Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 156 - Masih Ngidam Seblak


__ADS_3

"Sayang.." Panggil Narendra, membuat Ayunda yang masih betah dalam tidur nya itu terpaksa harus membuka kedua mata nya dengan malas.


"Iya, Mas. Kenapa?" Tanya Ayunda dengan suara serak khas bangun tidur nya. Hari sudah mulai petang saat ini, setelah puas bermain, Narendra dan Ayunda langsung tertidur dengan lelap, mungkin karena mereka lelah. Jadi nya mereka tidur dengan nyenyak hingga melupakan waktu makan siang, saat ini sudah terlalu petang untuk makan siang. 


"Ayo bangun, kamu belum makan kan? Kamu gak boleh telat makan, sayang. Kamu lagi hamil muda sekarang, dia masih bertumbuh di rahim kamu." Ucap Narendra membuat Ayunda terdiam sejenak. Tapi, bohong saja jika tubuh nya tidak lelah dan terasa sakit sekarang.  


Narendra memang tidak bisa di percaya, dia mengatakan kalau akan bermain pelan-pelan. Tapi ternyata itu hanya kebohongan, Narendra bermain dengan brutal apalagi sesaat sebhm dia akan mendapatkan pelepasan nya. 


"Badan aku lemes, Mas. Sakit juga, pegal-pegal. Gara-gara siapa coba? Aku kan telat makan siang juga karena kamu, Mas." Ucap Ayunda terdengar seperti merengek bagi telinga Narendra. Pria itu terkekeh pelan lalu berjalan mendekat ke arah ranjang, dimana ada sang istri yang masih betah bergulung di balik selimut hangat nya. Di luar sana, hujan masih turun dengan cukup deras. 


"Maafin Mas, sayang. Habisnya Mas gak bisa kalau bermain pelan, tubuh kamu terlalu enak, hehe." Jawab Naren membuat Ayunda mencebikan bibir nya.


"Sebel deh."


"Ayo bangun, Mas gendong deh ya. Gimana?"


"Hmm, aku mandi dulu. Mas kalo mau duluan, silahkan."


"Mas bakalan nungguin kamu, sayang. Jadi cepatlah, mau di gendong ke kamar mandi?" Tanya Narendra sambil tersenyum kecil, namun bagi Ayunda yang sudah tau seperti apa tabiat suami nya ini, senyuman itu terlihat menyebalkan.


"Ckk, gak usah modus ya kamu."


"Yaahh, Mas kan sengaja gak mandi duluan tadi karena pengen mandi bareng sama kamu." Goda Narendra. Benar memang, pria itu masih belum membersihkan badan nya karena menunggu sang istri. Berharap, istrinya bisa di kibulin dan dia akan mendapatkan jatah kembali. Tapi, seperti nya tingkah nya itu terlalu mencurigakan hingga membuat istrinya tahu niat mesuum nya itu. 


"Alesan, udah aahh aku mau mandi duluan."


"Yang.."


"Gak ada ya, Mas. Aku tahu apa yang ada di otak mesuum kamu itu, aku gak mau. Aku capek, tadi aja main nya brutal banget kayak mau bikin aku mati." Ketus Ayunda sambil mendelikan kedua mata nya, lalu memilih pergi ke kamar mandi dengan langkah pelan. Dia memakai bathrobe untuk menutupi tubuh polos nya, kalau dia tidak mengenakan pakaian untuk menutupi tubuh nya, sama saja dengan bunuh diri, bukan? 


Sudah tahu suami nya mesuum bukan main, malah dia cari gara-gara kan? Gak mungkin dia bisa lolos kalau sudah tertangkap oleh suaminya. Tenaga nya takkan bisa mengalahkan tenaga suami nya yang kuat. 


"Sayang, hati-hati ya mandi nya."


"Iya, Pak suami. Aku udah gede, bisa jaga diri sendiri. Tanpa di minta pun aku pasti hati-hati." Jawab Ayunda sambil memutar matanya dengan jengah pada suaminya. Dia tahu, maksud suami nya itu memang baik. Tapi, saat ini Ayunda tengah merasakan kekesalan di hatinya karena ulah suaminya itu. 


