Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 103 - Retaknya Kepercayaan


__ADS_3

Di ruangan itu, Narendra menatap jengah seorang wanita yang dengan tidak tahu malu dan tidak tahu dirinya, dia kembali datang ke perusahaan Narendra untuk menanyakan tentang penawaran yang pernah dia janjikan beberapa hari yang lalu. Tidak, bukan beberapa hari yang lalu tapi lebih tepatnya kemarin. Ya, kemarin kan wanita itu datang dan membuat mood Narendra yang memang sudah buruk itu semakin memburuk karena harus berhadapan dengan wanita tebal muka seperti Trisa.


Trisa, wanita itu menatap wajah tampan sang mantan kekasih dengan senyum manis yang terkembang dari bibir nya. Dia tak sabar menunggu jawaban dari pria itu. Dia yakin dan percaya diri kalau Narendra akan menerima tawaran nya dan mereka akan menjalin hubungan kembali meskipun secara sembunyi-sembunyi, karena status Narendra yang telah beristri saat ini.


"Mau apa kau datang kemari?" Tanya Narendra dengan wajah datar nya. Suara nya terdengar sangat ketus. 


"Haha, jangan berpura-pura tidak tahu, Honey. Aku kesini untuk mendengar jawaban mu tentang tawaran ku tempo hari." Jawab Trisa dengan nada suara yang di lembut-lembut kan, membuat Naren merasa muak. Dia benar-benar muak dengan Trisa. 


"Aku sudah menjawab nya kemarin."


"Kemarin, jawaban mu sebelum kau berpikir, Honey. Maka dari itu aku datang untuk menanyakan nya lagi." Jawab Trisa sambil tersenyum.


"Jawaban ku masih sama dan tidak akan pernah berubah." 


"Kau yakin?"


"Tentu saja, tanpa bantuan mu sekali pun. Aku bisa mengatasi masalah ku." Jawab Narendra membuat Trisa mengepalkan kedua tangan nya. Dia kesal, kenapa Narendra sangat keras kepala sekarang? Dia sudah datang kemari dengan merendahkan harga diri nya sendiri, tapi jawaban Narendra masih sama, yakni penolakan?


"Kenapa?"


"Kau masih tanya kenapa? Jawaban nya satu, aku hanya tidak ingin berurusan lagi dengan mu. Itu saja!" Jawab Narendra, dia menatap Trisa dengan tajam.


"Kau berubah, Ren. Apa wanita itu yang sudah membuat mu berubah?" Tanya Trisa membuat Narendra tersenyum kecil yang terlihat sinis. 


"Jangan membawa-bawa istri ku, dia tidak ada hubungan nya dengan masalah ini. Aku bertemu dengan istriku, jauh setelah kita berpisah, Trisa!" Jawab Narendra membuat Trisa tertawa mengejek. 


"Kau terlihat sangat mencintai istri kampungan mu itu ya, Ren? Kau terlihat sangat emosional sekali. Padahal, aku hanya mengatakan hal biasa." 


"Tentu saja, aku sangat mencintai istri ku. Terlebih sekarang, dia sedang mengandung anak ku."


"Haha, jadi benar dia sedang hamil sekarang? Apa dengan cara melenyapkan anak mu dulu, baru kau akan kembali padaku, Ren?"


"Jangan macam-macam dengan istri atau anak ku, Trisa!" Tegas Narendra membuat Trisa tertawa seperti seorang psikopat. 


"Kau tahu seperti apa aku dari dulu, bukan? Apa yang harus nya menjadi milik ku, maka aku harus memiliki nya!" Jawab Trisa dengan senyum menyebalkan nya. Trisa terlihat sangat menyebalkan bagi Narendra. 


"Trisa!"


"Hahaha, kau terlihat sangat takut. Aku takkan melakukan apapun pada istri mu, asal kau kembali padaku."


"Tidak akan pernah, sampai kapan pun!"


"Ckk, kita lihat saja sampai dimana kau akan mengatakan hal itu." Ucap Trisa membuat wajah Narendra memerah karena marah. Ya, dia marah. Dia takkan pernah memaafkan siapapun yang telah menyakiti istri atau pun anak nya, apalagi sampai membuat istri dan juga anak nya terluka. 


"Kenapa? Kau takut kan? Hahaha, baru begitu saja kau sudah ketakutan setengah mati." 


"Awas saja kalau kau berani macam-macam pada istri atau anak ku, aku takkan segan untuk menebas kepala mu dengan tangan ku sendiri."


