Ayunda, Istri Rahasia Presdir

Ayunda, Istri Rahasia Presdir
Bab 134 - Kesedihan Arvino


__ADS_3

'Sayang.." 


"Iya, Mas. Ada apa?" Tanya Ayunda. Saat ini, pasangan suami istri yang terlihat selalu harmonis itu sedang bertukar kabar melalui telepon. Lebih tepat nya, panggilan video. 


'Mas sebentar lagi mau pulang, kamu mau nitip sesuatu?' Tanya Narendra sambil tersenyum. Wajah pria itu terlihat kelelahan, namun itu tidak mengurangi sedikitpun kadar ketampanan seorang Narendra. 


Selama seminggu ini, dia kurang tidur karena menjaga nya. Saat Ayunda sembuh, Naren harus bekerja karena tidak bisa terlalu lama libur bekerja karena kasian dengan Mark. Dia akan pengantinan, masa harus lembur terus. 


"Nitip apa ya? Hmmm.."


'Kalau kue cubit gimana? Biasa nya, kamu kan suka makan kue cubit.' Saran sang suami. Ayunda tersenyum, dia merindukan rasa kue itu karena sudah lama dia tidak memakan kue itu. 


"Boleh, mau yang coklat sama greentea ya, Mas."


'Siap, istriku. Gimana keadaan kamu? Baik-baik saja kan? Ada yang kerasa gak?' Tanya Narendra. 


"Enggak kok, aku baik-baik saja, Mas."


'Syukurlah, kalau begitu Mas matiin dulu telepon nya ya? Mau siap-siap pulang dulu.'


"Oke, Mas. Hati-hati di jalan nya ya?" 


'Iya, tentu saja.' Jawab Narendra. Panggilan pun selesai, Ayunda pun meletakan ponsel nya di atas meja kecil yang ada di kamar, lalu menggeser pintu balkon dan menikmati semilir angin yang berhembus disana. Rambut Ayunda yang panjang itu berterbangan tertiup angin, wanita itu memejamkan kedua mata nya menikmati sentuhan yang terasa menyejukkan namun menenangkan. 


Ayunda membuka mata nya, dia mendongak dan menatap langit yang terlihat sangat cerah dengan semburat cahaya jingga yang menghiasi langit sore ini. Indah sekali. 


"Langit nya sangat cantik." Gumam Ayunda. Dia melirik ke bawah, lagi-lagi wanita itu tersenyum manis penuh kebahagiaan. Di bawah sana, ada hamparan bunga mawar biru yang di tanam secara khusus dengan perawatan khusus oleh Narendra. Bahkan, saking niat nya pria itu membuatkan taman bunga mawar itu untuknya, Narendra sampai menyewa salah satu petugas taman untuk merawat bunga-bunga ini secara khusus.


"Taman bunga nya juga sangat indah." Gumam Ayunda lagi. Dia senang berlama-lama menatap hamparan bunga mawar biru itu, baginya saat melihat bunga itu, sama saja dengan dia melihat seberapa besar cinta Narendra padanya. 


Melihat bunga-bunga itu membuat hati nya tenang dan nyaman. Dia juga melihat seberapa banyak Naren mencintai nya saat melihat bunga itu, pria itu benar-benar berjuang untuk meyakinkan nya. 


"Sayang, kenapa kamu disana?" Sebuah suara yang terdengar tidak asing, Ayunda berbalik dan tersenyum saat melihat sosok pria yang sangat dia cintai itu berjalan mendekat ke arahnya. Dengan setelan jas yang sudah kusut, rambut acak-acakan, wajah kuyu nya, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi ketampanan Narendra. 


"Mas, sudah pulang ya?"


"Dih, di tanya tuh jawab dulu bukan nya malah balik nanya, sayang." 


"Hehe, lagi nikmatin angin aja sih." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Narendra menarik pinggang ramping sang istri dan memeluk nya dengan posesif, pria itu meletakan kepala nya di ceruk leher Ayunda dan menghirup aroma menenangkan yang menjadi ciri khas sang istri. 


"Udah mandi?"


"Udah kok, kenapa?" Tanya Ayunda sambil mengusap-usap kepala belakang sang suami dengan lembut. 


"Pantesan wangi banget, bikin kangen terus."


"Hmm, kamu mandi dulu sana."


"Bentaran dulu, yang. Masih capek, pengen manja-manjaan dulu sama kamu." Jawab Narendra. 