"Yaudah, silahkan mandi." Jawab Narendra. Ayunda pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, tak lupa juga dia mengunci pintu nya sebagai bentuk antisipasi, jaga-jaga saja kalau suaminya itu nekat dan masuk ke kamar mandi untuk meminta jatah tambahan nya.


Ayunda mengisi bath up dengan air hangat dan juga bath bomb, dia menambahkan beberapa tetes aromaterapi juga. Wanita itu masuk ke dalam bath up dan berendam di dalam nya, wanita itu memejamkan mata nya menikmati sensasi nya. Dia merasa rileks saat berendam di dalam air hangat itu. Rasanya, seluruh tubuh yang terasa pegal dan sakit, sekarang terasa jauh lebih baik. 


"Nyaman sekali.." Gumam Ayunda sambil tersenyum dan menggosok tubuhnya. 


Di kamar, Narendra memilih untuk menunggu istrinya keluar dari kamar mandi dengan menyesap bayang bernikotin di balkon. Entahlah, dia sedang ingin untuk merokok. Padahal, dia tahu sendiri kalau merokok lalu berdekatan dengan sang istri yang tengah hamil muda itu tidak baik, tapi ya mau bagaimana lagi dia sedang ingin sekali rasanya. Entah kenapa, mungkin inilah yang disebut ngidam. Anggap saja ini ngidam versi Narendra.


"Hujan nya deras sekali.." Gumam Narendra. Dia melihat ke bawah, tepatnya ke arah green house yang di buat Narendra beberapa bulan lalu. Disana, terdapat banyak sekali tanaman bunga mawar biru yang saat ini tengah mekar sempurna. Indah sekali, pantas saja sang istri begitu menyukai bunga mawar biru itu, pada kenyataan nya bunga itu memang sangat cantik dan menawan. Sungguh, menatap hamparan bunga mekar berwarna biru itu takkan membuatnya bosan meksipun di lihat sepanjang hari. 


"Bunga nya indah sekali, pantas saja istriku menyukai nya." Gumam Naren sambil tersenyum. Baginya, bunga mawar biru memang indah dan cantik, namun keindahan nya hanya sementara. Setelah beberapa hari, kelopak bunga itu akan jatuh berguguran ke tanah. Namun, keindahan dan kecantikan yang di miliki oleh istrinya benar-benar di miliki sampai kapanpun, dia takkan layu. 


"Kau memang indah, namun hanya untuk sementara. Keindahan mu tak bisa di sentuh, karena duri mu begitu runcing." Pria itu membuang rokok nya, lalu masuk ke dalam kamar, tak lupa menutup kembali pintu balkon itu. Bertepatan dengan itu, Ayunda juga baru saja keluar dari kamar mandi. 


"Dari mana, Mas?"


"Balkon, yang." Jawab Narendra sambil tersenyum. 


"Bau rokok, kamu habis ngerokok?" Tanya Ayunda dengan kening yang mengernyit. Narendra seketika terdiam, senyuman nya surut seketika. Dia lupa ketika merokok tadi, dia tidak menutup kembali pintu balkon nya, jadi asap rokoknya pasti masuk ke dalam kamar. 


"Hehe, iya.."

__ADS_1


"Astaga, Mas. Berapa kali aku bilang sama kamu, Mas? Kalau ngerokok tuh pintu nya di tutup, jadi asap nya gak masuk kamar!" Kesal Ayunda. Dia kesal pada suaminya karena bisa-bisa nya dia melupakan hal seperti ini, semua orang juga tahu kalau asap rokok itu berbahaya apalagi bagi ibu hamil seperti Ayunda. 


"Maaf, sayang."


"Gitu aja terus, inget aku lagi hamil lho. Kamu tahu kan apa konsekuensi nya kalo kamu ngerokok terus deket-deket aku?"


"Iya, harus mandi, ganti baju, gosok gigi sama pake parfum." Ucap Narendra lirih. 


"Yaps, betul. Kalau bisa, jangan deket-deket sama aku dulu sebelum efek rokok nya hilang. Satu lagi, buka pintu balkon nya biar asap rokok nya keluar terus gak nempel di kain."


"Baik baginda ratu." Jawab Narendra. Ayunda hanya menggelengkan kepala nya, lalu memilih masuk ke kamar ganti untuk mengenakan pakaian. 


