Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 182 - Ketahuan


__ADS_3

Sore harinya, Ayunda pun di perbolehkan pulang karena kondisi nya yang sudah bisa di katakan stabil. Seperti janji nya tadi, Narendra mengajak istrinya untuk ke minimarket yang cukup lengkap untuk memperkenalkan istri cantiknya itu pada buah bernama kiwi. 


Ayunda terlihat sangat antusias, dia sangat senang karena bisa menemukan buah lain yang bisa dia makan selain peach. Dia masih boleh memakan buah itu, tapi hanya sedikit saja karena dia sudah merasakan efek nya yang cukup buruk untuk kesehatan nya dan juga bayinya. 


"Mas, aku kok degdegan ya? Kayak mau ketemu sama pacar aja, padahal cuma ketemu sama buah yang baru, hehe."


"Kamu ini, cuma buah kok. Buah nya agak unik soalnya kulitnya berbulu." Ucap Narendra sambil tersenyum kecil menatap istrinya.


"Benarkah? Semakin penasaran deh."


"Sabar ya, sebentar lagi sampai kok ke minimarket." Jawab Naren. Ayunda pun menganggukan kepala nya dengan cepat, dia duduk dengan tenang setelahnya sambil mengusap-usap perut buncit nya dengan lembut. 


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka pun sampai di minimarket, jaraknya memang tidak terlalu jauh dari perusahaan, letaknya juga searah dengan jalan pulang. Jadi sebelum pulang dia akan mampir sebentar di minimarket, sudah biasa juga jika dia pulang akan mampir untuk membeli barang untuk keperluan di rumah, tentu nya jika sang ibu nitip atau istrinya. 


"Sudah sampai, sayang. Yuk keluar." Ajak Narendra sambil membukakan pintu untuk sang istri. Dia juga mengulurkan tangannya ke arah sang istri, tentu saja dengan senang hati Ayunda menerima uluran tangan sang suami. Keduanya pun turun dari mobil dan berjalan dengan perlahan, tentunya Naren takkan bisa mengajak istrinya berjalan cepat, karena dia sudah kesulitan bahkan untuk sekedar berjalan.


"Mas, pelan-pelan jalan nya. Aku agak susah, hehe."


"Iya, sayangku." Jawab Narendra. Pria itu tidak pernah melepaskan genggaman tangan nya pada sang istri. Naren mengambil troli kecil dan mendorong nya, dia juga mengambil tas sang istri dan meletakkan nya di atas troly itu. 


"Mas, mana buahnya?"


"Sebentar, Mas belum lihat. Kamu kalau mau buah yang lain, ambil aja." Jawab Narendra sambil celingukan mencari buah yang dia sarankan pada sang istri. 


"Mas, mau semangka."


"Boleh, ambil aja, sayang." Jawab Naren. Ayunda pun memilih buah semangka yang sekiranya matang dan manis dengan cara menepuknya. Caranya memilih buah itu sama seperti Melisa, sang ibu juga sering melakukan hal itu jika hendak memilih buah-buahan yang berbentuk bulat, semangka atau melon. 


"Ini kayaknya matang dan manis ya?"


"Iya, sayang. Mau melon juga?" Tanya Narendra. Ayunda menganggukan kepala nya, dia suka semua buah-buahan.


Ayunda pun membeli buah melon dan beberapa buah lainnya. Tapi Naren malah memasukan dia kotak alpukat untuk di buatnya jus, dia tahu kalau Ayunda tidak terlalu suka dengan buah alpukat karena rasanya. Tapi dia tetap suka untuk makan buah itu di salad atau di makanan yang lain. 


"Mas, mana buahnya?" Tanya Ayunda lagi. Narendra pun kembali mencari buah itu, hingga akhirnya dia menemukan nya di tak yang sedikit berada di belakang. 


"Ini, sayang." Tunjuk pria itu. Ayunda pun mengambil satu cup dan melihatnya. Harga nya cukup mahal, satu cup isi empat biji saja harga nya delapan puluh ribu. Katanya buah import, menurut dari tulisan di atas cup buahnya. 


"Mahal, Mas."


"Ya kalau bikin sehat mah gapapa, sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum.


"Ini buah rasanya gimana?" Tanya Ayunda lagi.


