Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 125 - Pendarahan Lagi?


__ADS_3

"Sayang.." Panggil Mark pada Maya yang terlihat sedang berada di dapur bersama sang ibu. Kedua wanita berbeda generasi itu terlihat sudah akrab sekarang, membuat hati Mark menghangat seketika. Jujur saja, diabsangat senang kalabmelihat kedua nya akur seperti ini. 


Kedua wanita yang paling berharga dalam hidup Mark kini bersama dan terlihat sangat akrab satu sama lain. 


"Iya, Mas.."


"Kita harus kembali, ini Nyonya Melisa udah nelponin terus." Jawab Mark sambil memperlihatkan ponsel yang berisi beberapa panggilan tak terjawab dari Melisa. Wanita itu khawatir seperti nya, maklum saja karena Maya sudah di anggap anak sendiri oleh Melisa. Jadi nya, dia khawatir karena sudah jam segini namun Maya belum juga kembali ke mansion. 


"Bilangin sama Melisa, kalau Maya nginep disini, Boy. Mama masih pengen sama Maya disini." Ucap Indah membuat Maya menatap wajah wanita yang sebentar lagi akan menjadi Mama mertua nya itu dengan tatapan yang sulit di artikan. 


Disisi lain, dia senang karena secepat ini dia bisa akrab dengan calon mama mertua nya, tapi disisi lain dia tidak mau kalau harus menginap apalagi di kamar yang sama dengan Mark. Bisa-bisa, dia di terkam nanti oleh harimau milik Mark. Sudah terlihat jelas kalau Mark itu adalah pria yang cukup mesuum. Terbukti kalau dia sedang berdekatan dengan Maya, apalagi tidak ada orang alias hanya berduaan saja, pasti Mark akan menyosor pada Maya. 


"Maya nya mau gak?" Tanya Mark pada sang kekasih, kedua nya pun mengalihkan tatapan mereka ke arah Maya yang sedari tadi hanya diam saja. 


"Aku ngikut aja, kalau kamu mau nganter ya gapapa, aku nginep disini juga gapapa." Jawab Maya membuat Mark tersenyum. Di putuskan, akhirnya malam itu Maya menginap di rumah besar milik keluarga Mark. Pria itu juga sudah meminta izin pada Melisa dan Arvin, kedua nya mengizinkan, asal Maya harus pulang dengan keadaan yang baik, sama seperti saat dia di jemput oleh Mark beberapa jam yang lalu. 


"Sayang, kita bikin cemilan yuk?"


"Cemilan, Ma?" Tanya Maya. Dia mengernyitkan kening nya keheranan, tak salah kah Indah mengajak nya untuk membuat cemilan malam-malam? Bukankah orang kaya biasa nya mengatur pola makan dan hanya makan makanan sehat seperti salad? Tapi sekarang dia mendengar kalau Indah ingin membuat cemilan? Aneh bagi Maya, karena di mansion Sanjaya tempat dia bekerja pun, jarang-jarang ada yang ngemil malam-malam kecuali Ayunda, karena bawaan orang hamil seperti nya. 


"Iya, Mama pengen makan makaroni basah deh, pake bumbu yang gurih terus pedes. Kayaknya enak deh." Ucap Indah, membuat Maya melirik ke arah Mark yang sudah menganggukan kepala nya. Dia sudah tidak heran lagi dengan ibu nya yang doyan ngemil malam-malam dan menyukai makanan yang bermicin.


"Boleh ini, Mas?"


"Turutin aja, yang. Nanti Mama ngambek, sudah bujuk nya." Jawab Mark dengan wajah datar nya, membuat Indah mendelik sebal ke arah putra nya yang mengatakan hal yang terlalu jujur. Dia kan malu dengan calon menantu nya. 


"Yaudah, ayo Maya buatin."


"No, mama gak mau di buatin tapi mau nya kita buat nya sama-sama." Jawab Indah. Maya tersenyum kecil, lalu kedua nya pun mulai membuat makaroni basah. Maya merebus terlebih dulu makaroni nya hingga matang, lalu menggoreng nya sebentar saja. Setelah itu, di tiriskan dan di beri bumbu gurih juga cabe bubuk. 


"Jadi, Ma."


"Nah kan, kalo bikin nya berdua gini kan jadi cepet, hehe." Jawab Indah. Kedua wanita itu pun memakan nya dengan lahap, tentu nya dengan Mark yang ikut-ikutan ngemil makanan itu dengan lahap. Dia juga suka ngemil seperti ini, tapi tidak boleh sering-sering karena micin tidak baik untuk kesehatan. Namun, beda lagi kalau yang memakan nya itu sang ibu, beda lagi urusan nya.