Sedangkan Narendra, dia melakukan perintah sang istri. Membuka tirai kamar, pintu balkon nya agar asap rokok nya pergi, lalu dia membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Dia berendam, menggosok gigi nya beberapa kali, lalu keramas. Pokoknya dia harus bersih agar bisa berdekatan dengan sang istri. 


Dia takkan bisa tenang kalau tidak berdekatan dengan istrinya, tahu sendiri seperti apa bucin nya Narendra pada sang istri. Bahkan, jika mereka sedang marahan pun Narendra akan memilih untuk mengalah agar bisa tidur sambil memeluk tubuh istrinya. Kalau dia tidak mengalah, mana dia bisa tidur? Naren tidak akan bisa tidur tanpa memeluk sang istri. Setelah menikah, Naren jadi memiliki banyak hobi baru dan itu selalu berhubungan dengan istrinya, Ayunda.


Ayunda keluar dari ruang ganti dan tersenyum ketika tak sengaja melihat kalau suaminya sudah melakukan apapun yang dia perintahkan. Inilah yang dia sukai dari suami, di samping kalau suaminya itu seringkali membuat nya kesal, tapi masih ada banyak alasan kenapa dia sangat mencintai sosok Narendra Astra Sanjaya. Dia adalah pria sempurna yang mau menerima nya apa adanya, padahal dengan apa yang dia miliki, dari segi apapun Narendra bisa mendapatkan sosok pendamping yang jauh lebih baik. 


Namun, Narendra tidak begitu. Dia adalah pria yang bertanggung jawab, dia mau mempertanggung jawabkan perbuatan nya, meskipun dia tidak sepenuhnya bersalah karena ini adalah jebakan. Tapi Narendra benar-benar bertanggung jawab dan sekarang, dia mencintai Ayunda dengan tulus. Bahkan, tingkat kebucinan nya sudah berada di tahap mengkhawatirkan, kalau kata Arvino. Padahal dulu, saat dia masih muda, dia juga sama bucin nya seperti Narendra. 


"Sayang, kenapa diam saja?" Tanya Naren sambil tersenyum kecil. 


"Tidak apa-apa, Mas. Sudah mandi nya?" Tanya Ayunda. 


"Udah kok, dingin. Hehe."


"Nanti cuddle, sekarang pake baju dulu terus kita makan. Baju nya udah aku siapin di ruang ganti."


"Iya, sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum. Pria itu pun mengacak pelan rambut sang istri, lalu masuk ke dalam ruang ganti. Pria itu memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh sang istri. 


Kedua nya menuruni tangga dengan perlahan dan hati-hati, tentunya dengan Narendra yang selalu menggenggam tangan Ayunda dengan erat. Melisa yang melihat kedatangan putra dan menantu nya itu langsung menyambut nya, lebih tepatnya sih menyambut Ayunda, bukan Narendra. Karena dia masih merasa kesal pada putra nya itu, dia ingin bicara lebih banyak dengan sang menantu, tapi Narendra terus saja membawa istrinya ke kamar lalu mengurung nya. 


"Sayang, baru keluar?"


"Iya, Mi. Habis di penjara, kenapa Mami?" Tanya Ayunda sambil tersenyum kecil ke arah mami mertua nya. Niat hati, dia ingin bercanda, tapi Melisa malah menanggapi nya dengan serius.


"Dia ngapain kamu, sayang? Bilang sama Mami, kalau dia nyakitin kamu biar Mami yang pukul terus jewer telinga nya." Ucap Melisa membuat Ayunda cengengesan.


"Enggak kok, Mami. Mas Naren gak apa-apain Ayu. Kalau minta jatah sih wajar ya, gak setiap hari kok." Jawab Ayunda.


"Syukurlah kalau begitu, jadi sekarang ayo makan. Kamu pasti lapar kan? Ini udah petang lho. Udah telat banget buat makan siang." Ucap Melisa, dia menarik tangan sang menantu dengan lembut, mengajak nya ke ruang makan. Di ikuti oleh Narendra yang juga sudah kelaparan, dia juga sama lapar nya dengan sang istri. Terakhir makan, ya tadi pagi sarapan di bandara.


"Iya, Mami. Ayu lapar banget ini."


