Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 128 - Sakitnya Kehilangan


__ADS_3

Arvin berdiri di luar ruangan tempat menantu nya di rawat, dia menatap pintu dengan tulisan kamar inap anggrek nomor 15. Ya, ruangan ini adalah tempat dimana pasien yang menjalani operasi di rawat sebagai bentuk pemulihan. Arvin menatap nanar pintu itu, dia tidak menyangka kalau menantu nya kini berada di dalam ruangan ini. 


Tidak pernah terbayangkan sebelum nya kalau menantu nya harus berada di ruangan ini, mungkin kalau karena operasi sesar itu masih bisa di maklumi. Tapi ini? Dia di operasi karena keguguran. Janin yang selama ini di pertahankan, selalu di bangga-banggakan, selalu di jaga dengan segenap jiwa itu pergi meninggalkan dunia. Dia gugur di tengah-tengah perang melawan ketidak adilan. Sungguh, membayangkan bagaimana sakit nya menjadi Ayunda saja mampu membuat Arvin menangis.


"Apa aku harus masuk? Aku takut tak bisa menahan diri." Gumam Arvino. Pria paruh baya itu mengusap air mata yang menetes itu dengan tangan nya dan memutuskan untuk masuk. Meskipun demikian, dia tidak akan kuat untuk menyaksikan kehancuran seorang ibu yang kehilangan anak nya, namun mau tidak mau juga Arvin harus melihat keadaan menantu kesayangan nya. 


"Semoga aku kuat.." Gumam pria itu lagi. Arvin membuka pintu ruangan secara perlahan, membuat kedua orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh ke arah pintu yang terbuka secara perlahan. 


Terlihat jelas kedua nya terkejut, tergambar jelas dari raut wajah yang mereka tampilkan. Namun, yang paling terlihat dari ekspresi kedua nya adalah ke khawatiran. Kedua nya merasa khawatir dengan keadaan Ayunda yang sekarang belum siuman juga setelah melewati operasi pengangkatan janin. 


"Papi.." Lirih Melisa. Dia langsung berlari mendekat pada suami nya dan menghambur memeluk pria itu dan menangis sejadi nya disana. Sedangkan Narendra hanya bisa menatap sendu kedatangan sang ayah, lalu menundukan kepala nya. 


Sakit? Jelas, dia bahkan harus kehilangan sosok malaikat yang di titipkan oleh Tuhan melalui rahim sang istri. Namun sekarang, dia harus kehilangan sosok itu tanpa sempat melihat nya sama sekali. Bisa di bayangkan sesakit apa rasa nya kan?


"Ayu kenapa, Mi?"


"Dia keguguran, Pi. Padahal tadi pagi, dia baik-baik saja." Jawab Melisa dengan suara gemetar nya menahan tangis, dia ingin menangis meraung untuk mengungkapkan seberapa sakit nya dia saat ini. 


"Kenapa bisa? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari kami, Boy?" Tanya Arvin lirih pada putra nya. Membuat kepala Narendra mendongak menatap wajah tegas sang ayah dengan tatapan sendu.


"Maaf.."


"Apa maksud mu, boy?" Tanya Melisa lagi. 


"Kemarin malam, Ayu pendarahan lagi, Mi. Tapi kami berpikir itu hanya pendarahan biasa, karena hanya pendarahan ringan saja. Kami pun berniat untuk memeriksakan kandungan nya tadi pagi, tapi di perjalanan Ayunda malah pendarahan lagi. Dia juga meringis kesakitan sampai tak sadarkan diri." Jelas Narendra lirih sambil menundukan kepala nya. 


"Kenapa bisa kamu seceroboh itu, Boy?" Tanya Arvin membuat Narendra terdiam.


"Maaf.."


"Kalau saja malam itu kau membawa istrimu ke rumah sakit, ini semua takkan terjadi." Ucap Arvin dengan marah. 


"Aku juga tidak tau kalau akan seperti ini jadinya, Pi."


"Itu semua karena kau terlalu menganggap sepele semua hal, hanya karena kau menyangka ini pendarahan ringan, jadi kau mengabaikan pendarahan istrimu itu. Bodooh!" 


