Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 40 - Pengantin Baru


__ADS_3

"Lagi nungguin apa sih, Mi? Dari tadi Papi lihat Mami liatin ke arah tangga aja terus." Tanya Arvin saat melihat istrinya terus saja melihat ke arah tangga, seolah sedang menunggu sesuatu. 


"Ayunda kok belum turun ya, Pi?" Tanya Melisa membuat Arvin terkekeh. 


"Mami ini gimana sih, pasti masih di kamar lah. Mereka kan pengantin baru, jadi wajar kalau bangun nya terlambat." 


"Ohh, iya kah? Mami malah lupa kalau mereka masih pengantin baru, Pi. Hehe."


"Astaga, Mami ini.." Ucap Arvin, dia tertawa karena ucapan sang istri yang cukup lucu jadi dia tertawa. 


"Mami masih cukup muda untuk pikun, Mi." Ucap Arvin.


"Dih, kan namanya juga lupa, Pi. Kayak Papi gak pernah lupa aja deh. Papi bahkan pernah lupa ninggalin Mami di mall." Melisa mencebikan bibir nya dengan kesal. 


"Iya iya, maafin Papi ya." Arvin terkekeh, ya dia memang pernah melupakan sang istri di mall saat sedang belanja bulanan. Terdengar aneh bukan? Ketinggalan istri?


"Ckk, ayo bantuin Mami masak."


"Siap istriku." Jawab Arvin, kedua nya pun masuk ke area dapur untuk memasak sarapan. Biasa nya, Melisa akan memaskn di bantu oleh Ayunda, tapi entahlah sedang apa mereka di atas, hingga membuat Ayunda belum turun jam segini. Padahal, biasa nya Ayunda selalu bangun pagi.


Di atas, pasangan pengantin baru itu baru saja keluar dari kamar mandi setelah menuntaskan penyatuan di dalam kamar mandi selama hampir satu jam lama nya. Sampai-sampai tangan Ayunda keriput karena terlalu lama berendam di dalam air. 


"Yang, kok muka nya di tekuk gitu sih? Gak ikhlas layanin suami cerita nya?" Tanya Narendra sambil memeluk Ayunda dari belakang.


"Ya bukan nya gak ikhlas, Mas. Tapi kok kamu kayak gak ada puas-puas nya, padahal semalam udan main dua ronde."


"Aku sudah mengatakan alasan ku, sayang. Karena tubuh mu terlalu menggoda, itu saja." Jawab Narendra. 


"Ya sudah, terserah kamu saja Mas." 


"Iya udah, tapi wajah kamu jangan kayak gitu dong wajah nya, atau kamu mau aku terkam lagi?" Tanya Naren. 


"Enggak, aku capek. Biarkan aku istirahat dulu, bahkan aku belum sarapan." 


"Astaga, kita sudah sangat terlambat sarapan, sayang."


"Nah, baru ingat kan?" 

__ADS_1


"Hehe, tubuh mu membuat aku melupakan segala nya, sayang." Jawab Naren sambil memeluk Ayunda, beberapa kali dia menciumi puncak kepala sang istri dengan gemas.


"Jadi ayo, aku lapar." 


"Baiklah, sayang." Jawab Naren, dia pun menggenggam tangan Ayunda keluar dari kamar. Kedua nya keluar dari kamar di jam sepuluh pagi, sudah sangat terlambat untuk sarapan bukan? Karena sebentar lagi, sudah memasuki waktu makan siang.


"Akhirnya, pengantin kita turun juga." Celetuk Arvin saat melihat Naren dan Ayunda tengah menuruni tangga secara perlahan, karena Ayunda tidak bisa berjalan cepat karena miliknya maish terasa ngilu.


Ya memang, ini bukanlah pertama kali nya mereka melakukan nya. Tapi pertama kali nya saat dalam keadaan sadar. Tapi ya, tiga ronde cukup membuat Ayunda kewalahan. Apalagi yang terakhir kali, dnereja melakukan nya di dalam air, jadi miliknya agak sedikit sakit. 


"Harap maklum saja lah, Pi." Jawab Naren sambil terkekeh.


"Ckk, kamu apain menantu Papi sampai wajah nya terlihat pucat hah?"


"Lah, Naren kan suami nya, Pi."


