Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 110 - Wanita Beruntung?


__ADS_3

Malam hari nya, semua berjalan seolah tidak terjadi apapun di rumah ini. Bahkan semua maid pun di buat bungkam, kalau ada yang menanyakan keberadaan Mona, termasuk Ayunda karena dia tidak tahu menahu tentang pengusiran wanita itu, jawab saja dia sudah di pecat, itu adalah perintah dari Arvin. 


Saat ini, keluarga itu sedang menikmati makan malam, namun terlihat dari gelagat nya, Ayunda terlihat seperti mencari sesuatu atau seseorang. Namun entah apa, hingga akhirnya membuat Melisa membuka suara nya.


"Sayang, nyariin siapa?"


"Mona, Mi. Dia kok gak keliatan ya dari sore tadi, kemana?"


"Mami sudah memecat nya, sayang."


"Di pecat? Kenapa, Mami?"


"Dia berbahaya, sayang. Sudah, lanjutkan makan mu, habiskan. Setelah itu tidur." Bukan Melisa, tapi Arvin yang menjawab dengan suara datar nya. Narendra menganggukan kepala nya pelan saat tatapan mata nya bertemu dengan tatapan polos sang istri. Ayunda bertanya-tanya, apa benar kalau yang menaruh obat dalam susu itu Mona pelaku nya?


Tadi, Mark mengatakan kalau dia memang mencurigai Mona, selaku maid yang selalu menyiapkan kebutuhan nya, tapi bukankah belum ada bukti yang memberatkan? Btw, tadi pas Mark membawa kertas berisi hasil dari rumah sakit, Ayunda tengah berada di kamar mandi yang ada di ruang kerja karena kebelet. 


Maka dari itu, Ayunda belum mengetahui kenapa alasan Mona di pecat, meskipun hatinya sudah mencurigai hal itu. Tapi biarlah, kalau pun iya Mona di pecat karena hal itu, dia bisa tenang mungkin karena tak ada lagi yang akan mengancam nyawa nya dan sang buah hati, haruskah dia bisa merasa tenang dan bernafas lega sekarang? Tentu saja. 


Setelah menyelesaikan acara makan malam bersama, ke empat nya pun memutuskan untuk berkumpul sambil mengobrol ringan di ruang tamu. Ayunda terlihat sedang memakan kue buatan Mama mertua nya dengan lahap, meski sesekali dia merengek karena kue nya di makan oleh suami nya.


Suasana malam itu terasa hangat seperti biasa nya, di warnai canda tawa yang membuat suasana rumah itu jauh lebih ramai. Hingga tawa mereka berhenti saat mendengar suara seseorang dari arah pintu utama.


"Selamat malam, Tuan.."


"Eehh, Mark.."


"Kemarilah, duduk disini, Mark." Ajak Arvin. Mark terlihat canggung, lalu memutuskan untuk duduk di kursi kosong yang masih tersisa. Penampilan Mark yang biasa nya selalu formal dengan menggunakan setelan jas, tapi kali ini jauh berbeda. Celana jeans berwarna biru, kaos berlengan pendek warna putih, rambut yang dia sisir rapih dan aroma parfum yang terasa sedikit menyengat dari biasa nya.


"Astaga, Mark. Aroma parfum mu membuat aku mual.." ucap Narendra sambil menutup hidung nya.


"Hah, apa iya, Tuan? Seperti nya aku terlalu banyak menyemprotkan parfum nya." Jawab Mark sambil mengendus aroma tubuh nya sendiri.


"Ciee, seperti nya Mark itu sedang jatuh cinta. Iya kan?" Goda Melisa sambil tersenyum kecil, membuat wajah Mark seketika memerah. Seperti biasa, wajah nya itu terlalu jujur hingga susah untuk di ajak berbohong. 


"Tidak kok.."


"Tapi wajah mu sudah menjawab iya, Mark." Jawab Melisa lagi. Mark pun mengusap wajah nya dengan kasar, kebiasaan wajah nya ini selalu saja jujur seperti ini. Menyebalkan, terkadang tidak semua harus di jawab dengan jujur, seperti saat ini. 


"Wanita mana yang mampu membuat seorang Mark yang datar seperti tembok ini luluh?" Tanya Arvin dengan senyum kecil nya, kata-kata pria paruh baya itu terdengar seperti sebuah sindiran, tapi benar adanya. Mark adalah pria datar nomor dua setelah Narendra. Namun, es milik Narendra sudah lebih dulu mencair karena Ayunda. Lalu, siapa yang bisa meluluhkan pria sedatar Mark sekarang? 