"Asem-asem seger, sayang. Tapi jangan beli yang hijau, kita beli kiwi gold sama yang red kiwi, ini manis." Ucap Narendra. Dia tahu hal itu karena dulu sering memakan buah itu untuk diet. Buah kiwi memang kaya akan vitamin C. 


"Tapi harga nya lebih mahal lho, Mas. Mahal bener ini empat biji dong ratusan ribu, enggak dulu deh." 


"Gapapa, sayang. Nyobain beli satu-satu aja ya? Kalau suka, nanti kita beli lagi." 


"Boleh?"


"Boleh dong, ngapain Mas nawarin kalau gak boleh." Ucap Narendra, dia pun mengambil buah itu dan menyimpan nya ke dalam troly. 


"Sayang, mau beli cemilan yang lain?"


"Mau mau, mau ciki." Jawab Ayunda sambil bersorak antusias. Pria itu pun mengacak rambut sang istri dengan gemas, lalu mengecup puncak kepala sang istri. Dia pun kembali menggandeng tangan istrinya dan membiarkan istrinya memilih banyak cemilan, dia juga mengambil beberapa mie instan pedas untuk sekedar ngidam. 


Padahal, Ayunda sudah jarang sekali memakan mie instan karena di larang oleh Melisa dan Arvin, dia lebih rela membuatkan mie sendiri untuk menantunya. 


"Sudah selesai?"


"Mau coklat, Mas." Jawab Ayunda sambil menggerak-gerakkan tangan sang suami seperti anak kecil. Padahal tinggal mengambil saja tidak perlu izin dulu. 

__ADS_1


"Ambil, mau berapa?"


"Dua aja, Mas." Jawab wanita itu. Dia pun mengambil dan memasukkan nya ke dalam troly belanja nya. Setelah di rasa selesai pun, Narendra pun membayar nya dan keduanya pun pulang. 


"Mas, makasih ya. Ini aku di beliin banyak cemilan, auto nyaman di rumah kalo banyak cemilan gini." Ucap Ayunda sambil tersenyum manis. 


"Kamu seneng, sayang?"


"Banget, Mas. Makasih ya, nanti aku kasih jatah deh, hehe." Tawar Ayunda, Narendra melirik ke arah sang istri yang juga tengah menatapnya.


"Mas sih mau-mau aja, tapi Mas gak bakalan tega. Apalagi kamu baru aja di rawat kan? Mendingan kamu istirahat aja." Ucap Naren. 


"Tumben kamu nolak, Mas?" Tanya Ayunda dengan keheranan, biasanya suaminya ini memang selalu ribut kalau masalah jatah. Dia selalu ingin dan ingin, tapi tumben-tumbenan sekarang suaminya menolak. Apa karena pengaruh kalau dia baru saja keluar dari rumah sakit? Padahal kan dia tidak apa-apa. 


"Bukan gitu, sayang. Mas pengen kok, tapi Mas inget kalau kamu baru aja keluar dari rumah sakit kan, keadaan kamu belum sembuh sepenuhnya, sayang."


"Yaudah deh, nanti kalau aku udah sembuh janji deh aku kasih yaa." Ucap Ayunda sambil tersenyum kecil. 


"Iyaa, sayang. Mas gak sabar, hehe." Jawab Narendra. 


"Padahal aku kangen lho, Mas."


"Ya kan kamu nya habis sakit, ya kali aku tega pake kamu pas baru aja keluar dari rumah sakit."


"Yaudah deh, besok atau lusa juga aku sembuh kayaknya." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Dia mulai mengambil cemilan dari kantong kresek berisi banyak makanan yang baru saja mereka beli di minimarket. Ayunda terlihat menikmati perjalanan sambil makan cemilan dengan lahap. 


Selang satu jam berlalu, akhirnya Ayunda dan Naren pun sampai di mansion. Kedua nya pun berjalan dengan bergandengan tangan seperti biasa, wanita itu nampak tersenyum sambil menenteng tas berisi dompet dan ponsel. Hanya itu saja isi nya, tapi jangan remehkan isi dompetnya karena di dalam nya ada berbagai macam kartu pemberian suami dan mertuanya. 


