Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 97 - Ngidam yang Sama


__ADS_3

"Hallo, sayang. Ada apa? Kangen sama Mas?" Tanya Narendra dengan wajah berbinar nya, padahal tadi wajah nya di tekuk karena kesal dengan kedatangan Trisa dan juga Mark yang seolah mengolok-olok nya dengan mengatakan kalau wajah nya kusut, padahal dia pasti tahu apa yang terjadi. Menyebalkan sekali memang, kalau saja dia sudah punya memiliki asisten yang lain, dia akan memecat nya.


Heran deh, punya asisten plus sekretaris yang doyan sekali menggoda atasan nya. Kalau saja kinerja nya gak bener, sudah pasti Narendra akan langsung memecat nya hari itu juga, tapi Narendra tidak bisa melakukan nya karena selama ini kinerja Mark sangat bagus. Karena hal itulah dia mengangkat nya menjadi sekretaris juga asisten pribadi nya.


'Gak usah terlalu percaya diri deh, Mas. Aku cuma mau bilang, kalau pulang nanti bawain kue cubit yang green tea sama choco hazelnut.' Ucap Ayunda di seberang telepon sana. Sekarang, kue itu menjadi kue kesukaan Ayunda. Hampir setiap hari, wanita hamil itu pasti meminta di bawakan kue cubit rasa green tea dan choco hazelnut.


Terkadang, Naren merasa heran sendiri. Apakah istrinya itu tidak merasa bosan memakan makanan itu setiap hari? Seperti nya tidak, karena saat memakan kue cubit itu, Ayunda selalu terlihat sangat lahap bahkan dia bisa menghabiskan dua porsi itu sendirian. 


Tapi ya, itulah Ayunda. Dia tipe orang yang kalau sudah menyukai sesuatu, pasti akan terus memakan nya hingga dia bosan. Barulah dia akan mencari makanan yang lain, lalu memakan nya seperti itu. Setelah bosan, barulah dia akan mencari makanan yang lain. Selama dia belum bosan, pasti kalau pesan makanan ya itu-itu saja, seperti sekarang.


"Iya iya, kamu gak bosen makan kue itu setiap hari, Mom?" Tanya Narendra. Dia menjepit ponsel nya di telinga, sedangkan tangan nya sibuk mengetik di laptop, mengerjakan pekerjaan yang menumpuk seperti biasa. Tapi, begitu mendengar suara lembut mendayu sang istri, tentu saja itu membuat semangat nya untuk bekerja kembali. 


'Enggak kok, Mas. Yang pengen nya kan bukan cuma aku, tapi baby nya juga. Tambahin deh, aku mau yang gurih-gurih gitu.' 


"Apa? Mas gak tahu makanan apa yang kamu inginkan." Tanya Narendra. Kalau membeli makanan yang dia tahu, tapi sang istri tak menyukai nya kan bahaya gitu, dia juga yang repot nanti nya. 


'Telor gulung sama cilor ya, Mas. Masing-masing sepuluh ribu.'


"Okey, mau es jeruk gak?" Tawar Narendra membuat Ayunda terdiam. Seperti nya dia sedang berpikir keras, apakah dia mengingkan es jeruk atau tidak. Harus di maklumi, nama nya juga bumil. Kadang keinginan nya gak bisa di tebak. 


'Enggak deh, Mas. Aku mau boba.'


"Rasa coklat atau cappucino?" Tanya Naren lagi, benar-benar definisi pria yang pengertian. Dia tidak pernah menolak saat istri nya menginginkan sesuatu, kecuali makanan pedas. Tapi, kalau pedas nya masih wajar sih tidak masalah. Naren pasti akan memberikan apapun untuk Ayunda, karena dia harus menjaga mood istri nya untuk tetap baik-baik saja. 


Dia tahu dan mengerti benar seperti apa mood wanita hamil, karena dia sedang mengalami nya. Kadang, Ayunda berubah menjadi wanita yang manja bahkan tidak mau kalau dia tinggal bekerja. Terkadang juga sebaliknya, Ayu tidak ingin berdekatan dengan suami nya karena aroma tubuh nya membuat nya mual, katanya. Jadilah, sudah dua malam ini kedua nya tidur di kamar yang berbeda.


