
"Sayang, udah dong marah nya.." Bujuk Narendra pada sang istri.
"Aku mau pulang!"
"Pulang kemana, sayang?" Tanya Naren pada sang istri.
"Ke rumah dong, aku pengen pulang. Aku gak betah disini, dingin." Jawab Ayunda sambil menyedekapkan tangan nya di dada. Narendra tersenyum lalu merangkul sang istri dari samping.
"Bagaimana kalau lusa? Katanya mau ke Disneyland."
"Gak jadi, Mas. Aku lebih tertarik makan seblak di warung." Jawab Ayunda membuat Narendra terheran-heran dengan bumil nya ini. Tadi pagi, dia mengatakan ingin pergi ke Disneyland untuk melihat seperti apa istana ala princess yang ada di film-film, tapi sekarang dia malah mengatakan ingin pulang ke Indonesia hanya untuk makan seblak di warung nya secara langsung. Dia tak habis pikir dengan tingkah istrinya itu.
"Hmm, yaudah besok kita pulang setelah izin sama bibi dan paman ya."
"Iya, Mas."
"Jadi, kamu masih kesel sama Mas, yang?" Tanya Narendra lagi.
"Emang kamu udah usaha buat bujuk aku, Mas? Belum kan? Jadi, jelas aku masih kesel sama kamu." Jawab Ayunda sambil memalingkan wajah nya. Narendra menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu membalik wajah cantik sang istri dengan gemas.
"Sayang, maafin Mas dong. Janji deh gak gitu lagi."
"Bohong, udah berapa puluh kali kamu bilang gitu, tapi ujung-ujungnya tetep aja kamu nakal. Udah nakal, malah nyalahin aku!"
"Hehe, maafin dong."
"Enggak!" Jawab Ayunda membuat Narendra menghela nafas nya.
"Yaudah, mau nya gimana? Mas kasih deh."
"Beneran nih?" Tanya Ayunda dengan wajah berbinar nya. Entah kenapa, dia ingin melihat wajah suami nya yang memakai make up.
"Iya, asal masih masuk akal aja." Jawab Narendra. Dia juga harus waspada dengan istrinya kan? Nama nya ibu hamil, biasa nya keinginan nya suka aneh-aneh.
"Ihhh tuh kan, gak ikhlas nih."
"Astaga, iya iya, sayangku. Lakuin aja, atau kamu mau apa, nanti aku kasih." Ucap Narendra lagi. Dia pasrah saja asal istri nya mau memaafkan nya.
"Oke." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Dia beranjak dari duduk nya lalu mengambil tas berisi peralatan make up miliknya. Narendra mengernyitkan kening nya, dia mencoba menerka-nerka, kira-kira apa yang akan di lakukan Ayunda padanya?
"Yang.."
"Diem disitu, jangan bergerak sedikit pun. Kalau kamu ketahuan gerak sedikit saja, maka bersiaplah tidur di luar!" Tegas Ayunda, membuat Narendra terdiam. Lagi-lagi dia pasrah di bawah perintah istri cantik nya, padahal dari dulu Naren paling tidak suka di atur-atur.
Ayunda mengambil kuas dan mulai merias wajah sang suami dengan antusias, dia membuat suami nya cantik seperti artis. Dia juga memakaikan bulu mata palsu, membuat Narendra tak bisa membuka mata nya karena menurut nya, mengenakan bulu mata itu terasa berat.
"Buka mata nya, Mas."
"Berat, sayang." Jawab Narendra seperti merengek, membuat Ayunda menguluum senyum nya ketika melihat ekspresi wajah suami nya yang menggemaskan.
"Gak seberat beban hidup, Mas."
"Hmm, baiklah." Jawab Narendra, dia mencoba membuka mata nya dan melihat penampilan nya di cermin, itu membuat Narendra shock ketika melihat wajah nya. Dia terlihat seperti banci di lampu merah, sialan.
"Waw, cantik sekali suamiku." Ucap Ayunda dengan senyum jahil nya.
"Sayang, ngidam nya yang bener aja dong."