__ADS_1


"Yaudah, di kamar aja ya?"


"Iya, sayang." Jawab Narendra. Tanpa banyak bicara, Narendra langsung menggendong tubuh sang istri ke kamar ala bridal style. Wanita itu melingkarkan kedua tangan nya di leher sang suami, dia juga mengecup pipi kanan Narendra dengan gemas. 


"Awas ya kamu, mancing-mancing."


"Aduh, maafin aku Mas. Sumpah, gak ada niatan mancing kamu. Apalagi aku masih nifas sekarang."


"Kapan udahan nya, yang?" Tanya Narendra dengan wajah melas nya. Dia menurunkan sang istri di atas ranjang dengan perlahan. Dia pun mengungkung tubuh sang istri di bawah nya. 


"Biasa nya sih kata Mami, empat puluh hari." Jawab Ayunda membuat Narendra lemas seketika. Artinya, dia harus berpuasa dalam waktu sebulan lebih itu? Sebulan itu lama kan, bagaimana ini? 


"Lama dong, yang."


"Maafin ya? Kan harus bersih dulu biar kamu nya gak jijik dulu kalau kita main." Jawab Ayunda sambil tersenyum, dia mengusap rahang tegas sang suami dengan lembut.


"Ini bulu nya udah tumbuh lagi, Mas. Di cukur ya?"


"Cukurin ya?" Pinta Narendra. Ayunda tertawa pelan, tapi dia tetap mengiyakan permintaan sang suami. Manja memang, tapi itulah Narendra jika sedang berduaan dengan nya. Manja nya minta ampun, tapi tidak masalah karena Ayunda juga suka saat melihat suami nya mode manja seperti ini. Menggemaskan sekali bagi Ayunda.


"Iya, nanti aja ya, Mas?"


"Istriku.."


"Iya suamiku, ada apa?"


"Masih agak ngilu sih, tapi kalau pelan-pelan mungkin gapapa, Mas." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Seketika wajah Narendra berbinar cerah, dia pun menyibak kaos yang di pakai oleh sang istri juga membuka batok kelapa nya dengan pelan-pelan. Kedua mata pria itu terlihat menatap intens buah kenyal itu, lalu dengan cepat segera melahap puncak nya dengan nikmat. 


Ayunda tersenyum kecil, dia tau benar kalau suami nya mungkin merindukan kehangatan tubuh nya. Tapi, dalam keadaan nya sekarang ini, dia masih kotor untuk waktu yang cukup lama. Tak mungkin jika dia melayani suami nya dalam keadaan kotor bukan? Jadi, biarkan saja dulu suami nya bermain dengan apa yang tidak menyakiti nya untuk sementara waktu sampai dia bersih nanti. 


"Haus banget ya? Rakus banget minum susu nya."


"Hehe, enak soalnya." Jawab Narendra sambil tersenyum, mata nya menyipit sambil menatap wajah cantik sang istri. Dengan mulut yang penuh dengan puncak buah kenyal milik Ayunda. 


"Enak di bagian mana nya sih, Mas? Kan gak ada air nya." Tanya Ayunda lagi. 


"Gak tau, enak aja gitu. Mungkin sensasi nya kali ya."


"Hmm, yaudah. Lanjutin aja nyusu nya, kalau lama aku tidur gapapa ya?"


"Iya, sayang. Tidur aja, nanti mas bangunin kalau udah selesai."


"Iya." Jawab Ayunda. Wanita itu pun merasa mengantuk karena pria itu tidak ada habisnya, dia masih anteng bermain-main disana. Hingga akhirnya, Ayunda benar-benar tertidur. 


Beberapa saat kemudian, Narendra selesai dengan kegiatan nya. Pria itu mendongak menatap wajah istrinya, dia menggelengkan kepala nya lalu terkekeh. Dia menutup dada sang istri dengan pakaian dan juga selimut. 


"Dia beneran tidur ternyata. Gemesin banget sih istri ku." Gumam Narendra. Dia mengusap rambut sang istri, lalu mengecup kening Ayunda dengan mesra. Dia melonggarkan dasi yang sedari tadi terasa mencekik leher nya. Pria tampan itu pun menutup pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon agar istrinya tidak kedinginan karena angin yang masuk ke kamar. Narendra juga menarik gordeng nya agar tidak silau. 


Setelah memastikan istrinya tidur dengan nyenyak, akhirnya Narendra pun masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuh nya yang terasa sedikit lengket karena seharian berkutat dengan pekerjaan. Meskipun Narendra bekerja di ruangan ber AC, tetap saja dia berkeringat. Mungkin karena terlalu banyak berpikir ya. 