Mark memang lebih takut pada Indah di bandingkan dengan Sandi. Jika pada Sandi, dia hanya merasa canggung dan juga segan. Berbeda lagi dengan dirinya pada Indah, dia berani mengungkapkan apapun, mengeluhkan apapun, menceritakan apapun pada wanita itu. 


Selain itu, Indah juga pendengar yang sangat baik. Jadi, Mark merasa nyaman kalau dia bercerita pada sang ibu. Berbeda dengan Sandi, dia tidak terlalu suka mendengarkan keluh kesah dari putra nya, jadi dia lebih nyaman jika bercerita pada sang ibu. 


Namun, di balik sikap yang baik, pengertian dan juga pendengar yang baik, Indah juga sabar. Tapi disaat dia marah, maka seisi rumah akan menjadi dingin. Hawa di rumah akan sangat berbeda dengan biasa nya, saat itu semua orang akan menundukan kepala mereka jika tak sengaja berpapasan dengan wanita itu, termasuk Sandi dan juga Mark.


Jika wanita itu marah, semua orang akan tidak ingin bertemu dengan Indah. Apalagi Mark, dia akan memilih lembur di perusahaan dan pulang larut malam. Kalau dia pulang larut malam, dia tidak akan bertemu dengan Indah. Dia aman, pikir Mark. Namun ternyata tidak, semarah apapun seorang ibu pada anak nya, dia akan tetap mengkhawatirkan putra nya itu meskipun dia sudah dewasa dan sudah bisa menjaga dirinya sendiri. 


Tapi, di mata seorang ibu sampai kapanpun, dia akan tetap menjadi anak kecil. Itulah yang mungkin di rasakan oleh Indah pada Mark, dia begitu menyayangi putra nya hingga seringkali mengabaikan kalau putra nya itu sudah dewasa dan sebentar lagi, dia akan menjadi seorang suami. Hal itu menandakan kalau putra nya sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang tampan, mapan dan bertanggung jawab. 


Setelah menghabiskan cemilan nya, mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Maya malah harus tidur di kamar Mark. Pasangan itu terlihat sedikit canggung, apalagi Maya. Dia tidak terbiasa berada di dalam satu ruangan bersama seorang pria, tapi beda lagi kasus nya karena Mark adalah calon suami nya. Hanya tinggal satu bulan dari sekarang, mereka akan resmi menjadi pasangan suami istri.


Maya duduk di pinggiran ranjang dengan memilin dress nya, sungguh dia merasa gugup apalagi saat melihat pria itu keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk selutut yang membungkus senjata nya saja, sedangkan tubuh bagian atas nya di biarkan terbuka begitu saja.


Air menetes dari rambut Mark yang basah, dia baru saja selesai keramas. Kebiasaan nya, sebelum tidur dia memang harus keramas dulu untuk mendinginkan kepala nya. Aneh bukan? Tentu, tapi itulah kebiasaan Mark. Kalau dia tidak keramas sebelum tidur, maka pria itu takkan bisa tidur. Kalaupun bisa tidur, pasti tidak nyenyak. 


"Rambut nya di bungkus pake handuk, Mas. Basah itu, netes-netes kemana-mana." Peringat Maya yang membuat Mark cengengesan.


"Maaf, yang."


"Jangan di biasain, Mas. Nanti lantai nya licin kamu bisa jatuh." Ucap Maya.


"Iya, sayang ku. Seneng deh liat kamu perhatian gini sama aku, bahagia banget." Celoteh Mark yang membuat senyum Maya tersungging. Dia juga senang kalau melihat Mark senang. 


"Nama nya juga sama calon suami, hehe."


"Aaaaa, aku salting malam-malam begini." 


"Lebay, sana mandi. Nanti masuk angin, itu perut di umbar-umbar gitu, ngapain? Gak seksii juga." Celetuk Maya yang membuat Mark melihat tubuh nya, tidak seksii katanya? Padahal, menurut nya dia sudah sangat seksii. Tubuh nya berisi dengan enam roti sobek yang tercetak jelas di perut nya, harus nya itu mampu memikat Maya kan? Tapi, wanita itu terlihat tidak tergoda sama sekali, dia malah mengatakan kalau tubuh nya itu tidak seksii. Apa kekasih nya itu memiliki masalah mata ya?


