
Pria tampan itu sedang memijat kepala sang istri, sedangkan Ayunda sudah tertidur lelap. Wajah nya masih terlihat sangat pucat. Sungguh demi apapun, wajah pucat itu membuat Naren khawatir. Dia tidak bisa melihat istrinya seperti ini.
Keadaan yang seperti ini, membuat Narendra merasa deja vu. Dulu, Ayunda juga mengalami hal seperti ini saat dia hamil muda. Dia merasa lemas setelah muntah-muntah parah setiap pagi nya.
"Sayang, Mas ke bawah dulu ya? Mau bikin teh jahe. Biar badan kamu enakan." Ucap Narendra lirih, dia pun pergi meninggalkan sang istri di kamar sendirian. Mau bagaimana pun, dia tidak bisa berpangku tangan. Jujur saja, dia memang tidak terlalu bisa membuat teh jahe, tapi ada maid yang mungkin bisa mengajari nya membuat teh itu.
Teh jahe buatan Melisa yang biasa nya selalu membuat tubuh Narendra merasa enakan setelah seharian bekerja. Biasa nya, wanita itu akan membuatkan teh itu jika Narendra mengeluh badan nya pegal-pegal dan itu sangat ampuh. Keesokan hari nya, tubuh nya pasti akan terasa jauh lebih baik.
"Tuan muda.." sapa salah satu maid yang kebetulan sedang berada di dapur.
"Emm, bisa ajarin saya bikin teh jahe, Bi?" Tanya Narendra.
"Teh jahe? Siapa yang mabuk, Tuan?"
"Istri saya. Dia mabuk, makanya gak jadi ke acara pernikahan nya Mark." Jawab Narendra pelan.
"Ohh, baik Tuan. Mari saya ajarkan." Ucap nya, dia pun menyanggupi untuk mengajarkan Narendra cara membuat teh jahe untuk menyegarkan badan.
Di tempat lain, tepatnya di pesta pernikahan Maya dan Mark. Pria itu terlihat sangat gagah dengan setelan tuxedo berwarna hitam. Di samping nya, ada Maya yang terlihat sangat cantik dan anggun menggunakan dress berwarna putih gading yang tertutup. Cantik sekali, bahkan saat pertama kali wanita itu keluar dari ruangan nya, Mark sampai tidak bisa berkata-kata. Dia menganga melihat kecantikan yang di miliki oleh calon istrinya.
"Tuan besar.." Sapa Mark sambil tersenyum, dia membungkuk hormat ketika melihat Arvin dan Melisa datang ke pelaminan.
"Selamat atas pernikahan mu, Mark."
"Terimakasih, Tuan. Suatu kehormatan untuk saya karena anda bisa hadir di acara pernikahan saya yang sederhana ini." Jawab Mark sambil tersenyum tulus.
"Kau terlalu merendah, Mark. Aku juga manusia biasa seperti dirimu."
"Selamat juga untuk mu, Maya." Ucap Arvin lagi. Melisa terlihat memeluk wanita itu dan mengusap-usap punggung nya dengan lembut.
"Terimakasih, Tuan."
"Selamat untuk mu, Maya. Maaf, kalau selama kamu berada di mansion, ada banyak kesalahan yang saya lakukan ya." Ucap Melisa dengan lembut. Dia mengusap wajah Maya dengan hangat, penuh kasih sayang. Tatapan nya sangat lembut, membuat hati siapapun merasa nyaman akan kehangatan yang di berikan oleh Melisa.
"Nyonya tidak memiliki kesalahan apapun pada saya, justru harusnya saya yang meminta maaf pada Anda. Mungkin saja, selama saya bekerja di mansion, saya sering ceroboh."
"Kita saling memaafkan ya, kamu sudah menjadi istri Mark sekarang. Mungkin Minggu kemarin adalah hari terakhir kamu bekerja di mansion ya, May?"
"Iya, Nyonya. Mas Mark meminta saya untuk tetap berada di rumah setelah menikah."
"Aku menghormati keputusan mu, lagi pula tugas baru mu sekarang adalah menjadi istri yang mengabdi dan menurut pada suami nya. Jadilah istri yang baik ya, Maya. Kalian pasangan yang serasi, selamat berbahagia." Ucap Melisa.
"Terimakasih atas semua doa nya, Nyonya."
"Sama-sama, Maya. Setelah ini, sering-seringlah main ke mansion ya? Biar Ayunda ada temen nya, kalian sudah akrab kan? Kasian dia, kalau kamu berhenti kerja dia kesepian. Soalnya cuma kamu yang bisa seakrab itu dengan nya." Ucap Melisa.
