangan perawatan yang berbeda dengan Ayunda. Tujuan nya hanya agar Ayunda bisa beristirahat sejenak setelah beberapa jam dia merasakan sakitnya kontraksi. Rasanya benar-benar menyakitkan, bahkan rasanya hampir setengah nyawa meninggalkan dirinya saking sakitnya.
Belum lagi dia harus merasakan sakitnya ketika luka nya itu harus di jahit dengan jarum yang terlihat seperti kail pancing. Sakit? Jangan di tanya lagi, rasa sakitnya seolah dia akan mati saat itu juga. Tapi, semuanya terbayarkan sudah ketika dia melihat kedua buah hatinya yang terlihat sangat indah. Bahkan keindahan nya mengalahkan semua yang pernah dia lihat.
"Sayang, kamu tidur dulu ya.." Ucap Ayunda.
"Mas.."
"Mas tahu kamu pasti capek kan? Jadi kamu istirahat dulu, nanti Mas kesini lagi."
__ADS_1
"Sekarang kamu mau kemana, Mas?" Tanya Ayunda pada sang suami.
"Mas mau keluar sebentar, mau beli air minum. Nanti mas kesini lagi nemenin kamu tidur."
"Aku ingin tidur di pelukan kamu, Mas."
"Iya, sayang. Mas keluar dulu minta Papi beliin air minum dulu ya? Gak lama kok." Ucap Narendra.
"Iya, jangan lama ya, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Narendra pun menganggukan kepala nya. Dia pun keluar dari ruangan setelah mengecup kening sang istri.
Narendra membuka pintu dan disambut oleh tatapan penuh ke khawatiran dari semua anggota keluarga. Bahkan Adam langsung berlari mendekat ketika melihat Narendra keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaan Ayunda, Ren?" Tanya Adam dengan penuh ke khawatiran.
"Ayunda baik-baik saja, Paman. Tidak perlu khawatir, dia dan juga anak-anak kami baik-baik saja, mereka lahir dengan selamat, sempurna tanpa kekurangan satu apapun."
"Beneran, Ren?" Kali ini Arvino yang bertanya, juga dengan ekspresi yang tak jauh dari Adam. Dia juga mengkhawatirkan keadaan menantu kesayangan nya.
"Iya, Papi. Beneran sepasang lho.."
"Syukurlah, Papi seneng mendengar nya." Arvino mengusap dadanya dengan lega. Dia senang setelah mendapatkan kabar yang jelas dari Narendra.
"Ayunda sangat kuat, dia berjuang penuh untuk anak kami."
"Tentu saja, Ayunda memang wanita yang baik dan sangat pantas mendampingi mu."
"Kalian kalau mau pulang, pulang saja. Biar Naren yang disini nungguin Ayu." Jawab Narendra membuat ke empatnya mendelik sebal.
"Papi mau disini aja."
"Mami juga."
"Kakek juga."
"Paman juga pengen disini." Jawab ke empatnya dengan kompak membuat Narendra menghela nafasnya dengan kasar.
"Kalian mau tidur dimana coba? Disini kan gak mungkin, mana banyak nyamuk."
"Kata siapa kamu mah tidur disini? Papi udah nyewa losmen di seberang rumah sakit. Kebetulan ada tiga kamar kosong." Jawab Arvino membuat Narendra terkekeh.
"Yaudah kalo gitu, tapi sebelum kalian ke penginapan, bisa gak beliin air minum dulu? Naren takut Ayu mau minum tengah malam."
"Ini, Mami sudah belikan sekalian sama buah-buahan. Kali aja Ayu pengen ngemil nanti malem."
"Sama-sama, Ren. Temenin istrimu ya, jangan di tinggalin." Ucap Arvino sambil tersenyum.
"Jagain Ayu ya.." Pinta Adam dengan suara lirih nan serak nya. Pria itu terlihat sendu, dia sangat bahagia setelah mendengar kalau keponakan nya baik-baik saja. Dia sangat bersyukur karena Ayunda baik-baik saja sekarang.
"Pasti, Paman. Jangan khawatir ya, Paman. Narendra pasti jagain keponakan Paman dengan baik."
"Kamu sudah ngasih nama sama anak kamu?" Tanya Darren membuat Narendra menatap sang kakek pada cucunya.
"Sudah, tentu saja."