"Ini juga bener, Mas. Aku pengen banget lihat suamiku dandan kayak gini, ternyata kamu cantik banget deh pake make up gini. Jadi kebayang deh kalau kamu keluar pake make up ini, pasti lucu deh." Ucap Ayunda, membuat Narendra menggelengkan kepala nya. Secara langsung dia menolak usulan istrinya. Dia bisa mati kalau sampai ada orang yang dia kenal mengetahui hal itu.
"Gak usah ngelantur, pake make up gini di kamar aja aku udah malu setengah mati, Bby. Apalagi kalo aku keluar? Gak mau pokoknya."
"Dih, nyebelin. Ini mau nya anak kamu lho."
"Pokoknya enggak, aku gak mau keluar pake make up ginian." Jawab Narendra tegas, membuat Ayunda mengerucutkan bibir nya.
"Ayolah Mas.."
"Gak mau, sayang."
"Ckk, yaudah. Tidur di luar malam ini."
"Gak bisa gitu dong, yang."
"Kenapa gak bisa? Kamu aja bisa menolak keinginan aku."
"Tapi ini.. huaaa.." Narendra menangis kejer, dia tidak mau tidur di luar. Tapi, dia juga tidak mau kalau harus keluar dari rumah menggunakan make up seperti wanita. Dia tidak mau di cap sebagai laki-laki tak benar, jika mengenakan make up seperti itu. Lagian, itu tidak normal bukan? Mana ada laki-laki yang mengenakan make up seperti itu untuk keluar rumah kan.
"Dih, kok nangis sih? Cengeng banget sih kamu Mas."
"Habisnya kamu bikin aku takut, plis ngidam nya jangan aneh-aneh. Mendingan kamu belanja aja deh, yuk?"
"Boleh tuh, tapi kamu tetap pakai make up itu, gimana?"
__ADS_1
"Gak mau, yang." Jawab Narendra sambil menatap istrinya dengan sendu. Dia akan mengeluarkan jurus andalan nya kalau Ayunda tetap kekeuh dengan permintaan konyol nya itu.
"Hahaha, ya sudah. Tapi make up nya sayang kalau harus di hapus begitu saja, ayo pose." Pinta Ayunda, dia pun mengambil ponsel dan mengarahkan kamera nya ke arah sang suami.
Narendra pun terpaksa tersenyum sambil berpose dua jari, dia benar-benar tertekan saat ini. Namun dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan istri cantik nya itu. Kalau tidak di turuti, bisa-bisa dia benar tidur di luar nanti malam. Pokoknya jangan sampai hal itu terjadi.
Disini, sangat dingin karena sedang musim salju kan. Kalau di Indonesia mungkin masih mending, tapi tetap saja Naren takkan bisa tidur berjauhan dengan istrinya. Dia paling tidak bisa jika tidur tanpa memeluk istrinya, dia tidak bisa sama sekali.
Setelah mendapatkan beberapa poto yang dia kira bagus, akhirnya Ayunda pun membantu sang suami untuk menghapus make up nya menggunakan micelar water. Dengan perlahan, Ayunda menghapus nya dengan kapas. Dia mengusap wajah Naren menggunakan kapas itu dan setelah selesai dia meminta suami nya untuk mencuci wajah nya di kamar mandi.
"Udah bersih, Mas. Ayo cuci muka dulu sama." Ucap Ayunda. Naren pun menurut, dia pun pergi ke kamar mandi dan mencuci muka nya dengan menggunakan sabun khusus yang dia bawa.
Selang beberapa menit, akhirnya Naren pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih basah. Pria itu mengusap nya menggunakan handuk kecil, setelah kering dia pun mengajak sang istri untuk pergi berbelanja beberapa barang sebelum pulang esok hari.
Ayunda tidak jadi pergi ke Disneyland, dia malah ingin pulang untuk makan seblak secara langsung di warung nya. Agak lain memang bumil yang satu ini, tapi keinginan nya masih mending jika di bandingkan dengan ketika dia ingin jalan-jalan keluar sementara dirinya harus mengenakan make up seperti perempuan.
