
"Sayang.." Panggil Narendra. Hari ini, pria itu akan pergi ke kantor untuk bekerja setelah semingguan dia cuti karena menunggui sang istri di rumah sakit dan menemani wanita itu di masa yang paling rapuh nya.
"Iya, Mas." Jawab Ayunda. Wanita itu sedang mengancingkan kemeja sang suami dengan lembut.
"Gapapa kalau Mas kerja hari ini?"
"Lho, gapapa dong. Kamu memang harus kerja, Mas. Soalnya kan udah lama libur, kasian Mark. Dia mau pengantinan, masa di suruh lembur mulu." Ayunda tersenyum kecil sambil fokus mengancingkan kemeja suami nya. Lalu memasangkan dasi, vest dan jas nya, lalu kembali membantu sang suami bersiap-siap.
"Beneran ya? Tapi.."
"Percayalah, Mas. Aku akan baik-baik saja sekarang, ada Mami sama Papi kan disini? Jadi, gapapa." Jawab Ayunda.
"Yaudah, kalau ada apa-apa langsung hubungi Mas ya?"
"Iya, tentu saja."
"Hmm, ingat ya. Langsung telpon Mas, oke?"
"Iya iya, suamiku bawel banget sekarang." Jawab Ayunda sambil mencubit gemas pipi sang suami, lalu mengecupnya dengan mesra.
"Bawel gini karena kamu sering keras kepala, jadi nya aku harus ekstra menjaga kamu biar gak terluka." Ucap Narendra yang membuat Ayunda tersenyum kecil.
"Maaf ya?"
"Mas maafin, tapi lain kali jangan keras kepala kayak gitu, Mas gak suka ya? Mas khawatir kalau kamu terluka gitu."
"Iya Mas, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku."
"Jelas aku akan khawatir, sayang. Kamu istriku. Di masa depan, kita akan menjadi orang tua kembali." Jawab Narendra yang seketika membuat Ayunda menundukan kepala nya. Dia merasa agak sedikit trauma dengan yang sudah terjadi.
"Hey, sayang. Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?"
"Enggak kok, aku baik-baik saja." Jawab Ayunda sambil memaksakan senyum nya.
"Jangan memaksakan senyum seperti itu, sayang. Mas gak suka, mas tahu senyuman itu palsu!"
"Maaf, Mas.."
"Tidak perlu meminta maaf, Mas paham kok gimana perasaan kamu. Tapi, Mas mohon sama kamu, tolong lupakan secara perlahan ya? Mas tau, ini bukan hal yang mudah. Tapi, sampai kapan kamu akan seperti ini terus?" Ayunda memilin kemeja yang dia kenakan, wanita itu menundukan kepala nya. Ucapan suami nya memang benar, sampai kapan dia akan terus begini?
Mau bagaimana pun juga, semenyesal apapun juga, meksipun disini kita menangis darah, tetap takkan bisa mengubah apapun. Takkan bisa membuat yang sudah pergi kembali lagi. Hidup terus berjalan, biarlah semua jadi masa lalu.
"Masa depan kita masih panjang, sayang. Rahim kamu sehat dan baik-baik saja, kamu masih bisa mengandung kembali." Ucap Narendra sambil mengangkat dagu sang istri agar mau menatap nya. Pria itu tersenyum kecil, lalu mengusap pipi sang istri yang terlihat sedikit lebih tirus. Hanya seminggu saja, tapi mampu membuat tubuh Ayunda berubah seperti ini.
"Maaf, Mas. Seperti yang aku katakan kalau aku membutuhkan waktu untuk menerima semua ini, Mas. Dia berada disini, di dalam rahim ku selama lima bulan. Aku berjuang bersama nya, menahan semua rasa sakit selama itu, Mas. Tolong mengerti aku, Mas." Lirih Ayunda membuat Naren menatap wajah cantik sang istri dengan sendu.
Dia meraih tubuh sang istri ke dalam dekapan nya, dia memeluk hangat wanita itu dengan erat. Menyandarkan kepala wanita yang paling dia cintai setelah ibu nya itu di dada nya.
