Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 149 - Finally..


__ADS_3

Hueekk.. huekk.. 


Pagi hari yang dingin itu di warnai dengan kepanikan yang di rasakan oleh Narendra. Pasalnya, sejak bangun pagi tadi istrinya tidak berhenti muntah-muntah di kamar mandi. 


Dia pikir mungkin Ayunda masuk angin, karena dia belum bisa menyesuaikan dengan cuaca di negara ini. Sungguh, demi apapun Narendra khawatir dengan keadaan istrinya. Dia masuk ke kamar mandi dengan membawa minyak kayu putih, lalu mengoleskan nya di tengkuk Ayunda agar mual nya mendingan. 


"Pergilah, Mas. Jijik, jangan disini."


"Enggak kok, Mas gak jijik." Jawab Narendra. Dia memijit tengkuk belakang sang istri sambil sesekali mengecup kepala istrinya yang tertunduk di wastafel. 


"Sudah mendingan, yang?" Tanya Narendra. Ayunda menganggukan kepala nya mengiyakan, memang sekarang perut nya sudah tidak terlalu mual lagi, berbeda dengan tadi. Tapi sekarang, tenggorokan nya yang terasa sangat pahit. 


"Pahit, Mas."


"Ayo makan permen, sayang." Ajak Narendra. Setelah membersihkan mulut nya dan wastafel tempat dia memuntahkan semua isi perut nya, Ayunda pun keluar dari kamar mandi dengan di papah oleh sang suami. 


"Ini, makan permen nya." Ucap Naren. Dia benar-benar terlihat panik dan Ayunda menyadari hal itu. Namun bagi nya, wajah panik sang suami itu terlihat sangat menggemaskan. 


"Terimakasih, Mas. Wajah kamu pucat, kenapa?" Tanya Ayunda dengan senyum jahil nya. Disaat seperti ini, bisa-bisa nya Ayunda menjahili nya. Padahal, wajah Naren pucat seperti ini pun karena dia mengkhawatirkan nya. Tapi yang di khawatirkan, malah menggoda nya seperti ini.


"Mas panik, sayang."


"Gak usah panik, Mas. Aku gapapa kok, aku baik-baik saja." Jawab Ayunda sambil mengulas senyum kecil nya. Narendra menggelengkan kepala nya. Bagaimana bisa dia tidak panik dan khawatir ketika melihat istrinya muntah-muntah seperti itu? Di tambah lagi, Narendra pernah merasa trauma dengan kejadian semacam ini. 


"Gimana bisa aku percaya kalau kamu baik-baik saja, sayang?" Tanya Narendra. Ayunda tersenyum, lalu meraih tangan suami nya dan menggenggam nya. 


"Mas seneng gak?" Balik tanya Ayunda. 


"Seneng karena apa? Mana ada suami yang seneng lihat istrinya sakit begini, sayang?"


"Tapi aku bukan sakit biasa lho."


"Terus, sakit apa? Apa ada sakit yang luar biasa? Atau sakit yang.."


"Yang apa hayoo?" Tanya Ayunda lagi membuat Narendra terlihat berpikir. Sedangkan Ayunda, dia menunggu jawaban suami nya dengan senyuman manis nya. 


"Gak mungkin kan, yang?"


"Gak ada yang gak mungkin kalau yang di atas sudah berkehendak, Mas." Jawab Ayunda. Narendra terlihat terkejut, wajah nya kembali pucat. Apa yang ada di pikiran nya benar-benar menjadi kenyataan?


"Maksud kamu, sayang?"


"Aku sakit, tapi kamu yang buat aku sakit. Aku hamil, Mas." Jawab Ayunda, membuat Narendra menganga. Dia tidak menyangka kalau ternyata, istrinya akan hamil secepat ini. Sungguh, ini benar-benar kejutan yang hampir membuat jantung Narendra seakan berhenti berdetak. 


"H-hamil?"

__ADS_1


"Iya, aku hamil, Mas. Kamu seneng kan?"


"Sayang, ini beneran kan? Tolong katakan, kalau ini bukan mimpi, sayang."


"Mas, ini nyata. Aku sedang hamil sekarang, maaf karena menyembunyikan hal ini dari kamu, Mas."


"Sayang.." Narendra menatap wajah cantik sang istri dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Bagi nya, kenyataan kalau sang istri tengah hamil saat ini sangat mengejutkan. 


"Iya, Mas."


