
Hari ini, Ayunda dan keluarga sedang mengadakan syukuran di mansion. Acara kecil-kecilan yang di hadiri oleh anak yatim piatu dari panti asuhan Kasih Bunda dalam rangka syukuran kehamilan Ayunda yang saat ini sudah menginjak usia tujuh bulan.
Ayunda terlihat sangat cantik dengan mengenakan gamis berwarna putih, di samping nya ada Narendra yang juga mengenakan pakaian Koko. Penampilan pria itu sangat segar hari ini, karena malam tadi dia mendapatkan jatahnya, tentu saja. Takkan ada yang bisa membuat wajah Narendra secerah dan berbinar seperti ini jika bukan masalah tentang jatah.
"Sayang.." Panggil Narendra. Ayunda menoleh dan menatap wajah suaminya.
"Ada apa, Mas?"
"Kamu lelah? Ayo duduk, kamu lagi hamil nanti gampang pegel kaki nya." Ucap Naren. Dia pun meletakan sebuah kursi untuk istrinya duduk. Ayunda pun menganggukan kepala nya dan duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh sang suami. Jujur saja, setelah usia kandungan nya lima bulan, Ayunda memang lebih mudah lelah, dia juga sering kali mengeluh sakit pinggang. Mungkin karena bagian itu sangat bekerja keras untuk menopang berat tubuhnya.
"Pinggang aku sakit banget, Mas. Pegel juga.."
"Mau di pijit?"
"Gak usah, nanti aja kalau mau tidur. Boleh kan?"
"Iya, sayang. Yaudah sekarang kamu duduk aja dulu disini, mau minum atau makan, sekedar mengemil mungkin? Biar Mas ambilin." Jawab Narendra sambil tersenyum. Dia pun pergi ke area yang banyak makanan dan juga minuman yang memang sengaja di siapkan sebagai jamuan untuk para tamu yang datang.
Di antara banyak nya tamu undangan, disana ada Mark dan Maya. Keduanya pun datang atas undangan Narendra, juga undangan Melisa secara langsung pada Maya. Memang acara ini tidak di rencanakan sejak awal karena mereka tidak berniat untuk mengadakan acara seperti ini. Ini semua adalah usul dari Arvino, karena dia sangat bahagia dengan kehamilan menantu nya, jadi dia ingin menyambut nya dengan mengundang anak-anak dari panti asuhan untuk ikut serta mendoakan kehamilan Ayunda.
"Selamat atas kehamilan anda, Nona."
"Ohh, Maya.. Apa kabar?" Balas Ayunda sambil merentangkan kedua tangan nya, Maya pun mendekat dan memeluk Ayunda dengan erat. Maya adalah satu-satunya maid yang sangat dekat dengan Ayunda, karena kepribadian mereka yang hampir sama, membuat mereka bisa saling mengerti satu sama lain.
"Saya baik-baik saja, Nona. Bagaimana dengan anda?" Balik tanya Maya sambil melerai pelukan mereka. Maya tersenyum kecil, begitu pun dengan Ayunda.
"Aku juga baik-baik saja, sangat baik bahkan. Tapi ya memang sekarang agak sesak ya, susah gerak gitu karena perut aku udah besar gini." Jelas Ayunda sambil terkekeh.
"Saya dengar, anda sedang hamil kembar, Nona?"
"Iya, kata dokter sih sepasang gitu. Satu perempuan, satu laki-laki gitu."
"Wah, benarkah? Selamat, Nona. Saya sangat senang mendengar nya. Tuhan menggantikan buah hati anda sekarang." Ucap Maya sambil tersenyum antusias.
"Iya, Maya. Aku juga tidak menyangka kalau aku akan hamil twins. Tapi ya kalau memang sudah rezeki ya allhamdulilah." Jawab Ayunda sambil tersenyum, dia mengusap-usap perutnya yang membuncit besar.
"Nona, bolehkah saya usap perut anda? Jujur, saya gemas melihatnya, hehe." Pinta Maya, jujur saja dia merasa ragu untuk mengatakan hal itu pada Ayunda. Tapi dia tidak tahan ingin mengusap perut buncit Ayunda yang terlihat sangat menggemaskan baginya.
"Boleh, tentu saja. Silahkan usap saja.." Jawab Ayunda mengizinkan. Maya terlihat sangat senang, dia pun mengusap perut Ayunda dengan perlahan dan lembut. Sungguh, rasanya sangat membahagiakan hanya karena bisa mengusap perut Ayunda.