"Mas mengerti, maaf jika Mas terlalu menuntut kamu, sayang. Maaf.."
"Tidak apa-apa, Mas. Memang seharusnya aku belajar melupakan semua nya dan kembali menata hidup ku bersama mu, Mas."
"Kapanpun kamu siap, Mas akan selalu berada di samping mu, sayang. Jangan pernah merasa sendirian." Ucap Narendra sambil mengusap-usap kepala belakang sang istri.
"Terimakasih sudah mendampingi aku disaat seperti ini, Mas."
"Sudah kewajiban ku, sayang." Jawab Narendra. Dia mengecup lembut kening sang istri dengan mesra.
"Mungkin, kamu akan bosan mendengar nya tapi aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu, sayang."
"Aku juga, aku juga mencintaimu, Mas." Balas Ayunda sambil tersenyum. Naren pun menundukan kepala nya lalu mencium bibir Ayunda dengan mesra. Wanita itu menerima nya dengan senang hati, kedua nya berciuman dengan mesra. Hingga beberapa menit kemudian ciuman itu di sudahi lebih dulu oleh Narendra.
"Kamu semakin handal berciuman, sayang."
"Mas.." Rengek Ayunda sambil menepuk pelan dada bidang sang suami dengan manja. Narendra tertawa pelan, lalu kembali memeluk tubuh wanita itu. Hingga, bunyi panggilan telepon membuyarkan kemesraan sepasang insan yang saling mencintai itu.
Narendra merogoh ponsel nya, dia melihat nama pemanggil yang ternyata adalah Mark. Dengan cepat, Narendra menggeser ikon berwarna hijau untuk mengangkat telepon dari asisten nya itu.
__ADS_1
"Sebentar ya, istriku." Ucap Narendra sambil menjawil manja dagu sang istri. Ayunda menggelengkan kepala nya, Narendra pergi ke balkon untuk bicara dengan Mark, sedangkan Ayunda memutuskan untuk membereskan ranjang yang masih berantakan.
"Hallo, Mark. Ada apa?"
'Tuan muda ke kantor hari ini?' Tanya Mark di seberang sana.
"Iya, paling jam delapan aku sudah disana. Kenapa, Mark?" Balik tanya Narendra lagi.
'Baiklah, saya ada kabar baik. Sidang tuntutan lanjutan atas nama Tuan besar di setujui, Tuan muda.'
"Lalu, bagaimana nasib wanita gila itu, Mark?"
'Ada tambahan hukuman selama empat tahun, total hukuman wanita itu sekarang menjadi dua puluh tahun. Sedangkan Mona hanya di berikan denda 400 juta, karena dia hanya pesuruh dengan hukuman penjara selama sepuluh tahun, Tuan muda.' Jelas Mark yang membuat sudut bibir Narendra terangkat.
Dia cukup puas dengan hukuman yang di dapatkan oleh wanita gila itu, meskipun selama apapun dia di hukum, tentu saja takkan mampu mengembalikan buah hati nya yang sudah pergi meninggalkan mereka. Tapi dengan ini, dia merasa kalau hukuman itu cukup seimbang dan setimpal. Selama dua puluh tahun kemudian, barulah wanita itu akan bisa bebas, itupun kalau dia bisa bertahan dan tidak mati di penjara.
Peduli? Tidak, Narendra tidak peduli lagi. Baginya, Trisa hanya masa lalu kelam yang harus di lupakan, tidak perlu di kenang apalagi di buka kembali. Sudah cukup, dulu dia meninggalkan nya seolah membuang nya, tapi setelah dia berhasil melupakan wanita itu secara mati-matian, dia kembali datang dan sialnya dia mengusik ketenangan hidup nya dan juga sang istri.
"Itu cukup memuaskan, Mark. Terimakasih sudah mengurus kasus ini, apakah aku harus memberi mu bonus lagi?" Terdengar suara gelak tawa dari seberang telepon. Tapi kemudian..
'Terserah anda saja, Tuan.' Jawab Mark membuat Narendra terkekeh.
"Baiklah, nanti aku transfer di kantor. Aku sarapan dulu, Mark."