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, akhirnya Narendra pun keluar dari kamar mandi dan segera berpakaian. Pria itu tersenyum saat melihat istrinya ternyata masih tertidur. 


"Sayang, bangunlah.." 


"Enghh.." Ayunda melenguuh pelan, lalu membuka kedua mata nya. 


"Bangun, yuk makan malam.." ajak Narendra. Ayunda terlihat enggan, dia masih terlihat masih mengantuk. 


"Mas, aku makan nya nanti aja deh. Aku ngantuk, gapapa kan?"


"Kamu gak boleh makan terlambat, sayangku. Keadaan kamu baru saja membaik, jadi sebaiknya jangan mencari-cari penyakit. Oke?"


"Hmmm, ya sudah." Jawab Ayunda. Dia pun beranjak dari tiduran nya, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah nya. Setelah itu, kedua nya pun pergi dari kamar untuk makan malam. 


Narendra menggenggam tangan sang istri dengan mesra saat menuruni tangga. Setelah itu, keduanya pun masuk ke dapur untuk makan malam. Melisa yang melihat kedatangan pasangan suami istri itu pun tersenyum bahagia. Pada dasarnya, Melisa sedikit mengkhawatirkan keadaan Ayunda karena tadi wanita itu terlihat murung, mungkin dia kembali teringat akan kejadian menyakitkan yang baru saja menimpa nya beberapa hari yang lalu. 


Tapi sekarang, dia tidak lagi merasa khawatir karena dia yakin kalau Ayunda memang baik-baik saja, apalagi saat melihat Ayunda tersenyum manis saat bertemu dengan nya di meja makan. 


"Selamat malam, sayang." Sapa Melisa sambil mengusap surai panjang sang menantu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. 


"Malam juga, Mami. Kemana papi?" Tanya Ayunda. 


"Papi masih di kamar, belum keluar." Jawab Melisa sambil tersenyum. 


"Kita makan duluan saja, ya?"


"Nungguin papi aja, biar barengan." Jawab Narendra. Akhirnya, semua nya pun mengangguk setuju. Mereka akan malam setelah Arvin datang. 


Tak lama kemudian, akhirnya Arvino datang dan duduk di kursi kosong yang biasa dia duduki memang. Pria itu terlihat sedikit sendu saat ini, mungkin karena mengingat keadaan sang ayah yang sampai saat ini masih belum juga berhasil melewati masa koma nya. 


Tadi, Melisa dan Arvin membicarakan hal ini. Mereka merindukan sosok Darren yang biasa nya akan datang dan memberikan banyak petuah dalam setiap kata-kata nya. Namun sekarang, sudah hampir satu bulan berlalu, namun keadaan nya tidak menunjukkan hasil yang baik. Keadaan nya malah semakin melemah, membuat Arvino merasa sedih dan sakit disaat yang bersamaan. 


Hati anak mana yang tak hancur saat orang satu-satunya yang dia miliki itu di nyatakan koma dan setelah hampir satu bulan berlalu, dia belum kunjung bangun juga. Bahkan keadaan nya bisa di katakan semakin parah, tubuh nya berubah kurus kering. 


"Pi, kamu baik-baik saja?" Tanya Melisa. Arvin menatap istrinya lalu menganggukan kepala nya, mengiyakan pertanyaan sang istri yang memang terlihat sangat khawatir saat ini. 


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir."


"Kepikiran Papa ya?"


"Hmm, mustahil rasanya kalau aku bilang aku gak kepikiran sama keadaan Papa, Mam." Jawab Arvin lirih yang membuat ketiga orang yang sedang berkumpul di meja makan itu pun mengalihkan tatapan mereka pada Arvino. 


"Tidak apa-apa, kita doakan saja yang terbaik untuk Papa. Mau bagaimana pun, semua ini sudah terjadi dan kejadian ini tak mungkin bisa di ulang seperti film.


"Iya, tentu saja." Jawab Arvino. Dia terlihat memaksakan senyum kecil nya, hatinya tengah di selimuti rasa gundah yang membuat nya tidak berselera melakukan apapun. Bahkan tadi pun, saat dia sedang kunjungan di perusahaan, dia seringkali bengong dan itu membuat karyawan merasa heran dengan keadaan Arvin yang terlihat sedikit linglung.


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2