"Baik, Nyonya. Tentu saja, saya akan sering-sering bermain ke mansion jika di izinkan."
"Tentu saja, pintu mansion akan selalu terbuka untukmu." Ucap Melisa. Sekali lagi, dia memeluk tubuh Maya dengan hangat. Setelah nya, Melisa dan Arvin pun turun dari pelaminan. Kedua nya pun pergi berbincang dengan tamu undangan yang mereka kenali, rata-rata disini tamu undangan nya adalah klien bisnis nya juga di masa jaya nya dulu. Sekarang, mungkin jadi klien putra nya, karena perusahaan miliknya sudah berpindah tangan atas nama Putra nya, Narendra.
"Hallo, apa kabar Arvino?" Sapa seseorang yang Arvin kenali.
"Ohh, hallo. Aku baik-baik saja, kau bagaimana? Sudah lama kita tidak bertemu."
"Ya, masih sama seperti dulu. Hanya saja sekarang, aku sendirian. Haha."
"Istrimu?" Tanya Arvino.
"Dia meninggal dan putra ku pergi ke luar negeri untuk menenangkan diri nya." Jawab pria paruh baya itu.
"Ke luar negeri? Lalu, bagaimana dengan bisnis mu disini? Perusahaan mu?" Tanya Arvin pada pria itu. Terlihat, pria itu menghela nafas dalam. Seperti nya, ini terlihat sangat berat bagi nya.
"Bangkrut, Vin."
"What? Perusahaan sebesar itu bisa bangkrut, jangan bercanda."
"Memang nya siapa yang bercanda, aku serius. Perusahaan ku sudah bangkrut, semua itu karena ulah Rudolf." Jelas Arga. Pria paruh baya itu terlihat menatap nanar ke arah Arvin.
"Astaga, Rudolf itu putra mu kan?"
"Iya, dia putra ku. Dia anak yang keras kepala, suka berfoya-foya, bermain wanita dan terakhir dia terlibat skandal narkobaa." Jelas nya membuat Arvino terheran-heran dengan tingkah pemuda itu.
Rudolf itu seumuran dengan Narendra. Namun, dia terlalu ambisius dalam hal-hal yang berhubungan dengan Narendra. Ya, benar. Insiden penjebakan hari itu pun, dalang nya siapa? Tentu saja Rudolf dan asisten nya. Dia iri dengan kesuksesan yang di raih oleh Narendra, padahal dulu mereka pernah berteman baik semasa SMA dan kuliah. Namun, saat Narendra memutuskan untuk melanjutkan perusahaan sang papa.
Saat itu, situasi nya hampir sama. Arga jatuh sakit, kesehatan nya memburuk dan Rudolf pun di tunjuk oleh Arga untuk melanjutkan perusahaan nya. Awalnya, Rudolf menolak karena dia tidak ada bakat di bidang bisnis. Namun, ketika mendengar kalau Naren juga terjun ke dunia bisnis. Akhirnya dia setuju.
Berkali-kali, Rudolf melakukan kecurangan-kecurangan yang merugikan perusahaan Narendra. Tujuan nya, hanya untuk menjatuhkan Narendra. Tapi, Narendra tidak bodooh. Dia sangat cerdas, dengan mudah dia mengatasi semua masalah yang di perbuat oleh Rudolf dan akhirnya pria itu selalu kalah. Dia selalu berada di bawah Narendra dan Naren selalu berada beberapa langkah di depan Rudolf. Itu menimbulkan banyak kebencian dari Rudolf pada Narendra.
Iri ternyata bisa membuat orang sekejam itu? Ulah terakhir Rudolf adalah menjebak Narendra bersama Ayunda hari itu. Dia menyangka Naren akan hancur, namun nyatanya tidak sama sekali. Sekarang, Narendra sudah hidup bahagia bersama Ayunda.
Rudolf marah, dia murka karena semua usaha nya untuk menjatuhkan Naren gagal. Tak ada satu pun yang berhasil, nama Narendra malah semakin bersinar. Narendra menjelma menjadi seorang pria yang sukses dan sekarang di dukung oleh sosok Ayunda di samping nya.
__ADS_1
Karma is real, pada akhirnya orang yang melukai akan terluka pada waktu nya kan? Itu benar adanya. Hanya berjarak satu tahun saja, disaat Narendra berbahagia karena berita kehamilan sang istri. Justru Rudolf harus menelan pil pahit karena salah satu jalaang nya hamil dan dia nekat mempublikasi nya ke pihak media.
