
"Selamat pagi, mami.." Sapa Narendra dengan senyuman yang terkembang di bibir nya. Terlihat jelas wajah pria itu nampak berbinar sekali, membuat kening Melisa mengernyit heran. Kira-kira, apa yang membuat putra nya ini sebahagia ini pagi-pagi?
"Pagi, Boy. Ada apa ini?"
"Ada apa nya, Mi? Naren baik-baik saja kok."
"Ya, Mami tahu kalau kamu baik-baik saja. Kalau kamu sakit, kan gak mungkin disini palingan di kamar aja. Lagian, wajah kamu tuh gak keliatan kayak orang sakit." Ucap Melisa, dia bertanya-tanya kira nya apa yang membuat wajah Naren secerah ini.
"Hehe, iya juga sih Mi."
"Jadi, kenapa kamu? Wajah kamu cerah sekali, bikin Mami penasaran aja."
"Hehe, mami gak inget ya kalau hari ini Naren ulang tahun?" Tanya Narendra pelan. Melisa terhenyak, bagaimana bisa dia melupakan moment pertambahan usia sang putra?
"Boy.."
"No problem, Mami. Naren paham kok, ingatan mami sudah agak buruk." Ucap Narendra. Dia paham, kalau Melisa sering lupa sekarang karena faktor usia nya. Dia memang sudah tua saat ini, putra nya saja sudah besar dan sukses.
"Maafin Mami, sayang."
"Tidak apa-apa, Mami." Jawab Narendra. Melisa pun memeluk tubuh besar putra nya, Naren juga membalas pelukan sang ibu dan mengusap punggung nya dengan lembut.
"Selamat ulang tahun, putra Mami. Putra kebanggaan Mami dan Papi."
"Terimakasih, Mami." Jawab Narendra sambil tersenyum manis. Dia bahagia, bahkan hanya dengan ucapan sang Mami. Hanya ucapan, namun karena ketulusan nya membuat Narendra merasakan hatinya bahagia.
"Sama-sama, sayang. Maafin Mami ya, jujur Mami lupa banget."
"Gapapa Mami. Apa Mami tahu? Ayunda memberikan hadiah yang sangat berkesan lho buat Naren." Ucap Narendra dengan antusias, membuat Melisa yang sedang mewek bombay itu seketika mengusap air mata yang membasahi pipi nya dengan tangan.
"Istrimu gak lupa sama ulang tahun kamu, Boy?"
"Hehe, justru dia yang ngingetin, Mi. Soalnya aku juga lupa kalah hari ini aku ulang tahun." Jawab Naren sambil tersenyum kecil.
"Astaga, kamu terlalu banyak bekerja, Nak. Sampai kamu melupakan hari ulang tahun kamu sendiri." Ucap Melisa sambil mengusap wajah tampan putra nya dengan lembut.
"Jadi, hadiah apa yang istri kamu berikan, Nak?"
"Ayunda.."
"Ayo dong, jangan setengah-setengah ngomong nya. Mami penasaran sampai perut Mami mules ini saking gugup nya." Ucap Melisa sambil mengusap perut nya, Narendra tertawa. Namun, dia mendapatkan hadiah geplakan di lengan nya.
"Sakit.."
"Cepetan ngomong nya makanya!"
"Hehe, maafin. Ayunda hamil, Mami." Jawab Narendra yang membuat Melisa terdiam seketika. Mata nya membulat dengan mulut yang menganga.
"H-ahh?"
"Iya, Ayunda hamil." Ucap Naren lagi membuat Melisa menggelengkan kepala nya.
"Jangan bilang ini bohongan, Ren. Gak lucu!"
"Lah, mami pikir Naren bohong? Mana ada, Ayunda benaran hamil lho." Jawab Narendra membuat Melisa masih belum percaya dengan ucapan putra nya.
"Beneran?"
"Astaga, Mami. Gak percayaan amat sama Anak sendiri. Heran deh."
"Ya soalnya kamu suka bercanda, jadi Mami gak bakalan gampang percaya sama kamu!"
"Tapi, kali ini Naren serius, Mami. Istri Naren lagi hamil sekarang." Jawab Narendra, membuat kedua mata Melisa berkaca-kaca. Dia mendapatkan kabar baik yang selama ini dia tunggu-tunggu.
"Terimakasih, Ya Tuhan." Gumam Melisa sambil menangis tergugu di dekat meja makan, Narendra yang melihat hal itu langsung memeluk sang ibu dan mengusap-usap punggung nya dengan pelan.
"Mami gak nyangka kalau Ayu akan hamil lagi dalam waktu yang singkat seperti ini, Ren."
"Jangankan Mami, Ayu sama Naren aja gak nyangka kalau dia bisa hamil lagi padahal jarak nya baru empat bulanan." Jawab Narendra membuat Melisa tersenyum kecil.