Melisa dan Arvin memberikan beberapa kartu untuk menjamin kehidupan menantu nya, mereka tak mau jika menantu nya kekurangan. Maka dari itu, Melisa dan juga Arvin memberikan kartu itu untuk memenuhi kebutuhan menantu nya. 


"Sayang, udah pulang?" Tanya Melisa sambil tersenyum. 


"Iya, Mami." Jawab Ayunda. Melisa pun mengajak menantu nya untuk duduk di sofa, wanita itu berjalan pelan sambil memegangi pinggang nya, wanita itu baru saja pulang dan di sambut oleh mertua nya. 


"Sukses, Mami. Mas Naren kaget pas lihat aku datang." Jawab Ayunda sambil terkikis geli. Dia masih ingat seperti apa wajah suaminya saat melihatnya tadi, belum lagi dia terlihat sedang marah karena ulah klien meeting nya yang super duper menyebalkan. 


"Benarkah?"


"Iya, Mas. Tadi Mas Naren lagi marah banget, katanya meeting nya batal karena klien nya menyebalkan. Terus dia juga belum makan lho, Mami. Jadi dia kelihatan kaget plus seneng karena Ayu datang bawain makan siang." Jawab Ayunda sambil terkekeh. 


"Marah kenapa?"


"Gak tahu, Mi. Tapi Mami kan tahu sendiri gimana sifat nya Mas Naren kalau dia kesel pasti berimbas banyak ke hal-hal lain." Ucap Ayunda membuat Melisa terdiam. Benar, memang jika putranya itu marah sudah biasa seperti itu. Bahkan hal-hal yang tak seharusnya bisa menimbulkan masalah pun jadi masalah besar. 


"Iya juga ya."


"Nah kan, iya kan Mi?"


"Iya, suami kamu emang suka marah-marah gak jelas. Tapi kalau semisal udah tenang pasti minta maaf kok." Jawab Melisa.


"Hmm, udah biasa tuh Mas Naren emang gitu."


"Sayang, ayo makan.." Ajak Narendra dari arah dapur. 


"Makan?"


"Hehe, pengen Mami." Jawab Ayunda sambil terkekeh. 


"Yaudah, sana makan. Makan yang banyak biar kamu sama anak kita sehat." Jawab Narendra. Melisa pun tersenyum lalu mengantarkan menantu nya itu untuk makan. Yang entah makan apa harusnya, makan siang? Bukan, makan malam juga bukan, mungkin makan sore saja lebih tepatnya. Soalnya kan ini memang sore, tapi jam segini dia sudah makan lima kali mungkin. Namanya juga bumil ya.


Ayunda dan Narendra pun kembali makan dengan lahap, seperti yang sudah di ceritakan oleh Ayunda, kalau Narendra juga sama seperti bumil. Istrinya makan, Ayunda juga ikut makan. Padahal yang hamil kan hanya Ayunda, tapi ternyata Narendra memang jadi doyan makan setelah melihat istrinya makan dengan lahap. 


"Sayang.."

__ADS_1


"Iya, Mas. Kenapa?"


"Perut kamu gak begah?" Tanya Narendra sambil melihat perut istrinya yang buncit, terlihat sangat sesak, tapi entahlah bagaimana rasanya. 


"Enggak kok, Mas. Agak sesek dikit, tapi gapapa kok. Cuman agak bikin sakit pinggang doang." Jawab Ayunda sambil mengusap pinggang nya.


"Yaudah, nanti Mas pijit ya?"


"Hehe, boleh banget Mas." Jawab wanita itu sambil tersenyum. 


"Itu tangan kamu bekas apa? Kok di plester?" Tanya Melisa. Dia baru melihat punggung tangan Ayunda yang terdapat plester. 


"H-haahh?" 


Ayunda pun refleks melihat tangan nya, lalu menyembunyikan tangan nya. Tadinya, dia dan Naren juga ingin menyembunyikan masalah tentang dia baru saja pulang di rawat dari rumah sakit meskipun Ayunda baru saja di rawat. 


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Melisa lagi, membuat Arvin juga yang baru saja masuk ke area dapur pun mengernyitkan kening nya. Dia pun mengambil tangan menantu nya yang di sembunyikan oleh Ayunda. Dia pun melihatnya dengan seksama.