'Baik Tuan, semoga hari anda menyenangkan.'
"Kau juga, Mark." Balas Narendra. Pria itu pun mematikan telepon nya, dia pun kembali masuk ke dalam kamar. Tapi ternyata sang istri sudah tidak berada lagi di kamar, Narendra berpikir mungkin saja istri nya sudah berada di bawah untuk sarapan.
Narendra pun mengambil tas kerja nya, lalu keluar dari kamar. Dugaan nya benar, kalau istrinya sudah turun lebih dulu. Dia melihat istrinya sudah duduk manis di meja makan, sambil memakan kue buatan ibu mertua nya.
"Selamat pagi, Mami."
"Hey, Boy. Sudah turun rupanya, yakin kamu mau kerja hari ini?"
"Iya, Mi. Kasian Mark, nanti dia gak kuat malam pertamaan kalau Naren libur mulu, dia lembur terus selama beberapa hari ini karena Naren kan cuti." Jelas Narendra sambil tersenyum. Berbeda dengan Maya yang wajahnya sudah memerah karena merasa malu dengan ucapan Narendra. Belum juga menikah, sudah membahas malam pertama saja.
"Yaudah, sarapan dulu."
"Iya, Mami. Mana Papi?"
"Papi disini." Jawab Arvin sambil berjalan mendekat ke arah meja makan. Wajah nya nampak bersahabat pagi ini, padahal biasa nya pria itu selalu menunjukkan wajah datar nya.
"Hmm, papi sudah dengar tentang.."
"Trisa? Ya, dari pengacara kita." Jawab Arvin sambil duduk dan menunggu istrinya menyajikan makanan untuknya.
"Bagaimana menurut Papi?"
"Cukup memuaskan untuk Papi, bagaimana menurutmu?" Tanya Arvin balik. Narendra terlihat sedikit berpikir namun akhirnya dia menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu memulai jawaban nya.
"Naren juga merasa begitu, Pi. Aku rasa itu cukup memuaskan untuk seorang penjahat, semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk wanita itu." Ucap Narendra sambil menyuapkan makanan nya dengan perlahan.
"Tapi, sebenarnya itu belum seberapa dengan penderitaan yang di rasakan menantu ku!"
"Tidak apa-apa, Ayu sudah merasa baik-baik saja sekarang. Ke depan nya, kita harus lebih waspada." Jawab Ayunda sambil tersenyum, dia juga makan dengan lahap. Entahlah, sejak dia di nyatakan keguguran, Ayunda jadi lebih suka makan. Memakan apapun, dia pasti lahap.
"Papi rasa, sakitnya kehilangan takkan pernah sepadan jika hanya dengan hukuman sosial."
"Naren juga berpikir seperti itu, tapi tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang, Ayunda sudah baik-baik saja dan mulai menerima kenyataan meskipun belum sepenuhnya."
"Hmm, baiklah. Tadinya, Papi mau ngajukan banding lagi." Ucap Arvino yang membuat Ayunda menatap wajah papi mertua nya dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia senang? Tentu saja, dia senang karena memiliki papa mertua yang baik seperti Arvino. Dia sangat memperhatikan nya, bahkan mengkhawatirkan keadaan nya. Bahkan rela mengeluarkan banyak uang untuk membayar pengacara agar mengajukan tuntutan lanjutan tentang kasus ini setelah menantu nya di nyatakan keguguran.
Bayangkan saja, hati orang tua mana yang tak hancur melihat menantu yang sangat dia sayangi, juga calon cucu yang sangat dia nantikan kehadiran nya, di nyatakan tidak bisa bertahan karena obat penggugur kandungan yang di berikan Mona atas suruhan Trisa dalam dosis tinggi itu membuat janin di kandungan Ayunda tak bisa di selamatkan. Sakit? Jangan di tanya lagi, sakitnya terasa seperti ada pedang yang menusuk jantung nya.
"Tidak perlu, Papi. Ayu baik-baik saja, jangan seperti ini. Ini sudah cukup adil bagi Ayunda." Ucap Ayunda membuat Arvin tersenyum kecil.