"Kamu pakai kontrasepsi atau enggak, May?"
"Gak pakai apa-apa kok, Nona. Hanya saja, mungkin belum aja di kasih rezeki sama yang di atas." Jawab Maya sambil tersenyum. Maya dan Mark sudah menikah selama hampir satu tahun, tapi sampai saat ini dirinya belum hamil juga. Padahal, sejak awal dia tidak mengenakan kontrasepsi apapun.
"Gapapa, sabar dulu ya. Nanti juga pasti bakalan hamil kok, apalagi kalian berdua tuh sehat-sehat gitu. Udah coba di periksa ke dokter kandungan?" Tanya Ayunda. Maya menganggukan kepala nya mengiyakan, dia sudah beberapa kali pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan diri. Hasilnya, semuanya bagus dan sehat. Mungkin hanya belum saja mungkin ya? Belum di berikan kepercayaan, mungkin Tuhan masih ingin memberikan waktu untuk Maya dan Mark berpacaran terlebih dulu karena mereka tidak mengalami fase yang namanya pacaran.
"Sudah, Nona. Hasilnya kamu berdua sehat-sehat saja, semua nya normal. Saat ini, saya sedang promil menggunakan susu dan beberapa makanan yang konon katanya bisa menyuburkan kandungan." Jawab Maya sambil tersenyum kecil.
"Kalau begitu, tinggal sabar nya aja kalian nunggu. Aku yakin, pasti secepatnya kalian akan mendapatkan momongan."
"Iya, mungkin Tuhan masih mau kita berdua aja dulu, kayak masih pacaran gitu. Soalnya dulu kami kan gak pacaran terlebih dulu sebelum menikah." Jawab Maya yang membuat Ayunda tersenyum kecil.
"Benar, semua pasti ada jawaban nya. Kalian hanya perlu bersabar ya."
"Iya, Nona." Jawab Maya sambil duduk di samping Ayunda. Kedua nya pun asyik mengobrol sesekali bercanda gurau, membuat suasana jauh lebih hangat. Hingga acara pun selesai dan anak-anak dari panti asuhan itu pun bersiap untuk pergi.
Ayunda, Narendra, Melisa dan juga Arvino berdiri menerima salam dari anak-anak kecil yang bisa di katakan kurang beruntung. Mereka tersenyum manis saat Ayunda memberikan beberapa bingkisan sebagai ucapan terimakasih. Isinya berupa jajanan, snack, susu dan juga uang untuk mereka jajan atau untuk keperluan mereka di panti nanti.
Melisa tersenyum melihat Ayunda yang terlihat sangat antusias untuk memberikan bingkisan itu, tak lupa dia juga memberikan usapan lembut di puncak kepala masing-masing anak, itu adalah hal yang sangat sederhana namun berarti banyak. Anak-anak itu sangat senang ketika Ayunda mengusap puncak kepala mereka dengan lembut. Mungkin, rasanya sama seperti Ayunda yang sering merasakan rindu akan kasih sayang orang tua, sama juga halnya dengan anak-anak itu.
Setelah acara selesai, Ayunda pun duduk di sofa sambil memegangi perutnya. Bukan sakit, tapi rasanya agak sesak seperti biasa, itu membuatnya kesulitan bergerak karena perut buncitnya. Ayunda tidak bisa leluasa bergerak kesana kemari karena hal itu.
"Sayang, ini di minum dulu."
"Terimakasih, Mas." Ucap Ayunda sambil menerima segelas jus jeruk dari tangan suaminya lalu meminum nya.
__ADS_1
"Istri Mas capek ya? Sini, punggung nya ngadep Ma sini." Pinta Narendra dan Ayunsa pun menuruti perkataan suaminya tanpa banyak bertanya. Naren pun memijit pinggang sang istri dengan lembut, membuat Ayunda merasa nyaman.
"Mas, ini belum di pijit." Ayunda menunjukkan punggung bagian atas nya yang belum di pijit oleh sang suami.
"Iya, sayang." Naren pun memijit punggung istrinya. Arvino yang baru saja masuk setelah melihat kepergian anak-anak panti itu pun ikut bergabung bersama putra dan menantu nya.
"Tumben banget kamu rajin, Boy?"
"Rajin apanya, Pi?" Tanya Narendra pada sang ayah.
"Itu, sampai mau mijitin istri kamu segala."
"Dihh, emang gak boleh?"