"Gak seksii kamu bilang? Ini gak suka?" Tanya Mark sambil menunjuk perut nya yang sixpack sambil mengernyitkan kening nya.


"Oke-oke, seksii banget."


"Gak mau, kamu keliatan terpaksa banget bilang seksii nya." 

__ADS_1


"Hahaha, kamu ini. Udah ihh sana pake baju, mata aku sepet tau liat itu perut." Jawab Maya. Bohong jika dia mengatakan kalau perut Mark itu tidak seksii, kenyataan nya dia sangat menyukai bentuk tubuh Mark yang justru terlihat sangat seksii dan menggairahkan. Kalau saja dia wanita yang tidak tahu malu, dia akan langsung menghambur memeluk tubuh polos Mark dan mengusap-usap perut dengan enam roti sobek itu dengan tangan nya, dia merasa gemas karena ingin menyentuh perut Mark yang sixpack, namun terhalang rasa malu plus gengsi.


Mark akan menilai nya seperti apa kalau dia langsung melakukan itu? Image nya sebagai wanita baik-baik akan tercoreng, status nya juga akan di pertanyakan oleh sang kekasih mungkin. Mana berani dia melakukan itu kan? Malu-maluin saja kalau dia sampai melakukan nya. 


"Sayang, kamu gak mau ganti baju?" Tanya Mark. Dia baru saja keluar dari ruang ganti, dia mengenakan piyama satin yang terlihat cocok di pakai oleh Mark yang memiliki kulit putih. 


"Gak ada baju ganti, gapapa aku pakai ini saja tidur nya." Jawab Maya. Tapi rasa nya, jika tidur dengan mengenakan dress seperti ini akan terasa sedikit kurang nyaman kan? Berbeda dengan di mansion, dia akan lebih memilih untuk mengenakan daster rumahan untuk tidur, itu jauh lebih nyaman jika di bandingkan harus mengenakan dress seperti ini. 


"Gak bakalan nyaman, sayangku. Jadiebjn baik, kamu ganti pakai piyama punya aku." 


"Aku gak mau, badan kamu gede terus tinggi begini. Beda sama aku yang kecil begini, apa gak bakalan tenggelam kalau semisal aku menggunakan piyama milikmu, Mas?"


"Aahh iya, piyama ku akan menjadi dress jika kamu yang memakai nya. Pendek, kecil sih jadi nya susah kalo mau minjem." 


"Ngeledek ya kamu? Sebel, kecil pendek gini tuh bukan kemauan aku, Mas. Lagian nih ya, aku kecil begini kan keliatan lucu plus gemesin. Iya kan?"


"Itu sih bener, kamu lucu terus gemesin. Tapi tetap aja, kamu kecil pendek." 


"Hisss, aku gak kecil. Aku juga gak pendek, cuma kamu nya aja yang ketinggian kayak tiang listrik." Jawab Maya sambil mengerucutkan bibir nya, yang malah hal itu membuat Mark gemas sendiri melihat bibir Maya yang di buat seperti itu. 


Mark melangkah mendekati sang kekasih, mengungkung tubuh mungil sang kekasih di bawah tubuh nya, dia meletakan kedua tangan nya di samping kanan dan kiri sang kekasih, membuat Airyn harus mendongak agar bisa menatap wajah tampan sang kekasih. 


"Kenapa, Mas?" Tanya Maya yang membuat Mark tersenyum. 


"Akh ingin bibir kamu, sayang. Boleh?" Tanya Mark sambil tersenyum manis. Dia menyentuh pelan dagu sang kekasih lalu mengangkat dagu nya hingga membuat wajah cantik itu terdongak. Pria itu lagi-lagi tersenyum manis, lalu menundukan kepala nya dan mencium bibir sang kekasih dengan mesra. 


Maya tidak menolak, justru dia terlihat sangat menikmati ciuman sang kekasih, dia juga membalas nya dengan lihai. Beberapa kali berciuman dengan Mark, membuat Maya tahu benar seperti apa pola serangan sang kekasih. Dia akan memaguut bibir nya secara bergantian bawah dan atas, lalu menggigit nya agar bisa menelusupkan lidah nya masuk dan mereka pun berperang lidah di dalam sana. 


Kedua nya masih menikmati ciuman mereka malam ini, Mark sedikit mendorong tubuh sang kekasih, hingga membuat tubuh Maya terjatuh di ranjang dengan posisi Mark yang berada di atas tubuh Maya dan sedikit menindih nya. 