"Terimakasih, sayang.." Ucap Narendra lalu meraih sang istri ke dalam pelukan nya. Pelukan yang hangat dan erat, membuat Ayunda tersenyum kecil di balik dekapan hangat sang suami. 


Ada rasa lega yang menyeruak di hatinya setelah dia memberitahukan kenyataan nya pada sang suami, berbeda dengan saat dia menyembunyikan tentang kehamilan nya dari suami nya sendiri. 


Sejak kapan Ayunda hamil? Tentu nya, Ayunda sudah merasakan ada yang berubah pada tubuh nya sebelum dia berangkat ke luar negeri. Namun, dia mengabaikan semua nya karena berpikir ini hanya perasaan nya saja. Dia masih berusaha berpositif thinking, tidak mungkin dia akan mengandung kembali dalam waktu dekat karena ada alasan tertentu. 


Namun, dia nekat dan mencoba mengecek apakah dia hamil atau tidak dengan test pack yang sengaja dia bawa dari Indonesia, dia menyelipkan alat tes kehamilan itu di tas nya agar tidak ada yang curiga. Test pack itu, adalah alat tes yang di berikan oleh Melisa pada nya hari itu untuk mengecek apakah dia hamil atau tidak. Memang waktu itu hasilnya negatif, alias garis nya hanya satu saja. Bahkan tidak ada garis samar apalagi garis dua, pure satu garis merah. 


Hanya berjarak dua Minggu saja sejak test pertama, hingga akhirnya mereka berangkat ke luar negeri dan secara diam-diam Ayunda mengecek kembali tanpa sepengetahuan siapapun. Termasuk Narendra. Dia sengaja mengecek nya ketika pagi hari, saat Naren belum bangun. 


Saat itu, dia sangat senang, bahagia dan juga sedih. Perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, membuat Ayunda tak bisa menyembunyikan ekspresi nya. Dia menangis sendirian di kamar mandi, dia bersyukur karena dia kembali di percaya oleh Tuhan untuk mengandung kembali dalam waktu yang bisa di bilang singkat. Hanya berjarak tiga bulan saja, sejak dia keguguran lalu kembali hamil sekarang. 


Namun, dia memutuskan untuk menyembunyikan sementara kehamilan nya itu dari semua orang. Tapi sepertinya sekarang dia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan nya, karena tanda-tanda kehamilan nya mulai terlihat jelas, pasti juga Narendra curiga dengan keadaan nya sekarang ini.


"Mas.."


"Selamat ulang tahun, suamiku." Ucap Ayunda yang lagi-lagi membuat Narendra terkejut. Dia benar-benar terkejut, saking bucin nya pada sang istri, dia sampai lupa kalau hari ini dia ulang tahun. 


"Aku ulang tahun hari ini, sayang?"


"Iya, aku lihat di buku nikah kita, mas. Jadi gak mungkin salah dong." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Narendra kembali memeluk sang istri dengan erat, kebahagiaan nya semakin bertambah sekarang. Dia tak menyangka kalau akan mendapatkan kejutan berulang-ulang di hari yang sama. 


"Sayang, sungguh kamu bikin Mas terkejut berkali-kali."


"Udah dong, jangan nangis terus Mas nya. Malu sama adek bayi, masa papa nya cengeng sih?" 


"Isshh, sayang. Ini kan tangisan bahagia, sayang." Jawab Narendra sambil terkekeh pelan. Ayunda kembali memeluk sang suami dengan erat. Sungguh, dengan memeluk suami nya, rasa lemas dan mual nya hilang seketika. 


Berbeda seperti sebelum nya, Ayunda memang tidak suka berdekatan dengan sang suami saat dia ngidam anak pertama nya, namun sekarang justru sebaliknya. Dia malah suka berdekatan terus menerus bersama suami nya, bahkan sekarang saja Ayunda sudah mendusel manja di ceruk leher suami nya. Dia tak bisa menahan untuk tidak mendusel disana, aroma tubuh suaminya benar-benar membuat nya tenang. 


Ibarat kata, aroma tubuh orang terkasih bisa menjadi obat. Benar, Ayunda merasakan itu sekarang. Rasa lemas yang tadinya Ayunda rasakan, sekarang tidak lagi. Dia sudah merasa lebih baik, meskipun kepala dan perut nya masih sedikit mual. 


"Mami udah tau kamu hamil, yang?"