Kedua insan itu pun pergi dari rumah dengan mengemudikan kendaraan mereka sendiri, Naren yang mengemudikan kendaraan roda empat itu. Ayunda terlihat excited sekali, mata nya berbinar cerah ketika melihat pemandangan sekitar jalan yang mereka lalui. Naren tersenyum manis, dia senang ketika melihat istrinya seperti ini. Dengan melihat senyuman manis nya, Naren sudah bahagia.
Sebenarnya, membuat Ayunda bahagia itu tidak perlu dengan membelikan nya barang-barang mewah, tapi cukup bawa dia jalan-jalan. Itu saja sudah cukup untuk membuat nya bahagia, seperti sekarang. Jujur saja, dia bosan terus menerus berada di rumah seharian bersama Naren. Masih mending kalau pria itu tidak selalu mencari kesempatan, tapi bukan Narendra nama nya jika dia tidak mesuum.
Dia lelah setiap hari harus melayani suami nya yang seolah tiada puas nya untuk menikmati tubuh nya. Tapi ya, Ayunda sadar benar kalau itu juga kebutuhan suami nya.
"Mas, boleh kesana gak?" Tunjuk Ayunda ke arah bangunan yang tinggi. Bisa di ketahui dari luar kalau itu adalah sebuah mall besar.
"Boleh, mau beli apa ke mall?" Tanya Narendra sambil memutar mencari jalan masuk, karena istrinya ingin ke tempat itu jadi tanpa banyak bicara lagi, dia pun langsung mencari jalan masuk.
"Belanja di mall ya?"
"Oke, sayang." Jawab Narendra sambil tersenyum, dia mengacak rambut sang istri dengan gemas. Dia pun menghela nafas nya, untuk dia membawa black card nya, kalau tidak bisa berabe. Karena harga disini jauh lebih mahal, belum lagi ada pajak nya.
Setelah mendapatkan tempat parkir, mereka pun keluar dari mobil dengan tangan yang saling bergandengan mesra ala sepasang suami istri yang harmonis.
"Mas.." Panggil Ayunda.
"Iya, kenapa sayang?"
"Aku mau poto sama bule dong." Pinta Ayunda, membuat Narendra terkejut. Nah, ngidam lagi ini bumil. Yang mengherankan adalah, dia ngidam hal-hal yang aneh membuat Narendra keheranan sendiri.
"Ngapain deh, Bby? Malu tau."
"Lho, kenapa harus malu sih? Kan cuma minta foto."
"Ckk, nanti aja sama klien Mas di kantor. Banyak bule juga."
"Ya kamu nya gak nanya, masa Mas bilang kalo klien Mas kebanyakan dari luar negeri?"
"Isshh, gak mau tahu. Pokoknya aku mau di foto sama bule." Jawab Ayunda membuat Narendra pasrah. Akhirnya, mau tidak mau dari pada istrinya ngambek di depan banyak orang.
"Yaudah sana, nyari dulu bule yang agak cakep."
"Asek, makasih pak suami." Ucap Ayunda sambil mengecup singkat pipi Narendra dengan mesra. Lalu dia pun berjalan lebih dulu untuk mencari bule yang mau di ajak berfoto.
'Untung lagi hamil, kalau gak hamil udah aku gak bakalan izinin. Sebel banget, aku cemburu.' Batin Narendra, dia mengikuti sang istri dengan langkah malas nya.
"Mas, yang itu dong." Tunjuk Ayunda ke arah salah satu bule yang terlihat sangat tampan.
'Sialan, tuh cowok ganteng amat.' Batin nya lagi, membuat Narendra kesal. Kenapa pria itu harus ada disini sih? Menyebalkan saja, dia merasa cemburu kalau semisal dia harus memotret pria itu bersama istrinya.
"Mas, malah diem deh. Ayo dong, aku gak bisa bahasa inggris."
"Ckk.." Narendra berdecak kesal, namun dia tetap berjalan mendekat untuk meminta izin pada pria berkulit putih itu.
"Excuse me sir.." Ucap Narendra, membuat pria itu menoleh lalu tersenyum.
"Yes, sir. What's up?" Tanya pria itu, dia terlihat ramah.
