Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 129 - Melisa dan Arvin


__ADS_3

Tak lama kemudian, Arvin dan Melisa kembali dengan membawa beberapa kantong kresek di tangan nya. Kedua nya saling menatap saat melihat pasangan suami istri yang saat ini tengah memenuhi pikiran nya itu tengah berpelukan mesra. Narendra terlihat mengusap-usap punggung Ayunda dengan lembut, wanita itu juga terlihat sangat nyaman berada di pelukan sang suami. 


"Sayang.."


"Mami.." Ucap Ayunda lirih. Melisa pun berjalan pelan mendekat ke arah sang menantu kesayangan nya. Dia langsung mengambil alih Ayunda dari pelukan Narendra dan memeluk nya dengan erat. Sungguh demi apapun, dia sangat merindukan menantu nya. Apalagi dengan semua yang di alami oleh Ayunda, membuat nya sangat terpukul. 


"Kamu harus kuat ya, sayang. Semua ini terjadi mustahil jika kamu tidak kuat untuk menjalani nya, sayang."


"Iya, Mi. Ayu hanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri saja. Selama lima bulan dia disini, bahkan dia selalu bergerak-gerak setiap pagi nya, mungkin itu akan menjadi moment yang Ayu rindukan." Lirih Ayunda membuat Melisa melerai pelukan nya, lalu menatap wajah Ayunda yang masih terlihat pucat, dengan kedua mata yang sembab. 


"Secara perlahan saja, Nak. Tidak perlu buru-buru, Mami yakin ini semua takkan mudah." 


"Ayunda akan mencoba nya, Mi."


"Iya, sayang. Tidak apa-apa menangis, tapi jangan sampai menyakiti dirimu sendiri ya? Mami gak suka lihat kamu nangis kayak gini." 


"Rasanya sakit, Mami." Lirih Ayunda membuat Melisa tersenyum kecil. 


"Sakit, sangat sakit. Setiap kehilangan, pasti menyakitkan, sayang. Tapi kita harus tetap menjalani masa depan dengan baik, karena hidup tetap berjalan. Jangan khawatir, Mami akan selalu ada di samping kamu, sayang." 


"Terimakasih, Mami." Jawab Ayunda, dia pun kembali memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan erat. Sungguh, dia merasa seperti memiliki sosok ibu kandung sendiri saat melihat dan juga merasakan kehangatan dari sosok Melisa. Padahal, wanita itu hanya ibu mertua nya, orang asing yang tak sengaja masuk ke dalam kehidupan nya tanpa di duga. 


"Sama-sama, sayang. Jangan ragu atau sungkan sama Mami ya, kamu sudah seperti anak kandung Mami sendiri."


"Iya, Mami. Terimakasih.."


"Tidak perlu berterima kasih, sayang. Ini sudah kewajiban setiap orang tua pada anak nya, apalagi kamu perempuan." 


"Ayu beruntung sekali memiliki Mami.."


"Mami juga, mami sangat menyayangi kamu, sayang. Jangan merasa sendiri ya, ada Mami."

__ADS_1


"Jangan lupakan suami kamu sendiri, sayang." Ucap Narendra yang juga ikut menimbrung. Ayunda tersenyum kecil lalu menganggukan kepala nya. 


"Papi juga.."


"Lho, Papi kapan pulang?" Tanya Ayunda, padahal tadi Melisa datang bersama Arvin, namun Ayunda baru menyadari kalau pria paruh baya itu sedari tadi sudah berada disini. 


"Tadi pagi, niat hati ingin memberikan kalian kejutan dengan kepulangan Papi, tapi malah Papi yang dapat kejutan." Ucap Arvin lirih. Ayunda menatap papi mertua nya dengan sendu, sungguh jauh di dalam lubuk hati nya dia merasa sangat sakit saat melihat wajah sang papi mertua yang terlihat lelah. 


