
Saat itu, Naren juga sampai di bar. Dia langsung mencari keberadaan teman nya, setelah beberapa menit mencari, akhirnya dia menemukan teman-teman nya.
"Hallo, Bro.." sapa pemuda itu dengan ramah.
"Ohh, kau benar-benar datang rupanya. Kami kira kau hanya mengatakan itu untuk menghibur kami." Jawab salah satu teman Naren. Disana, ada Rudolf dan Arta. Mereka juga berteman baik, hanya saja Naren tidak terlalu menanggapi kalau pria itu yang bicara. Sudah beberapa kali, dia melihat usaha Rudolf untuk menjatuhkan nya. Tapi, sejauh ini selalu bisa di gagalkan oleh Mark, asisten kepercayaan Naren.
Tapi, saat ini Naren datang sendirian karena dia pikir Rudolf tidak akan berani menunjukkan wajah nya di depan nya. Tapi ternyata, Rudolf memang bermuka tebal dan tidak tahu malu.
"Apa kabar, Ren?" Tanya Rudolf, membuat Naren memutar mata nya dengan jengah.
"Kau bisa melihat nya sendiri, aku baik-baik saja. Bahkan sangat baik." Jawab Naren. Dia pun mengambil satu gelas minuman beralkohol dan meminum nya dalam sekali tegukan.
Pemuda itu meringis, rasa alkohol yang sedikit pahit dan menimbulkan sensasi panas di tenggorokan membuat nya menatap gelas yang sudah kosong itu. Dia sudah lama tidak menikmati sensasi ini. Tapi sekarang dia kembali dengan kebiasaan nya.
"Kau sudah bisa melupakan Trisa?"
"Hmmm, aku sedang mengusahakan nya. Tapi belum sepenuh nya aku bisa melupakan wanita itu." Jawab Naren sambil tersenyum getir.
"Ya, kamu tahu kau sangat mencintai nya. Tapi, pikirkan baik-baik kehidupan mu sendiri, Ren. Jangan terlalu larut dalam masa lalu, masa depan yang cerah menunggu mu, Ren." Ucap Mario, salah satu teman Naren.
"Hmm, Mark juga mengatakan hal seperti ini, persis seperti mu, Mar. Tapi hati dan pikiran ku menolak untuk melupakan Trisa. Tiga tahun itu bukanlah waktu yang singkat untuk ku."
"Ya, kami paham Ren. Tapi berdamailah dengan masa lalu, kalau kau terus saja begini, kapan kau akan bahagia? Kau juga berhak bahagia, Ren." Nasehat Mario, membuat Naren menghembuskan nafas nya dengan kasar.
Ucapan Mario dan Mark sama, intinya dia harus segera move on dari Trisa dan menjalani hidup seperti biasa nya, tanpa di bayang-bayangi oleh Trisa. Gadis yang sudah menjadi masa lalu bagi Narendra.
"Aku akan mencoba nya sekali lagi."
"Bagus, Ren." Jawab Mario sambil menepuk pundak Naren.
"Cari aja gadis lain, kayak gak ada cewek lain aja, Ren." Celetuk Rudolf.
"Apa yang di katakan sama Rudolf bener lho, Lo tuh kaya, tampan. Masa gak laku lagi sih?" Cetus salah satu teman Naren yang bernama Harry.
__ADS_1
"Hmm, semoga aja secepatnya gue bisa move on ya."
"Harus pokoknya." Jawab Mario memberikan semangat pada Narendra, sahabat nya.
"Sorry, gue terlambat." Ucap seseorang yang baru saja datang.
"Eeh, Roy. Ayo duduk.." Ajak Harry, sedangkan Rudolf dan Naren hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun begitu melihat kedatangan Roy. Bersama tiga gadis di samping dan di belakang nya.
Narendra langsung memalingkan wajah nya saat melihat gadis polos yang berdiri canggung di belakang Roy. Dia terlihat memilin pakaian yang dia kenakan, terlihat jelas kalau gadis itu sedang gugup dan ketakutan.
Roy dan Yolanda duduk di kursi yang masih kosong, sedangkan Fira dan Ayu memilih berdiri di belakang sofa yang di duduki oleh para pria itu. Rudolf tersenyum menyeringai saat melihat wajah cantik Ayunda, tapi seperti nya dia mempunyai rencana lain.
'Dari pada membawa nya ke atas ranjang ku, aku punya rencana yang lebih bagus.' Batin Rudolf.
"Nona-nona, silahkan duduk." Kedua nya terlihat canggung, lalu salah satu dari mereka menarik satu gadis dan mengajak nya duduk. Ayunda duduk di samping Narendra, dia melihat sekilas ke arah gadis cantik nan polos itu, lalu kembali mengambil minuman yang sudah tersedia dan meminum nya dengan sekali tegukan, seperti biasa nya.
Ayunda yang melihat itu merasa ngeri, meskipun dia tidak tahu bagaimana rasa minuman tak berwarna itu, tapi sepertinya tidak berasa apapun karena dia melihat orang-orang yang meminum nya sama sekali tidak berekspresi apapun. Mereka terlihat menikmati minuman itu.
