
"Sayang.." Panggil Narendra. Dia baru saja pulang bekerja, dia langsung pergi ke dapur karena menurut Melisa, istrinya itu ada di dapur sedang memasak. Pria itu datang dan memeluk sang istri yang memang sedang memasak.
"Iya, Mas. Sudah pulang ternyata? Aku baru saja masak." Ucap Ayunda sambil tersenyum, dia mengusap tautan tangan sang suami yang melingkari perut buncit nya.
"Hmm, kangen banget sama kamu dan bocil."
"Bocil?"
"Hehe, anak kita." Jawab Narendra sambil mengusap-usap perut buncit sang istri dengan gemas. Dia juga mengecup pipi kanan Ayunda dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri, menghirup aroma menenangkan yang menguar dari leher sang istri.
"Wangi sekali kamu, sudah mandi?" Tanya Naren lagi.
"Udah dong, ya kali aku gak mandi. Kan mau nyambut suami pulang kerja, masa aku gak mandi. Nanti kamu protes kalau aku bau asem, meskipun sekarang aku bau tumis sayur."
"Haha, kenapa gak masak dulu sebelum mandi, yang?" Tanya Naren, tangan nya mulai merayap kemana-mana mencari pegangan hidupnya.
"Isshh, tangan nya jangan nakal dong."
"Suka, kenyal terus besar banget sekarang. Berarti usaha Mas buat bikin dia ngembang, berhasil kan?"
"Diamlah, Mas." Jawab Ayunda sedikit ketus sambil menepis tangan Naren yang bersandar manja di dada nya.
"Sayang, besok jangan mandi dulu ya kalau Mas belum pulang. Oke?"
"Ngapain, Mas? Nanti dingin lho." Ucap Ayunda.
"Kan ada air hangat, sayangku. Kita mandi bareng biar seru, hehe." Jawab Narendra sambil tersenyum manis.
"Modus, kalau udah pasti gak cuma mandi. Iya kan? Aku hafal bener otak mesuum kamu itu, Mas."
"Itu kamu tahu, habisnya sejak hamil kamu jarang ngasih Mas jatah. Mas kan jadinya kangen."
"Jadi, ceritanya kamu merajuk karena aku jarang ngasih jatah ya? Maaf Mas, tapi kan kamu tahu sendiri kalau aku lagi hamil. Bawa-bawa perut ini bikin capek juga."
"Iya, Mas paham kok. Maaf juga ya kalau Mas terlalu banyak menuntut, tapi malam ini kasih Mas jatah ya? Kasian si junior, lesu gini." Ucap Narendra mengiba, sudah ada dua Minggu yang lalu terakhir dia mendapatkan jatah dari istrinya.
"Boleh, kebetulan Ayu juga kangen, hehe."
"Nah, gitu dong. Kan Mas seneng dengernya, hehe." Narendra menduselkan wajahnya di ceruk leher sang istri, dia juga mencuri kecupan-kecupan singkat di pipi sang istri.
"Gemes nya istriku."
"Kamu nya aja yang gemesan, padahal aku biasa aja tuh gak ada gemes-gemes nya." Jawab Ayunda sambil mengusap pipi nya yang basah terkena air liur Narendra.
"Hehe, mas seneng banget deh."
"Sana mandi dulu, badan Mas bau asem."
__ADS_1
"Apa iya? Perasaan Mas wangi deh, kamu kan suka nyiumin ketiak Mas kalau habis pulang kerja kayak gini."
"Tapi sekarang lagi enggak mood, hehe." Jawab Ayunda.
"Sayang.."
"Udah sana mandi, btw mana Tupperware bekas bekal tadi pagi?" Tanya Ayunda membuat Narendra cengengesan. Pastinya, Ayunda sudah tahu apa maksud senyuman itu.
"Hilang lagi atau pecah?" Tanya Ayunda lagi, membuat Narendra diam seketika.
"Pecah, sayang. Maaf ya.."
"Kali ini kenapa lagi, Mas?" Tanya wanita hamil itu, dia mematikan kompor nya lalu berbalik dan menatap wajah tampan suaminya dengan tangan yang berkacak di pinggang. Pasalnya, pria itu memang sering sekali menghilangkan Tupperware yang di pakai untuk wadah bekal. Ini adalah yang kesekian kalinya.
"Jatuh, yang."
"Astaga, ini yang ke berapa kali coba kamu pecahin wadah bekal?" Tanya Ayunda, dia heran sendiri kenapa suaminya begitu ceroboh.
"Kesenggol sama Mark tadi."