"Kau masih membela orang yang sudah membuat mu menderita, sayang? Papi heran, hati kamu terbuat dari apa hmm?"
__ADS_1
"Papi, tidak seperti itu. Hanya karena orang itu jahat pada kita, bukan berarti kita harus membalas nya dengan hal serupa bukan? Kalau kita melakukan hal seperti itu, kita juga akan sama seperti nya kan?" Tanya Ayunda yang membuat semua orang yang ada disana tersenyum. Hati Ayunda benar-benar baik, bukan hanya wajah nya yang cantik tapi hatinya juga.
"Kamu memang perempuan yang baik, bahkan disaat orang menjahati mu saja, kau masih bisa mengatakan hal ini."
"Sebenarnya, Ayunda agak kurang setuju saat Papi mengajukan tuntutan lanjutan. Karena enam belas tahun penjara, bagi Ayunda itu sudah cukup untuk menebus semua kesalahan Trisa. Tapi, Ayunda tidak berhak melarang kehendak Papi bukan? Karena Ayunda yakin dan percaya, Papi melakukan itu untuk kebaikan Ayunda juga kan?"
"Tentu, papi melakukan semua ini karena Papi merasa semua itu tidak sepadan dengan apa yang sudah dia lakukan padamu, Nak. Papi sayang sama kamu, papi saja tidak pernah melakukan hal sejahat itu, jangankan seperti itu membentak mu saja Papi tidak pernah. Tapi kenapa orang asing bisa melakukan hal sekeji itu?" Ucap Arvin sambil menggelengkan kepala nya.
"Tidak apa-apa, Papi. Sekarang Ayunda sudah baik-baik saja."
"Syukurlah kalau kamu sudah merasa lebih baik sekarang, Papi merasa sedikit tenang."
"Boy, kali ini pilihan kamu gak salah." Ucap Melisa yang membuat Narendra tersenyum manis. Apa yang di katakan sang ibu memang benar, kali ini pilihan nya tidak salah. Keputusan nya untuk menikahi Ayunda, sudah benar-benar tepat.
"Iya, Mami."
Setelah perbincangan itu, mereka semua pun melanjutkan makan mereka dengan lahap. Setelah selesai sarapan, Narendra pun pergi ke kantor. Begitu juga dengan Arvin, hari ini dia ingin pergi ke perusahaan untuk sekedar melihat-lihat saja sekalian berkunjung kesana. Sudah lama sejak dia meminta putra nya untuk melanjutkan perusahaan nya itu.
"Mami, ada yang bisa Ayu bantu?"
"Gak ada, sayang. Duduk aja, tuh ngemil kue. Mami buatin buat kamu." Ucap Melisa sambil menunjuk sepiring kue yang sengaja Melisa siapkan untuk Ayunda.
"Kenapa? Kok diem? Biasa nya, kamu paling suka kalau Mami buat kue." Ayunda tersenyum kecil, jujur saja dia memang sangat menyukai kue kering rasa coklat buatan sang Mami mertua.
Ayunda mengambil satu keping kue kering itu lalu memakan nya, lagi-lagi Ayunda tersenyum kecut saat merasakan kue coklat itu. Dia menatap kue itu dengan sendu, dulu saat dia hamil setiap hari dia akan merengek pada Melisa untuk membuatkan nya kue seperti ini atau membuatkan salad buah kesukaan nya. Tapi sekarang, dia tidak hamil lagi.
"Kok malah sedih gitu, kamu kenapa?"
"Gapapa kok, Mami. Ayu baik-baik saja."
"Sayang, cerita sama Mami dong. Jangan di pendam sendiri."
"Cuma keinget aja kok, Mi." Jawab Ayunda membuat Melisa mengusap rambut panjang wanita itu dengan lembut.
"Mami mengerti kok, kamu bisa cerita apapun sama Mami. Sakit ya?"
"Iya, Mami. Sakitnya jahitan disini, tidak sebanding dengan rasa sakit di hati Ayu, Mi." Jawab Ayunda sambil menundukan kepala nya.