"A-ada kok, nanti Mark kenalin." Jawab Mark canggung. Dia benar-benar canggung, apalagi semua orang yang berada di ruangan itu menatap ke arah nya dengan tatapan penuh rasa penasaran.


"Dia ada di rumah ini, hehe."


"H-aahh?" Tanya ke empat nya dengan kompak, membuat wajah Mark semakin memerah saja di buatnya. Sungguh demi apapun, dia tidak bisa berbohong di depan keluarga ini. Dia terlalu jujur, mulut dan juga wajah nya tidak bisa di ajak kompromi. 


"Siapa? Jangan bilang kau menyukai istriku, Mark!"


"Tidak, bukan Tuan." Jawab Mark sambil menggerakan tangan nya di depan tubuh nya menandakan kalau dia memang tidak naksir dengan istri atasan nya sendiri.


"Lalu, siapa?"


"Ada, Tuan. Tapi yang jelas bukan istri anda, tenang saja. Saya tidak mungkin nekat merebut istri atasan saya sendiri, saya sadar diri, Tuan." Jawab Mark membuat Narendra menyeringai. 


"Baguslah, jadi siapa? Tak mungkin kau juga menaksir ibu ku kan?"


"Astaga, tidak."


"Jadi siapa? Biar kami tenang setelah ini." Ucap Arvino, dia juga ikut penasaran dengan sosok wanita yang bisa membuat seorang Mark jatuh cinta. Pastinya, wanita itu bukanlah wanita biasa kan? Sudah pasti. 


"Ada di antara salah satu maid di rumah ini, Tuan." Jawab Mark akhirnya. Ke empat nya terlihat sangat shock, maid? Mark menyukai seorang maid di rumah ini? Astaga, apa ini serius? 


"What the.."


"Itu fakta nya, saya memang jatuh cinta padanya, hehe." Jawab Mark, membuat ke empat nya langsung terlihat serius. Mungkin sedang berpikir, siapakah maid yang berhasil membuat hati sekeras batu Mark itu mencair? Sejauh ini, Mark tidak pernah terlihat bersama dengan wanita. Dimana pun itu, di kantor bahkan di kehidupan sehari-hari nya dia lebih sering sendiri.


"Maya?" Tebak Ayunda. Tidak ada maid lagi yang terlihat bersama Mark selain Maya. 


"Hehe.."

__ADS_1


"Betul, Maya kan?"


"Iya, Tuan." Jawab Mark membuat semua orang tertawa. Rupanya, pria dewasa ini menyukai maid baru bernama Maya. 


"Maya memang cantik, pribadi nya juga baik." Ucap Melisa sambil tersenyum.


"Kalau saya pacaran sama Maya, apa boleh?"


"Kalau Maya nya mau, ya boleh-boleh saja, Mark." Jawab Melisa sambil tersenyum. Wajah Mark seketika berbinar begitu mendengar ucapan Melisa, senang sekali sudah mendapatkan restu meskipun bukan dari ibu kandung Maya langsung. Perlu di ketahui kalau Maya adalah anak sebatang kara, dia tidak sengaja bertemu dengan Melisa di jalanan saat dia sedang mengamen.


Hati Melisa tergerak, hingga akhirnya dia membawa gadis itu ke rumah dan menjadikan nya maid. Hari ini, dia juga menaikan tugas gadis itu dari maid yang biasa mengurusi dapur, menjadi maid yang akan mengurus kebutuhan Ayunda, apapun itu. Menggantikan tugas Mona yang telah melanggar tugas nya.


"Terimakasih, apa saya boleh membawa Maya jalan-jalan hari ini?"


"Boleh, tapi jangan kemaleman pulang nya. Jam sepuluh, sudah harus di rumah." Jawab Arvin dengan tegas. 


"Baik, kalau begitu saya ke belakang dulu mau ngajak Maya jalan-jalan."


"Iya, Mark." Jawab Melisa. Mark pun beranjak dari duduknya, pria itu pun segera pergi ke dapur. Pucuk di cinta ulam pun tiba, dia melihat wanita yang sedang dia cari itu tengah berada di dapur dengan barang belanjaan yang mungkin akan dia letakan di tempat nya.