"Jaga cucu sama menantu Mami dengan baik, Boy. Mami gak mau kejadian buruk terjadi lagi sama kedua nya."
"Iya, Mami. Kali ini Naren berjanji akan lebih waspada lagi untuk menjaga istri Naren."
"Baguslah, sekarang kemana menantu Mami?" Tanya Melisa sambil menatap putra nya.
"Di kamar, Ayunda lagi istirahat. Dia morning sickness, parah banget jadi badan nya lemes." Jelas Narendra membuat Melisa terkejut.
"Buat teh jahe, biar mual nya gak terlalu parah." Ucap Melisa. Dia langsung mengambil jahe dan teh, juga lemon lalu membuat teh untuk menantu nya. Cuaca disini memang bukan main dingin nya, jadi dia harus membuatkan minuman yang hangat agar Ayunda tidak masuk angin dan semacam nya.
"Ini, bawa ke kamar. Temenin istri kamu, nanti Mami bikinin dia sup biar ada tenaga."
"Iya, Mami. Terimakasih."
__ADS_1
"Sama-sama, bilangin sama Ayu jangan banyak berpikiran berat-berat. Kamu juga, jangan gempur istri kamu ya? Inget dia lagi hamil muda."
"Hehe, iya Mami. Niat Naren kesini kan mau bulan madu biar dapet anak, kalo anak nya udah jadi ya tinggal nunggu aja." Jawab Naren sambil tersenyum kecil.
"Ya sudah, cepetan bawa teh nya."
"Iya, Mami." Jawab Narendra. Dia pun membawa segelas teh jahe buatan sang ibu ke kamar. Melisa tersenyum kecil ketika melihat punggung putra nya itu menjauh dengan membawa teh untuk istri nya.
"Terimakasih, karena engkau telah memberikan kesempatan kedua untuk putra dan menantu ku. Terimakasih karena telah memberikan kepercayaan untuk kedua nya memperbaiki semua nya." Gumam Melisa sambil tersenyum. Dia benar-benar merasa sangat bersyukur karena kabar berita yang dia dapatkan ini.
"Lho, mami kenapa senyam senyum sendiri?" Tanya Arvino yang baru saja bangun. Dia langsung ke dapur setelah membersihkan tubuh nya, terlihat dari rambut Arvin yang masih basah.
"Anak kita ulang tahun lho, Pi."
"Lah iya, aduh dia marah gak ya kalau Papi lupa?"
"Kayaknya iya kalo sama Papi, kalo sama Mami sih enggak." Jawab Melisa sambil tersenyum jahil. Arvino mendelik kesal pada istrinya itu.
"Mendelik gitu sama Mami sekali lagi, Mami ogah ngasih Papi jatah!"
"Lah, haha. Iya iya, maafin Mas ya istri cantik nya Mas."
"Iya iya.." Jawab Melisa sambil memotong-motong sayuran. Jangan tanyakan keberadaan sang tuan rumah, pagi-pagi sekali mereka sudah ke kantor untuk bekerja. Disini, mereka memang mengelola beberapa perusahaan yang mereka rintis berdua. Jadi, kedua nya sama-sama memiliki karir, kedua nya juga tak kalah hebat nya dalam dunia bisnis.
"Kopi dong, Mi." Pinta Arvino, Melisa pun dengan cepat membuatkan kopi hitam untuk suami nya. Setelah siap, dia memberikan kopi itu pada suami nya.
"Papi tau gak.."
"Gak tau, kan Mami belum ngomong."
"Ya harusnya, Papi jangan motong ucapan Mami dulu dong."
"Hehe, maaf Mami. Jadi kenapa?"
"Kita bakalan jadi kakek nenek." Jawab Melisa sambil tersenyum bahagia.
"Kakek nenek?"
"Iya, Pi." Jawab Melisa.
"Siapa yang hamil, kamu?"
"Astaga, Papi. Ya kali aku hamil lagi, kalau aku mau hamil kenapa gak dari dulu aja pas aku masih muda?"
"Kamu bakalan punya cucu, dari siapa coba? Inget, anak kamu cuma satu lho."
"Jadi, maksud mu Ayunda hamil lagi?" Tanya Arvino. Tiba-tiba, ingatan nya mengingat kalau dia memang hanya memiliki satu anak dan artinya Ayunda yang hamil kan.
"Iya, Papi. Ayunda sedang hamil sekarang."
"Kata siapa, Mi?" Tanya Arvino lagi sambil menyeruput kopi nya secara perlahan karena kopi nya masih sangat panas karena baru saja di siapkan oleh Melisa.
"Kata Narendra."
"Syukurlah kalau begitu, Papi seneng dengernya." Ucap Arvino sambil tersenyum. Hati nya kini berbunga setelah mendengar kabar kehamilan menantu nya.
