
"Sayang.." Panggul Narendra, dia membuka pintu kamar dan melihat sang istri baru saja selesai mandi. Perempuan itu terlihat sangat cantik dengan rambut basah yang terlihat sedikit acak-acakan karena dia mengeringkan nya dengan handuk kecil yang masih dia pegang.
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Di panggil sama Mami di bawah tuh, katanya harus ngemil." Ucap Narendra.
"Ohh, yaudah. Aku mau ngeringin rambut dulu, setelah itu baru ke bawah." Jawab Ayunda sambil tersenyum. Perempuan yang tengah hamil muda itu berjalan secara perlahan ke arah meja rias dan mengeluarkan hairdryer.
Narendra langsung merebut alat pengering rambut itu dan mengambil alih nya, dia yang mengeringkan rambut sang istri. Ayunda mendongak, Narendra tersenyum lalu mengecup kening sang istri dengan mesra. Narendra pun mengeringkan rambut sang istri.
"Tidak apa-apa ya kamu melakukan hal seperti ini, Mas?" Tanya Ayunda, dia merasa tidak enak karena dia bisa mengeringkan rambut nya sendiri, tapi tanpa di minta oleh nya, Narendra dengan peka nya mengambil alih kegiatan yang akan di lakukan oleh sang istri.
"Tentu saja tidak sama sekali, sayang. Lagian Mas ngelakuin nya dengan ikhlas, tanpa kamu minta pun." Jawab Narendra.
"Hmm, baiklah."
"Sayang, pakailah liptint agar wajah mu terlihat lebih cerah."
"Bolehkah?"
"Boleh, tentu saja boleh. Memang nya kamu gapapa?"
"Lho kok gitu, ini kan aku yang minta, sayang. Lagian, memang nya ada yang ngelarang kamu pakai make up?" Tanya Narendra membuat Ayunda mendongak dan menatap wajah tampan sang suami dengan tatapan penuh arti.
"Kenapa hmm? Kok natap aku segitu nya?"
"Ganteng, hehe."
"Iya dong, suami nya siapa dulu?" Tanya Narendra, penyakit narsis nya kambuh lagi. Gini nih kalau udah muji orang yang kelebihan rasa percaya diri.
"Suami aku kan.."
"Iya, dong. Istri aku cantik, ya aku nya juga harus ganteng biar istri cantik ku ini gak malu kalau kita lagi jalan-jalan."
"Astaga, Mas. Kok kamu mikir nya begitu sih? Aku gak mikir kesana lho, Mas."
"Gapapa, sayang. Kan semua nya harus seimbang, iya kan?"
"Hehe, iyain aja biar kamu seneng. Tapi ini beneran aku boleh pakai lipstick?"
"Boleh, tapi kalau keluar rumah jangan pakai yang warna merah. Pakai yang pink saja atau warna bibir gitu." Jelas Narendra, dia masih mengeringkan rambut sang istri menggunakan hairdryer yang dia pegang.
"Memang nya kenapa kalau aku pakai yang warna merah, Mas?" Tanya Ayunda. Dia penasaran, apa alasan suami nya sampai melarang nya untuk memakai lipstick berwarna merah.
"Pokok nya gak boleh, kalau mau pakai warna merah, kamu pakai di depan aku."
"Ohh, baiklah kalau begitu, Mas." Jawab Ayunda pasrah saja, dari pada mengundang amarah sang suami. Bisa-bisa nanti dia di diamkan hanya karena melanggar apa yang pria itu larang. Bisa perang dunia ke tiga nanti nya, jadi dari pada menunggu suami nya marah lebih baik menurut saja. Lagi pun, Ayunda merasa kurang percaya diri kalau mengenakan lipstick berwarna merah.
Dia lebih suka pewarna bibir yang kalem, tidak mencolok warna nya. Seperti pink atau peach, dia lebih menyukai warna-warna seperti itu dari pada warna merah.
"Sayang, ini sudah kering." Ucap Narendra, Ayunda mengusap rambut nya dan merasakan kalau rambut nya memang sudah kering.
"Iya sudah, Mas. Ke bawah sekarang?"