"Fira.." Panggil Ayunda lirih, dia menatap tidak percaya ke arah sahabat nya. Sedangkan Fira, dia memalingkan wajah nya saat tak sengaja tatapan mereka bertemu.
"Jangan heran, disini sudah banyak gadis yang tidak lagi mempunyai rasa malu." Celetuk pria di samping nya, Naren mengatakan hal itu tanpa menoleh sedikit pun ke arah Ayunda yang masih merasa shock dengan pemandangan yang dia lihat.
"Aaa, a-aku baru melihat semua ini." Lirih Ayunda, mungkin saja tidak terdengar bagi Naren, karena suara musik yang sangat keras hingga membuat suara mereka tersamarkan.
"Nona, kau tak minum?" Tanya Rudolf sambil mengulurkan segelas minuman beralkohol ke arah Ayunda. Gadis itu ingin sekali menolak, tapi dia merasa tidak enak. Jadi, dia menerima nya. Tapi, dia ragu-ragu untuk meminum nya. Cairan bening itu terlihat seperti air biasa, tapi entah seperti apa rasanya. Dia ingin mencoba, tapi dia takut akan konsekuensi nya.
"Cairan itu bisa membuat mu mabuk, kalau kau ingin minum, sedikit saja." Ucap Narendra, seolah dia paham dengan arti dari tatapan gadis yang duduk di samping nya ini.
"Hmmm, terimakasih, Tuan." Narendra hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus dengan minuman di depan nya.
Ayunda benar-benar merasa sendirian saat ini, Yola sudah sibuk dengan Roy. Begitu juga dengan Fira, dia melupakan dirinya. Ayunda berusaha tidak melihat pemandangan di samping dan tepat di depan nya, orang-orang itu bercumbu mesra tanpa mempedulikan nya.
Setelah mengumpulkan segenap keberanian, akhirnya Ayunda meminum minuman beralkohol itu dengan sekali tegukan. Dia meringis setelah merasakan bagaimana rasa minuman itu.
__ADS_1
"Pahit sekali, panas juga." Gumam Ayunda sambil meletakan gelas yang sudah kosong itu di atas meja. Dia pun kembali duduk dengan tenang.
Rudolf tersenyum jahat saat melihat Ayunda meminum habis minuman itu. Tentu nya, dia punya rencana jahat. Kalau tidak, tidak mungkin dia tersenyum seperti itu, bukan?
Dia sudah menambahkan sesuatu di minuman itu dan mungkin pengaruh nya akan bereaksi sebentar lagi.
'Tunggu, kenapa tubuh ku terasa panas?' Batin Ayunda, dia merasakan sekujur tubuh nya panas. Bahkan keringat mulai membasahi kening nya, dia mengipas-ngipas wajah nya dengan tangan. Wajah putih gadis itu berubah menjadi kemerahan saking panas nya.
Narendra menyadari ada yang salah dengan gadis di samping nya, tapi dia tidak ingin menyentuh nya, karena sekali menyentuh pasti gadis itu tidak akan terkendali.
'Ini seperti efek obat perangsang.' Batin Naren, dia kasihan pada gadis itu, tapi dia tidak ingin terjebak. Dia tahu benar kalau ini semua adalah perbuatan Rudolf, pria itu seolah tiada habis nya untuk menjatuhkan nya. Tapi, cara murahan seperti ini takkan membuat nya kalah.
"Aaaa panas sekali.." Ayunda mulai menggeliatkan tubuh nya, dia bahkan membuka beberapa kancing kemeja yang dia kenakan. Narendra benar-benar tidak tega, tapi dia bisa apa?
"Seperti nya dia terkena obat perangsang." Celetuk Rudolf sambil tersenyum manis.
"Aku akan membawa nya." Jawab pria itu lagi, lalu beranjak dari duduk nya dan membawa gadis itu dalam pangkuan nya. Narendra melihat itu dengan tatapan datar nya, dia tidak tega melihat gadis cantik itu akan menjadi korban.
"Bodo amat, berhentilah peduli dengan orang lain, Naren." Gumam Naren sambil kembali menenggak minuman itu.
"Gue ke kamar dulu, nanggung udah tegang." Ucap Mario sambil membawa Fira ke kamar VIP yang memang tersedia di tempat ini. Begitu juga dengan Roy yang sudah membawa Yolanda ke kamar juga untuk menuntaskan hasraat masing-masing.
Kini, tinggalah Arta dan Naren. Kedua nya sama-sama minum, hingga Naren berpamitan ke kamar mandi karena kebelet. Kesempatan yang bagus, dengan cepat Arta membubuhkan sesuatu ke dalam gelas milik Narendra. Bubuk yang sama dengan yang Rudolf taburkan di minuman Ayunda.
Tak lama kemudian, Naren kembali dan tanpa pikir dua kali, dia langsung menenggak minuman itu dengan sekali tegukan.
Hanya beberapa menit saja, hingga obat itu mulai bereaksi. Pria itu terlihat gelisah, membuat Arta tersenyum jahat.
'Kena kau kali ini, Tuan Narendra.'
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1