Dia baru saja terbang dari Amerika ke sini untuk memberikan kejutan, tapi malah dia yang di berikan kejutan dengan kejadian tidak mengenakan ini. Sungguh demi apapun, dia merasa bersalah disini karena sudah membuat kejadian ini terjadi. Andai saja, malam itu dia menuruti usulan suami nya untuk pergi ke rumah sakit memeriksakan kandungan nya, mungkin sekarang janin itu masih bisa bertahan. Namun, sekarang hanya andai saja karena semua nya sudah terjadi tak mungkin dia bisa mengulangi waktu yang sudah terjadi. 


"Maaf, Papi. Papi pasti lelah kan? Maafin Ayu karena gagal jagain cucu Papi." Ucap Ayunda lirih. 


"Jangan menyalahkan diri kamu sendiri, sayang. Ini sudah takdir, memang sudah seharusnya begini. Tidak apa-apa, melihat kamu baik-baik saja seperti ini saja, Papi sudah senang." 


Kini, giliran Arvin yang mendekat. Dia mengusap puncak kepala Ayunda dengan lembut lalu tersenyum hangat penuh kasih sayang. Lagi, hal ini adalah hal yang dia rindukan dari sosok seorang ayah. Hangat dan selalu membuat hatinya tenang. Sekarang, dia mendapatkan semua itu dari sosok Arvino Sanjaya. Papi mertua yang kebaikan nya sudah seperti orang tua kandung nya sendiri. 


"Apa yang mami kamu bilang itu benar, jangan pernah merasa sendiri ya? Papi disini, sama kamu. Kapanpun, jangan pernah merasa kalau kamu hanya memberi beban untuk kami, tidak sama sekali."


"Sudahlah, jangan terus berterimakasih, Nak. Kamu belum makan? Kita makan dulu ya, ini sudah siang. Tadi Pagi udah ketemu dokter kok, katanya kamu udah boleh makan nasi cuma harus sama sup." Jelas Arvino. Ayunda menganggukan kepala nya, dia juga tersenyum manis sambil mengiyakan ucapan sang papi mertua yang terlihat sangat tulus padanya. 


"Iya, Papi."


"Boy, suapi istri mu makan. Sekalian kamu juga makan, kau juga sama saja. Susah di suruh makan, di omelin Ayunda aja baru nurut." Celetuk Arvin yang membuat Narendra menatap istrinya dengan tatapan takut. Jujur, meskipun Narendra adalah seorang pria yang berpengaruh dalam setiap kehidupan nya, namun di kehidupan rumah tangga nya dia tak lebih dari seorang suami yang takut kepada istrinya. 


Jika Narendra cukup berkuasa dalam dunia bisnis, sebaliknya. Jika di rumah, ada Ayunda yang berkuasa disana. Istri adalah orang yang paling berkuasa di rumah. Bahkan, orang sehebat Narendra pun takut pada istrinya sendiri. Padahal, Ayunda adalah sosok yang lemah lembut dan penyayang, sama seperti Melisa. Namun, saat dia marah pasti mengomel bahkan bisa sampai seharian nonstop. Mungkin itu yang membuat Narendra takut pada istrinya sendiri.


"Bener, Mas? Kamu gak makan?"


"Iya, kan tadi kita janji nya mau makan siang di luar setelah periksa."


"Hmm, sekarang belum makan gitu? Ini sudah hampir malam kan? Gak laper itu perut kamu, Mas?" Tanya Ayunda lagi, dia menatap tajam ke arah suami nya yang sangat nakal itu.

__ADS_1


"Maaf, aku kan khawatir sama kamu, sayang. Jadi nya gak nafssu makan."


"Yaudah, sekarang kamu udah liat aku baik-baik aja kan? Jadi, ayo makan."


"Ayo, sama kamu tapi? Ya, oke?" Bujuk Narendra. Ayunda mengiyakan, akhirnya mereka pun makan dengan lauk sederhana, yaitu sup daging. Karena Ayunda belum bisa makan yang keras-keras, jadi Naren hanya memberikan kuah dan nasi yang lembek saja. Namun bukan bubur. 


Ayunda makan dengan perlahan, saat nasi nya masuk ke dalam perut, itu terasa sedikit menyakitkan, tapi Ayunda masih bisa menahan nya karena dia juga lapar. 