"Ehemm.." Mark berdehem, membuat atensi Maya yang sedang menata barang-barang itu seketika berpaling. Maya tersenyum kecil saat melihat Mark berdiri tepat di hadapan nya.


"Eehh, Tuan Mark selamat malam." Sapa Mata dengan sopan.


"Lagi ngapain, May?"


"Ini lagi beresin barang belanjaan tadi pagi, baru sempet." Jawab Maya. Dia langsung berdiri setelah di rasa pekerjaan nya sudah selesai, dia merasa tidak enak pada Mark karena dia menjawab pertanyaan nya sedangkan dia berada di bawah, tidak menatap wajah nya secara langsung.


"Ohh, kenapa gak maid lain yang kerjain?" Tanya Mark sambil menuangkan air dingin ke dalam gelas.


"Ini sudah tugas saya, Tuan. Lagian ini hanya tinggal menata nya saja." Jelas Maya.


"Baiklah, pekerjaan mu sudah selesai?"


"Sudah, Tuan."


"H-aahh? Saya, Tuan?"


"Heem, cepatlah. Sekalian kita jalan-jalan."


"Tapi, Tuan.."


"Tidak perlu khawatir, aku sudah minta izin pada Nyonya dan Tuan, mereka sudah mengizinkan." Jawab Mark yang paham benar arti tatapan wanita itu.


"Baiklah, tunggu sebentar. Saya akan ke villa sebentar, takkan lama."


"Oke." Jawab Mark, dia pun memutuskan untuk menunggu di meja makan sambil celingukan, mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru dapur. Tempat ini sangat bersih, rapih dan juga luas. Membuat siapapun akan merasa nyaman untuk berlama-lama berada di ruangan itu. Bahkan saking luas nya tempat itu untuk di jadikan dapur, bisa di jadikan lapangan volley saking luas nya.


Tak lama kemudian, Maya sudah kembali dengan pakaian sederhana namun hal itu tidak mengurangi sedikit pun kadar kecantikan yang dia miliki. Sungguh demi apapun, Mark menyukai penampilan Maya. Dia bahkan hampir tidak berkedip saking kagum nya dengan pemandangan apa yang dia lihat.


"Cantik.." Gumam Mark sambil tersenyum kecil. Wajah Maya seketika memerah begitu mendengar ucapan sang pria. 


"Mari, kita pergi sekarang. Kita hanya punya sedikit waktu." Ajak Mark, dia pun meraih tangan Maya dan menggenggam nya, membuat gadis itu mematung namun sedetik kemudian dia tersenyum kecil. Kedua nya pun berjalan sambil berpegangan tangan.


"Tuan, Nyonya, kami berdua pergi dulu." 


"Hati-hati di jalan dan pulangkan tepat waktu ya, Mark."


"Baik, Tuan." Jawab Mark, kedua nya pun mengangguk lalu pergi dengan menggunakan mobil milik Mark. Pria itu membukakan pintu untuk Maya, setelah gadis itu duduk manis di dalam sana barulah dia berlari memutari mobil nya dan duduk di balik kemudi dan melajukan nya dengan kecepatan sedang. Dia suka berlama-lama dengan Maya meskipun hati nya berdebar tak karuan bahkan sampai membuat perut nya mulas.


"Kita mau kemana, Tuan?"


"Kamu terlalu formal, panggil aku Mark, Mas, Abang, atau sayang juga boleh." Ucap Mark yang membuat wajah Maya kembali memerah karena perkataan pria itu. Jujur saja dia malu karena Mark terlalu to the point. 


"Abang, boleh?"


"Boleh sih, tapi apa terdengar seperti aku ini kakak kamu?"


"Mas?"

__ADS_1


"Itu terdengar lebih baik, Maya."


"Tapi itu terdengar seperti kita sudah menikah, Tuan."


"Sayang saja, hanya ada itu pilihan nya." Jawab Mark membuat Maya menganga. Tak mungkin dia memanggil pria yang baru dia temui dua kali dengan panggilan sayang, bukan? Panggilan seperti itu hanya untuk sepasang kekasih bukan?


"Tapi itu panggilan untuk sepasang kekasih bukan? Kita kan.."