"Siapa?" Tanya semuanya dengan antusias.
"Haneen David Sanjaya, Hania Ayudia Sanjaya."
"Wah, cakep namanya. Penasaran Mami pengen lihat cucu Mami." Ucap Melisa sambil tersenyum kecil.
"Besok sudah bisa di jenguk, Ayunda juga."
"Yasudah, kamu pergi dulu ya mau istirahat. Kamu disini aja tungguin istri kamu."
"Siap, Naren juga udah pesen satu bed lagi tadi. Biar tidur nya nyaman, tapi ternyata Ayunda pengen tidur sambil di peluk, mana meluk nya juga agak ngilu ya." Ucap Narendra sambil menggaruk tengkuknya.
"Ngilu kenapa?"
"Hehe, tadi pas bayi nya keluar dia gak berisik, apalagi sampe jerit-jerit. Dia kelihatan tenang dan santai aja, tapi pas di jahit itunya dia jerit-jerit, Mami, Papi. Mana sampai nangis, jadi Naren takut kalau meluk Ayu tidur sekarang."
"Agak jauhan aja, Mami tahu kamu tidurnya lasak." Ucap Melisa.
"Iya, Mami."
"Yaudah, temenin istrimu sana. Gak baik di tinggalin istrimu yang baru lahiran." Ucap wanita paruh baya itu. Narendra pun mengangguk dan kembali masuk ke dalam ruang perawatan sang istri. Pria itu menutup pintunya dan melihat Ayunda masih terjaga.
"Kok gak tidur?"
"Nungguin kamu, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Mas ngobrol sebentar sama mereka di luar, sayang."
"Memang nya pada masih disini, Mas?" Tanya Ayunda lirih.
__ADS_1
"Iya, mereka semua masih disini, sayang. Tapi sekarang mereka mau ke penginapan yang ada di seberang rumah sakit, gak mungkin juga mereka tidur di ruang tunggu atau di ruangan ini kan?"
"Iya, Mas. Kalau Paman?"
"Paman juga ikut sama Mami Papi, tadi Mas udah bilang kalau mereka pulang aja, tapi mereka gak mau."
"Yaudah deh kalo gitu. Kesini dong, Mas. Ayu pengen di peluk." Pinta Ayunda membuat Narendra meringis tertahan.
"Kenapa, Mas?"
"Bukannya Mas gak mau peluk kamu, yang. Tapi kamu tahu sendiri kalau Mas tuh tidur nya lasak, Mas takut kaki Mas nendang itu kamu yang sakit atau gimana gitu, Mas takut terus agak ngilu." Jelas Narendra yang membuat Ayunda terkekeh.
"Terus, kamu mau tidur dimana kalau gak disini?"
"Di sofa aja, sayang."
"Ada selimut?"
"Ada kok, udah gak usah khawatir sama Mas. Mas bisa tidur dimana aja, Mas bisa tidur nyenyak meskipun tanpa selimut." Jawab Narendra sambil mengusap rambut sang istri.
"Maafin Ayu ya, Mas."
"Kamu punya salah apa sih sama Mas? Minta maaf terus deh."
"Soalnya gara-gara aku, Mas harus tidur disini." Jawab Ayunda membuat Narendra tertawa pelan.
"Kamu ini, sayang. Ada-ada saja, sudah sana tidur, jangan banyak pikiran terus. Mas gak bakalan pernah ninggalin kamu sendirian disini, kalau ada apa-apa panggilin Mas aja ya."
"Iya, Mas." Jawab Ayunda. Narendra pun menundukan kepala nya lalu mengecup mesra kening serta bibir sang istri. Tak lupa, dia juga mengusap rambut istrinya dengan lembut.
"Selamat beristirahat istriku.."
"Terimakasih, Mas. Kamu juga beristirahat ya, pasti kamu juga capek nemenin aku seharian ini."
"Capek sih, tapi Mas seneng karena akhirnya penantian kita berbuah manis." Ucap Narendra sambil tersenyum. Ayunda membalas senyuman itu dengan manis. Lalu, keduanya pun mulai mengatur posisi yang nyaman untuk tidur. Ayunda berada di ranjang dan Narendra tidur di sofa tanpa mengenakan selimut apapun. Dia masih menggunakan pakaian rumahan nya, celana chinos selutut dengan kaos oblong berlengan pendek.