"Belum, aku pengen kamu pertama yang tahu, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum. 

__ADS_1


"Hey, adik bayi. Tumbuh dengan baik di perut Mama ya, papa janji bakalan jaga kalian dengan baik kali ini. Papa gak bakalan bikin celah untuk siapapun menyakiti kalian berdua lagi, papa janji." 


"Adik sama Mama percaya kok sama Papa." Jawab Ayunda dengan suara yang menirukan anak kecil yang cadel. Lucu sekali, membuat Narendra yang sedang berjongkok sambil mengusap-usap perut Ayunda itu mendongak lalu tertawa pelan ketika mendengar jawaban istrinya. 


"Terimakasih sudah percaya padaku, sayang. Terimakasih juga karena kamu sudah memberikan aku kejutan yang benar-benar berkesan, ini adalah hadiah yang paling membahagiakan bagi Mas."


"Sama-sama, Mas. Sebenarnya, aku ada bikin kado hadiah buat, Mas. Tapi gak keburu jadi karena aku nya pusing terus mual juga, jadinya kado nya gak selesai. Maaf ya.."


"Gapapa, sayang. Mas gak di kasih hadiah berupa barang juga gapapa, tapi kehamilan kamu udah jadi hadiah yang paling berkesan buat Mas, sayang."


"Terimakasih, sayang. Mas bahagia sekali, sekali lagi terimakasih." Ucap Narendra sambil tersenyum, lalu kembali memeluk sang istri. Ayunda juga membalas pelukan suami nya. 


"Iya, Mas. Dari tadi terimakasih mulu deh perasaan."


"Mas gak tahu harus ngomong apa sama kamu saking bahagia nya, sayang." Jawab Narendra sambil melerai pelukan nya dengan sang istri.


"Kita jaga dia sama-sama ya, Mas?"


"Tentu, kita akan menjaga nya dengan baik, sayang. Mas gak akan biarin siapapun nyakitin kalian lagi, Mas janji akan lebih waspada sekarang." Pria itu membelai wajah cantik Ayunda, membuat wanita itu memejamkan mata nya. Lalu, Naren mengangkat dagu sang istri dan tanpa permisi mencium bibir nya. 


Ayunda yang tengah memakan permen itu merasa tidak nyaman, terlebih dia baru saja habis muntah. Dia tak mau membuat kesan buruk dari ciuman nya dengan sang suami.


"Mash.."


"Iya, sayang. Kenapa? Tumben kamu nolak Mas, ada sesuatu yang bikin kamu gak nyaman?" Tanya Narendra.


"Enggak kok, aku cuma takut kamu yang gak nyaman. Soalnya aku kan habis muntah."


"Ya terus, masalah nya apa, sayang? Mas gapapa tuh."


"Tapi.."


"Boleh ya? Mas masih pengen cium kamu." 


"Mas.." Belum juga selesai Ayunda mengatakan apa yang dia rasakan, Naren sudah terlebih dulu melumaat kembali bibir kemerahan sang istri. Dia mereguk rasa manis dari bibir sang istri yang bercampur dengan manis nya permen, membuat sensasi ciuman nya terasa jauh lebih nikmat. 


Hingga, beberapa menit kemudian Ayunda yang sudah kehabisan nafas pun menepuk-nepuk pelan dada bidang suami nya. Narendra yang paham pun segera melepaskan pagutaan bibir nya. Dia tersenyum ketika melihat istrinya megap-megap menghirup oksigen. Dia pun mengusap bibir kemerahan sang istri dengan jempol nya, lalu tersenyum.


"Wajah kamu lucu banget deh, kebiasaan nih kamu ya. Kalo ciuman pasti gak nafas, jadi ciuman nya gak lama." Ucap Narendra membuat Ayunda merona. Dia malu mendengar ucapan sang suami, tapi memang benar. Dia kalau ciuman, selalu lupa untuk bernafas plus tidak tahu caranya mungkin, jadi dia selalu memutus ciuman terlebih dulu atau menepuk-nepuk sang suami agar mau melepaskan nya.


"Mas ihh.."


"Udah bertahun-tahun kita nikah, tapi kamu kok gak bisa ambil nafas sambil ciuman hmm?"


"G-gak tahu." Jawab Ayunda sambil memalingkan wajah nya, membuat Naren gemas sendiri dengan tingkah sang istri yang baginya, semakin lama semakin menggemaskan. 

__ADS_1


........


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2