Artinya, sudah dua malam ini juga Narendra uring-uringan karena dia tidak bisa memeluk istri nya, bermanja-manja dengan nya apalagi meminta jatah nya, tidak sama sekali. Itu di karenakan Ayunda yang tidak mau berdekatan dengan suami nya sendiri.


'Coklat aja, Mas.' 


"Oke, sebentar lagi Mas pulang kok. Dua jam lagi palingan, sabar ya?"


'Iya, Mas. Kamu hati-hati di jalan nya ya.' Ucap Ayunda di seberang telepon.


"Malam ini, Mas bisa tidur sama Mommy gak? Kangen lho, Daddy mana bisa di giniin terus." 


'Lihat nanti aja deh, Dad. Udah dulu ya, ini Mami lagi bikin pudding.' 


"Pudding apa, sayang?" Tanya Narendra. 


'Itu lho, pudding yang pakai roti tawar.'


"Sisain Mas ya? Mau juga." Pinta Narendra, Ayunda terkekeh pelan di seberang sana.


'Iya Masku, yaudah semangat kerja nya. Aku mau bantuin Mami dulu.'


"Iya, sayang. Jangan berat-berat ya, inget kandungan kamu." 


'Iya, Mas. Janji kok, aku gak bakalan kecapean lagi.' Ucap Ayunda. 


"Mas pegang janji kamu. Yaudah, Mas lanjut kerja lagi ya, Mom." 


'Oke Mas.' Jawab Ayunda. Panggilan pun selesai. Narendra mengambil ponsel dan tersenyum kecil saat melihat wallpaper ponsel nya adalah foto Ayunda yang dia ambil secara diam-diam tanpa sepengetahuan wanita cantik itu. 


Di rumah, Ayunda sedang membantu mengaduk pudding nya di panci, namun ya lagi-lagi karena tidak fokus, tangan nya malah tak sengaja menyentuh panci panas yang membuat tangan nya melepuh.


"Awwhss.." Ayunda meringis sambil menjauhkan tangan nya, untung saja panci nya tidak terjatuh karena gerakan refleks yang di lakukan oleh Ayunda. 


"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Melisa sambil berjalan mendekat begitu mendengar menantu nya meringis. Dia khawatir terjadi sesuatu yang tak di inginkan, kalau hal itu sampai terjadi bisa-bisa Narendra akan menelan nya hidup-hidup. 


"Kena panci, Mi. Gapapa kok, cuma merah doang dikit."


"Astaga, sayang. Kamu ini kenapa ceroboh sekali?"


"Maaf, Mami.."


"Gapapa, di olesin pake pasta gigi. Kamu duduk aja, jangan bantuin Mami ya." Ucap Melisa, Ayunda ingin menolak karena lagi-lagi dia merasa tidak enakan kalau harus berdiam diri saat ibu mertua nya sibuk membuat sesuatu. Apalagi nanti dia akan memakan nya juga, jadi rasa nya sedikit tidak nyaman kalau dia hanya diam saja. 


"Maafin Ayu ya, Mi." 


"Gapapa, sayang."


"Nanti kamu tugas nya nyobain aja."


"Maafin Ayu, Mi."


"Udah, gak usah minta maaf segala. Memang nya kamu punya salah apa sama Mami hmm?" Tanya Melisa sambil mengusap lembut rambut Ayunda. Dia juga mencubit pelan pipi Ayunda yang tembem saking gemas nya.


"Kamu udah ngemil belum, sayang?" Tanya Melisa lagi sambil melanjutkan pekerjaan Ayunda tadi, mengaduk adonan pudding nya di panci. 

__ADS_1


"Belum, Mi."


"Kenapa? Salad buah kan masih ada di kulkas, kenapa gak kamu makan hmm?" Tanya Melisa. 


"Tinggal satu kotak lagi, Mi."


"Terus kenapa?"


"Takut nya itu punya Papi, Mi." Jawab Ayunda membuat Melisa menoleh ke arah sang menantu.


"Makan aja, nanti Papi kalau mau Mami buatin lagi. Apapun yang ada di kulkas, kalau kamu mau ya tinggal makan saja." Ucap Melisa sambil tersenyum.