Tentu saja, itu mencoreng nama baik Rudolf yang selama ini di anggap pria baik-baik. Shock, jelas saja. Namun, bukan nya bertanggung jawab, Rudolf malah bermain kotor dengan nekat membunuh jalaang yang tengah mengandung benih nya. Sial bagi Rudolf memang, perbuatan nya terciduk dan dengan cepat menyebar ke semua media sosial.
Saat itu, semua klien bisnis yang bekerja sama dengan perusahaan nya langsung mencabut saham nya dari perusahaan Rudolf dan akhirnya jatuh bangkrut. Rudolf frustasi, belum lagi hutang yang melilit menyusul kebangkrutan perusahaan itu.
Karena berita yang semakin memanas, ibu Rudolf yang saat itu memang sedang tidak sehat mengalami serangan jantung dan nyawa nya tidak bisa di selamatkan. Polisi berdatangan setiap hari, mengepung rumah Arga. Hingga akhirnya, Rudolf kabur ke luar negeri dan tidak pulang sampai saat ini.
Dia tidak berani menampakan batang hidung nya lagi di negara ini, karena sudah jelas kalau dia berani datang, polisi akan langsung menangkap nya. Hidup Rudolf sangat kacau setelah itu, kini hanya ada Arga yang hidup apa adanya di tengah kesendirian nya.
"Sekacau itu perbuatan putra mu, Ga?" Tanya Arvino, Arga hanya menganggukan kepala nya. Sungguh, dia di buat pusing dengan perbuatan putra nya itu. Lebih di sayangkan nya lagi, dia hanya memiliki satu anak. Jadi dia tidak bisa memilih karena Rudolf adalah putra satu-satunya.
"Aku terlihat seperti orang tua yang gagal kan, Vin? Andai saja, anak ku seperti Naren. Mungkin semua ini takkan terjadi, aku jatuh miskin sekarang."
"Tidak, kau tidak gagal, Ga. Tidak ada orang tua yang gagal mendidik anak nya sendiri, Arga. Hanya saja, mungkin anak mu.."
"Hmm, sudahlah. Mana Narendra? Aku dengar dia sudah menikah dan sekarang istrinya sedang hamil, selamat ya. Kau akan menjadi kakek, Vin."
"Kalau saja iya, mungkin aku sangat bahagia mendengar ucapan mu itu, Ga." Ucap Arvino lirih. Kini, mereka beralih untuk duduk di salah satu meja dengan Melisa memilih untuk diam dan menikmati hidangan yang tersedia di bagian perasmanan.
"Maksud mu apa, Vin?"
"Sayang sekali, Ayunda harus keguguran." Jawab Arvin lirih. Dia tersenyum kecut, rasa sakit yang di tinggalkan calon cucu nya masih begitu terasa sekarang.
"Keguguran?"
"Iya, kau tau kan Trisa?"
"Aku hanya tau kalau dia model, itu saja."
"Trisa itu mantan kekasih Narendra dulu, namun kami tidak setuju karena dia bekerja sebagai model. Kau tau seperti apa dunia bisnis bukan? Jika ingin terkenal, maka ada harga yang cukup mahal yang harus di bayar."
"Iya, aku tau jelas. Lalu?"
"Trisa itu wanita tidak benar, karena teman ku pernah bermalam dengan nya. So, aku melindungi anak ku dari hama. Tapi, tak lama setelah Naren menikah, dia datang dan kembali mengejar-ngejar putraku. Dia berniat menghancurkan rumah tangga Naren dan Ayunda." Jelas Arvino.
"Puncak nya, saat dia mengirim mata-mata ke mansion dan dia menyuruh nya untuk membubuhkan obat penggugur kandungan dalam dosis tinggi ke dalam minuman dan makanan yang di konsumsi menantu ku."
"Astaga, wanita gila."
"Iya, dia memang wanita gila. Karena obsesi nya itu, Ayunda harus keguguran dan sampai sekarang dia masih belum hamil lagi."
"Iya, Arga." Jawab Arvino.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, kemana putra mu sekarang? Kok gak keliatan." Tanya Arga sambil celingukan, sedari tadi dia berada di tempat ini dan berbincang dengan Arvino, dia tidak melihat keberadaan Narendra dan istrinya.
"Tadi dia putar balik karena istrinya mabuk perjalanan."