"Lihat saja nanti." Trisa beranjak dari duduknya, dia mengambil tas nya dan berjalan dengan anggun. Narendra pikir, Trisa akan pergi. Namun siapa yang menyangka kalau ternyata dia malah mendekat ke arah nya dan duduk di pangkuan nya. 


Naren berontak, namun Trisa mengikat tangan Narendra dengan dasi yang sengaja dia bawa dari rumah untuk melancarkan aksi nya. Tanpa sepengetahuan siapapun, Trisa sudah mengirimkan pesan pada Ayunda, istri Narendra. Ya, selama ini yang mengirimkan pesan pada Ayunda adalah Trisa. 

__ADS_1


Dia juga yang meneror wanita hamil itu, lalu mengirimkan poto-poto mesra yang padahal itu poto dulu disaat mereka masih menjalin hubungan, itu sudah terjadi beberapa tahun silam. Jauh sebelum Narendra mengenal Ayunda. 


"Lepaskan aku!" 


"Tidak akan, sebelum aku berhasil membuat mu kembali." Jawab Trisa lalu meraih kepala Narendra dan mencium bibir nya. Tepat disaat wanita ular itu mencium Naren, bertepatan juga saat itu ada yang membuka pintu ruangan Naren. 


Wanita dengan perut buncit itu menganga saat melihat pemandangan yang begitu menyesakan dada nya. Dia menatap kedua nya dengan kedua mata yang berkaca-kaca, sekali berkedip saja maka air mata itu akan menetes membasahi pipi nya. Tadi nya, Ayunda tidak ingin menangis. Tapi saat melihat semua ini, terasa sangat menyakitkan, hingga akhirnya air mata itu menetes juga.


"M-mas.." Panggil Ayunda. Membuat Trisa dan Naren langsung menatap ke arah yang sama, wanita itu tersenyum jahat. Berbeda dengan Narendra yang terlihat sangat terkejut dengan kedatangan sang istri yang tiba-tiba. Dia tidak mengabari nya terlebih dulu kalau dia akan datang ke kantor. Di tangan nya, dia membawa wadah bekal yang dia pegang sekuat tenaga agar tidak jatuh karena tangan nya terasa sangat lemas saat ini.


"Sayang.." 


Dengan licik nya, Trisa menarik dasi yang dia pakai untuk mengikat tangan Narendra itu hingga membuat nya bisa bergerak bebas sekarang. Wanita itu beranjak dari pangkuan Narendra, dia merapikan pakaian nya, seolah mereka telah melakukan hal-hal berbau tak senonoh, padahal tidak sama sekal. Tadi, dengan sengaja wanita itu membuka beberapa kancing kemeja nya agar niat jahat nya bisa berjalan mulus. 


Naren yang melihat hal itu secara langsung bisa mengatakan kalau ini hanyalah sebuah jebakan semata, tapi tidak bagi Ayunda. Bagi wanita hamil itu, semua terlihat seolah Naren lah yang sudah melakukan nya. Sakit? Tentu saja, istri mana yang tidak sakit saat melihat suami nya sendiri bercumbu mesra dengan wanita lain dan sialnya dia melihat nya secara langsung. 


Kalau saja Ayunda mendapatkan kabar dari orang lain, atau melalui pesan singkat seperti yang wanita itu kirimkan, dia tidak mudah percaya karena dia yakin suami nya adalah pria yang bisa di percayai. Dia adalah pria yang setia, tapi ini berbeda. Ayunda melihat semua nya sendiri, dengan kedua mata kepala nya adegan itu tersaji secara live. 


"Sayang, Mas bisa jelasin.." Ucap Narendra. Dia langsung beranjak dari duduknya, dia berjalan cepat mendekati sang istri dan menggenggam tangan nya. 


"Honey, aku pergi dulu ya. Lain kali kita lanjutkan lagi, aku ada urusan." Celetuk Trisa, dia pergi dengan membawa tas kecil yang dia tenteng. Wanita itu menutup pintu ruangan Naren, dengan membawa senyuman penuh kepuasan karena rencana nya berjalan dengan sangat baik.


Bisa bertepatan ya tempo nya? Tentu saja, Trisa sudah memperhitungkan semua nya. Karena dia sudah menyimpan mata-mata di mansion kediaman Naren untuk memberitahu kan semua kegiatan yang di lakukan oleh Ayunda. Dan hari itu, orang yang di bayar oleh Trisa untuk menjadi mata-mata itu mengabari kalau Ayunda akan datang ke kantor saat makan siang dan dia langsung ke perusahaan Narendra untuk melancarkan aksi jahat nya. 