"Ayo, sayang." Jawab Narendra. Dia pun langsung menggenggam tangan Ayunda dan kedua nya pun keluar dari kamar untuk memenuhi panggilan Melisa. Ternyata, wanita paruh baya itu membuatkan salad buah untuk sang menantu. Dia menambahkan banyak keju parut agar rasa salad nya jauh lebih enak dan lagi, Ayunda menyukai kalau salad buah nya berlimpah keju.
"Mami.." Panggil Ayunda. Melisa berbalik lalu tersenyum sambil merentangkan kedua tangan nya memeluk sang menantu dan dengan senang hati, Ayunda langsung menghambur memeluk sang mami mertua.
"Mami bikin apa?"
"Salad buah, sayang. Mami mau bikinin cemilan sehat buat kamu, sayang." Jawab Melisa sambil memperlihatkan beberapa kotak berisi salad buah.
"Wahh, terimakasih Mami. Ayu suka sekali salad buah, apalagi kalau itu buatan Mami." Jawab Ayunda. Melisa mengusap puncak kepala sang menantu lalu mengecup kening Ayunda dengan penuh kasih sayang. Kesempatan yang bagus, Narendra mengambil ponsel dan memotret kedekatan menantu dan mertua itu lalu memposting foto nya di media sosial dengan caption.
'Mertua sama menantu, tapi deket nya udah kayak anak sama ibu. Sehat-sehat selalu dua bidadari ku, menantu kesayangan.'
Caption yang Narendra tulis di dinding beranda akun media sosial nya. Tak lupa dengan emoticon hati berwarna merah. Tentu nya, update terbaru dari akun media sosial milik Narendra langsung di banjiri komentar positif dari netizen yang budiman. Banyak sekali yang mengatakan kalau Ayunda adalah perempuan yang sangat baik hingga bisa sangat dekat dengan Melisa dalam waktu singkat.
'Wah, Ayunda cantik sekali.'
__ADS_1
'Aura bumil nya membuat Ayunda terlihat sangat cantik, apalagi Mami Melisa yang terlihat awet muda.'
'Beruntung sekali ya jadi Ayu, udah dapet suami ganteng, tajir melintir, ehh sekaligus dapet mertua yang baik seperti ibu sendiri.'
'Kebaikan apa yang kamu lakukan di kehidupan sebelum nya, Ayu? Hingga dalam waktu singkat saja, kamu bisa merebut hati Mami Mertua yang katanya sangat sulit di dapatkan restu nya?'
"Dulu, dia adalah bidadari. Jadi untuk hal itu, bukanlah hal yang besar untuk istriku." Narendra membalas salah satu komentar para fans nya dengan menyertakan emoticon senyum.
Seperti biasa, kalau dia mengupdate sesuatu di akun media sosial, sudah pasti akan langsung di serbu oleh komentar banyak orang. Karena jarang sekali Narendra membuka media sosial, hanya sesekali saja. Tidak pernah lebih dari dua atau tiga kali dalam seminggu, selain dia merasa tidak penting untuk bermain sosial media, Narendra juga pria yang terlalu sibuk untuk bermain hal-hal seperti itu. Baginya, itu hanya membuang-buang waktu saja.
Kalau dia punya banyak waktu, dia akan memilih bermanja pada istri nya atau bekerja untuk mencari banyak uang. Sekarang istrinya sedang hamil, beberapa bulan lagi dia akan melahirkan jadi dia harus menyiapkan biaya persalinan dan yang lain nya juga.
"Lagi apa senyam senyum disitu?" Tanya Melisa dengan kening yang mengernyit begitu melihat tingkah putra nya.
"Ini, lagi bacain komentar netizen di sosial media."
"Tumben kamu main sosmed, kenapa?" Tanya Melisa lagi.
"Iya nih, habis posting foto Mami sama Ayu. Nih liat.." Narendra memperlihatkan sebuah foto yang dia ambil secara diam-diam tadi dan memajang nya di media sosial.
"Komentar nya banyak sekali."
"Iya biarkan saja, isinya komentar fositif kok." Jawab Narendra. Biasa nya, kalau memposting apapun di media sosial, Narendra selalu menon-aktifkan kolom komentar nya agar tidak berisik dan mengganggu waktu nya. Lagi pula, dia tidak suka terlalu banyak di komentari, dia sudah muak dengan yang nama nya pujian.