"Terimakasih, Mami. Kalau begitu Ayu makan aja ya salad nya?"


"Makan saja, sayang." Jawab Melisa. Ayunda pun beranjak dari duduk nya, lalu membuka kulkas dan mengambil kotak berisi salad buah lalu membawa nya ke meja dan memakan nya dengan lahap. Rasa nya sangat enak, menyegarkan karena baru saja keluar dari kulkas. Salad buah akan terasa jauh lebih enak jika di makan dingin.


Dua jam berlalu, akhirnya Narendra sudah menyelesaikan semua pekerjaan nya. Dia sudah bersiap untuk pulang sekarang. Dia membereskan alat kerja nya, ada beberapa berkas-berkas yang dia bawa, termasuk laptop nya juga dia masukkan ke dalam tas kerja nya. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Narendra pun pergi dari ruangan nya dan mengunci pintu nya, seperti biasa. Meskipun barang-barang pribadi nya tetap dia bawa ke rumah, tetap saja dia khawatir ada orang yang berniat jahat tiba-tiba saja masuk ke ruangan nya. 


"Ruangan ku harus di bersihkan sepagi mungkin, kau paham?"


"Paham, Tuan."


"Kunci nya ada di tempat biasa, ingat jangan beri tahu siapapun dimana letak kunci itu." Ucap Narendra dengan wajah datar nya. Pria itu pun langsung pergi dengan langkah tegap nya, bahkan punggung nya sudah terlihat menjauh meninggalkan kantor nya. 


Narendra menenteng tas nya, dia memutar mata nya dengan jengah saat melihat Mark, asisten nya di loby. Dia tersenyum manis ke arah Naren, namun hal itu membuat Narendra kesal. Karena bagi nya, senyuman Mark terlihat seperti sedang mengejek ke arah nya.


"Selamat sore dan selamat beristirahat, Pak."


"Ya, kau juga." Jawab Narendra. Dia pun pergi tanpa mengatakan hal apapun lagi setelah nya. Pria itu berjalan dengan tegap dan pandangan yang lurus ke depan. Dia masuk ke dalam mobil, dia pun memarkirkan nya terlebih dulu dan melajukan nya dengan kecepatan rata-rata. 


"Nyari kue cubit, terus beli telor gulung sama cilor dua puluh ribu, terus minuman Boba." Gumam Narendra mengingat-ingat pesanan sang istri. 


Perhentian pertama adalah tempat membeli telor gulung dan cilor, dia membeli makanan street food itu masing-masing sepuluh ribu. Setelah mendapatkan nya, dia membeli minuman Boba dan terakhir membeli kue cubit. Semua pesanan sang istri di rumah, sejak hamil dia jadi lebih suka makan makanan manis atau gurih. 


Baguslah, jadi Naren tidak perlu membujuk istri nya untuk tidak makan makanan pedas, pada kenyataan nya, Ayunda juga tidak terlalu suka makanan pedas karena dia memiliki penyakit lambung. Makan makanan pedas sedikit saja, perut nya akan langsung bergejolak. Tapi tetap saja terkadang Ayunda diam-diam makan pedas seperti sambel atau makanan lain. 


Setelah mendapatkan semua nya, Narendra pun pulang dengan senyum manis nya. Dia memarkir mobil miliknya di garasi, lalu keluar dan saat itu juga dia di sambut oleh sang istri yang juga menyambut nya dengan senyuman manis juga. Pria itu langsung memperlihatkan kresek berisi makanan pesanan sang istri dan Ayunda langsung memeluk sang suami dan juga mencuri ciuman di pipi kanan Narendra. 


"Makasih, sayang.."


"Sama-sama, sayang. Jadi, gimana? Malem ini, Mas bisa tidur sama kamu dan baby gak?" Tanya Narendra sambil tersenyum. Ayunda menatap sang suami lalu menganggukan kepala nya dengan cepat. 


"Kejutan apa, sayang?" 


"Lah, bukan kejutan nama nya kalau misal nya aku kasih tahu sekarang. Lihat aja nanti, Mas." Jawab Ayunda sambil mengedipkan sebelah mata nya dengan genit. 