"Iya, aku juga Mi." Jawab Narendra sambil mengusap-usap perut nya. Namun, bukan nya di perhatikan malah mendapatkan delikan tajam dari sang ibu. Narendra menggaruk tengkuk belakang nya yang tiba-tiba saja terasa gatal sekarang. Seperti nya, Narendra mengetahui apa kesalahan nya hingga bisa mendapatkan tatapan maut nan mengerikan dari sang ibu. Jarang-jarang ibu nya mendelik seperti itu pada nya. 


"Ini, makan yang banyak ya. Mami bikin sup lagi buat kamu, katanya ini sup bagus buat kamu yang sedang mengandung." Ucap Melisa sambil memberikan sup yang menguarkan aroma harum, membuat perut Ayunda semakin berdemo.


"Buat Naren ada, Mami?" Tanya Naren sambil cengengesan kecil. 


"Kamu gak hamil, jadi makan aja tuh telor balado." Ucap Melisa membuat Naren terdiam. Dia bosan makan telur, tapi dari pada hanya makan nasi dan gaatm saja, tidak masalah mendingan makan telur saja dari pada tidak sama sekali. 


"Mami, gak boleh gitu. Naren anak kita lho, kasian dia kalau kamu nya pilih kasih begini." Ucap Arvino yang membuat Ayunda tersenyum. Dia senang karena ada papi mertua nya yang selalu membela suaminya, dia juga ingin melakukan hal yang sama, namun dia tidak bisa karena dia tidak enak pada Melisa. 


"Tapi dia ngeselin, Pi." Ucap Melisa.


"Gapapa, Mami. Jangan gitu, nama nya juga suami istri. Gapapa, jangan pilih kasih sama anak atau sama menantu, harus adil ya."

__ADS_1


"Hmmm, ya sudah. Itu Mami buatin juga buat kamu, makan yang banyak ya." Ucap Melisa lirih. Dia juga merasa kalau akhir-akhir ini, perhatian nya selalu tertuju pada Ayunda dan mengabaikan Naren yang notabene nya adalah putra nya sendiri, seorang anak yang lahir dari rahim nya. 


"Terimakasih, Mami.." Narendra mengatakan nya dengan wajah berbinar, dia mengambil piring berisi nasi dan telur balado nya, lalu mengisi nya dengan sup daging yang di buat oleh sang ibu. 


"Sama-sama, maafin Mami ya.."


"Gapapa kok, Mi. Gak usah minta maaf, Naren seneng kalau Mami perhatian sama Ayu. Ya, meskipun kadang Naren ngerasa kalau Mami pilih kasih, hehe."


"Maafin Mami ya.."


"Udah, Naren udah maafin Mami kok. Lagian Mami gak salah tuh, Naren juga gak mempermasalahkan. Harusnya, Naren tuh berterimakasih sama Mami karena udah sayang banget sama Ayu, istri Naren. Perhatiin Ayu terus ya, Mi." Ucap Narendra sambil tersenyum. Dia tidak bisa seharian full menjaga istrinya, karena dia juga harus bekerja mulai besok. Dia tidak bisa menyerahkan semua nya pada Mark, jadi besok dia sudah mulai bekerja. 


"Pasti, Mami pasti bakalan terus perhatiin istri kamu. Apalagi sekarang, dia sedang hamil. Pasti dia butuh di perhatikan." Jawab Melisa sambil tersenyum. 


"Iya, Mami. Naren gak bisa jagain Ayu selama 24 jam penuh, karena Naren juga harus kerja. Kasian Mark, dia masih pengantin baru tapi udah sibuk aja, sering lembur juga gara-gara aku."


"Mami ngerti, kamu bisa percaya sama Mami."


"Terimakasih, Mami. Naren juga kerja buat Ayu sama anak Naren kok, buat bekal lahiran sama beli susu terus beli popok." Jawab Narendra sambil terkekeh pelan.


"Iya, yaudah kalian makan yang banyak ya." Kedua nya mengangguk bersamaan, lalu melanjutkan acara makan siang terlambat mereka. 


"Sayang, kapan kalian mau periksa kandungan?" Tanya Melisa, dia duduk di hadapan pasangan suami istri itu, wajah nya berbinar cerah ketika menunggu jawaban kedua nya. 


"Mungkin besok atau lusa aja, Mi. Atau Minggu depan. Nunggu kandungan Ayu genap jadi delapan Minggu aja." 