Namun hal itu tidak membuat Narendra tidak bisa tidur. Nyatanya, pria itu terlelap dalam hitungan menit saja. Begitu juga dengan Ayunda, dia harus istirahat sebelum sibuk dengan kegiatan nya sebagai ibu baru. Jadi sekarang dia harus tidur dan tak lama kemudian, dia menyusul sang suami ke alam mimpi.
Keesokan paginya, Ayunda tersenyum ketika melihat kalau Narendra sudah menggendong salah satu bayi di tangan nya, satu lagi di gendong oleh Melisa yang terlihat sangat antusias melihat bayi mungil yang sangat mirip dengan putranya sewaktu masih kecil.
"Ini benar-benar Naren kecil.." Gumam Melisa sambil mengelus pelan pipi kemerahan cucu nya. Dia sedang menjemur bayi itu di dekat jendela yang terkena sinar matahari.
"Lihat ini dong, Mi. Dia mirip banget kan sama Ayu? Hidung nya, matanya, bibirnya juga."
"Iya, dia benar-benar terlihat seperti ibunya." Jawab Melisa setuju dengan apa yang di katakan oleh putranya. Bayi perempuan itu memang terlihat sangat cantik seperti Ayunda.
"Dia juga mirip seperti kamu saat masih kecil, Ren."
"Benarkah? Berarti aku membuatnya dengan baik kan, Mi? Sampai-sampai aku membuatnya seperti duplikat ku sendiri." Narendra tersenyum bangga namun malah di hadiahi geplakan sang ibu di lengan besarnya.
"Kamu itu ya.."
"Kan bener, Mi. Main geplak aja deh, heran itu tangan ringan amat." Ucap Narendra sambil mengusap pelan lengan nya yang kena geplak sang ibu.
Hingga, tiba-tiba saja Baby Hania merengek seolah dia terganggu tidur nya karena perdebatan antara anak dan ibu itu. Dia merengek kecil lalu terlihat akan menangis.
"Ssttt, jangan nangis anak Papa. Nanti Mama bangun lho, dia masih tidur soalnya kecapean habis berjuang buat kalian kemarin. Sama Papa aja dulu ya, jangan rewel nanti Papa kasih hadiah." Ucap Narendra dan seolah bayi kecil itu mengerti apa yang di ucapkan ayahnya, dia pun kembali tidur dengan anteng. Bahkan dia terlihat kembali nyaman dengan dekapan sang ayah yang hangat.
"Mas, aku sudah bangun lho." Ucap Ayunda sambil tersenyum.
"Sayang, kamu kebangun ya?" Tanya Narendra sambil tersenyum.
"Enggak kok, aku udah bangun dari tadi. Cuman seneng aja liatin kamu lagi jemur anak-anak."
"Mami gak di lihatin nih?" Tanya Melisa yang membuat Ayunda tersenyum kecil.
"Lihat dong, tapi Mas Naren tuh ganteng nya nambah berkali-kali lipat kalo lagi mode bapak gini ya, Mi? Coba aja kalo lagi mode tengil, nyebelin nya astaga."
"Hahaha, iya. Mami masih ingat pas dia main kartu itu lho."
"Ayu juga masih ingat, kayak tuyul tapi ada rambutnya." Ucap Ayunda membuat Narendra memerah wajahnya karena malu. Sejak kejadian mereka cosplay menjadi tuyul jadi-jadian, kedua wanita itu selalu saja mengungkitnya dengan di iringi tawa yang membuat Narendra selalu memilih untuk diam saja.
"Udahlah, jangan di ungkit-ungkit terus dong, Mi."
"Tapi kocak banget, Mami sampai gak kepikiran kenapa kalian bisa melakukan itu. Padahal cuma di tinggal sebentar, tapi kalian udah bikin teras berantakan, bahkan satu toples tepung habis di pakai mainan kayak gitu."
"Mami.."
"Hahaha, yaudah iya.." ucap Melisa. Ketiga nya pun kembali mengobrol dan sibuk dengan bayi masing-masing sedangkan Ayunda hanya diam saja dulu, kalau mereka merengek barulah Ayunda bergerak untuk mencoba menyusui kedua bayi nya itu secara perlahan, karena air susu nya belum keluar terlalu banyak untuk saat ini.
........
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1