Dia melakukan tindak kejahatan dengan berusaha memercikan api pertengkaran di antara kedua nya. Dengan begitu, mereka pasti akan bertengkar dan membuat kepercayaan Ayunda hilang pada Naren. Secara langsung, wanita itu akan ragu pada Narendra karena kejadian itu. Hal yang dia tunggu, hubungan mereka akan renggang karena tidak ada nya kepercayaan satu sama lain.


Semua orang juga tahu, kalau kepercayaan adalah salah satu element yang sangat penting dalam sebuah hubungan. Tidak ada nya kepercayaan, niscaya hubungan itu tidak akan berjalan dengan baik. Pintar, ya Trisa memang cukup pintar. Wanita itu merusak tiang utama dari terjalin nya sebuah hubungan, yakni kepercayaan Ayunda pada suami nya. 


"Sayang, kenapa kamu datang tanpa memberitahu Mas dulu?"


Wanita itu masih terpaku di tempat nya, dia menatap wajah tampan suami nya dengan kedua mata yang masih meneteskan air mata. 


"Sayang, izinin Mas buat jelasin semua nya. Ini semua salah paham, sayang."


"Salah paham kamu bilang, Mas?"


"Iya, ini semua tidak seperti yang kamu lihat." Ayunda terdiam, hanya saja mata nya meneteskan air mata nya.


"Tidak, tidak. Jangan menangis, Mas mohon sayang." Ucap Narendra panik, dia langsung mengusap air mata yang menetes membasahi pipi mulus wanita cantik itu. 


"Mas.."


"Maaf, Mas salah. Tapi sumpah demi apapun, Mas gak ada hubungan apa-apa sama dia. Sungguh.."


"Bagaimana cara Mas menjelaskan adegan tadi, Mas? Aku melihat kalian berciuman lho. Kalau saja aku melihat nya dari gambar-gambar yang selama ini masuk ke ponsel ku, mungkin aku tidak akan percaya dengan mudah. Tapi kali ini? Aku tidak bisa percaya, Mas. Karena aku melihat nya secara langsung dengan kedua mata kepala ku sendiri." Ucap Ayunda panjang lebar, dengan air mata yang terus menetes tanpa bisa di cegah.


"Sayang, Mas gak pernah duain kamu. Sungguh, yang terjadi tadi di luar kendali, Mas."


"Jadi, maksud nya kamu mengakui kalau tadi kalian berciuman itu secara sengaja, Mas?"


"Tidak, sayang. Tidak, Mas tidak membenarkan, sayang."

__ADS_1


"Lalu? Apa semua ini, Mas?" Tanya Ayunda, membuat Narendra terhenyak. Baru kali ini dia mendengar nada tinggi sang istri. Karena selama ini, Ayunda selalu berkata dengan lemah lembut dan penuh kehangatan. Tapi kali ini, mata nya yang biasa menatap nya dengan penuh cinta, kini menatap nya dengan tatapan penuh ke kecewaan dan kebencian. Dalam sorot mata nya juga, Naren bisa melihat ada rasa sakit disana. Sungguh, melihat wanita yang dia cintai menangis karena nya, membuat hati Narendra terasa sangat sakit. Ini semua terasa sangat menyesakkan dada nya. 


"Jangan menangis, aku mohon. Hati ku terasa sakit, bahkan terasa sesak sekarang."


"Bagaimana bisa aku tidak menangis di saat situasi seperti ini, Mas? Aku yakin, wanita mana pun pasti menangis jika melihat suami yang sangat di cintai nya bercumbu dengan wanita lain." Ayunda terlihat sangat emosional, membuat Naren langsung menarik tubuh berisi sang istri ke dalam pelukan nya. Ayunda meronta sekuat tenaga, dia tidak mau di peluk oleh suami nya, dia masih sangat marah dengan apa yang sudah pria itu lakukan bersama wanita yang dia ketahui kalau dia adalah masa lalu sang suami. 


"Aku kecewa, Mas. Aku kecewa banget sama kamu, Mas!" Ucap Ayunda sambil memukul-mukul dada sang suami dengan kesal. Narendra membiarkan saja sang istri melakukan itu, karena dia tahu kalau kesalahan ini sangat fatal. Dia memaklumi kalau sang istri marah dan melampiaskan nya pada nya. 


Dia tak marah, justru dia membiarkan dirinya menjadi pelampiasan ke kecewaan sang istri. Dia tahu, hal ini pasti sangat menyakitkan, meskipun lagi-lagi ini semua bukanlah murni kesalahan nya, tapi lagi-lagi ini adalah jebakan yang di buat senatural mungkin.