"My wife is pregnant, she's crave to take picture with you. Would you please?" Tanya Narendra membuat pria itu tersenyum ramah.
"Of course. What is your name?"
"Call me Narendra and my wife Ayunda." Jawab Narendra sambil tersenyum kecil.
"Ohh ya, come here Mrs Naren." Pinta nya, Ayunda pun mendekat dan pria itu pun merangkul pundak Ayunda membuat Narendra kebakaran jenggot, dia merasa cemburu setengah mati melihat sang istri di rangkul oleh pria lain dan yang lebih menyebalkan nya lagi, pria ini terlihat sangat tampan. Pokoknya Naren kesal, dia bad mood seketika. Tapi di depan istrinya, dia harus menjaga emosi nya agar dia tidak marah.
Istrinya marah jauh lebih menakutkan di bandingkan dengan singa yang mengaum. Mala dari itu, dia lebih memilih menahan rasa kesal dan cemburu nya dalam hati saja. Narendra pun mengambil beberapa gambar sang istri dengan pria itu dan setelah nya mereka pun menjaga jarak.
"Thank you, sir."
"Your welcome." Jawab nya, Narendra pun menarik tangan sang istri menjauh dari pria itu. Dia tidak tahan lagi, apalagi ketika melihat tatapan pria itu ketika melihat Ayunda.
"Dasar genit.." Gerutu Narendra, lengkap dengan wajah masam nya. Pria itu kesal, benar-benar kesal. Hatinya terasa panas seperti terbakar, ini juga terbakar. Ya, terbakar api cemburu.
"Siapa yang genit, Mas?" Tanya Ayunda dengan polos, seolah dia tidak merasa bersalah sedikit pun.
__ADS_1
"Itu laki genit banget, pake ngerangkul kamu segala. Nyebelin banget dah."
"Lah, kan cuma di foto doang, Mas. Kamu yang biasannya lebih dari ngerangkul juga aku gapapa."
"Ya tapi kan aku suami kamu, kalo dia kan bukan siapa-siapa kamu. Lagian kamu gak ngerasa bersalah gitu setelah bikin suami kamu cemburu, sayang?" Tanya Narendra, dia menatap wajah cantik Ayunda dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Gitu doang kamu cemburu, Mas?"
"Cemburu banget, apalagi pas liat pria itu natap kamu. Hati aku panas, kayak terbakar!"
"Gemes deh suami aku cemburu nya.." Ucap Ayunda sambil tersenyum, dia mengunyel-unyel pipi sang suami dengan gemas lalu sempat mencium bibir nya sekilas. Narendra tidak bisa marah lama-lama kalau begini kan? Dia paling lemah kalau Ayunda sudah melakukan hal semacam ini.
"Kamu tahu benar kelemahan ku, sayang."
"Iya dong jelas, aku kan istri kamu." Jawab Ayunda.
"Tapi aku masih kesel ya, aku cemburu!"
"Maaf deh, mau main nanti kalo udah pulang gak?"
"Pulang dari sini?" Tanya Narendra, masih dengan wajah datar nya, padahal hati nya sudah kejedar kejedur tidak karuan.
"Iya dong, gimana? Asal kamu maafin aku deh."
"Dua ronde tapi." Tawar Narendra, wajah nya masih datar.
"Tapi kan aku capek, Mas."
"Malem nya satu ronde, pagi nya satu ronde. Gimana? Udah ringan lho itu, buat hukuman kamu yang udah bikin Mas kebakaran jenggot."
Ayunda terdiam, dia terlihat sedang menimbang-nimbang permintaan sang suami. Dua ronde? Memang sih tidak langsung, ada jeda nya untuk beristirahat. Tapi tetap saja, satu jam sebelum tidur lalu satu jam setelah bangun tidur di pagi hari. Agak sedikit menyeramkan, tapi dari pada suami nya bad mood karena cemburu mendingan dia menerima hukuman ini. Ya, anggap saja itu hukuman karena dirinya sudah membuat suaminya sendiri cemburu.
"Gimana?"
"Boleh deh, deal ya. Dua ronde tapi satu ronde di pagi hari, oke?"