"Ya, bukan gak boleh sih. Tapi karena kamu gak pernah melakukan hal itu, jadinya agak sedikit aneh aja gitu." Jawab Arvin yang membuat Narendra mendelik.
"Kata siapa Naren gak pernah mijitin Ayu? Sering kok, cuman ya di kamar gak pernah diluar kamar. Soalnya kalau di luar kamar, sudah pasti di ledekin kayak gini."
"Hahaha, bener sih." Jawab Arvin sambil tergelak.
"Lagian kan mijitin istri tuh dapet pahala, Pi."
"Iya iya, Papi juga sering mijitin mami mu dulu pas lagi hamil. Soalnya dia manja nya minta ampun, tapi gemesin banget." Jawab Arvin yang membuat Narendra mencebikkan bibirnya karena kesal.
"Makanya gak usah ngeledekin anak nya dong, kalau kelakuan papi aja sama kayak Naren sekarang."
"Siapa yang ngeledek sih? Papi kan cuma nanya, soalnya papi heran aja liat kamu mau mijitin istri kamu." Jawab Arvin tak mau kalah.
"Hoalah, Pi. Kalau mau di pijit juga, tinggal ngomong apa susahnya sih?" Tanya Narendra yang membuat Arvin cengengesan. Niatnya memang seperti itu, dia juga ingin di pijit tapi siapa yang mau memijit nya? Melisa sedang sibuk, kalau pun sudah tidak sibuk pasti dia akan kelelahan karena mengurus persiapan acara syukuran sedari tadi pagi, bahkan sedari tadi malam.
"Hehe, pijit dong."
"Males banget." Jawab Narendra yang membuat Arvin mendengus kesal.
"Mas, pijitin dulu Papi sana."
"Omong-omong, kapan Kakek akan pulang kesini, Pi?" Tanya Narendra pada sang ayah. Arvino terdiam, dia terlihat berpikir.
"Kata uncle Sam, keadaan kakek sudah membaik saat ini dan sudah di bawa pulang. Tapi, untuk menaiki pesawat masih memerlukan waktu sampai benar-benar sembuh total." Jelas Arvino. Kemarin, dia juga menanyakan hal itu pada Sam, adik sang ayah. Tapi jawaban nya seperti itu, bahkan Sam juga menyertakan foto-foto rujukan dari dokter. Darren masih harus rutin di periksa setiap bulan nya, karena keadaan nya belum sembuh sepenuhnya.
"Ayu lahiran nanti, kira nya Kakek bisa pulang gak ya, Pi?" Tanya Ayunda lirih.
"Akan Papi usahakan, sayang. Kamu mau ada kakek yang mendampingi kamu disini?"
"Hehe, iya Papi." Jawab Ayunda.
"Papi akan usahakan ya, nanti biar Papi yang jemput kakek ke Amerika."
"Gak usah segitu nya, Papi. Kalau gak bisa ya gapapa. Doa nya aja, biar persalinan Ayu di lancarkan nantinya."
"Aamiin, semoga semua nya di permudah ya, sayang." Ucap Arvin sambil tersenyum.
"Sayang.." Panggil Melisa. Dia membawa piring kecil berisi pudding buah kesukaan menantu nya. Melisa selalu membuatkan cemilan untuk menantu nya, maka jangan heran kalau Ayunda doyan ngemil karena ibu mertua nya selalu memberikan apapun yang dia inginkan meskipun tanpa di minta sama sekali. Mungkin, itu juga menjadi salah satu penyebab kenapa badan Ayunda melar sekarang.
"Iya, Mami."
"Ini pudding buat kamu, di makan ya.."
"Makasih, Mami. Omong-omong, aku belum nyobain buah kiwi yang kemarin aku beli deh."
"Mas ambilin ya, sayang."
"Gapapa, Mas. Aku bisa ambil sendiri."
"Gak usah, kamu duduk aja disini istirahat. Biar Mas yang ambilin buah nya." Jawab Narendra. Dia pun beranjak dari duduknya, lalu pergi ke dapur untuk mengupas buah kiwi yang kemarin mereka beli di minimarket.
__ADS_1
"Enak?" Tanya Melisa saat melihat Ayunda memakan pudding buatan nya dengan lahap.
"Enak, Mami. Apa sih cemilan yang Mami buat gak enak? Enak semua." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Kamu suka, sayang?"
"Banget, Ayu suka semua yang Mami bikin. Makasih Mami." Ucap Ayunda.