"Ini plester rumah sakit, kamu habis ngapain di rumah sakit?" Tanya Arvino sambil menatap wajah Ayunda yang mulai memucat karena takut. Niat nya, dia tidak ingin membuat kedua mertua nya itu khawatir dengan cara menyembunyikan nya, tapi ternyata malah akan ketahuan. 


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Melisa lagi, dia menatap menantu nya dengan khawatir. 


"Tadi aku sakit perut, Mami. Jadi di bawa ke rumah sakit sama Mas Naren." Jawab Ayunda lagi sambil menundukkan kepala nya.


"Kenapa bisa? Kamu kenapa bisa sakit perut, kamu ada salah makan?" Tanya Melisa dengan khawatir. Dia malah menatap putranya dengan tajam, dia menyangka kalau ini semua adalah ulah putranya. 


"Kata dokter, Ayu alergi buah persik, Mami. Dia habis makan buah itu ya? Kebanyakan?" Tanya Narendra, membuat Melisa membulatkan kedua matanya. Apa mungkin buah peach dalam salad buah buatan nya? Kalau iya, rasanya dia sangat bersalah. 


"Buah peach? Apa dari salad buah buatan Mami, sayang?" Tanya Melisa sambil menatap wajah menantu nya. 


"B-bukan Mami, maaf tadi Ayu curi-curi buat makan buah itu di belakang Mami, maaf.." Lirih Ayunda. Tadi dia memang memakan buah itu secara sembunyi-sembunyi karena dia sangat menyukai buah itu. Dia menghabiskan tiga buah itu karena saking sukanya, maka dari itu Melisa tidak mengetahui kalau Ayunda memakan buah itu di belakang nya.


"Sayang.." Panggil Narendra yang membuat Ayunda hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Maaf, Mas. Ini bukan salahnya Mami kokz ini kesalahan Ayu yang makan buah itu kebanyakan hanya karena suka." Ucap Ayunda lirih.


"Yaudah, gapapa. Yang udah ya biarin aja, tapi ke depan nya jangan gitu ya, sayang? Apalagi sampai sembunyi-sembunyi di belakang Mami, nanti suami kamu marahin Mami lho." Ucap Melisa.


"Ckkk, emang aku kelihatan marah ya sama Mami?" Tanya Narendra dengan sinis. 


"Itu dari nada suaranya aja udah kelihatan kesel sama Mami, tapi kan Mami gak salah."


"Iya, buah itu memang ada di salad. Tapi cuma sedikit doang kok, Mas. Maafin Ayu ya.." Ucap Ayunda sambil menatap suaminya. 


"Iya, gapapa kok. Lain kali jangan gitu ya."


"Lagian Ayu kan gak tahu buah itu bisa bahaya buat kehamilan."


"Iya, gapapa kok, sayang." Jawab Narendra sambil mengusap puncak kepala sang istri. Wanita itu pun kembali makan dengan lahap, sesekali dia juga menyuapi suaminya. 


"Kamu pasti niat nya mau nyembunyiin ini semua kan? Tapi malah ketahuan." Ucap Arvino sambil menatap wajah menantunya, Ayunda menganggukan kepala nya sambil tersenyum kecil. 


"Hehe, iya. Ayu niatnya gak mau bikin kalian khawatir."


"Lain kali, jujur aja ya? Biar nanti kita bisa antisipasi." Jawab Arvino sambil tersenyum kecil. Dia ingin marah, tapi dia sadar kalau maksud Ayunda itu sebenarnya baik karena tak mau membuatnya khawatir, tapi dia tidak mau ada hal yang di sembunyikan darinya, apapun itu dan sekecil apapun masalahnya, harusnya mereka berterus terang. Toh, dia tidak akan marah. Justru dia akan marah kalau semisal keduanya kompak untuk menyembunyikan hal seperti ini dari nya. 


"Iya, Papi. Maafin Ayu ya.." 


"Kamu juga Naren, harusnya kamu kalau ada apa-apa tuh bilang sama Papi. Kalau sampai terjadi sesuatu sama menantu dan cucu Papi, kamu yang pertama kali Papi cari." Tegas Arvino sambil menatap tajam putranya. 


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2