"Deal." Jawab Narendra, dia tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya, dia senang karena akhirnya nanti malam dia akan mendapatkan jatah nya dua kali. Dia akan berpesta nanti malam, dia akan sanbat menikmati nya.
"Udah dong, jangan cemberut gitu. Gak suka aku liat wajah kamu gitu."
"Iya iya, sayang."
"Yuk, aku mau beli baju sama tas. Boleh kan?"
"Boleh, aku akan memanjakan mu. Beli apapun yang kamu mau, nanti giliran ya kamu yang akan memanjakan aku. Bagaimana?"
"Iya, Mas." Jawab Ayunda. Dia menggandeng lengan suami nya, lalu kedua nya berjalan berkeliling mall untuk mencari pakaian yang sekira nya cocok untuk di gunakan di negara tropis seperti Indonesia. Namun, karena sedang musim dingin jadi kebanyakan toko pakaian menjual pakaian hangat.
"Aku mau dress tapi disini gak ada yang aku sukai, Mas."
"Oke, kita cari ke toko yang lain." Jawab Narendra. Mereka pun keluar dari toko satu ke toko lain nya, mencari pakaian yang Ayunda inginkan.
Namun, setelah beberapa toko kedua nya masih belum menemukan satupun pakaian yang dia inginkan. Akhirnya dia menyerah dan memilih melipir ke toko tas. Pria itu dengan setia mengikuti kemana pun langkah sang istri. Saking bucin nya, dia sampai tidak berani protes padahal kalo mau sudah terasa pegal karena berjalan terus menerus.
"Mas, gimana kalo yang ini?" Tanya Ayunda sambil mencoba salah satu tas yang terlihat sangat cantik. Tas itu berwarna abu-abu dengan aksen rantai di depan nya. Cantik sekali dan cocok ketika Ayunda yang mengenakan nya.
"Bagus, sayang. Beli yang ini saja."
"Oke, Mas." Jawab Ayunda. Kali ini, dia mengambil nya tanpa melihat harga nya, tumben sekali untuk orang seperti Ayunda yang biasa nya selalu itung-itungan. Bukan itung-itungan sih, tapi karena Ayunda selalu berpikir uang sebanyak itu kalau hanya untuk membeli satu barang, mendingan di tabung saja uang nya atau di buat investasi, itu lebih menguntungkan. Namun, Narendra adalah pria yang royal terhadap pasangan. Makanya tak heran ketika Trisa memanfaatkan nya dulu, karena dia sangat royal.
"Mas.."
"Iya, sayang. Kenapa?" Tanya Narendra, ketika mereka nyaris saja sampai di meja kasir.
"Kalau beli satu lagi gimana, Mas?"
"Beli saja, ambil yang kamu mau." Ucap Narendra sambil mengacak rambut sang istri. Ayunda bersorak kesenangan, dia berlari ke salah satu etalase yang memajang tas keluaran terbaru. Tas nya memang sangat cantik, dia mengambil tas berwarna merah muda, cantik sekali dengan aksen bunga-bunga yang menambah kecantikan tas itu.
"Cantik sekali, sayang." Ucap Narendra sambil tersenyum.
"Boleh?"
"Ambil, sayang." Jawab Narendra. Ayunda tersenyum penuh kebahagiaan, dia pun mengambil kedua tas itu dan Naren membayar tas itu di kasir menggunakan kartu hitam tanpa limit nya.
"25 juta? Untuk dua tas?"
"Nah, kumat deh. Udah gapapa, lagian kamu gak setiap hari beli tas atau belanja. Wajar aja, lagian kamu kan istri nya Narendra Aksa Sanjaya."
"Astaga, aku salah memilih tas seperti nya. Mahal sekali.."
"Tidak apa-apa, ayo kita cari pakaian lagi." Ajak Narendra. Setelah membeli tas seharga 25 juta untuk dua tas, kini Naren tak kapok dan mengajak istrinya untuk membeli pakaian, pria itu menarik tangan sang istri ke salah satu toko dengan brand ternama yang biasannya muncul di televisi dengan brand ambasador model dunia.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