"Tapi sekarang, wanita yang melakukan ini sudah di hukum seberat-beratnya."
"Ayunda malah sedih karena dia di hukum seperti ini, Mi. Ayunda tau, kalau perbuatan nya emang salah, Ayunda juga gak membenarkan perbuatan Trisa, tapi.."
"Jangan terlalu baik, sayang. Ini sebuah pelajaran, dia harus di hukum sesuai dengan perbuatan nya. Dia sudah membuat bayi mu pergi, bahkan sebelum kita semua merasakan kebahagiaan karena lahirnya dia kedunia." Ucap Melisa yang membuat Melisa berkaca-kaca. Benar, apa yang di katakan mami mertua nya memang benar.
Namun sesama wanita, apakah itu tidak terlalu jahat? Tidak, jelas tidak. Semua yang di lakukan Trisa memang tidak bisa di benarkan karena yang di lakukan nya adalah sebuah kesalahan fatal. Wajar saja jika Arvin marah, karena ini berhubungan dengan nyawa. Ayunda masih beruntung karena dia bisa selamat, rahim nya juga tidak bermasalah jadi ke depan nya dia akan bisa mengandung lagi.
"Itu sudah setimpal dengan semua perbuatan nya, sayang."
"Iya, Mami."
"Kita makan kue di taman bunga yuk? Sambil liatin bunga-bunga kesukaan kamu itu, jam segini pasti banyak kupu-kupu." Ajak Melisa. Tujuan nya, hanya agar Ayunda bisa melupakan sejenak rasa sakitnya karena di tinggalkan calon buah hatinya. Disaat seperti ini, jangan pernah membiarkan seorang wanita sendirian karena dia akan merasa kesepian.
"Iya, Ma. Ayu mau.." Jawab Ayunda dengan antusias. Melisa membawa kue nya dan kedua nya pun pergi ke belakang untuk menikmati suasana yang masih pagi ini di taman, sekalian sambil berjemur biar gak kena penyakit kuning.
Kedua nya duduk di bangku panjang yang ada di taman itu, aroma wangi dari bunga mawar itu semerbak memenuhi indra penciuman. Ayunda menghela nafas nya dalam-dalam, dia menghirup aroma bunga yang menenangkan ini sebanyak-banyaknya. Selain cantik, bunga mawar biru juga memiliki aroma yang sangat harum. Mengalahkan wangi bunga mawar biasa.
"Bukti cinta suami mu yang di tuangkan dalam bentuk nyata." Ucap Melisa yang membuat Ayunda tersenyum manis. Tidak perlu di tanyakan lagi seperti apa kebahagiaan yang di rasakan oleh Ayunda sekarang. Dia merasa hidup nya lebih berwarna, lebih berharga setelah memiliki Narendra, Melisa dan Arvin di samping nya.
Padahal dulu, dia merasa hidup nya hanya lah sebuah beban. Namun sekarang, dia sangat bersyukur karena dia bisa bertahan sejauh ini. Dalam cobaan yang berat dan menyakitkan, Ayunda bisa melewati nya. Bahkan sekarang, dia bisa menghadapi nya. Dia merasa lebih kuat saat ini karena memiliki ketiga nya di samping nya. Jadi, tidak perlu menanyakan seberapa berharga nya suami dan mertua nya bagi Ayunda karena mereka semua sangat berharga bagi Ayunda.
'Aku sangat bersyukur bisa mengenal kalian semua. Aku sangat bahagia, sangat bahagia. Terimakasih diriku sendiri, karena bisa bertahan sejauh ini dengan semua cobaan yang kita jalani, terimakasih sudah kuat.'
'Semua rasa sakit yang aku rasakan dulu dan sekarang, membuat pundak ku lebih kuat. Dulu, aku selalu sendirian menjalani semua nya hanya dengan air mata. Namun sekarang, aku tidak mengenal apa itu air mata. Tidak ada yang membuat aku menangis sekarang, kecuali kemarin. Semoga itu yang terakhir kalinya, setelah ini aku harap hidupku hanya di penuhi oleh kebahagiaan.'
.....
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1