Mark mengambil tangan Maya dan membuat nya melingkar di leher nya, kedua nya berciuman dengan mesra, membuat Mark tersenyum karena dia suka, sekarang Maya sudah mulai ahli dalam hal berciuman. Bangga? Tentu saja, dia bangga karena sudah menjadi guru yang baik untuk mengajari Maya cara nya membalas ciuman yang baik dan benar.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka pun menyudahi ciuman nya, Maya terlihat megap-megap karena kehabisan oksigen, begitu juga dengan Mark yang terlihat tengah menetralkan nafas nya yang memburu setelah berciuman selama beberapa menit bersama sang kekasih. 


"Bibir kamu manis, bikin candu.." Lirih Mark sambil mengusap pelan wajah sang kekasih, merapikan anak rambut Maya yang menghalangi wajah cantik nya itu. 


"M-mas, aku malu. Jangan menatap ku seperti itu.." 


"Itu kan beda, Mas."


"Beda nya apa, sayang ku?" Tanya Mark lagi, tangan nya terus membelai lembut wajah cantik sang kekasih lalu mencubit pipi nya dengan gemas. 


"T-tadi kan merem, jadi gak malu." 


"Hah? Hahaha, astaga pacar aku gemes banget." Ucap Mark sambil terkekeh, bagi nya jawaban Maya terdengar lucu. 


"Isshh, apa nya yang lucu sih? Kok kamu malah ketawa?"


"Enggak kok, kamu cantik. Bikin aku makin cinta, apalagi sekarang kamu udah bisa ngimbangin aku dalam hal ciuman."


"Mas, isshh.." Rengek Maya lalu menggeplak manja dada bidang sang kekasih, bukan nya kesakitan tapi Mark malah tertawa karena baginya apapun dan bagaimana pun cara merajuk nya Maya, selalu terlihat menggemaskan. Fiks itu mah bucin akut. 


"Gemes.."


"Mas, sakit.." wanita itu meringis karena pipi nya terasa sakit karena kelakuan sang kekasih yang membuat pipi nya memerah. Di apakan memang nya? Tentu saja di cubit, karena Mark adalah tipe pria yang selalu greget. Jika dia melihat nya gemas, maka dia akan mengatakan nya dan menyusul dengan cubitan gemas. 


"Suruh siapa gemesin? Jadi nya kena cubit." Jawab Mark seolah tanpa bersalah karena sudah membuat kekasih nya itu kesakitan.


Maya mendelikan mata nya karena kesal, membuat Mark tersenyum lalu mengecup satu persatu bagian di wajah sang kekasih yang membuat Maya merasa sedikit malu karena ulah pria itu. 


"Gak usah mendelik gitu, sayang. Aku minta maaf ya, udah bikin pipi kamu merah gini, habis nya aku gemes liat kamu, hehe."


"Gapapa, aku memang gemesin. Jadi bukan salah kamu kalau kamu suka cium-cium aku plus suka cubitin aku." 


"Maaf ya?"


"Iya, di maafin kok." Jawab Maya membuat Mark tersenyum. Dia pun memeluk sang kekasih dengan erat. 


"Tidur yuk?" Ajak Mark. Dia memposisikan satu lengan nya sebagai bantalan untuk Maya tidur. 

__ADS_1


"Ayo, Mas. Aku juga udah ngantuk, biasa nya kalau di mansion tuh jam segini aku udah tidur, kayak nya udah mimpi naik haji." Jawab Maya yang membuat Mark terkekeh. 


"Gak usah mimpi, nanti kita berangkat kesana. Mau?"


"Mau banget, Mas." Jawab Maya dengan antusias. 


"Iya, doain aja kerjaan Mas lancar terus uang nya lancar juga, nanti kita sama-sama ke tanah suci ya?"


"Beneran ini?"


"Iya, beneran sayang."


"A-aku mau banget, Mas."


"Iya, nanti kita wujudkan keinginan kamu. Kalau ada umur yang panjang, semoga di perlancar ya niat baik kita."


"Aamiin, Mas." Jawab Maya. Kedua nya pun kembali berpelukan, Maya terlihat sangat nyaman berada di pelukan sang kekasih, sesekali dia mendusel-dusel di sana untuk mencari kenyamanan. Hal itu membuat Mark setengah mati menahan hasraat nya. Dia bergairaah sekarang karena gerakan sang kekasih yang tidak bisa diam, dia ingin sekali menerkam Maya, namun dia tidak bisa melakukan nya. 