"Kesenggol Mark atau kamu yang ceroboh nyimpen nya gak bener, hmm?" Tanya Ayunda lagi. Lagi-lagi, Narendra cengengesan. Berarti benar, bukan karena Mark Tupperware nya pecah, tapi karena dia yang ceroboh.
"Maaf, sayang."
"Aku gak mau tahu ya, Mas. Gantiin semua Tupperware nya!"
"Sekarang!"
"Sayang.."
"Siapa suruh di hilangin, di pecahin hmm?"
"Iya Mas salah, sayang. Maaf ya, kan gak sengaja."
"Gak sengaja?"
"Sekarang bilang, mau aku jewer atau mau aku pukul, Mas?"
"Ampun, yang. Mas gak mau keduanya." Ucap Narendra.
"Jewer aja telinga nya sampe putus tuh, nakal emang. Dari dulu kebiasaan nya gak hilang-hilang, kalau bawa bekal pasti wadahnya hilang atau enggak ya pasti pecah." Ucap Melisa kompor. Tapi memang kebiasaan Narendra dari dulu kalau bawa Tupperware pasti takkan pulang lagi.
"Apa sih, Mi. Kompor bener deh."
"Dih, kan emang beneran kamu tukang ngilangin Tupperware punya Mami." Jawab Melisa sambil menuang air minum dan meminum nya.
"Berarti dari dulu ya dia begini, Mi?" Tanya Ayunda.
__ADS_1
"Ya begitulah, sampe Mami harus sering pulang pergi ke toko buat beli begituan, sampe penjaga toko nya kenal dan akrab sama Mami."
"Hmmm, tapi bukan nya Mami seneng karena dapet diskon ya?" Tanya Narendra, membuat Melisa mendelik.
"Iya, jadi nanti pergi sama Mami ya biar dapet diskon, hehe."
"Ckkk, bilang aja mau jalan-jalan. Iya kan?"
"Diem, kamu kan gak di ajak." Jawab Melisa sinis, membuat Ayunda tertawa. Perdebatan anak dan ibu itu di mulai lagi dan lagi, Ayunda selalu ada di antara mereka. Maka tak heran kalau Ayunda seringkali bosan dan agak muak jika mendengar pertengkaran keduanya.
"Jadi, kita pergi nanti saja ya? Sekalian makan malam di luar, gimana?" Tanya Melisa sambil tersenyum.
"Terus tumis sayur sama ikan goreng nya?" Ayunda menunjuk sepiring ikan goreng tepung yang masih mengepul, pertanda kalau baru saja matang. Di wajan, ada juga tumis sayur yang baru saja matang.
"Ada maid yang makan."
"Ohh iya, kebetulan Ayu pengen makan sushi." Jawab Ayunda sambil tersenyum.
"Ayo, nanti Mami ajakin kamu makan sushi di restoran langganan Mami."
"Seriusan, Mi?"
"Serius dong, ayo siap-siap." Ajak Melisa, sedangkan Narendra hanya terdiam saja sambil menggelengkan kepala nya. Melisa selalu saja antusias jika akan pergi bersama Ayunda. Dia tidak mempermasalahkan, hanya saja dia selalu merasa jadi anak tiri jika berada di antara mereka, wkwk.
"Mertua dan menantu yang sefrekuensi." Gumam Narendra. Dia pun pergi ke ke ruang tamu, disana ada Arvin yang sedang asik menonton televisi.
"Kenapa wajahmu? Kusut amat kek baju gak di setrika." Tanya Arvino dengan wajah datar nya.
"Enggak kok, Pi."
"Istri mu sama Mami mau kemana?" Tanya pria paruh baya itu lagi pada putranya.
"Mau keluar beli Tupperware sekalian makan malam di luar."
"Tupperware mana lagi yang kamu hilangkan, boy?"
"Yang warna ungu, Pi." Jawab Narendra.
"Pantes saja istrimu kesel banget, itu kan Tupperware kesukaan nya."
"Serius? Dari mana Papi tahu? Naren aja gak tahu kalau itu Tupperware kesukaan Ayu."
"Papi tahu, soalnya dia kalau makan atau nyimpen cemilan pasti di Tupperware itu." Jawab Narendra. Benar, wadah yang tadi di berikan oleh Ayunda untuk bekal Narendra makan siang adalah kesukaan nya. Kenapa dia memberikan nya? Karena tidak ada lagi wadah yang bisa di pakai untuk wadah bekal, karena Narendra sudah menghilangkan dan memecahkan Tupperware nya. Ada-ada saja memang Narendra.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1