Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 6 - Rencana


__ADS_3

"Hallo Boy, sudah pulang?" Sapa Arvin pada putra nya yang baru saja pulang dengan wajah kuyu nya. 


"Hmm, iya sudah, Pi." Jawab Naren sambil tersenyum kecil. 


"Ohh, sayang. Kamu ingin makan?" Tanya Melisa, wanita itu baru saja keluar dari dapur dengan celemek yang menempel di tubuh nya. 


"Belum ingin, Mom. Aku ingin beristirahat saja, hari ini sangat melelahkan."


"Ya sudah, bersihkan tubuh mu ya. Lalu turun untuk makan, Mami memasak banyak makanan enak kesukaan kamu lho." Ucap Melisa sambil mengusap lembut tangan putra nya.


"Oke, Mom." Jawab Naren, dia pun pergi dari ruang depan dan masuk ke dalam kamar nya. Naren menutup pintu dengan perlahan, lalu membaringkan tubuh nya di atas ranjang. Dia memejamkan kedua mata nya, tapi baru saja berapa detik dia memejamkan mata nya, suara ponsel nya terdengar nyaring membuat Naren segera mengambil ponsel dari dalam saku nya itu.


Pemuda berwajah tampan itu menghela nafas saat melihat siapa yang menelpon nya. 


"Ya, hallo.."


'Hallo, bro. Sedang dimana?' Tanya seseorang di balik telepon nya. 


"Di rumah, baru saja pulang. Ada apa kau menghubungi ku?" Balik tanya Naren. 


'Nanti malam free kan? Kita ngumpul-ngumpul di bar. Gimana?' Tanya nya, membuat Naren berfikir. Dia memang sudah lama meninggalkan kebiasaan nya, lebih tepat nya setelah dia menjalin hubungan dengan Trisa. Lalu, sang ayah juga meminta nya untuk menggantikan posisi nya di perusahaan, jadi dia harus membangun image yang baik, agar bawahan nya tidak ada yang mengikuti kelakuan nya. 


"Ya, malam ini aku ikut." Jawab Naren, tak ada salah nya jika dia kembali dengan kehidupan nya yang dulu. Hanya saja jangan terlalu memfokuskan diri saja, mau bagaimana pun dia seorang pemimpin saat ini. 


'Seriously?' Tanya nya seolah tidak percaya dengan jawaban Naren, karena sudah lama sekali dia tidak ikut bergabung dengan teman-teman nya. Sekarang, tiba-tiba saja dia setuju untuk ikut nongkrong. 


"Yeah, aku akan kesana jam delapan nanti."


'Oke, kami tunggu di tempat biasa.' 

__ADS_1


"Ya." Jawab Naren, panggilan pun selesai dengan dia yang mengakhiri nya lebih dulu. Narendra melempar ponsel canggih keluaran terbaru itu ke atas ranjang, dia pun beranjak dari tidurnya, lalu membuka kaca besar yang menghubungkan kamar nya dengan balkon. 


Naren menikmati angin yang berhembus di sore hari ini. Langit terlihat sangat cerah, berbeda dengan keadaan hati Naren saat ini yang sedang di landa rindu. Padahal, disana mungkin saja Trisa tidak peduli padanya. 


Naren menghela nafas nya, lalu menghembuskan nya dengan kasar. Dia rasa, ini memang sudah saat nya dia mencoba melupakan masa lalu nya dengan Trisa. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalau gadis itu kembali datang, Naren bisa saja memaafkan gadis itu dan juga kembali padanya. Tidak peduli meskipun gadis itu sudah sangat menyakiti nya.


Pria itu pun kembali masuk ke dalam kamar dan membersihkan tubuh nya, dia juga turun ke bawah untuk makan malam sesuai dengan permintaan sang ibu. 


"Malam, Mom."


"Malam, sayang. Mau makan sekarang?"


"Iya, Mom." Jawab Naren, Melisa pun tersenyum lalu menyajikan makanan nya di depan sang putra. 


"Terimakasih, Mom."


"Sama-sama, sayang. Makan yang banyak ya?" Naren menganggukan kepala nya, memang akhir-akhir ini putra nya jarang makan. Setelah kandas nya hubungan Naren dengan Trisa, putra nya seolah menjelma menjadi sosok yang berbeda. Dia lebih pendiam dan banyak melamun, bahkan selera makan nya juga menurun hingga pernah di rawat di rumah sakit karena kondisi nya yang drop. 