Di kantor, Mark terlihat sangat sibuk. Setelah dia melihat Ayunda sadar tadi dan di rumah sakit sudah melihat Arvin dan Melisa yang menemani Narendra, Mark pun memilih pergi ke kantor untuk bekerja karena pekerjaan di kantor hari ini sangat menumpuk. 


"Hadeuhh, alamat keburu tua di kantor ini mah. Gak ada waktu kelon sama ayang." Gumam Mark sambil menelungkup kan kepala nya di atas meja yang terdapat banyak sekali berkas-berkas yang belum di kerjakan disana. Hari ini, pokoknya benar-benar melelahkan bagi Mark, kalau saja Narendra masuk kerja mungkin dia takkan sesibuk ini.


"Hufftt, Nona Ayunda apa kabar nya ya? Apa dia baik-baik saja?" Gumam nya lagi. Tadi, saat dia pergi memang dia sudah melihat kalau Ayunda sudah sadar, namun entahlah seperti apa reaksi nya saat mengetahui kalau dia keguguran. Membayangkan nya saja sudah membuat Mark menggelengkan kepala nya, dia tak sanggup membayangkan seperti apa rasa sakit nya di tinggal seseorang yang sangat di nanti-nanti kan kehadiran nya, bahkan sebelum mereka sempat bertemu. 


"Semoga saja dia baik-baik saja."


Mark pun memutuskan untuk beristirahat sejenak, ini sudah jam pulang kerja namun dia memutuskan untuk pulang sedikit terlambat saja agar pekerjaan nya lebih ringan esok hari. Rencana nya, besok dia akan mengajak Maya untuk ke butik mencoba beberapa gaun untuk pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari saja. 


Kembali ke situasi di rumah sakit, sekarang ini Ayunda mengalami meriang, tubuh nya panas namun wanita itu mengeluh kedinginan. Narendra yang khawatir pun segera menanyakan tentang kondisi sang istri pada dokter. 


Dokter yang bersangkutan pun langsung datang dan melihat keadaan Ayunda. Ternyata, meriang ini adalah efek alergi dari obat bius saat tadi di lakukan operasi. Tidak apa-apa, setelah di berikan obat keadaan nya sudah membaik seperti sedia kala, namun Narendra tetap saja khawatir dengan keadaan sang istri, tak sedetik pun dia meninggalkan Ayunda, kecuali ke kamar mandi. 


Arvin dan Melisa juga sudah pulang atas perintah Narendra. Dia paham dan tahu benar kalau papi nya itu baru saja pulang, pasti dia merindukan sang Mami. Jadi tidak mungkin dia meminta sang ibu untuk menginap disini menjagakan istrinya, dan mengabaikan kewajiban nya sebagai istri.


Lagi, Arvin baru saja sampai ke kota ini tadi pagi dan belum sempat beristirahat dia sudah pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan menantu nya, dia butuh istirahat saat ini. Demi kesehatan nya juga, karena Arvin sudah tidak muda lagi sekarang, membuat imun tubuh nya sering naik turun. Kelelahan sedikit saja, keesokan hari nya dia akan langsung demam. 


Maka dari itu, Narendra tidak ingin melihat sang papi sakit, jadi dia meminta kedua nya pun untuk pulang ke rumah. Awalnya mereka menolak, terutama Melisa. Namun setelah di bujuk, akhirnya mereka pun pulang dan akan kembali esok hari untuk mengantarkan pakaian dan juga makanan untuk sarapan. Untuk saat ini, biarlah mereka beristirahat dulu karena Melisa sudah berada di rumah sakit sedari tadi pagi.


Begitu juga dengan Arvin, dia juga datang sedari tadi pagi. Dia bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri, baru sampai langsung pergi kembali ke rumah sakit untuk mencari Ayunda. Karena khawatir, bisa melupakan semua nya bahkan rasa lelah pun bisa hilang seketika kalau sedang khawatir, itulah yang terjadi pada Arvin.


........

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2