"Ayo masuk, sayang." Ajak Ayunda sambil menarik tangan sang suami ke dalam rumah. Pria tampan itu pun tersenyum senang, melihat istri nya sudah mulai mau berdekatan dengan nya seperti ini saja sudah membuat nya senang.


"Nah, udah akur?" Tanya Melisa sambil tersenyum kecil. Dia juga ikutan senang saat melihat putra dan menantu nya itu akur. Terlihat jelas ekspresi wajah Narendra yang berbinar cerah, berbeda dengan tadi pagi. Wajah Naren terlihat sangat kusut, di tekuk seperti kertas origami. Pokoknya pria itu terlihat berantakan sekali, tapi sekarang sudah terlihat sangat membaik. 


Melisa juga paham benar ada apa dengan menantu nya, dia sedang hamil muda. Dia tahu juga mood wanita hamil seperti apa karena dia mengalami nya, bahkan satu bulan pertama, dia dan Arvin tidak tidur sekamar karena Melisa menolak untuk sekedar berdekatan dengan suami nya, alasan nya sama seperti Ayunda. Dia tidak suka dengan aroma suami nya, menurut nya itu sangat aneh dan membuat nya mual. 


Padahal biasa nya, dia juga menyukai aroma tubuh Arvin, bahkan pernah Arvin sakit beberapa hari dan tidak mandi, tapi dia tetap menempel saja di pelukan nya. Melisa tidak mempermasalahkan aroma tubuh suami nya, tapi sejak hamil Naren dia menjadi sensitif dan aneh nya, Ayunda juga sama seperti nya saat hamil dulu.


"Hehe, udah Mi. Gak kuat lama-lama marahan." Jawab Ayunda sambil terkekeh pelan.


"Dapet kue cubit nya?"


"Dapet, Mami mau?" Tanya Ayunda. Melisa mengangguk, dia penasaran dengan rasa kue itu. Hingga Ayunda memesan makanan itu setiap hari nya, bahkan Ayunda bisa memakan kue itu dua porsi sekaligus. 


"Nyobain deh." 


Kedua wanita itu pun duduk di sofa dan memakan kue cubit nya, kue cubit rasa green tea setengah matang. Ternyata, rasa nya benar-benar enak, lembut dan meleleh di mulut. Rasa green tea nya juga terasa, ada sedikit pahit nya menambah cita rasa kenikmatan kue itu. 


"Enak ya ternyata."


"Iya kan, Mi?"


"Iya, sayang. Pantesan aja kamu suka makanan ini, tapi apa gak bosen makan ini setiap hari?"


"Gak tahu, Mi. Tapi Ayu tuh kalau udah suka sama satu makanan, pasti bakalan terus makan ini sampai bosen. Bukan Ayu sih yang bosen nya, tapi pedagang nya sama yang lihat Ayu makan ini terus setiap hari." Jawab Ayunda sambil tertawa pelan. 


"Gitu ya, sayang?"


"Iya, Mami." Jawab Ayunda. Narendra juga terlihat turun dari kamar dengan pakaian santai nya, celana selutut dengan kaos berlengan pendek berwarna hitam, di tambah dengan rambut yang basah setelah keramas, menambah ketampanan seorang Narendra. 


'Ganteng nya suami ku.' Batin Ayunda. Dia sudah menikah beberapa bulan dengan Narendra, tapi sampai sekarang dia masih sering di buat terpesona dengan ketampanan yang di miliki oleh suami nya. 


"Biasa aja kali liatin Mas nya, sayang."

__ADS_1


"Ganteng soalnya, hehe." Jawab Ayunda sambil tersenyum kecil. 


"Kan suami kamu, jelas harus ganteng dong." 


"Betah deh liat wajah kamu, Mas." 


"Jadi, Mas ganteng nih?" Tanya Narendra sambil duduk di samping istri nya. 


"Iya, ganteng banget. Kenapa gitu?"


"Kalau begitu, kamu yakin nih masa ganteng-ganteng gini bau badan? Gak mungkin dong, apalagi sampai bikin mual." Jawab Naren menyindir sang istri, Ayunda mencebikan bibir nya sedangkan Narendra memainkan alis nya naik turun dengan genit. 


"Mana aku tahu, bawaan baby kayaknya."