"Ohh, mabuk perjalanan?" Tanya Arga.
"Iya, dia muntah-muntah sampe lemes."
"Jangan-jangan dia sedang hamil lagi, Vin." Celetuk Arga sambil tersenyum kecil.
"Aku kok tidak kepikiran ya? Tapi kata Ayunda, baru kemarin dia selesai menstruasi. Masa hamil?"
"Gak ada salahnya di test dulu kali, Vin. Rezeki gak ada yang tahu kan?" Ucap Arga dengan tenang.
"Benar juga, nanti saja aku bilangin dulu pada Naren."
"Good luck ya, semoga ada kebahagiaan yang lebih untuk keluarga kalian."
"Hmm, tapi ayah ku masih koma di luar negeri sekarang."
"Koma? Kenapa dengan Om Darren, Vin?" Tanya Arga. Dia belum mengetahui apapun tentang keadaan Darren sekarang. Dia menyangka, pria itu baik-baik saja meskipun rasanya sudah sangat lama dia tidak lagi bisa mendengar apalagi menemui pria itu.
"Dia kecelakaan di Amerika, sayang sekali beberapa organ vital nya rusak hingga membuat nya koma seperti saat ini." Jelas Arvino.
"Astaga, Vin. Aku beneran gak tau apa yang terjadi pada orang tua mu."
"Tidak apa-apa, aku juga tidak masalah. Jangan khawatir, sekarang aku merasa sedikit lebih lega."
"Rencana nya, kapan kau akan berkunjung kesana, Vin?" Tanya Arga lagi. Dia memang kenal baik dengan sosok Darren. Dia pria yang baik dan humble. Namun, lagi-lagi Rudolf merusak semua nya. Sialan memang, tapi dia tidak bisa membenci Rudolf karena dia adalah putra nya. Satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini, meskipun sekarang dia tidak mengetahui dimana keberadaan putra nya itu.
Sudah hampir dua tahun dia menghilang tanpa kabar. Nomor ponsel nya tidak aktif, bahkan posisi nya saja tidak bisa di lacak. Entah seperti apa kekuatan yang dia miliki hingga dia tidak bisa di lacak meskipun Samuel sudah mengerahkan hacker untuk melacak posisi putra nya. Hasil nya nihil, hingga saat ini dia belum bertemu lagi dengan sosok Rudolf.
"Minggu depan maybe, kenapa?"
"Aku ingin ikut dengan mu, bagaimana pun juga aku dan Om Darren saling mengenal. Tak ada salahnya kalau aku ikut bersama mu untuk melihat keadaan nya kan?" Tanya Arga sambil tersenyum kecil.
"Ya, nanti aku kabari lagi." Jawab Arvino. Setelah beberapa lama, akhirnya Arvin pamit untuk pulang lebih dulu. Mereka mengkhawatirkan keadaan Ayunda, tadi dia terlihat sangat lemas. Membuat mereka tidak bisa tenang saat berada di tempat ini.
__ADS_1
"Kita pulang duluan ya, Arga. Khawatir banget sama Ayu."
"Iya sok, hati-hati di jalan nya, Vin."
"Ya, senang berjumpa dengan mu." Ucap Arvin sambil menepuk pelan bahu Arga.
"Senang juga bertemu dengan mu, Vin." Balas Arga. Setelah nya, mereka pun keluar dari gedung. Tentu nya setelah berpamitan lebih dulu pada kedua mempelai pengantin yang tengah berbahagia saat ini.
Arvin mengemudi sendiri hari ini, dia malas menunggu supir dan beberapa orang lagi. Dia sudah tidak tahan ingin pulang untuk bertemu dengan menantu nya, sungguh sekarang dia sangat merasa khawatir pada Ayunda.
Di rumah, Ayunda masih merasakan pusing di kepala nya. Tak lama kemudian, datanglah sosok Narendra yang membawa gelas berisi teh jahe hangat yang baru saja matang. Terlihat dari asap yang mengepul, menandakan kalau minuman itu masih panas.
"Sayang, sudah bangun? Gimana, udah agak enakan belum?" Tanya Narendra dengan senyuman kecil nya.
"Masih pusing terus lemes, Mas."
"Yaudah, ini minum dulu."
"Apa ini, Mas?" Tanya Ayunda lirih.
"Teh jahe, Mas yang bikin sendiri lho khusus buat kamu. Ya, dia ajarin sama bibik sih, tapi ya gapapa kan? Setidaknya, Mas keliatan usaha nya gitu. Hehe."