Dia bukan tipe pria yang haus akan pujian, dia malah sering kali merasa muak sendiri saat mendengar orang-orang memuji nya dimana pun, bahkan saat meeting bersama klien pun dia tak ingin mendapatkan pujian, tapi tetap saja klien pasti akan memuji kinerja nya. Dia masih muda, tapi berhasil membuat perusahaan berkembang pesat.
"Ya sudah, awas aja kalau ada yang komentar negatif sama mantu Mami, nanti Mami yang bales!"
"Iya, Mi. Bales aja, jangan ragu-ragu."
"Sayang, kamu bikin aku media sosial dong. Biar Mas bisa ngetag kamu kalau mau posting, biar semua orang tahu kalau kamu tuh istri Mas gitu."
"Buat apa? Mau istri mu di lirik sama cowok-cowok genit di sana?" Tanya Melisa dengan sewot.
"Ya gak gitu, Mi.."
"Gak usah bikin begituan, nanti banyak salah paham kalau bikin akun beginian. Kalau kamu kan emang usaha nya disitu, wajar aja."
Begitu juga dengan Narendra, dia tidak bisa marah-marah pada istrinya karena dia tidak bisa jika tidur tanpa memeluk istri nya sekarang. Entahlah, sejak memiliki istri Narendra jauh lebih manja dan sekarang dia tidak bisa tidur tanpa pelukan hangat sang istri, itu membuat tidur nya jauh lebih nyenyak.
Dia juga juga merasa sejak menikah, kualitas tidur nya lebih baik. Mungkin karena sebelum tidur, dia selalu menagih jatah nya pada sang istri dan yang lebih bagus nya lagi, istrinya tidak pernah menolak sama sekali. Dia selalu mengiyakan saat dia meminta jatah dan vitamin nya di pagi hari.
"Mami, Ayu mau makan salad nya sekarang, boleh?" Tanya Ayunda membuat Melisa tersenyum.
"Makan saja, gak mau masukin kulkas dulu?" Tanya Melisa, karena salad buah akan terasa jauh lebih enak kalau dingin.
"Gak usah, Mi. Ayu gak sabar pengen makan salad buah nya sekarang. Gapapa kan?"
"Makan saja, Mami buatin ini kan buat kamu."
"Hehe, makasih Mami."
"Sama-sama, sayang. Ayo di makan, buat makan malam nanti, kamu mau makan apa?" Tanya Melisa sambil meletakan alat-alat yang dia gunakan barusan saat membuat salad buah, seperti pisau dan talenan, juga bekas buah-buahan nya.
"Sayang.."
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Mau.."
"Ohh, ini Mas." Jawab Ayunda, dia mendorong pelan kotak berisi salad buah yang sedang dia makan.
"Sayang, peka sedikit dong."
"Hmm, apa sih Mas?" Tanya Ayunda dengan keheranan.
"Udah, gak usah kode-kode an kayak gitu. Tapi kamu gak usah manja sama istri kamu, inget dia juga harus memperhatikan makan nya karena dia juga harus makan dengan baik karena dia berdua dengan bayi nya."
"Memang nya Mas Naren ngode apa sih, Mi?" Tanya Ayunda, saking tidak peka nya Ayunda. Dia masih belum bisa menebak ada apa dengan suami nya.
__ADS_1
"Dia minta di suapin itu, sayang."
"Ohh, di suapin ya?" Gumam Ayunda. Dia pun kembali mengambil kotak berisi salad buah nya dan dia menyuapi sang suami.
"Ayo dong, Mas.."
"Gak usah deh, nanti Mami marah." Ucap Narendra. Terlihat jelas kalau dia merajuk, membuat Melisa memutar mata nya dengan jengah begitu melihat tingkah manja putra nya. Memang sih dia manja pada tempat nya, dia juga akan murka kalau putra nya manja pada perempuan lain selain istri nya.
Tapi tetap saja, Ayunda sedang hamil sekarang ini, belum juga melahirkan tapi dia sudah sibuk mengurus bayi besar yang manja nya minta ampun. Anggap saja itu simulasi memiliki bayi nanti nya.
"Dihh, ngaduan.."
