
Malam hari nya, pasangan suami istri itu pun turun dari kamar. Seperti biasa, ekspresi kedua nya terlihat sangat jauh berbeda. Narendra dengan wajah berbinar, sedangkan Ayunda terlihat sebaliknya. Tapi rambut mereka sama-sama basah.
"Gak masuk angin apa ya itu setiap hari keramas." Celetuk Arvin saat melihat kedua nya menuruni tangga dengan perlahan, Narendra terlihat menggenggam tangan istri nya dengan erat.
"Diem, kamu dulu juga gitu lho."
"Eehh hehe, itu kan sebelum encok sama sakit pinggang melanda, Mi." Jawab Arvin sambil cengengesan.
"Iya, Mami tahu. Kalo sekarang, main lima menit aja sakit nya berminggu-minggu." Ucap Melisa dengan ketus.
"Maafin Papi ya, Mi."
"Gapapa, gitu-gitu juga Mami tetap cinta sama Papi." Jawab Melisa membuat Arvin tersenyum.
"Bucin teroooss, gak nyadar udah pada tua juga." Celetuk Narendra yang membuat pasutri itu langsung terdiam seketika.
"Mas, gak baik kayak gitu sama orang tua sendiri." Bisik Ayunda, tapi Narendra yang memang pada dasarnya sudah jahil, sangat senang menggoda kedua orang tua nya hingga wajah kedua nya memerah, seperti sekarang ini.
"Mami, masak yuk?" Ajak Ayunda. Melisa pun langsung mengiyakan dan kedua wanita berstatus menantu dan mertua itu pun pergi ke dapur. Tempat favorit bagi kaum perempuan, termasuk Ayunda. Dia suka berada berlama-lama di dapur setiap hari nya.
"Tadi kenapa langsung ke kamar aja gak nungguin Papi dulu?" Tanya Arvin sambil memakan martabak telur yang masih tersisa.
"Sebel sama Mami, makin lama kok pilih kasih ya?"
"Hah, pilih kasih gimana? Gak ada tuh Mami pilih kasih, ngada-ngada aja kamu."
__ADS_1
"Bener lho, Mami pilih kasih. Yang anak nya itu aku kan? Tapi yang di sambut tadi pas Naren pulang ngantor itu Ayunda, bukan Naren."
"Hoalah, cemburu toh?" Tanya Arvin sambil tertawa, sedangkan Narendra hanya mendelik sebal ke arah sang papi.
"Ckk, gak lucu!"
"Astaga, Boy. Kamu ini laki-laki lho, masa begitu aja kamu cemburu hmm? Harusnya, kamu seneng kalau istri kamu bisa deket sama Mami kamu."
"Ya, Naren sih seneng-seneng aja. Tapi kan kalo di rumah, Ayunda tuh langsung di hak milik sama Mami. Padahal kan Naren pengen manja-manjaan sama istri Naren, Pi." Jawab Narendra membuat Arvin terkekeh pelan.
"Mau papi bilangin sama Mami?"
"Eehh, gak usah Papi. Kayak gak tahu gimana Naren aja, cuma bercanda doang kok." Jawab Narendra. Jujur saja, dia memang agak sedikit kesal dengan sang Mami, tapi dia takut kalau melihat Mami nya marah. Bisa-bisa nya dia di cincang oleh wanita yang sudah melahirkan nya puluhan tahun yang lalu itu.
"Heleh, bilang aja kamu takut sama Mami."
"Dih, mana ada. Laki-laki tuh gak boleh takut sama wanita." Jawab Arvin seolah dia tidak takut dengan istri nya, padahal ya sama saja. Dia klan susis, alias suami takut istri.
"Ehemm.." Melisa yang baru saja pulang dari kebun belakang mendengar percakapan antara ayah dan anak itu. Dia mendekat saat mendengar suami nya mengatakan kalau dia tidak takut pada nya.
"Aduh, Mami maafin Papi ya, Mi."
"Apa nya?"
"Hehe, enggak kok Mi. Habis dari mana?"
__ADS_1
"Dari kebun ngambil tomat sama buncis, kalian mau kopi atau teh?" Tawar Melisa.
"Naren kopi aja, Mi. Lagi pengen kopi hitam gak usah di kasih gila ya."
"Tumben.."
"Gak tahu, lagi pengen aja, Mi." Jawab Narendra. Tiba-tiba saja dia menginginkan kopi hitam tanpa gula, padahal biasa nya dia tidak terlalu suka meminum kopi. Kalau pun minum kopi, pasti kopi latte karena dia tidak suka dengan sensasi pahit dari kopi. Tapi sekarang, dia malah menginginkan kopi hitam pahit tanpa gula.
"Yaudah, Papi?"
"Teh hangat aja, Mi." Jawab Arvin. Melisa pun mengangguk, lalu pergi ke dapur.
"Ehem, siapa yang katanya gak takut sama istri?"
"Gak usah di bahas, diem." Ketus Arvin membuat Narendra tertawa penuh kepuasan saat melihat wajah tertekan sang ayah.
"Lucu banget muka Papi kalo panik.."
"Ckk, nyebelin!"
"Lah, Papi juga sama. Aku nyebelin kayak gini kan turunan dari Papi."
"Mana ada!"
"Ada lah, aku bukti nya. Aku kan putra Papi, jelas ada darah papi mengalir di tubuh aku." Jawab Narendra. Kalau sudah begini, sebaiknya diam saja. Karena memang benar, Narendra adalah putra nya, darah daging nya sendiri. Jadi sedikit banyak nya, pasti sifat-sifat nya ada yang menurun dari nya. Sifat sepeda itu pasti turun temurun dari bapak nya, orang yang punya gen yang cukup kuat pada anak.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