"Maaf.." hanya satu kata itu yang terucap dari bibir Narendra.


"Maaf tidak akan membuat kepercayaan aku kembali, Mas."


"Mas di jebak, sayang. Sungguh, Mas tidak melakukan hal itu."


"Di jebak? Benarkah? Tapi kamu terlihat sangat menikmati nya tadi."


"Sayang, tadi kamu lihatkan kalau kedua tangan Mas di ikat pakai dasi?" Tanya Narendra. Namun, sialnya lagi wanita ular itu sudah terlebih dulu membuka ikatan nya di tangan Narendra sesaat setelah Ayunda datang dan membuka pintu nya. Jadi, Ayunda tidak melihat kalau tangan suami nya di ikat dengan menggunakan dasi.


"Di ikat dari mana nya, Mas? Aku dengan jelas bisa melihat kalau tangan kamu bisa bergerak bebas. Kamu laki-laki, kenapa tidak kamu dorong saja wanita itu, Mas?" Tanya Ayunda, dia masih terlihat emosional. Narendra terlihat sangat panik, dia tidak tahu harus menjelaskan dengan cara seperti apalagi agar istri nya percaya padanya. 


'Wanita gila itu memang harus benar-benar aku lenyapkan, dia pintar sekali menyusun strategi agar rencana nya terlihat natural, sialan!' Batin Narendra. Dia heran, wanita itu bisa menebak situasi dengan tepat. Dia melakukan nya beberapa menit sebelum Ayunda masuk dan melihat semua nya. 


"Sayang.."


"Makan siang nya aku yang masak sendiri, habiskan. Aku pergi dulu, Mas." Jawab Ayunda, dia berusaha melepaskan pelukan sang suami di tubuh nya, namun tenaga nya sama sekali bukan tandingan untuk Naren yang memang notabene nya adalah seorang laki-laki. Tenaga Ayunda, tidak sebanding dengan tenaga Narendra. 


"Kita makan bersama ya?"


"Tidak, aku akan pulang saja."


"Sayang, Mas mohon. Temani Mas makan ya?"


"Tidak, Mas. Aku takkan kuat melihat wajah mu itu, semua nya terjadi terlalu tiba-tiba dan itu membuat aku sakit." Jawab Ayunda. Dia mengambil tas kecil nya, lalu pergi dengan menutup pintu dengan kencang hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. 


Narendra menatap punggung sang istri yang perlahan mulai menjauh meninggalkan ruangan nya. Sungguh, ini semua sangat membuat hatinya sesak. Dia juga merasakan sesak di hati nya saat melihat istrinya menangis, lalu apa kabar dengan Ayunda yang melihat secara langsung perbuatan jahat wanita sialan itu pada nya? 


"Aaarghhhhh, sialan.." Narendra membanting vas bunga yang ada di atas meja hingga pecah berhamburan memenuhi seisi ruangan. 


Di luar sana, Ayunda berjalan cepat sambil menutupi mata nya yang sembab. Namun, di loby dia malah tak sengaja bertemu dengan Mark yang berjalan terburu-buru setelah mendapat laporan dari resepsionis yang melapor pada nya kalau di ruangan Naren tadi ada Trisa dan tak lama istrinya juga datang. 


Mark juga sudah bisa menebak akan terjadi huru hara seperti apa di ruangan Narendra, karena dia tahu seperti apa Trisa. Dia adalah wanita yang jahat, licik dan juga tidak tahu malu. Selain itu, dia juga wanita yang ambisius. Apa yang dia inginkan, maka itu harus menjadi miliknya, termasuk suami orang. Gila bukan? Tentu saja, dia wanita egois yang ingin berbahagia dengan cara merebut kebahagiaan wanita lain. 


"Nona, anda baik-baik saja?" Tanya Mark membuat Ayunda menghentikan langkah nya, lalu menatap wajah pria yang dia ketahui adalah asisten sang suami.


"Tidak." Jawab Ayunda, lalu kembali mengayunkan langkah untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Mark menatap punggung wanita hamil itu dengan nanar, sudah jelas kalau Nona muda itu sedang tidak baik-baik saja, karena dia keluar dari ruangan Naren dan meninggalkan perusahaan dalam keadaan menangis. 


'Pasti sudah terjadi sesuatu, cih wanita itu tidak ada henti-hentinya membuat ulah. Sialan!'


 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2