"Itu akibat nya kalau bikin nya gak di sengaja, jadi nya gini." Celetuk Arvin sambil duduk dan mencomot satu kue cubit dari kotak nya, lalu memakan nya dalam sekali suapan. Ukuran nya yang kecil, memudahkan untuk memakan nya dalam sekali suapan saja. 


"Apaan sih Papi ini, nimbrung aja. Pake bilang gak sengaja, emang nya Papi bikin Naren itu di sengaja?"


"Enggaklah, mana Papi tahu yang mana yang jadi kamu. Soalnya sering, jadi Papi lupa." Jawab Arvin sambil tertawa. 


"Dih.."


"Ya soalnya, istri kamu ngidam nya sama kayak Mami. Dulu, Papi juga sama kayak kamu."


"Maksud nya, Pi?"


"Mami kamu tuh sering bilang kalau Papi itu bau, kamu percaya? Satu bulan lho Papi gak di bolehin tidur bareng sama Mami kamu." Jawab Arvin.


"H-aahh?"


"Iya, kalo gak percaya tanyain aja sama Mami kamu. Jadi, kalau sekarang istri kamu seperti itu sama kamu, anggap saja itu pembalasan karena gara-gara kamu dulu, Papi sering tidur sendirian." Celetuk Arvin. Entahlah, kenapa pria paruh baya itu bisa berpikiran sampai kesana. 


"Aisshh, Papi. Mana Naren tahu kalau dulu Naren gitu juga sama Papi."


"Kamu masih beberapa hari doang terus bisa tidur lagi sambil meluk istri kamu, lah Papi? Sebulan lebih lho, mana harus puasa. Belum juga lahiran masa nifas, udah puasa aja." Jawab Arvin sambil kembali menyuapkan kue cubit ke dalam mulut nya.


"Ini kue nya enak ternyata, besok Papi pesen yang coklat ya, Boy."


"Iya iya.."


"Sayang, ini cobain pudding lumut nya." Ucap Melisa sambil meletakan sepotong pudding lumut di depan sang menantu.


"Makasih, Mami ku."


"Sama-sama, sayang." Jawab Melisa sambil mengacak pelan rambut sang menantu dengan lembut karena gemas. Selain itu, dia juga senang mendengar panggilan Ayunda kepada nya. 


"Buat Naren mana, Mi?"


"Di dapur, ambil aja sendiri." Jawab Melisa membuat Narendra mencebikan bibir nya karena kesal. 


"Udah, gak usah merajuk. Sini aku suapin." Ucap Ayunda, dia pun mendekatkan sendok nya dan dengan senang hati Narendra langsung menerima suapan dari sang istri.


"Pudding nya enak kan, Mas?"


"Iya, enak sekali, sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum, namun dia malah salah fokus saat melihat pergelangan tangan Ayunda yang terlihat memerah.


"Itu tangan kamu merah, kenapa?" Tanya Narendra sambil menarik pelan tangan sang istri dan melihat permukaan kulit sang istri yang memang terlihat memerah.


"Ini kenapa? Ada yang bisa jelaskan?"


"Maaf, Mas. Tadi aku gak sengaja kena panci panas pas ngaduk pudding. Jangan marah, Mas."


"Memang nya kenapa kalau Mas marah, hmm?"


"Mas tuh nakutin kalau lagi marah." Jawab Ayunda lirih.


"Sudah tahu kalau Mas itu nyeremin kalau marah, tapi kenapa kamu selalu bikin Mas marah, sayang?"


"Ya maaf, Mas. Ayu kan gak sengaja, mana ada megang panci panas pake sengaja." Jawab Ayunda membuat Narendra menggelengkan kepala nya.


"Jangan ceroboh lagi ya, sayang?" 


"Iya, Mas. Jadi Mas maafin Ayu kan?"


"Oke, karena kesalahan kamu sekarang gak terlalu fatal, jadi Mas maafin. Tapi kalau lain kali kamu bikin kesalahan lagi, terus kesalahan nya besar, Mas kasih kamu hukuman. Mengerti sampai sini?" Tanya Narendra dan langsung di angguki oleh Ayunda. 


Perempuan itu pun kembali menyuapi suami nya dengan pudding buatan sang Mami, dan akhirnya piring itu pun bersih tak bersisa oleh kedua nya. 


.....

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2