"Hmmm, memang nya harus ya aku minum teh jahe, Mas?"
"Mas kalo capek, badan gak enak, pusing, biasa nya minum ini biar seger. Biasa nya bakalan langsung enakan, sayang. Cobain aja dulu."
"Iya deh, Mas." Jawab Ayunda. Dia pun meminum teh nya secara perlahan sambil meniup-niup nya pelan agar cepat dingin.
"Mas, terimakasih. Teh nya enak, hangat banget."
"Kamu suka?"
"Iya, suka banget Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau kamu suka, Mas senang mendengar nya." Narendra mengusap lembut puncak kepala Ayunda dengan mesra. Lalu mengecup nya dengan hangat, sungguh kalau berurusan dengan mencium istrinya, dia takkan pernah ada bosan nya. Setiap hari, dia selalu mencium Ayunda, tapi tidak pernah bosan. Malahan bikin nagih, kalau di kantor sering kebayang-bayang terus. Seringkali membuat dirinya tidak fokus saat bekerja.
"Mami sama Papi belum pulang, Mas?" Tanya Ayunda dengan suara lirih nya.
"Belum, sayang. Acara nya mungkin belum selesai. Kenapa?"
"Gapapa kok, Mas."
"Mau makan sesuatu, sayang? Biar Mas bikinin."
"Seriusan ini mau di bikinin, Mas?" Tanya Ayunda dengan senyum menggoda nya.
"Hehe, kalo gampang sih masakan nya ya bikin aja sendiri. Kalo susah, ya Mas gofood aja." Jawab Narendra dengan enteng.
"Aku kepikiran makan sup buntut deh, Mas. Kayaknya enak, terus di pakein perasan jeruk nipis."
"Oke, Mas orderin aja deh. Kalo masak sendiri, takut gak enak." Jawab Narendra sambil membuka ponsel nya.
"Iya, Mas. Biasanya Mami yang masakin, udah jelas enak tuh kalo masakan Mami. Tapi, Ayu gak mau repotin Mami. Kasian, dia pasti capek habis kondangan."
"Ohh, pengen Mami yang masakin? Oke, mami masak sekarang." Celetuk seseorang yang membuat kedua nya menatap ke arah sumber suara. Terkejut? Jelas, ketika mereka melihat ada Melisa di ambang pintu tengah tersenyum ke arah mereka.
"Mami, kapan pulang?"
"Baru saja, Mami khawatir sama kamu, sayang. Gimana keadaan kamu? Sudah membaik atau masih sama?" Tanya Melisa sambil berjalan mendekat. Dia mengusap puncak kepala menantu nya dengan sayang.
"Masih pusing dikit aja kok, Mi. Ini udah membaik habis minum teh dari Mas Naren." Jelas Ayunda dengan jujur.
"Syukurlah kalo gitu. Jadi, kamu mau makan sup buntut masakan Mami?"
"Iya, tapi gapapa deh Mi. Biar Mas Naren pesen dari aplikasi aja, kasian Mami pasti capek banget baru pulang."
"Mami gak bakalan pernah capek apalagi nolak, kalau itu buat kamu, sayang. Jangan sungkan sama Mami, toh Mami sayang banget sama kamu. Gak mungkin Mami gak nurutin apapun kemauan kamu." Ucap Melisa sambil mengusap wajah cantik menantu nya dengan lembut lalu dengan gemas mencubit pipi gembul Ayunda.
"Mami, jangan di cubitin gitu ihh istri Naren nya."
"Iya iya, cubit gemas juga. Padahal pelan kok, tuh istri kamu aja gak nolak." Ucap Melisa.
"Yaudah, mami ke bawah dulu mau masak buat kamu. Kebetulan banget, si bibik habis beli stok buntut di freezer, jadi pasti masih seger aja buntut nya." Ucap Melisa. Dia pun pergi ke bawah untuk memasarkan makanan yang di inginkan Ayunda.
Terkadang, Ayunda merasa tidak enak dengan apa yang di lakukan oleh Melisa padanya. Tapi, dia terlihat sangat tulus apalagi senyuman nya yang selalu menenangkan itu membuat nya senang. Siapa sangka, anak yang malang dan tidak di anggap keberadaan nya ini bisa merasakan di berikan kasih sayang sehebat ini?
Siapapun, pasti akan iri pada Ayunda. Dia adalah wanita yang sangat beruntung karena bisa di sayangi sehebat itu oleh suami dan mertua nya juga.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1