"Sudah, Pi. Jangan menyalahkan putra mu, ini semua juga bukan kesalahan dia. Kalau bisa meminta, siapapun takkan mau seperti ini. Apalagi kehilangan seperti ini, rasanya sangat menyakitkan." Ucap Melisa membuat Arvin terdiam. Ucapan istri nya memang benar semua ini di luar kendali siapapun, kalau bisa mana ada orang yang mau seperti ini? Takkan ada dan takkan pernah ada yang mau mengalami hal menyakitkan semacam ini. 


"Ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan, disaat seperti ini kita harusnya bisa memberikan semangat untuk Ayunda. Disini, dia yang paling terpukul. Bukan hanya kita, tapi ada yang lebih sakit di banding kita." Jelas Melisa yang membuat kedua pria itu terdiam seketika. 


Narendra menatap wajah pucat sang istri yang sampai sekarang belum juga sadarkan diri. Sudah tiga jam sejak dia keluar dari ruang operasi, namun dia belum kunjung siuman juga. Kata perawat dan juga dokter tadi, katanya hal ini wajar terjadi karena pengaruh obat bius. Namun tetap saja, rasanya belum tenang jika belum melihat Ayunda bangun dari tidur nya. 


Kalau dia sudah siuman, mungkin rasanya akan sedikit lega. Meskipun semua orang yang ada disini pasti akan kebingungan bagaimana cara menenangkan Ayunda nanti jika dia sudah siuman nanti. Pasti akan menimbulkan pertanyaan kenapa dirinya bisa ada di ruangan ini dengan banyak alat kesehatan yang menempel di tubuh nya. 


"Sayang, bangun ya? Jangan buat aku khawatir, aku takut." Gumam Narendra. Dia tak tahan melihat istrinya masih belum juga sadarkan diri setelah sekian lama. Tapi, saat dia bangun nanti mereka harus menjelaskan seperti apa pada Ayunda? Entah akan seperti apa reaksi Ayunda nanti. Yang jelas, pasti dia akan menangis. Hal itu terlalu menyakitkan bahkan untuk siapapun. 


'Maaf, aku terlalu ceroboh. Benar kata Papi, aku terlalu menyepelekan tentang pendarahan mu kemarin. Kalau saja aku menuruti niat hati untuk membawa mu ke rumah sakit, aku yakin saat ini anak kita pasti masih bertahan.' Pria itu membatin, dia menatap lekat wajah pucat sang istri. 


"Kau sudah makan, Boy?" Tanya Arvin. Jujur, dia kesal karena kecerobohan putra nya menyebabkan kepergian yang tak di inginkan itu. Namun, tetap saja bagaimana pun, dia mengetahui kalau putra nya itu juga sedang berduka saat ini. 


"Naren belum makan sedari tadi pagi, Pi. Dia mogok makan."


"Keren kamu begitu, Boy? Kalau istrimu sampai tahu hal ini, dia pasti akan memarahi mu." Ucap Arvin yang membuat Narendra terdiam.


"Jangan menyiksa dirimu sendiri, Papi akan membelikan mu makanan. Kau ingin makan apa?"


"Sup daging."


"Oke, Papi keluar dulu sama Mami. Gak lama kok, kalau ada apa-apa langsung hubungi Papi."

__ADS_1


"Iya, Pi." Jawab Narendra lirih, sangat lirih hingga nyaris tak terdengar. 


"Papi akan segera kembali."


'Papi harap, saat Papi kembali Ayunda sudah terbangun.' Batin pria paruh baya itu, dia pun keluar bersama sang istri dari ruangan itu. Meninggalkan Narendra dan Ayunda yang masih belum sadarkan diri juga. 


"Sayang, papi marah sama aku. Tapi tak apa, aku memang pantas di marahi karena aku terlalu ceroboh." Gumam Narendra. Pria itu tersenyum kecut, sedari tadi dia mengajak istrinya bicara, namun sampai sekarang, istrinya belum bangun juga. 


"Sampai kamu akan tidur seperti ini, sayang. Ayo bangun, Mas kangen. Mas kangen pas kamu senyum, atau pas kamu marahin Mas, bahkan Mas rindu dengan suara mu, sayang. Dunia Mas terasa berakhir saat dokter mengatakan kalau kamu keguguran, sayang." Gumam Narendra. Tanpa terasa, air mata nya kembali menetes.  Tapi dengan cepat, dia segera mengusap nya dengan tangan. Dia tidak ingin istri nya melihat sisi rapuh nya, dia tidak ingin saat istrinya terbangun, dia melihat kalau suami nya tengah menangis. 