'Sebulan lagi, Mark. Hanya sebulan lagi, tahan jangan sampai di terkam. Kalau sampai di terkam, yang ada nanti kamu di marahin sama Tuan dan Nyonya besar.' Pria itu membatin, sungguh berdekatan dengan Maya selalu membuat nya hampir kehilangan kendali. 


Maklumin saja, pria itu sudah terlalu lama sendiri. Ular cobra nya sudah terlalu lama berhibernasi, jadi saat dia menerima sentuhan seperti ini membuat nya segera bangun dan membuat Mark harus ekstra menahan nafssu nya agar tidak menerkam sang kekasih. Dia tahu kalau Maya adalah wanita baik-baik dan dia tidak mungkin merusak wanita baik-baik. 


Tidak mungkin merusak katanya? Tapi doyan ciuman sama Maya, itu juga sama saja dengan merusak kepolosan nya bukan? Dia menjadi guru yang cukup sesat untuk Maya. Tapi lagi-lagi, ini adalah resiko berpacaran dengan pria yang jauh lebih dewasa, plus dia sudah lama sendiri. Pikiran nya tidak jauh-jauh dari hal-hal yang berbau mesuum. Tapi katanya itu normal, iyakah? Apakah mesuum itu hal yang normal dan wajar? Oke, anggap saja itu normal dan wajar. 


"Mas, kamu kenapa?"


"Gapapa kok, udah kamu tidur aja ya?"


"Hmm, yaudah. Selamat tidur, Mas."


"Selamat tidur, sayangku." Jawab Mark. Dia pun mengusap-usap puncak kepala Maya juga punggung nya dengan lembut, dia juga mengecup singkat kening dan puncak kepala sang kekasih. Sebelum akhirnya, rasa kantuk pun datang dan kedua nya pun tertidur dengan nyenyak. 


Di rumah lain, Narendra dan Ayunda sedang merasakan sedikit kepanikan. Pasalnya, Ayunda kembali mengalami pendarahan namun tidak terlalu parah. 


"Sayang, masih sakit?"


"Enggak kok, Mas. Udah, gak usah panik gitu. Aku gapapa, aku baik-baik aja kok. Jangan bikin rame."


"Aku khawatir, sayang."


"Udah, aku gapapa." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Narendra pun tak sanggup, dia pun memeluk istrinya yang sedang duduk selonjoran di atas ranjang dan menangis disana. Ayunda tersenyum kecil lalu mengusap-usap punggung pria itu dengan lembut. 


"Maaf, aku gagal lagi jagain kamu."


"Hey, kamu gak gagal, Mas. Aku nya aja yang mungkin harus bed rest mulai besok, gapapa. Jangan nangis, masa calon papa nangis sih? Cengeng gini."


"Ini juga kan karena kamu, Bby. Aku sayang sama kamu, aku gak tahan kalo liat kamu begini."


"Udah, di lap dulu itu ingus nya meler." Ucap Ayunda sambil tersenyum jahil. Narendra pun mengusap nya dengan kaos yang tengah dia kenakan, membuat Ayunda meringis. 


"Jorok isshh, kok pake baju sih di lap nya? Kan ada tissu."


"Hehe, ngambil yang deket aja. Dari pada pake baju kamu kan?"


"Astaga, perusahaan kamu bakalan gempar kalau misal mereka tahu atasan mereka sejorok ini." 


"Husshh, jangan bilang-bilang aja, sayang. Malu, hehe."


"Di depan aku aja, kamu kayak orang gak tau malu." Jawab Ayunda sambil tertawa. 


"Hehe, kan kalo sama pawang mah no aib-aib club." Jawab Narendra yang membuat Ayunda menatap wajah tampan suami nya itu dengan tatapan yang entah apa artinya. 


"Besok, kita ke dokter ya? Aku penasaran, kamu kenapa sampai bisa pendarahan lagi."


"Oke, Mas. Tapi besok kan kamu harus ngantor?"


"Aku masuk kantor nya agak siangan aja gapapa, besok jadwal nya agak kosong kok." Jawab Narendra. Ayunda pun mengangguk saja mengiyakan, dia juga sebenarnya masih merasa heran sendiri kenapa dia bisa pendarahan lagi, padahal dia tidak melakukan kegiatan apapun hari ini. Dia hanya duduk, makan, minum, mandi, lalu berjalan-jalan bersama Melisa lalu tidur. Selesai, itu yang selalu di lakukan Ayunda setiap hari nya. Tapi kenapa begitu saja bisa membuat nya pendarahan ya? Aneh bukan?


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2