"Syukurlah kalau kamu suka, sayang."
"Iya, Mami."
"Makan yang banyak, di dapur masih banyak." Ucap Melisa. Di samping wanita paruh baya itu, ada Arvino yang juga sedang memakan pudding buah yang di bawa oleh istrinya.
Tak lama berselang, Naren kembali dengan sepiring buah kiwi yang sudah di piring, lengkap dengan garpu buahnya.
"Ini buahnya, sayang."
"Makasih, Mas. Repot-repot deh.."
"Di repotin sama istrinya sendiri mah gak bakalan komen dia, soalnya kunci buat jatah malam nya di pegang sama kamu Ayu." Celetuk Arvino yang membuat Narendra hanya bisa menjawab dengan senyum kecilnga, dia juga menggaruk tengkuknya yang padahal tidak terasa gatal sama sekali.
"Jatah aman kok, Mas." Jawab Ayunda yang membuat orang tua Naren tertawa karena melihat wajah putra mereka yang memerah, entah malu atau apa tapi yang jelas wajahnya memerah.
Ayunda menguluum senyum nya melihat reaksi yang di tunjukkan oleh suaminya, lucu sekali melihat wajah suami nya merona seperti itu. Menggemaskan, tapi kalau sampai Naren mendengar hal itu, bisa-bisa dia marah. Narendra tidak suka jika Ayunda mengatai dirinya menggemaskan atau lucu, dia lebih suka saat Ayunda mengatakan kalau dia tampan dan gagah.
"Sayang.."
"Iya, Mas. Kenapa? Sini duduk." Ayunda menepuk sofa di samping nya. Narendra pun duduk di samping sang istri, lalu menyandarkan kepala nya di pundak sang istri.
"Kepala Mas agak pusing, kenapa ya?"
"Modus itu." Celetuk Arvino. Dia tahu kalau itu hanya modus saja, soalnya dulu dia juga begitu jika ingin berduaan dengan istrinya tanpa gangguan sang ayah.
"Papi, diem aja soalnya gak di ajak."
"Ya kalau mau ngajakin istri mu ke kamar, nanti aja. Dia lagi makan buah sama pudding itu." Ucap Arvino.
"Gimana, enak buahnya sayang?" Tanya Narendra saat melihat Ayunda menyuapkan buah yang dia rekomendasikan kemarin, yakni buah kiwi.
"Agak asem, tapi enak. Aku suka kok, Mas." Jawab Ayunda membuat Naren tersenyum lega. Dia senang kalau istrinya menyukai buah yang dia rekomendasikan.
"Cuman, kayaknya kalau buat di makan setiap hari sih enggak dulu ya. Keaseman, bisa-bisa asam lambung aku naik, hehe."
"Jadi, kamu mah makan buah apa dong?" Tanya Narendra.
"Gak usah khawatir gitu dong, Mas. Jenis buah kan ada banyak di dunia ini, masih banyak buah yang aku sukai. Jeruk, melon, mangga, apel, semangka. Masih banyak lagi, jadi gak usah khawatir. Toh aku bisa ganti-gantian makan buahnya biar gak bosen." Jawab Ayunda yang membuat mereka tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, tapi nanti kita cari buah yang lain sebagai pengganti buah peach ya?"
"Iya, Mas. Tapi jangan terlalu terburu-buru, santai saja. Aku bisa memakan nya kapan saja, hehe."
"Iya, sayang." Jawab Narendra sambil mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut.
"Sayang, besok Mami mau bikin cake coklat. Kamu mau gak?"
"Mau mau mau…" Jawab Ayunda dengan antusias.
"Oke, Mami bikinin."
"Buat aku ada gak, Mi?" Tanya Narendra. Dia juga ingin di perhatikan oleh sang ibu seperti Ayunda, tapi sekarang Mami nya seolah melupakan nya dan hanya fokus dengan Ayunda. Padahal, yang anak kandung Melisa dan Arvin disini adalah Narendra. Tapi meskipun begitu, Naren tidak merasa iri karena dia juga bahagia karena orang tua nya bisa sangat menyayangi istrinya seperti ini. Dia sangat bersyukur karena Melisa maupun Arvin terlihat sangat menyayangi Ayunda dan mereka kompak untuk menjaga Ayunda.
Ayunda adalah wanita yang beruntung karena memiliki suami dan juga mertua yang sangat menyayangi nya seperti ini.
........
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