"Ya sudah, tapi jangan lalai ya? Jangan sampai gak periksa, itu bisa bahaya buat kehamilan. Jadi, kalau ada keluhan kalau udah ketahuan kan kita bisa mencari solusi nya bersama-sama." Jelas Melisa. Terlihat kelas raut wajah penuh ke khawatiran yang di tunjukan oleh Melisa. Dia tidak bisa membiarkan menantu nya mengalami apapun, sudah cukup rasanya dia merasakan sakitnya kehilangan. Cukup kali itu saja, tidak lagi dan jangan lagi. 


Dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri kalau semisal terjadi sesuatu pada menantu nya, atau pada janin yang tengah di kandung oleh menantu nya itu. Dulu saja, dia merasa sangat menyesal ketika gagal menjaga cucu nya yang harus berakhir dengan kehilangan karena janin itu tak bisa bertahan lagi, akhirnya dia pun pergi dan kembali ke sang pemilik raga dan nyawa. 


Ikhlas? Waktu itu, tidak ada yang bisa ikhlas, namun tidak ada cara apapun lagi selain mencoba mengikhlaskan agar hati terasa jauh lebih tenang dan benar saja, hati mereka terasa lebih tenang dan lega. Sekarang, kebahagiaan itu kembali datang menghampiri. Benar, akan ada pelangi setelah badai. Badai telah berlalu, kini pelangi itu tengah melengkung dengan indah. 


Puncak dari mencintai adalah mengikhlaskan, right? Memang benar, karena selama apapun jika hati tidak merasa ikhlas, maka selamanya akan merasakan sakit yang berkepanjangan. Tidak ikhlas adalah satu cara untuk menyakiti diri sendiri, dari pada melakukan hal itu akan lebih baik jika mengikhlaskan. Itu lebih baik, tak selamanya mengikhlaskan selalu berakhir dengan buruk. Seperti apa yang di rasakan oleh Ayunda dan Naren, mereka kehilangan anak pertama mereka namun dalam waktu yang sangat singkat, Tuhan dengan cepat mengirimkan mereka pengganti nya.


"Baik, Mami. Jangan khawatir, kali ini Naren akan jauh lebih hati-hati untuk menjaga Ayunda."


"Hmm, mami percaya padamu, Nak." 


"Harus, Mami memang harus percaya sama Naren." Jawab Naren sambil tersenyum kecil. Dia pun menyiapkan nasi dan lauknya dengan lahap, masakan sang ibu memang enak dan dia merindukan rasa masakan yang selalu di siapkan oleh Melisa. Meskipun sejak tahu istrinya hamil, menu yang di masakan nya pasti tidak jauh dari sup, karena Ayunda mengidam untuk makan makanan yang berkuah setiap hari. Tidak pernah bosan, karena dia benar-benar menyukai makanan yang berkuah-kuah, apalagi pedas. 


Mengingat makanan berkuah pedas, Ayunda jadi teringat untuk makan seblak. Dia mengajak suami nya pulang ke Indonesia itu untuk mengajak suaminya makan seblak di warung nya langsung. 


"Mas, jangan pikir kalau aku lupa ya tujuan utama aku ngajakin pulang selain kangen suasana rumah."


"Hmm, apa memang nya? Mas lupa, hehe." Jawab Narendra sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Dia mendapat dua tatapan tajam dari kedua wanita yang ada di tempat itu. 


"Seblak, aku mau makan seblak."


"Kan udah Mami buatin waktu itu." Jawab Melisa, dia ingat benar kalau dia sudah membuatkan seblak hari itu, namun di Amerika. Pasti rasanya jauh berbeda, karena kesulitan mencari bahan-bahan nya. Kerupuk nya pun berbeda dengan apa yang biasa ada di makanan khas itu. 


"Mau makan seblak di warung nya langsung." Jawab Ayunda. 


"Yaudah, nanti malem aja gimana? Sekarang kan lagi makan, masa sekarang berangkat sih? Gak kenyang atau gimana gitu?" Tanya Narendra. Akhirnya, Ayunda pun mengangguk pasrah. Tapi dia merasa senang karena akhirnya, nanti malam dia akan merasakan nikmatnya memakan makanan berkuah pedas itu sepuasnya. 


........


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2