Dia ingin saat istrinya terbangun, dia terlihat baik-baik saja seolah tegar, seperti tidak terjadi apa-apa dan bisa menguatkan istrinya. Tapi entahlah, akan seperti apa dirinya nanti jika dia melihat istrinya menangis nanti. 


Beberapa menit kemudian, Ayunda mulai terbangun dari pingsan nya. Dia membuka kedua mata indah nya secara perlahan, hal yang pertama dia lihat adalah langit-langit kamar yang berwarna putih, angin semilir yang terasa menyejukkan badan nya dia rasakan. Namun, satu yang dia tidak ingat. Dia dimana? Tempat ini begitu asing, rasanya dia tidak pernah melihat atau datang ke tempat ini sebelum nya. 


"Aawwhhss.." Ayunda meringis kesakitan saat dia berusaha untuk bangkit dari tiduram nya. 


"Kenapa perut ku sakit sekali, ada apa dengan ku? Kenapa perut ku rata seperti ini?" Gumam Ayunda saat melihat perut nya yang rata, padahal awalnya perut nya itu sudah membuncit. 


"Sayang.." Panggil Narendra. Dia baru saja keluar dari kamar mandi untuk menuntaskan hajat nya. Setelah di rasa lega, dia pun segera keluar dan mendapati istrinya sudah terbangun. 


"Mas.."


"Akhirnya kamu bangun juga, sayang. Mas khawatir banget sama kamu.." Ucap Narendra lalu memeluk sang istri dan menciumi puncak kepala nya. 


"Ini dimana, Mas?"


"Rumah sakit, sayang."


"Aku kenapa sih?" Tanya Ayunda lagi, membuat nafas Narendra tercekat seketika. Inilah yang dia takutkan, dia bingung harus memberitahu istri nya mulai dari mana. 


"Mas, kok diam? Aku kenapa?" 


"Sayang.."


"Berjanjilah, kalau aku memberitahu mu, tolong jangan menyalahkan diri sendiri."


"Kenapa kamu mengatakan hal itu, Mas? Aku hanya tanya, aku kenapa?" Tanya Ayunda lagi. 


"Kamu keguguran, sayang."


"A-apa?" Ayunda tergagap begitu mendengar jawaban sang suami. Keguguran? Yang benar saja. 


"Mas, jangan bercanda. Gak lucu tau gak!" 


"Sayang, mas serius." 


"J-jadi, dia benar-benar pergi, Mas?"


"Maafin, Mas." Lirih Narendra sambil menundukkan kepala nya. Dia merasa bersalah, apalagi saat melihat ekspresi Ayunda yang terlihat shock. Inilah yang membuat Narendra berniat tidak ingin memberitahu kabar ini pada istrinya, dia khawatir kalau sang istri kembali drop. Apalagi keadaan nya masih belum stabil sekarang ini. 


"Mas, gak mungkin anak kita pergi kan? Gak mungkin. Dia masih ada disini, di perut aku kan, Mas?" Tanya Ayunda. Air mata nya mulai menetes membasahi pipi nya. 


"Ini sudah takdir, sayang."


"Tidak, Mas. Dia sudah bergerak-gerak disini, tidak mungkin dia pergi secepat ini, Mas. Tidak mungkin!" Teriak Ayunda histeris, membuat Narendra langsung memeluk istrinya. Namun wanita itu meronta, dia tidak ingin di peluk.


"Sayang, Mas mohon jangan begini."


"Bagaimana bisa aku tidak begini, sedangkan aku baru saja kehilangan anak ku, Mas?"

__ADS_1


"Anak kita, sayang. Aku juga sama sedih nya seperti kamu, tapi kita bisa apa? Kita sudah mengusahakan yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain." Lirih Narendra yang membuat tangis Ayunda sedikit mereda. Dia mulai tenang, Narendra memeluk istrinya semakin erat berusaha menenangkan sang istri yang masih menangis sesenggukan di dalam dekapan nya. 


"Mas.."


"Maafin, Mas. Kalau saja malam itu, aku kukuh dengan pendirian ku untuk membawa mu ke rumah sakit, mungkin saat ini dia masih bersama kita. Maafin, Mas.." 