"Gapapa, Mas. Udah, jangan merajuk gini dong. Nanti ganteng nya luntur lho."
"Hmm, bujuk lagi dong."
"Suami tampan ku, mau salad buah kan? Di suapi kan? Ayo buka mulut nya, aaaa.." Ucap Ayunda membuat Narendra langsung membuka mulut nya dan memakan salad nya dengan lahap.
"Enak kan, Mas?"
"Enak banget, sayang. Keju nya bikin enak." Jawab Naren sambil tersenyum manis.
"Aaaa lagi dong kalau enak."
"Iya, sayang ku." Jawab pria itu. Dia pun kembali memakan dengan lahap, hingga kotak berisi salad buah itu habis berdua.
"Mas.."
"Iya, sayang."
"Aku kok tiba-tiba pengen makan makanan yang agak manis gitu ya?"
"Apa, martabak mau?" Tanya Narendra sambil tersenyum kecil. Padahal, baru saja mereka menghabiskan satu kotak besar salad buah, tapi sekarang malah mengidam yang manis-manis katanya.
"Kue cubit enak kayaknya."
"Mau beli?" Tawar Narendra.
"Boleh?"
"Ayo, mau ikut beli nya? Mumpung belum terlalu malem banget." Jawab Naren. Ayunda tersenyum semringah, entahlah tiba-tiba saja dia ingin makan yang manis-manis. Rasa nya, air liur nya menetes saat membayangkan kue cubit setengah matang yang meleleh saat memasuki mulut nya.
"Mau, Mas."
"Ayo.." Ajak Narendra membuat Melisa dan Arvin yang sedang duduk di ruang tamu mengernyit saat melihat kedua pasangan itu terlihat seperti akan pergi.
"Mau pada kemana?" Tanya Melisa.
"Ayu pengen makan kue cubit katanya, jadi ini mau keluar sebentar buat nyari kue nya." Jawab Narendra.
"Ohh, yaudah hati-hati di jalan nya, sayang." Peringat Melisa sambil tersenyum manis.
"Papi nitip martabak rasa coklat keju, sama jeruk satu kilo."
"Siap, Pi." Jawab Narendra. Pasangan suami istri itu pun memutuskan untuk pergi sekarang, agar tidak terlalu kemalaman pulang nya nanti. Kedua nya pun masuk ke dalam mobil dan akhirnya kedua nya pun pergi keluar dari rumah untuk mencari kue cubit demi menuruti ngidam si bumil cantik.
Tentu nya Naren merasa excited saat istrinya mengatakan ingin makan sesuatu, itu di sebut ngidam kan ya? Ini adalah pertama kali nya sang istri ngidam untuk makan sesuatu dan yang lebih untung nya lagi, makanan yang di inginkan Ayunda hanya kue cubit yang masih di bilang gampang mencari nya.
Ayunda masih belum mengidam rujak mangga muda dan Naren berharap istrinya tidak mengidam buah yang satu itu, tidak kebayang dia harus mencari buah itu kemana. Karena kebanyakan, kalau di pasar pun pasti pedagang menjual buah mangga yang sudah mengkel atau matang sekalian. Jarang sekali ada yang menjual mangga muda, karena tidak setiap tempat ada ibu hamil nya.
Lagi pun, ibu hamil juga tidak akan memborong banyak mangga, paling hanya satu atau dua biji saja cukup.
Ayunda terlihat sangat antusias, sedari tadi dia terus saja tersenyum saat Narendra dengan mudah nya menuruti apa yang dia inginkan tanpa harus bersusah payah membujuk sang suami. Narendra melirik sang istri dengan senyuman manis nya.
"Kamu senang, sayang?"
"Hehe, iya Mas. Aku senang sekali, soalnya kita kan emang jarang jalan-jalan apalagi malam begini."
"Baiklah, lain kali kalau Mas gak sibuk kita jalan-jalan ya." Ucap Narendra sambil mengacak rambut sang istri dengan gemas. Apalagi saat mendengar istrinya itu bersorak kesenangan ketika dia mengatakan hal itu. Semoga saja ke depan nya, jadwal meeting dan pekerjaan nya tidak terlalu padat agar dia bisa sering-sering mengajak istrinya jalan-jalan agar dia tidak bosan di rumah.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