"Papi seneng?"
"Seneng banget, ini perut Papi kayak ada ribuan kupu-kupu yang terbang deh." Jawab Arvino sambil mengusap perut nya sambil terkekeh.
"Seneng banget kan, kita bakalan jadi kakek nenek."
"Iya, menyenangkan sekali." Jawab Arvin sambil tersenyum.
"Mami gak nyangka kalau Ayunda bakalan bisa hamil lagi dalam waktu dekat."
"Ini sudah takdir, Mami. Mustahil semua ini terjadi tanpa ada nya campur tangan yang di atas." Ucap Arvino yang membuat Melisa kembali berkaca-kaca. Ingatan nya kembali ke moment dimana, Ayunda harus kehilangan bayi nya yang sudah menghuni rahim nya selama lima bulan.
Dia melihat sendiri sehancur apa Ayunda ketika dia di tinggalkan oleh buah hati yang bahkan belum pernah mereka lihat dan temui, bahkan Ayunda sempat mengalami depresi selama beberapa bulan. Namun, Arvin dan Melisa gerak cepat dengan membuat menantu nya itu melakukan terapi bersama psikolog untuk menyembuhkan penyakit mental nya itu.
Hasilnya sangat baik, meskipun sering kali Ayunda masih suka bengong sendirian sambil mengusap-usap perut nya yang rata, lalu menangis. Tapi, berkat dukungan keluarga terdekat, terutama dukungan suami dan orang tua, akhirnya Ayunda bisa keluar dari situasi yang buruk itu.
Meskipun membutuhkan waktu untuk bisa berdamai dengan rasa sakit, tapi akhirnya Ayunda mampu melewati semua nya dan saat ini dia kembali di percaya untuk mengandung buah hati kedua nya bersama Narendra.
Benar kata pepatah, akan ada pelangi setelah badai. Badai nya sudah berlalu, kini pelangi itu tengah melengkung indah di kehidupan Naren dan Ayunda. Seperti kata Arvin tadi, ini semua sudah takdir dan mustahil jika tanpa campur tangan maha pemilik segala nya, kematian dan kehidupan ada di tangan nya.
"Jangan bengong gitu dong, Mi."
"Aahh iya, Mami hanya ingat ketika Ayu depresi hari itu. Mengingat nya membuat hati Mami sakit, apalagi saat Mami harus melihat seperti apa hancur nya Ayunda saat itu." Lirih Melisa.
"Tak baik jika masa lalu terus di ingat, Mami. Yang sudah terjadi biarlah terjadi, sekarang fokuslah dengan apa yang ada di depan kita. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, kita harus lebih waspada dalam menjaga menantu kita." Ucap Arvino sambil meraih tangan istrinya lalu menggenggam nya dan mengusap punggung tangan sang istri yang mulai keriput. Pria itu mendekatkan punggung tangan sang istri lalu mengecup nya, membuat wajah Melisa memerah.
Mereka memang sudah tua, tapi sampai sekarang tidak ada yang berubah dari perasaan Arvino dan Melisa. Kedua nya masih saling mencintai satu sama lain, berpuluh tahun berlalu namun tidak ada yang berubah dengan perasaan pria itu. Begitu pula dengan Melisa, sampai saat ini dia hanya mencintai sosok Arvino Sanjaya, pria yang bagi nya dia anggap sebagai pahlawan.
__ADS_1
"Papi.."
"Iya, sayang. Kenapa hmm?"
"Aku malu.."
"Hahaha, kita kan udah lama nikah, sayang. Masa masih malu?"
"Gak tau tuh, masih malu aja." Jawab Melisa sambil menutup wajah nya dengan kedua tangan. Sudah tua, bukan nya semakin renggang tapi pasangan suami istri ini malah semakin lengket bak pasangan pengantin baru. Hubungan mereka selalu adem ayem, nyaris tidak pernah ada pertengkaran di antara kedua nya.
Memang nya mau memperdebatkan apa? Tidak ada, masalah ekonomi stabil, bahkan Arvin memiliki kekayaan. Jadi, tidak ada hal yang mengharuskan kedua nya bertengkar. Adem ayem sekali memang, selama berpuluh-puluh tahun hidup bersama mereka selalu akur dan romantis.
"Mau masak apa hari ini, yang?"
"Aku janji mau bikin sup ayam, biar Ayunda ada tenaga. Soalnya kata Naren, menantu kita itu mengalami morning sickness parah lagi kayak dulu. Jadi sekarang dia lemes."
"Di buatin teh jahe kali, Mi."
"Udah, Papi. Tadi di bawa kok sama Naren." Jawab Melisa sambil tersenyum.
"Hmm, syukurlah kalau begitu." Ucap Arvino sambil tersenyum. Dia kembali meminum kopi hitam yang di buatkan oleh sang istri dengan perlahan, Arvin juga memakan kue yang di buat oleh Melisa.