"Mas bilang jangan menyalahkan diri sendiri tadi, tapi kenapa sekarang Mas malah menyalahkan diri sendiri?" Tanya Ayunda dengan suara bergetar nya. Dia masih belum percaya kalau janin yang selama ini dia jaga, janin yang selama lima bulan ini menghuni rahim nya itu kini telah tiada. Dia menyerah karena obat sialan itu yang membuat nya tidak bisa bertahan lagi. 


"Sakit banget rasa nya, sayang."


"Apalagi aku, Mas. Selama ini dia berada di rahim ku, dia ada disini. Dia bergerak-gerak disini, tapi sekarang dia pergi bahkan sebelum kita sempat melihat dan merawat nya." 


"Mas berasa gagal jadi suami dan ayah, sayang."


"Mas, tidak seperti itu. Aku juga minta maaf karena gagal jagain anak kita, maafin aku, sayang."


"Mas sudah bilang, jangan nyalahin diri sendiri, sayang. Ini sudah takdir."


"Kalau begitu, Mas juga harus berhenti menyalahkan diri Mas sendiri." Jelas Ayunda yang membuat Narendra kembali memeluk erat tubuh lemah sang istri. 


"Kamu sudah merasa lebih baik?"


"Sedikit, Mas." Jawab Ayunda. Entahlah, hatinya merasa sedikit lega sekarang ini. Mungkin karena perkataan sang suami yang membuat hati nya tenang. 


"Kita harus bisa mengikhlaskan nya ya? Dia akan kembali menjadi malaikat di atas sana."


"Aku hanya butuh waktu untuk itu, Mas. Ini terlalu tiba-tiba untuk ku, aku tidak siap untuk merasakan rasa sakit yang teramat sakit seperti ini." Lirih Ayunda. 


"Tidak akan ada yang siap untuk hal ini, sayang. Tapi apa kita bisa menolak? Tidak, karena ini sudah takdir nya." Jawab Narendra sambil mengusap puncak kepala sang istri. Dia juga mengecup kedua mata Ayunda yang terlihat sembab, mungkin karena terlalu banyak menangis.


"Mas.."


"Tidak apa-apa, memang memerlukan sedikit waktu. Semua akan ada waktu nya, sayang. Kita akan memakamkan nya besok ya?"


"Apa aku boleh ikut?" Tanya Ayunda. Dia sangat ingin menyaksikan saat janin nya di makamkan, namun melihat kondisi nya saat ini kemungkinan besar dokter pun takkan mengizinkan nya. 


"Tidak, sayang. Kondisi kamu masih sangat lemah, jadi aku saja. Paling bersama Mark dan Papi, kamu harus di rawat disini selama beberapa hari lagi untuk menstabilkan keadaan kamu, sayang."


"Tapi Mas.."


"Jangan keras kepala, istriku sayang. Kamu baru saja siuman, keadaan kamu masih sangat lemah. Mas gak mau ambil resiko, nanti Mas di timpuk Papi pake palu." Jawab Narendra yang membuat Ayunda tersenyum kecil. 


"Baiklah, antarkan dia menuju tempat peristirahatan nya dengan baik ya, Mas? Maaf, aku tak bisa ikut mengantarkan nya." Lirih Ayunda. 


"Tidak apa-apa, karena selama ini dia bersama mu." 


Ayunda menatap wajah tampan suami nya, namun tanpa di sangka air mata yang sedari tadi Ayunda tahan, kini kembali menetes tanpa bisa di cegah. Rasa nya terlalu sakit, sesak hingga membuat nya kesulitan bernafas. 


"Jangan menangis, sayang. Dia akan sedih melihat bunda nya terus menangisi kepergian nya, dia sudah bahagia sekarang karena tidak lagi merasakan sakit di sekujur tubuh nya, sayang." 


"Iya, Mas. Maaf, aku hanya belum terbiasa dengan ketidak adaan nya yang membuat aku sakit." 


"Tidak apa-apa, semua memang membutuhkan waktu." Jawab Narendra sambil mengecup bibir sang istri singkat lalu mengusap nya. 


"Aku mencintaimu, istriku."


"Aku lebih mencintaimu, Mas. Tolong, setelah ini jangan tinggalkan aku. Temani aku, apapun keadaan nya."


"Tentu, aku akan selalu berada di samping mu, sayang." Jawab Narendra. Ayunda pun menduselkan wajah nya di dada bidang sang suami, tempat paling nyaman untuk dia bersandar setelah pundak lebar nya. 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2