"Iya, dia memang istri kamu tapi bukan berarti kamu bisa menghajar nya semalaman, Ren!" Ucap Arvin sambil menggelengkan kepala nya, apalagi saat melihat ada banyak tanda kemerahan di leher Ayunda.


"Ayunda nya mau kok, dia gak nolak." 


"Beli concealer nanti, tutupin tanda kemerahan di leher istri mu. Aneh, brutal banget sama istri sendiri." Ucap Arvin sambil melengos pergi. Naren melirik Ayunda yang memalingkan wajah nya ke samping, dia menyibak sedikit rambut Ayunda dan seketika itu juga kedua mata nya di buat membulat. 


'Astaga, apa iya aku segarang ini? Ya ampun..'


"Sayang, apa semua tanda kemerahan ini aku yang membuat nya?" Tanya Narendra membuat Ayunda menoleh dengan kedua mata yang mendelik kesal ke arah sang suami. Bisa-bisa nya dia tidak sadar saat membuat tanda itu disana?


"Kalau bukan Mas yang membuat tanda ini, lalu siapa? Aku gak mungkin membuat tanda ini sendiri kan?" Balik tanya Ayunda. Berarti, sudah fiks kalau Naren lah yang membuat nya. 


"Maafkan aku, sayang. Apa aku benar separah itu?"


"Hmmm, kamu sangat beringas, Mas." Jawab Ayunda, membuat Naren menatap istri nya dengan tatapan keheranan. Benarkah dia terlalu beringas? Tapi dia tidak menyadari nya, karena apa? Ya seperti jawaban Naren tadi, tubuh Ayunda membuat nya melupakan segala nya, termasuk rasa lapar. 


"Sudah-sudah, ayo makan. Aku sudah sangat lapar, Mas."


"Astaga, lagi-lagi aku lupa. Ayo kita makan, sayang." Naren menarik tangan Ayunda ke ruang makan. 


"Pagi, Mami."

__ADS_1


"Hmm, siang." Jawab Melisa dengan ketus pada putra nya. 


"Makan yang banyak, sayang. Ini Mami masakin kamu sup buntut, biar punya tenaga buat layanin suami kamu." Ucap Melisa sambil memberikan sup buntut untuk menantu nya.


"Buat Naren mana, Mi?"


"Tuh, ambil sendiri." Jawab Melisa membuat Naren menggelengkan kepala nya, sekarang saja sudah kelihatan kalau Mami nya sudah mulai pilih kasih padanya. 


Naren pun menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu mengambil sup di panci dan memakan nya dengan lahap, begitu juga dengan Ayunda. Dia makan dengan lahap.


"Masakan Mami, enak sekali." Puji Ayunda sambil tersenyum. 


"Nanti, kapan-kapan Mami ajarin kamu masak sup nya. Ini makanan kesukaan Naren, sayang. Dia tuh, kalo Mami masak sup buntut pasti lahap banget makan nya, sampai ngabisin nasi." Jawab Melisa, sedangkan Naren hanya fokus makan. Sudah cukup lama Mami nya tidak memasak sup buntut untuk nya, jadi dia sangat merindukan rasa makanan buatan sang ibu. 


"Benarkah, Mi? Oke, baiklah." Jawab Ayunda, dia akan belajar memasak makanan kesukaan suami nya. 


"Iya, sayang. Makan yang banyak ya, mau nambah?" Tawar Melisa.


"Nanti saja, Mi. Ini juga masih ada." Jawab Ayunda, dia pun kembali makan. 


"Kalau sudah selesai makan, Mami ada buatin pudding buah, ada di kulkas ya. Mami mau siram tanaman." Melisa pun pergi dari dapur dan meninggalkan kedua nya di meja makan.


"Sayang.."


"Iya, Mas. Kenapa?"


"Nanti sore keluar yuk? Sekalian beli bathrobe buat kamu." Ajak Narendra. 


"Boleh, aku pengen makan es krim. Hehe."


"Oke, tapi jangan kebanyakan ya beli es krim nya. Nanti sakit gigi."


"Iya, Mas." Jawab Ayunda patuh. Narendra tersenyum kecil lalu mengacak rambut Ayunda dengan gemas. Dia memang sangat menyukai gadis yang penurut dan Ayunda adalah orang nya. Selain cantik, dia juga tidak keras kepala. 


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2