Dia sudah mencoba berlapang dada dan akan merestui hubungan mereka, kalau Naren bahagia. Tapi, kenyataan nya tidak. Gadis itu malah memilih mengakhiri hubungan mereka demi pekerjaan yang selama ini lakoni. Bukankah itu sudah cukup membuktikan kalau Trisa bukanlah gadis yang baik dan cocok untuk mendampingi Naren? Benar kan?


"Kakek kemana, Mom?" Tanya Naren di sela makan nya.


"Tadi sih, pamitnya mau reunian sama teman-teman sebaya nya tadi, sambil makan malam gitu."


"Ohh, begitu ya? Reuni lansia." Ucap Narendra sambil tersenyum kecil. 


"Iya, reunian sesama kakek-kakek." Celetuk Arvin, membuat Melisa terkekeh begitu mendengar ucapan suami nya. 


"Udah-udah, lanjutin aja makan nya." 

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, mereka pun selesai dengan acara makan malam nya. Naren pun berpamitan untuk pergi lebih dulu dan semua nya pun menganggukan kepala mereka mengizinkan. 


Tak lama kemudian, hanya berselang beberapa menit saja, Naren sudah turun dengan pakaian santai nya. Kemeja berwarna hitam yang lengan nya di gulung hingga ke siku, celana jeans abu dan sepatu kets berwarna putih kesukaan nya. 


"Lho, mau kemana lagi?" Tanya Arvin. 


"Mau kumpul sama temen-temen, Pih." Jawab Naren sambil tersenyum kecil. 


"Nah, gitu dong. Papi senang kalau kamu mau keluar seperti dulu, bukan nya ngurung diri aja di kamar. Jangan galau terus, kayak gak laku lagi aja." Celetuk Arvin sambil terkekeh. 


"Iya, sayang. Kayak gak ada wanita lain aja, di dunia ini kan wanita itu bukan cuma Trisa doang." 


"Hmmm, iya iya." Jawab Narendra. Dia selalu heran, kenapa kedua orang tua nya seolah tidak mendukung hubungan nya dengan Trisa, malah sebaliknya. Mereka terlihat senang saat dia mengatakan kalau hubungan mereka berakhir. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk putra mereka, berarti ada yang salah dengan Trisa. Makanya kedua orang tua nya tidak menunjukkan sikap apapun, bahkan saat dia mengenalkan Trisa pada Arvin dan Melisa. 


"Yaudah, hati-hati di jalan nya. Jangan malem-malem pulang nya ya? Jangan terlalu banyak minum." Peringat Melisa. 


"Iya, Mom." Jawab Narendra, dia pun mengecup kening dan pipi Melisa, lalu pergi keluar dari rumah. Dia mengambil kunci mobil yang tergantung di garasi, dia pun mengemudikan nya dengan kecepatan sedang. 


Sedangkan di lain tempat, Ayunda terlihat sedikit ketakutan saat Roy membawa nya ke suatu tempat. Dia memang bersama Fira dan Yola, tapi tetap saja ini adalah pertama kali nya dia berada di tempat seperti ini. Di dalam nya, ada banyak orang-orang yang minum. 


Bau alkohol membuat Ayunda merasa mual, belum lagi suara musik yang keras membuat kepala nya terasa pusing. Dia menggandeng lengan Fira dengan erat, sedangkan Yola dan Roy tidak ragu-ragu menunjukkan kemesraan mereka. Akhirnya, Ayunda pun tahu hubungan kedua nya. 


"Kamu kenapa, Ay?" Tanya Fira, gadis itu menggeleng. 


"Bau nya bikin muntah, suara musik nya bikin kepala aku sakit. Ini orang-orang ngapain ya bawa kita ke tempat ginian?" Tanya balik Ayunda. Sebenarnya, Fira merasa bersalah pada gadis itu. Mau bagaimana pun, dia bukanlah gadis yang baik. Dia juga hampir sama dengan Yolanda, hanya saja dia tidak pernah melakukan nya bersama Roy karena dia tidak sanggup menyakiti Mariska yang sudah begitu baik pada nya. 


'Maafin aku, Yu. Aku gak bisa ngasih tahu kamu yang sebenarnya.' Safira membatin. Tidak terbayang akan seperti apa reaksi Ayunda nanti nya. Tapi, dia terlalu takut dengan ancaman Roy kalau rencana ini sampai bocor. 


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2