"Mas, makan siang mau apa?" Tanya Melisa.
"Aku makan apapun yang kamu masak, sayang." Jawab Arvino sambil tersenyum. Melisa pun menganggukan kepala nya, dia memilih untuk memasak menu yang sederhana saja agar tidak terlalu repot dan melelahkan.
Sedangkan di kamar, Ayunda masih meringkuk di atas ranjang nya sambil menutupi tubuh nya dengan selimut. Wanita itu merasakan dingin luar biasa, membuat tubuh nya menggigil.
Tak lama kemudian, Narendra masuk dengan membawa segelas minuman yang tadi di buatkan oleh sang Mami.
"Sayang.." Panggil Narendra sambil menutup kembali pintu kamar nya agar tidak terlalu dingin.
"Hmm, iya Mas. Ada apa?"
"Ini minum dulu, teh jahe biar anget badan nya." Ucap Narendra. Barulah Ayunda beranjak dari tidurnya, lalu meminum teh jahe yang di ulurkan oleh sang suami. Rasa hangat menghangati kerongkongan nya, terasa hangat dan sangat enak. Perut nya juga terasa hangat sekarang.
"Enak banget teh nya, Mas."
"Habisin, sayang. Mami yang bikinin lho." Ucap Narendra sambil tersenyum kecil.
"Mami? Apa Mami tahu kalau aku hamil, Mas?"
"Tau dong, kan Mas yang ngasih tahu." Jawab Narendra, dia tersenyum bangga membuat Ayunda mendelik kesal. Ini nih alasan kenapa dia malas memberitahu suami nya, mulut suami nya ember nya gak ketulungan.
"Kebiasaan, ember banget deh kamu."
"Lho kok marah sih? Wajar kali kalau mereka tahu, toh lambat laun juga mereka bakalan tahu. Nanti perut kamu bakalan buncit." Jawab Narendra seolah tidak merasa bersalah sama sekali.
"Iya, terserah kamu deh." Pasrah Ayunda sambil kembali meminum minuman yang di buatkan oleh mami mertua nya dan menghabiskan nya, teh jahe nya terasa sangat menyegarkan bagi Ayunda.
"Seger banget, lain kali kamu yang bikin ya? Terus banyakin lemon nya."
"Siap paduka ratu." Jawab Narendra, membuat Ayunda tertawa geli ketika mendengar jawaban suami nya ini. Menggemaskan tapi ya kadang juga menyebalkan, karakter suami nya memang seperti itu. Dia bisa menggemaskan, namun berubah menyebalkan dalam waktu yang singkat. Ibarat nya tuh, dia memiliki dua kepribadian.
Karena di kantor atau di luaran rumah, Narendra terkenal dengan wajah datar dan dingin nya, tapi saat bersama Ayunda dia sama sekali tidak datar atau dingin, justru sebaliknya. Narendra adalah pria yang hangat dan penyayang, bahkan dia juga bisa bersikap manja pada Ayunda. Ya, nama nya juga singa ketemu pawang ya tetep aja bakalan luluh meskipun singa itu terkenal akan kegalakan nya.
"Sayang.."
"Iya, Mas."
"Kita periksa kandungan yuk? Mas penasaran, dia sudah ada berapa lama disana." Ucap Narendra sambil mengusap-usap perut Ayunda yang masih rata.
"Nanti aja ya, Mas? Atau besok, aku lemes banget ini."
"Yaudah deh, gapapa. Mas sabar aja, mumpung disini gitu. Teknologi nya jauh lebih canggih disini."
"Iya, Mas. Aku ngerti kok." Jawab Ayunda. Dia mengusap rambut Narendra yang tersuru di perut nya dengan lembut. Narendra mengangkat kaos yang di kenakan oleh sang istri dan mengecupi perut nya.
"Sehat-sehat di perut bunda ya, Nak. Nanti kita ketemu.." ucap Narendra lirih, dia mendongak untuk melihat respon sang istri. Namun, respon yang di tunjukan wanita itu hanya senyum tipis.
"I love you.."
"Tiba-tiba banget, Mas."
"Gapapa dong, ayo bales ih."
"I love you more than anything, Hubby." Balas Ayunda sambil mencubit pipi suami nya dengan gemas. Lalu mencium nya dengan mesra, kalau sudah begini pasti akan berakhir anu. Terbukti, Narendra pun merasa terpancing dan akhirnya menerkam Ayunda. Dia akan melakukan nya dengan pelan-pelan, kalau tidak lupa deng.
Karena Narendra, jika sudah bermain seperti ini dia akan melupakan apapun, bahkan tak jarang dia menyakiti istrinya karena bermain terlalu cepat dan keras jika sudah merasa di ujung nya.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1