"Soon." Jawab Mark singkat membuat Maya menatap wajah tampan pria di samping nya dengan tatapan keheranan. Jujur saja, dia sudah mulai merasa sedikit percaya diri di hatinya. Tapi dia harus menekan perasaan itu, dia tidak boleh terlalu percaya diri. Mana mungkin seorang Mark yang tampan dan berpendidikan tinggi menyukai dirinya? Membayangkan nya saja sudah membuat dirinya minder sendiri, dia tidak pantas berdampingan dengan Mark.


"Kita keliling taman kota, mau?"


"Boleh.." jawab Maya, Mark pun tersenyum kecil lalu melajukan kendaraan nya ke arah taman kota. Jarak nya dari mansion besar milik keluarga Sanjaya tidak terlalu jauh, jadi kalau pun macet saat pulang masih sempat lah, hanya satu jam perjalanan saja dari rumah ke taman kota. 


Sesampai nya disana, Mark pun memarkir kendaraan nya dengan rapi, kedua nya pun keluar. Seperti tadi, Mark langsung meraih tangan Maya dan menggenggam nya. Jujur, Maya menyukai nya. Jadi dia tidak menolak saat tangan besar milik Mark menggenggam tangan nya hingga membuat tangan mungil nya tertutupi tangan besar milik Mark. 


"Kita jalan-jalan nya disini saja ya? Nanti, kalau kita sudah resmi, aku bakalan ajak kamu keliling dunia."


"Pusing tahu, ngapain ngelilingin dunia? Kamu gabut apa gimana?"


"Lah, buat liburan dong, sayang. Masa cuma gabut aku ngelilingin dunia? Kalau sultan seperti Tuan Narendra atau tuan Arvin ya masih mungkin." Jawab Mark yang membuat Maya menganga. Bukan karena ucapan Mark yang mengajak nya tour keliling dunia, tapi karena panggilan pria itu padanya. Sayang? Apakah dia tidak salah mendengar nya? Pria itu memanggil nya sayang kan? Dia tidak mungkin salah dengar karena telinga nya masih berfungsi dengan baik.


"Kenapa ekspresi kamu gitu banget sih, aku aneh ya?" Tanya Mark membuat Maya seketika menggelengkan kepala nya. Baginya, Mark tidaklah aneh. Namun, dia adalah pria yang terlalu berterus terang. Dia tipe laki-laki yang tidak suka berbasa-basi. 


"Tidak kok.."


"Lalu kenapa? Aku tampan kan? Makanya kamu betah natap aku nya."


"Astaga, anda terlalu percaya diri, Tuan."


"Lah, kenapa manggil nya Tuan sih? Aku nyuruh manggil apa tadi?"


"S-sayang.."


"Yes, honey.." Jawab Mark yang membuat wajah Maya seketika berubah merah padam menahan malu. Dia merasa salah tingkah karena ternyata Mark bisa menggombal seperti ini juga ternyata?


"Isshhh.."


"Kamu masih sendiri, May?"


"Hmm, iya. Anda sendiri bagaimana?"


"Sama seperti mu, aku masih sendiri." Jawab Mark sambil menatap wajah cantik Maya yang sedikit lebih pendek di bandingkan dirinya. Jadi untuk bisa menatap wajah cantik itu, Mark harus menundukan kepala nya.


"Kenapa? Kamu terlihat terkejut seperti itu, May?"


"Tidak kok, hanya saja sedikit aneh pria setampan dan semapan anda masih sendiri." Jawab Maya keceplosan.


"Jadi, kamu mengakui kalau aku ini tampan kan?"


"Astaga.."


"Hmm, mengaku saja. Aku memang terlahir tampan, hanya saja mungkin aku terlalu pemilih dalam hal wanita. Karena itulah sampai sekarang aku masih sendiri." Jawab Mark lirih.


"Benarkah?"


"Iya, aku juga terlalu sibuk bekerja untuk mencari pasangan hidup. Aku percaya kalau memang sudah jodoh, dia akan datang sendiri dan akan di pertemukan secara sengaja atau tidak sengaja." Jawab Mark sambil menatap lamat-lamat wajah cantik Maya. 


"Wanita itu pasti akan sangat beruntung karena memiliki anda sebagai pendamping nya, Tuan." Ucap Maya dengan senyum kecil nya.


"Maya.."


"Iya, kenapa?"


"Kamu mau menjadi wanita beruntung itu?" Tanya Mark dengan serius, membuat wajah Maya seketika memucat dengan kedua bola mata yang membulat. Terkejut? Jelas saja dia terkejut, bagaimana bisa pria itu menanyakan hal ini padanya?


........


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2